
Hidup terasa menyenangkan ketika kita tahu sesorang yang kita cintai juga mencintai kita.
****
Aku seperti sedang mementaskan drama kalau lagi disekolah. Bersikap seoalah semuanya baik-baik saja dan selalu berusaha menyembunyikan perasaan sedalam mungkin. Padahal, aku merasa kesepian didalam keramain.
Hari-hari kulewati dengan perasaan yang gundah gulana. Canda dan tawa hanyalah sebuah kepalsuan yang terlukis dengan sandiwara. Padahal, jauh didasar kalbu. Hatiku sedang bergumam menahan sabar yang merintih. Berusaha menahan perih dari sesak didada yang tak kunjung mereda. Aku menjalani hidup seperti munafik yang malu untuk menunjukkan dirinya sendiri. Pandangan yang dirahasiakan, mulut yang terkunci, dan batin yang mencaci maki dengan keangkuhan diri dalam memendam rasa. Namun, aku memgerti. Bahwa hidup bukanlah perkara menemukan dan mengejar cinta saja.
Senin pertama diawal bulan november. Aku berjalan dari dalam kelas untuk mengikuti upacara bendera dilapangan. Anggota osis mengatur rapi barisan. Aku menuruni anak tangga dengan perasaan malas. Tapi, aku harus mengikuti upacara. Aku tidak ingin mendapat masalah dalam reputasiku yang sudah mulai membaik.
Cuaca sangat cerah pagi ini. Embun masih tebal dan menutupi pohon-pohon hijau diseberang sawah. Aku berdiri dengan mengalahkan rasa malasku. Kelas sebelas ipa memulai upacara bendera sebagai pelaksana. Ijep sebagai ketua barisan memerintahkan hormat kepada pemimpin upacara. Aku mengikuti upacara dengan kepala tertunduk. Rasa malas membuatku menjadi ngantuk.
"Pengibaran bendera merah putih diringi lagu kebangsaan indonesia raya" Suara protokol menggema.
Delapan orang junior yang bertugas sebagai penggerek bendera berjalan ketengah lapangan dengan kompak dan serentak. Mereka membentuk formasi yang indah didepan tiang bendera. Seumur hidup aku belum pernah menjadi pelaksana upacara. Aku tidak percaya diri untuk menjadi pelaksana upacara.
Kompeser drumband memberi aba-aba pada pasukannya dengan gerakan tangan. Musik drumband mengalunkan lagu kebangsaan dengan nada dan melodi. Aku memberi hormat dengan perasaan yang malas. Aku hormat dengan menatap para juniorku yang memainkan alat drumband. Musik drumband yang menggema membuat bulu romaku berdiri. Membangkitkan jiwa-jiwa kebangsaanku.
Pandangku beralih kebarisan guru. Buk mutia. Aku memperhatikannya dengan perasaan kagum. Sudah seminggu ini aku memang menjauh dari buk mutia. Aku dan buk mutia tidak pernah lagi berbalas pesan di BBM. Obrolan kami terhenti diperdebatan rasa takut. Satu hal yang tidak aku pahamo dari diriku sendiri. Mengapa aku masih saja memperhatikan buk mutia ketika aku sedang bermengkal hati terhadapnya. Aku tidak bisa berbohong kepada diriku sendiri. Menatap buk mutia adalah cara termudah untuk mendapatkan kebahagian.
"Tegap grak"
Pengibar bendera mengunci ikatan tali pada tiang bendera. Sang saka merah putih berkibar penuh semangat diujung tiang. Aku masih sibuk menatap kearah buk mutia yang tertawa kecil melihat kesalahan pengerek bendera. Buk diana tertawa kecup memandangku. Aku melongo menatap buk diana. Buk diana berbisik dengan buk mutia. Buk mutia menatap kearahku berdiri. Aku bersembunyi dibalik badan besar nando.
Aku merasa malu bertemu pandang dengan buk mutia. Buk mutia benar perihal aku seorang pengecut. Aku tidak pernah berani menyatakan perasaanku kepadanya. Tapi entah kenapa aku begitu percaya kalau buk mutia tidak punya perasaan apa-apa kepadaku. Sikap buk mutia yang seolah memberi peluang bagi harapan hanyalah sekedar olokkan karna aku mengaguminya. Buktinya saja buk mutia tidak pernah lagi menghubungiku semenjak seminggu yang lalu. Ah, lucu sekali aku ini. Aku yang sengaja menghilang itu berharap juga untuk dicari.
