Ruang Hitam

Ruang Hitam
Takluk oleh rasa takut


__ADS_3

Hitam bagiku terlalu kejam untuk terus dinikmati. Aku tak ingin masa depan yang berakhir kelam.


****


Senja mulai tenggelam didalam kegelapan. Kami berhasil menemukan igo dan membawanya keluar dari kampungnya. Hampir tidak ada kesulitan berarti saat kami menyelamatkan igo yang menjadi buronan polisi. Itu semua berkat dori yang menipulasi semua identitas tentang igo.


Igo sedang tertidur saat kami sampai dirumahnya. Hp nya mati karna semalaman bermain mobile legend. Kami mengantar igo kenagariam tanjung ampalu. Igo ingin menyusul teman sekampungnya sebelum melarikan diri kekota padang. Aku dan sandro meninggalkan igo di kosan temannya. Kemudian kami menyusul ipan yang sudah menanti kami disimpang sitangkai. Ada yang ingin dibicarakan ipan kepadaku. Sepertinya hal yang sangat penting hingga aku harus menemuinya lansung.


Setelah hampir setengah jam berkendara dari kosan teman igo. Kami sampai disimpang sitangkai. Simpang sitangkai sangat lengang dan gelap dimalam hari. Pesawangan dikiri dan kanan membuat seram suasana. Hanya ada beberapa warung dan rumah didekat simpang setangkai. Aku dan sandro menanti ipan diwarung sate sekaligus mengisi perut kami yang keroncongan. Warung satepun terlihat lengang, hanya ada dua orang pria yang bersiap-siap pergi.


Mobil sedan civic berwarna hitam berhenti didepan warung sate. Aku dan sandro berdecak kagum melihat ipan yang keluar dari mobil mewah. Kami tidak menyangka bahwa ipan akan datang dengan mobil. Ipan datang seorang diri. Ipan tersenyum dari kejauhan. Mobilnya terkunci otomatis. Lampunya berkedip dan mengeluarkan bunyi. Ipan menyalami tangan kami. Ipan terlihat rapi dibandingkan ipan yang dulu. Baju ocean pacifik merah dengan celana levis melekat membuat gagahnya terpancar. Ipan duduk disebelah sandro.


"Masih pake baju sekolah. Baru pulang sekolah dikan?" Tanya ipan.


"Iya tadi, dipaksa cabut sama sandro" Sahutku. "Ipan gak makan? Bang sate satu lagi" Pesanku untuk ipan. Abang sate berdiri.


"Enggak enggak" Ipan melengah kebelakang "Enggak usah bang" Ujar ipan. Abang sate itu tersenyum dan kembali duduk.


"Gua udah makan tadi" Ujar ipan


"Kau ngak makan sate pan. Makanlah" Kata sandro.


"Enggak. Teruslah" Sahut ipan.


"Makanlah pan" Aku melanjutkan makan sate.


"Gak teruslah dik. Gua udah makan tadi" Sahutnya. "Gimana kabarnya dori?" Tanya ipan


"Masih dipolres" Sahut sandro "Kasusnya sudah sampai dipolres. Dori sebenarnya bisa bebas karna dia masih sekolah dan belum makan hukum. Hanya bang indun yang akan dibawa kepolres. Tapi sms di hp dori membuat polisi curiga. Dan dori tidak jadi bebas karna dicurigai pemakai narkoba"


"Terus. Dia juga terjerat kasus narkoba?" Tanya ipan terlihat sangat tegang.


"Polisi tidak bisa menemukan bukti selain sms itu. Mungkin dia akan bebas seminggu atau dua minggu lagi"

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu. Semoga dia bisa segera bebas" Ipan membakar rokoknya.


"Kalau kau masih dikampung, mungkin kau juga akan masuk penjara" Ujar sandro.


Ipan menangguk. Dia juga terlibat dalam kasus pencurian yang telah lama itu. "Untung aku melarikan diri dari kampung"


"Kau sepertinya sudah jaya sekarang" Ujar sandro dan mengambil minum dari teko. Aku tersenyum kecup melihat sindiran sandro.


"Ya seperti yang kalian lihat" Sahut ipan.


"Itu mobil kau sendiri pan?" Tanyaku


"Tidak. Itu mobil juraganku. Tapi aku yang memakainya setiap hari" Jelas ipan "Kau juga bisa dikan, jika kau ingin jaya sepertiku" Ujar ipan


Aku menatap ipan penuh tanya. "Tidak, aku takut menjadi orang kaya" Sahutku.


