
Hitam bagiku terlalu kejam untuk terus dinikmati. Aku tak ingin masa depan yang berakhir suram. Aku tak ingin pulang dengan kehidupan yang kelam.
****
Senja mulai tenggelam didalam kegelapan. Langit sudah membiru kelam ketik aku mulai keluar dari rumah igo. Kami berhasil menemukan igo dan membawanya keluar dari kampungnya. Ini kali keduanya aku kerumah igo. .Entah berapa tahun pertama kalinya aku kerumah igo. Aku hanya ingat dengan dori, sandi, dan igo. Cerita tentang kebersamaan dimasa muda. Tentang sejauh-jauhnya aku bermain.
"Hati-hati dijalan" Pesan wanita yang sudah lansia.
"Ya ino--nenek. Kami jalan dulu" Sahut kami serentak.
Kami membonceng tiga motor sandro untuk meninggalkan nagari durian gadang. Hampir tidak ada kesulitan berarti saat kami menyelamatkan igo yang menjadi target polisi. Aku dan sandro disambut baik oleh nenek igo. Dia masih mengingatku. Igo tinggal dengan neneknya. Sedangkan ibu dan bapak igo ada dibatam. Sang nenek lansung mempersilahkan kami untuk membangunkan igo dikamarnya.
Kami memasuki keramain kota kabuhpaten dari simpang gedung pancasila. Ditugu tempat biasa dijadikan arena rokres. Pedagang kaki lima berjejer menyajikam menu makan malam. Kami memilih jalan ini untuk menghidari polres. Kami akan mengantar igo kenagari tanjung ampalu. Igo ingin menyusul teman sekampungnya sebelum melarikan diri kekota padang.
Kami sampai setelah setengah jam lebih dikos teman igo. Aku dan sandro pamit dan meninggalkan igo di kosan temannya. Kami menyusul ipan yang sudah menanti kami disimpang sitangkai. Ada yang ingin dibicarakan ipan kepadaku. Sepertinya hal yang sangat penting hingga aku harus menemuinya lansung.
Setelah hampir satu jam kurang berkendara dari kosan teman igo. Kami akhirnya sampai disimpang sitangkai. Jarak yang kami tempuh lumayan jauh. Itupun sandro sudah melaju motornya dengan kecepatan tinggi.
Kedai-kedai berjejer sepanjang simpang terlihat lengang. Hanya ada beberapa warung dan rumah didekat persimpangan yang menghubungkan kabuhpaten. Batu sangka dan payakumbuh. Aku dan sandro menanti ipan diwarung sate sekaligus mengisi perut kami yang keroncongan. Warung satepun terlihat lengang, hanya ada dua orang pria yang bersiap-siap pergi.
Mobil sedan civic berwarna hitam berhenti didepan warung sate. Aku dan sandro berdecak kagum melihat ipan yang keluar dari mobil mewah. Kami tidak menyangka bahwa ipan akan datang dengan mobil. Mobilnya terkunci otomatis ketika ipan menutup pintu mobilnya. Lampu CRV hitam itu berkedip dan mengeluarkan bunyi alarm.
Ipan terlihat rapi dibandingkan ipan yang dulu. Baju ocean pacifik merah dengan celana levis melekat membuat gagahnya terpancar. Aku dan sandro memuji penampilan ipan yang berubah drastis. Dulu sewaktu masih dipadang sibibusuk ipan jarang memakai celana levis.
"Masih pake baju sekolah. Belum pulang dikan?" Tanya ipan mengalihkan pembicaraan.
Aku hanya menjawab dengan tersenyum. Sandro didepanku kuga ikut tertawa. Bapak pedagang sate mempersilahkan dua pesanan kami. Sandro memesan satu lagi untuk ipan.
"Enggak enggak" Ipan melengah kebelakang "Enggak usah bang" Ujar ipan.
Pria baru baya itu hanya tersenyum sebelum membelakangi kami.
"Gua udah makan tadi" Ujar ipan
"Ipan gak makan. Makan lah" Basa-basiku bersiap mengisi perutku yang sudah lapar.
"Gak teruslah dik. Gua udah makan tadi" Sahutnya. "Gimana kabarnya dori?" Tanya ipan
"Masih dipolres" Sahut sandro "Kasusnya sudah sampai dipolres. Dori sebenarnya bisa bebas karna dia masih sekolah dan belum makan hukum. Tapi sms di hp dori membuat polisi curiga. Dan dori tidak jadi bebas karna dicurigai pemakai narkoba" Sandro menjelaskan kemalangan nasib temannya deng tertawa.