"Istirah ditempat grakkk"
Kepala sekolah sebagai pembina upacata memulai pidatonya dengan kata sambutan. Nando sedikit mengerakan badannya kekanan. Aku menatap congo kedepan. Pandanganku bertemu dengan buk mutia. Namun, buk mutia segera melengahkan pandangannya setelah melihatku. Sudut matanya seperti tersenyum membalas apa yang aku lakukan tadi. Aku menahan senyum melihat apa yang baru saja dilakukam buk mutia. Aku merasa bahagia meskipun aku tahu kalau itu hanya sebatas olokkan semata.
Mentari mulai bersinar terik diatas kepala. Aku kembali bersembunyi dibalik badan besar nando. Aku mengikuti upacara dengan kepala tertunduk. Sinar mentari pagi sangat terasa panas. Tak lama kemudian upacara dibubarkan. Aku kembali kedalam lokal dan terhayut dalam pelajaran.
Enam jam kemudian. Sepulang sekolah. Aku berjalan dari kelas menuju kantor dengan menggenggam selembar kertas ditanganku. Aku berjalan dengan mengulang-ulang hafalan ulangan harian pkn yang akan kuremedikan siang ini.
Sekolah sudah mulai terlihat lengang. Bell sekolah sudah berbunyi setengah jam yang lalu. Hanya ada sebagian siswa yang masih untuk tinggal untuk menyelesaikan remedi mereka. Aku menghafal didalam kelas ketika bel pulang berbunyi.
Buk mutia terlihat sedang duduk didepan kantor. Aku melambatkan langkahku. Aku merasa ragu untuk lewat didepan buk mutia. Buk mutia melengah kearahku. Buk mutia menatapku tajam dari kejauhan. Aku memutuskan untuk kembali berjalan setelah buk mutia melihatku.
Buk mutia masih menatapku tanpa ekpresi. Aku merasakan gemetar ketika aku membalas menatap buk mutia. Mata pandanya bagaikan lubang yang siap menenggelamkanku. Aku menyapa buk mutia dengan lidah yang kaku. Buk mutia membalas dengan tersenyum.
"Remedi apa dikan?" Tanya buk mutia ketika beberapa langkah melewatinya.
Aku menoleh. "Remedi UH pkn buk" Sahutku
"Ohhh.Semangat ya remedinya" Ucap buk mutia.
Aku tersenyum dan berjalan dengan hati yang kembali berbunga-bunga. Buk de menyuruh kami untuk berkumpul dikelas sepuluh dua. Aku dan puluhan siswa lain yang juga remedi dalam pelajaran PKN berkumpul dalam ruangan sepuluh dua. Beberapa orang murid mengusir kebosanan menunggu dengan mengulang kembali hafalan. Aku duduk didekat jendela dengan pandangan kearah kantor. Menatap dari kejauhan seseorang yang kupuja-puja didalam ketidakmungkinan harapanku sendiri.
Aku melihat buk mutia sedang sibuk dengan gadgetnya. Bahkan ketika buk mutia sedang sibuk dengan gadgetnya, aku masih saja terpesona oleh buk mutia. Entah apa alasanku hingga aku merasa bahagia menatapnya dari kejauhan seperti ini. Aku merasakan diriku sudah gila dengan apa yang sedang kupikirkan. Aku menghela napas. Berusaha mungkin untuk berpikir normal.
Buk mutia meletakkan gadgetnya diatas meja. Tangannya sibuk mencari sesuatu didalam tas. Buk mutia berdiri dan masuk kedalam kantor. Tak lama kemudian buk mutia keluar dengan membawa selembar kertas folio. Buk mutia mengeluarkan pena dan penggaris dari dalam tasnya. Entah apa yang sedang dibuat buk mutia. Aku terus memperhatikan buk mutia dengan pikiran yang berhayal.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian buk de terlihat berjalan dari kantor. Beberapa siswa mulai memperbaiki posisi duduk mereka. Aku juga turun dari atas meja dan duduk diatas kursi. Buk de mengucapkan salam dan duduk dikursi guru.
"Yah, siapa yang sudah siap majulah kedepan" Ucap buk de.
Beberapa orang mengacungkan tangan mereka keatas. Aku lansung berdiri dan berjalan menghampiri buk de. Beberapa junior beropini heran. Aku mengacuhkan mereka dengan mendiamkan diri. Mereka yang tidak menyimak, mereka pula yang heran.