Sandro tertawa. Dia telah selesai dengan satenya. Akupun meletakkan sendok diatas piring yang kosong. Aku mengisi gelas dengan air. Aku mulai mengerti kenapa ipan mengajakku bertemu. Dia ingin merangkulku untuk masuk kedalam bisnis haram yang sedang ia jalani.


Ipan mendelik "Apa yang bisa dibanggakan dengan kemiskinan? Selain kesusahan karna tak punya uang dan langkah yang dibatasi" Ujar ipan.


"Kasih uang sebungkus rokok pan" Pinta sandro dengan wajah memelas. Ipan lansung mengeluarkan uang dari dompetnya. Ipan bahkan sekarang sudah memakai dompet. Sandro menggeleng dan salut melihat isi dompet ipan. Ipan mungkin mendapatkan banyak uang dari pekerjaannya menjadi mafia. Sandro keluar dari warung sate untuk membeli rokok.


"Ikutlah denganku, dikan. Kau tidak akan menyesal jika kau bergabung denganku. Apapun yang kau inginkan akan bisa kau dapatkan. Kebahagian, uang, wanita, apalagi yang kau inginkan?" Kata ipan.


Aku menggeleng. Tidak. Aku tidak mau seperti noval ataupun dori. Lagi pula, pasaran sedang dimuaro bodi sedang panas-panasnya setelah bang brewok sibandar sabu dan ganja tertangkap dua hari yang lalu.


"Aku menjadi pemakai saja. Aku tidak punya keberanian untuk menjadi bandar. Aku tidak bisa hidup dalam ketakutan"


"Apa yang kau takutkan?"


"Apalagi kalau bukan polisi. Aku tidak siap hidup didalam penjara"


Ipan tertawa. Aku mengernyitkan dahi. Apa yang lucu hingga ipan tertawa?

__ADS_1


"Kadang kau harus mengalahkan rasa takut itu agar bisa hidup dengan tenang. Lagipula, pekerjaanmu bukan menjadi bandar seperti dori atau igo. Kau hanya menemuiku lalu menemui passien dan selesai"


"Tidak" Aku menolak dengan mentah "Aku masih sekolah"


"Ini tidak akan mengganggu sekolahmu. Kau bisa melakukan tugasmu dihari minggu. Dengan begitu sekolahmu akan tetap berlanjut" Sahut ipan.


Aku hanya diam. Aku tidak memikirkan apa-apa. Jawabanku tetap sama. Tidak. Aku justru ingin keluar dari jeratan dunia hitam. Tapi aku memang tidak bisa berhenti untuk menjadi manusia dalam gelap. Sandro datang dengan membawa dua bungkus rokok. Dia memberikan satu bungkus rokok kepadaku.


"Jadi gimana?" Tanya ipan lagi.


Aku menggelengkan kepala serambi membuka bungkus rokok. Kemudian membakarnya.


"Ayolah. Kau yang membawaku masuk kedalam dunia hitam. Kenapa kau menjadi pengecut seperti ini" Ujar ipan


"Tidak pan. Aku tidak ingin masa depan yang kelam. Aku ingin menjadi manusia normal seperti sandro"


Sandro tersenyum bangga kepadaku. Aku membakar rokok kretekku. Keputusanku sudah bulat. Aku tidak tertarik untuk menerima tawaran ipan.


"Omong kosong" Ujar ipan "Masa depan seperti apa yang kau inginkan? Bukankah kau ingin mardeka dan kebebasan? Aku sudah menawarkannya kepadamu. Tapi kau malah menolak"


"Tidak pan. Aku tidak tertarik"


Ipan mengeluarkan androidnya serambi menghembuskan nafas kasar "Baiklah, mungkin tidak sekarang waktunya" Ipan mengotak ngatik androidnya "Aku sudah mengirim pesan kenomormu. Barangkali kau berubah pikiran. Kau bisa menghubungiku"


"Nanti akan kusimpan"


"Aku harus kembali dulu. Aku takut terlalu malam sampai dipayakumbuh" Ipan berdiri dan mengeluarkan dompetnya. Ia meletakkan uang seratus ribu diatas meja. "Untuk bayar sate kalian" Ujar ipan


"Makasih pan"


"Jangan lupa hubungi aku jika kau berubah pikiran" Ujar ipan serambi berjalan keluar.


"Nanti akan kupikirkan lagi"

__ADS_1


"Pintu akan selalu terbuka untukmu" teriak ipan dan berlalu.


Aku masih duduk diwarung sate beberapa menit. Sudah pukul jam sembilan lewat. Aku masih memakai seragam sekolah lengkap. Ibu pasti akan memarahiku lagi dengan kata-kata.


__ADS_2