"Terus. Dia juga terjerat kasus narkoba?" Tanya ipan terlihat sangat tegang.
"Polisi tidak bisa menemukan bukti selain sms itu. Mungkin dia akan bebas seminggu atau dua minggu lagi"
"Sebenarnya siapa yang mengadukan dori kepolisi?" Tanya ipan.
Sandro menjelaskan dengan detail kronologis kejadian cerita. Sudah kelima kalinya dori dan yang lain mengambil besi baja pemabatas rel. Sandro bercerita dengan nada marah pada seorang pemuda dari jorong mudiak yang membongkar masalah ini kepolisi. Sandro protes masalah ini bisa selesai didalam nagari. Diselesaikan secara adat dan mufakat para niniak mamak. Tapi ada salah satu pemuda jorong mudiak yang mengadukan semua kepada polisi.
__ADS_1
Itu pencurian yang kelima kalinya. Sedangkan dori tidak ikut dalam pencurian yang kelima itu. Hanya bang indun dan seorang temannya yang kabur dan meninggalkan mobil rental ditepi jalan. Sandro mengesalkan kerasan kepalanya dori yang tidak memgikutinya untuk kabur. Dori tertangkap sedangkan pelaku yang sebanarnya melarikan diri. Tapi dori tetap harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.
"Semoga dia bisa segera bebas" Ipan membakar rokoknya.
"Kalau kau masih dikampung, mungkin kau juga akan masuk penjara" Ujar sandro.
Ipan menangguk. Dia juga terlibat dalam kasus pencurian yang telah lama itu. Bahkan duet karip ipan juga sudah tertangkap ketika mereka berhasil mencuri motor mx dimuaro kalaban. Tenyata bukan narkoba saja yang membuat ipan melarikan diri. Kasus kriminal ipan ganda.
"Ada untungnya aku melarikan diri dari kampung" Ujar ipan terkekeh.
"Kau sepertinya sudah jaya sekarang" Ujar sandro dan mengambil minum dari teko. Aku tersenyum kecup melihat sindiran sandro.
"Ya seperti yang kalian lihat" Sahut ipan.
"Itu mobil kau sendiri pan?" Tanyaku
"Tidak. Itu mobil juraganku. Aku hanya supir." Jelas ipan "Kau juga bisa dikan, jika kau ingin jaya sepertiku" Ujar ipan
Aku menatap ipan penuh tanya. "Tidak, aku takut menjadi orang kaya" Sahutku.
Sandro tertawa. Dia telah selesai dengan satenya. Akupun meletakkan sendok diatas piring yang kosong. Aku mengisi gelas dengan air. Aku mulai mengerti kenapa ipan mengajakku bertemu. Dia ingin merangkulku untuk masuk kedalam bisnis haram yang sedang ia jalani.
"Apa yang bisa dibanggakan dengan kemiskinan? Selain kesusahan karna tak punya uang dan langkah yang dibatasi" Ujar ipan.
Aku hanya diam dan minum. Sandro mengambil rokok kretek ipan dan membakarnya.
"Ikutlah denganku, dikan. Kau tidak akan menyesal jika kau bergabung denganku. Apapun yang kau inginkan akan bisa kau dapatkan. Kebahagian, uang, wanita, apalagi yang kau inginkan?" Kata ipan.
Aku menggeleng. Tidak. Aku tidak mau seperti noval ataupun dori. Lagi pula, pasaran dikampung sedang panas-panasnya setelah bang brewok sibandar sabu dan ganja tertangkap dua hari yang lalu. Orang-orang kampung gempar dalam setahun lima pemuda muaro bodi tertangkap dengan kasus kepemilikan narkoba.
"Aku menjadi pemakai saja. Aku tidak punya keberanian untuk menjadi bandar. Aku tidak bisa hidup dalam ketakutan. Sudah cukup betapa menyedihkannya aku bisa terjebak sedalam ini. Aku tidak ingin membuat ibuku terluka.
"Apa yang kau takutkan. Polisi?" Ujar ipan remeh
"Hitam. Aku takut pada hitam. Hitam membuatku tidak bisa melawan rasa takut"
Ipan menggeleng dengan bibir tertawa. Dia pasti menertawakan bahasaku yang sukar untuk dimengerti. Itulah kenapa ipan dan dori kadang memanggilku dengan sebutan cendekiawan. Tapi kali ini aku benar-benar sungguh dengan ucapakanku.