"Ibu menyuruh untuk maju kedepan, bukan nunjuk tangan" Jelas buk de
Beberapa orang junior tadi menatapku dengan muka tertekuk. Seakan sadar dengan kebodohan mereka. Aku membacakan remedi dengan terbata-bata. Soal dan jawaban ulangan harian yang panjang membuatku sedikit kesulitan untuk mengingat hafalan. Tapi buk de mempermudahnya dengan menambah kalimat agar aku bisa melanjutkannya. Pada soal yang kelima, buk de mulai menanda tangani kertas ulanganku.
Aku keluar dari kelas sepuluh dua setelah menyalami tangan buk de. Aku berjalan dengan perasaan yang riang. Buk mutia masih duduk dimeja guru piket. Buk mutia menghentikan kegiatannya setelah melihatku. Aku tersenyum malu kepada buk mutia.
"Gimana remedinya, tuntas?" Tanya buk mutia.
Aku tersenyum dan memperlihatkan kertas yang berisi tanda tangan buk de.
"Hmp, selamat ya" Buk mutia tersenyum.
Aku tersenyum dan terus berjalan melewati kantor.
"Terus pulang lagi tuh" Teriak buk mutia
Aku menoleh dan mengangguk. Buk mutia berlalu dan hilang didalam kantor. Aku berjalan keparkiran dengan rasa bahagia. Satu persatu nilai ulangku yang merah sudah berhasil kuperbaiki. Ada rasa bangga didalam hati ketika aku berhasil menyelesaikan remedi. Beberapa bulan terakhir ini aku mulai menikmati semua pelajaran. Kelas yang dulu terasa membosankan kini berubah kegiataan yang menyenangkan. Mungkin karna aku melakukannya dengan hati hingga aku bisa menikmatinya.
"Dikan" Panggil buk mutia
Aku menoleh kebelakang. Buk mutia sedang berdiri disamping labor. Buk mutia melambaikan tanggannya untuk memintaku menghampirinya. Aku berjalan menghampiri buk mutia. Tangannya sedang memegang amplop berwarna putih.
"Untuk dikan" Ucap buk mutia dengan memberikan amplop kepadaku.
"Apa ini" Tanyaku serambi menerima amplop yang terkunci rapat. Apa ini surat cinta? Atau jangan-jangan surat undangan untuk pertunangan buk mutia? Aku dilanda penasaran dengan perasaan yang bergumam.
"Baca saja. Tapi nanti setelah sampai dirumah" Buk mutia tersenyum.
"Kenapa gak sekarang aja?"
"Jangan" Sanggah buk mutia. "Kamu ngak boleh melanggar aturan mainnya"
"Aturan main?" Aku bertanya heran. Apa sebenarnya isi surat ini.
Buk mutia memghembus nafas "Nanti kamu juga bakalan tahu sesampai dirumah" Ucap buk mutia.
Aku menatap buk mutia dengan perasaan tidak mengerti. Buk mutia tersenyum memperlihatkan lesung dikedua pipinya yang sangat dalam. Aku merasakan jantungku berdetak lebih kencang saat buk mutia memberi tatapan yang menggoda.
"Yaudah, kalau gitu. Dikan pulang dulu, Buk" Pamitku dengan lidah yang sedikit kaku.
"Ya hati-hati" Ucap buk mutia.
Aku menangguk dan berjalan keparkiran. Dideoan ruangan tua aku melihat buk mutia sudah hilang ketika aku menoleh kebelakang. Aku berjalan dengan membolak-balikan amplop. Aku sangat penasaran dengan isi surat yang diberikan buk mutia. Aku akhirnya membuka surat itu sesampai diparkiran
"Untuk pria pengecut yang menguasai diamku" Aku menelan ludah membaca tulisan buk mutia. Dibawahnya tertulis tanggal hari ini. Aku membuka kertas yang masih terlipat.
__ADS_1
"Untuk pria pengecut"
Untuk pria pengecut yang menyukaiku, adakah berita yang lebih mengharukan dari pada itu? Ketika hatimu lebih suka memendam daripada jujur dan keluar dari masalah. Benarkah semua itu, Tuan? Luka adalah keindahan lain dari cinta.
Untuk pria pengecut yang misterius, kedinginanmu yang membuatku penasaran dengan siapa kamu? Saat aku tahu semua orang memandangmu buruk, aku justru jatuh dalam keindahan setelah aku mengetahui bagaimana kamu menjalani hidup. Ketahuilah, Tuan? Aku menyukai setiap luka yang kau ceritakan pada status twittermu.
Untuk pria pengecut yang kerasa kepala, bilakah masanya kau mengalah pada egomu dan mengatakan yang sebenarnya kepadaku? Karena aku terlahir sebagai perempuan yang seharusnya menunggu. Tapi, ini menyiksa, Tuan? Kau memilih menyerah dan enggan untuk mencoba.