"Kadang kau harus mengalahkan rasa takut itu agar bisa hidup dengan tenang. Lagipula, pekerjaanmu bukan menjadi bandar seperti dori atau igo. Kau hanya menemuiku lalu menemui passien dan selesai"
Aku hanya tersenyum. Ipan tidak memahami apa yang kumaksud. Wajahnya ipan terlihat membujuk.
"Ini tidak akan mengganggu sekolahmu. Kau bisa melakukan tugasmu dihari minggu. Dengan begitu sekolahmu akan tetap berlanjut" Sahut ipan.
Aku tertawa. Ipan keras kepala sekali untuk merayuku. Tapi jawabanku tidak akan berubah. Sandro datang dengan membawa dua bungkus rokok. Dia memberikan satu bungkus rokok kepadaku.
"Jadi gimana?" Tanya ipan lagi masih mencoba
__ADS_1
"Kalau sekarang tetap enggak" Ucapku serambi membuka bungkus rokok "Aku ingin masa depan yang normal seperti sandro. Sambungku.
.
Sandro tersenyum bangga kepadaku. Aku membakar rokok yang baru saja dibelikan sandro. Ipan menggeleng tidak terima.
"Masa depan seperti apa yang kau inginkan? Bukankah kau ingin mardeka dan kebebasan? Dan sekarang aku sudah menawarkannya kepadamu"
"Tidak pan. Aku tidak tertarik"
"Masa depan hidup bahagia tanpa narkoba" Ungkap sandro menimpali.
Ipan menoleh kepada sandro disebelahnya. "Omong kosong. Kebahagian itu datang dari uang. Dan tidak ada kebahagian untuk orang miskin" Ucap ipan
Aku hanya diam. Aku tidak membenar dan tidak pula menyalakan ucapan ipan. Namun, ipan seperti sudah mengukur kebahagian nya dengan uang.
"Itulah kau salah kawan. Kau tidak akan memahami jika tidak ada niat didalam hatimu. Kalau aku ceritakan takkan cukup oleh waktu. Masih panjang pengajiannya'
Ipan hanya diam mengalah denga kata-kata sandro. Ipan mengeluarkan androidnya serambi menghembuskan napas kasar. Ipan diam dan sibuk dengan andoidnya. Sedangkan aku dan sandro mengobrol perihal canda tawa
"Aku sudah mengirim pesan kenomormu. Barangkali kau berubah pikiran. Mungkin kau masih berpikir belum saatnya"
"Nanti akan kusimpan" Ucapku
Aku mengeluarkan Blackberryku dari dalam tasku untuk menyimpam nomor ipan. Aku terkejut dengan ingatan tentang mutia. Sudah menumpuk pesan dan panggilan yang tak terjawa dari mutia. Dia pasti sedang risau dengan kabarku.
"Aku harus kembali dulu. Aku takut terlalu malam sampai dipayakumbuh" Ipan berdiri dan mengeluarkan dompetnya. Ia meletakkan uang seratus ribu diatas meja. "Untuk bayar sate kalian" Ujar ipan
"Makasih pan"
"Jangan lupa hubungi aku jika kau berubah pikiran" Ujar ipan serambi berjalan keluar.
"Nanti akan kupikirkan lagi"
"Pintu akan selalu terbuka untukmu" teriak ipan dan berlalu.
Aku masih duduk diwarung sate mengobrol perihal ipan dengan sandro. Lampu notif BlackBerry berkedip diatas meja. Nama mutia tertulis dilayar ponsel. Aku mengangkatnya dan membelakangi sandro.
"Halo"
"Kamu kemana sih baru diangkat" Ucap mutia dengan amarahnya yang menumpuk.
"Aku lagi ikut lomba futsal" Ucapku
"Kenapa kamu gak bilang. Aku tuh..." Telepon berakhir.
Baterai blackberryku habis. Sial, mutia pasti sedang menhan amarahnya saat ini. Aku sudah tahu dengan apa yang dirasakan mutia saat ini. Dia pasti mengutuk sedih dengan perasaan marah. Sudah pukul jam sembilan lewat. Aku dan sandro mulai berjalan pulang. Aku masih memakai seragam sekolah lengkap. Ibu pasti akan memarahiku lagi dengan kata-kata.
__ADS_1