Untuk pria pengecut yang menguasai diamku, bisakah kau mengetahui perasaanku tanpa harus kukatakan lebih dulu? Namun aku mengerti, Tuan. Semua ini tidak akan terjadi jika aku tidak berani untuk memulainya. Maka, kuberi satu pertanyaan untuk pria pengecut; MAU KAH KAU JADI PACARKU?
Aku menghembuskan nafas. Air bah terasa menggenang dipelopak mataku. Aku merasa terharu membaca puisi buk mutia. Aku terdiam cukup lama. Ini bukan mimpi, ini kenyataan. Buk mutia menembakku? Mimpi itu menjadi kenyataan.
Aku berlari masuk kedalam lingkungan sekolah. Buk mutia masih duduk didepan kantor. Buk mutia menatapku dengan kening yang berkerut. Aku berdiri untuk mengatur nafasku yang sesak.
"Kenapa dikan gak jadi pulang"
"Aku mau jadi.."
Buk mutia menyumpat tanganku dengan mulutnya. Buk mutia menyeretku hingga sampai kesamping labor. Matanya liar memperhatikan sekitar. Tangannya masih menutup mulutku.
"Kenapa kau melanggar aturan mainnya" Ucap buk mutia melepaskan tangganya dari mulutku. Wajahnya terlihat tidak bersahabat.
"Aku gak bisa menahan rasa penasaranku. Yasudah kubaca saja dari pada aku mati dibunuh rasa penasaran" Sahutku.
"Bagaimana kalau ada guru yang mendengar saat kamu katakan mau menjadi pacar ibuk" Ucap buk mutia dengan wajah kesalnya.
"Bukankah semua guru sedang memberitakan kalau kita sedang pacaran" Ucapku.
"Siapa yang bilang?" Tanya buk mutia "Ibuk bisa ditegur kepala sekolah jika dia tahu ibuk berpacaran dengan murid" Sambung buk mutia.
Buk mutia berdiri menyampingiku dengan pandangan menatap lapangan yang kosong. Kedua tanganya terlipay diatas dada. Buk mutia mungkin kesal sebab aku melanggar aturan main yang sudah dibuatnya. Tapi apa boleh buat jika aku sudah membaca suratnya.
"Buk...." Panggilnya memberanikan diri memegang tanggannya. "Tidak usah pikirkan sesuatu yang belum tentu akan terjadi" Ucapku.
Buk mutia melepaskan tangannya dari genggamanku. "Tapi itu akan terjadi suatu hari nanti" Ucap buk mutia membelakangiku "Guru-guru pasti akan memandang rendah ibuk karna pacaran dengan murid sendiri"
"Aku tahu aku salah telah melanggar aturan mainnya. Aku juga tahu aku salah karna aku mencintai seorang guru. Aku menyadari kesalah itu semenjak pertama aku merasakannya. Itulah kenapa aku lebih suka menjadi pengecut. Karna bisa seseorang diluar sana menghakimi kesalahanku. Tapi sekarang aku tidak lagi peduli akan hal itu. Aku sudah tahu sekarang kalau cintaku bukanlah cinta yang bertepuk sebelah tangan. Aku akan menerima semua makian itu. Dan percayalah, aku mencintaimu, buk" Ucapku dengan bibir gemetar.
Buk mutia membalikkan badannya. Buk mutia menatapku sangat lekat. Aku hanya terdiam dengan tubuh yang melemah. Buk mutia berjalan dan memelukku. Aku tertegun sejenak.
"Ibuk juga mencintaimu" Ucapnya dalam pelukan.
Aku merasakan bahagia bercampur haru didalam hati. Aku membalas pelukan buk mutia. Tubuhku terasa hangat didalam pelukannya.
"Jadi aku sudah bisa menganggap ibuk sebagai pacarku" Tanyaku ketika buk mutia melepaskan pelukannya.
Buk mutia menatapku lekat dengan senyum. Aku bisa melihat bahagia dari raut wajahnya. Buk mutia mencium pipiku dan berjalan meninggalkanku. Aku tertegun mengusap pipiku yang dicium buk mutia.
"Hati-hati pulangnya" Ucap buk mutia dan berjalan meninggalkanku.
Aku pulang dengan perasaan bahagia yang meluap-luap didalam hati. Cinta layu didasar kalbu kini mekar dan tumbuh dengan subur. Hidup terasa menyenangkan ketika kita tahu sesorang yang kita cintai juga mencintai kita.
__ADS_1