Ruang Hitam

Ruang Hitam
Cinta tidak salah


__ADS_3

Apa yang bisa disalahkan dari perasaan jatuh cinta?


*****


Jam pulang sudah berbunyi beberapa menit yang lalu, murid-murid yang tadinya lesu seketika menjadi penuh semangat untuk pulang kerumah masing-masing. Aku berjalan kekantor untuk melaksanakan remedi bahasa indonesia yang telah kupersiapkan dari kemarin malam.


Kantor guru terlihat penuh. Aku segera menemui buk nit yang duduk sisi kiri kantor. Buk nit menyuruhku untuk menunggu. Buk nit terlihat sibuk mencari sesuatu. Entah apa. Pandanganku terlengah kearah buk mutia yang duduk dimeja buk asmarni (Ditempat diawal aku melihatnya tersenyum kepadaku). Tapi siang ini buk mutia tertawa kecil tanpa suara. Tawa itu tertuju kepadaku. Aku hanya membalasnya dengan senyum. Buk mutia juga terlihat sibuk membereskan barang-barangnya. Seperti bersiap-siap untuk pulang.


Lalu aku membelakangi buk mutia dan fokus untuk melaksanakan remedi.


Setelah remedi. Buk nit memberiku tanda tangan sebagai bukti tuntas. Buk nit juga memuji daya ingatku yang begitu lancar melisankan semua soal. Aku keluar dari kantor dengan bibir tersenyum melihat tanda tangan buk nit yang berhasil kudapatkan. Itu menandakan bahwa satu tinta merah dilaporku akan berubah menjadi tinta hitam yang bertuliskan kata tuntas. Aku berjalan dengan perasaan yang bangga.


Didepan labor, aku melihat buk mutia sedang sibuk membicarakan sesuatu dengan pak apin (penjaga sekolah)


"Eh nak teguh. Alah siap remedinya?" Sapa pak apin


"Udah pak" Sahutku dengan tersenyum. Buk mutia juga terlihat tersenyum.


"Tuh pulang lagi tuh?" Tanya pak apin setelah sedikit melewati mereka.


"Iya, pak" Sahutku dengan menoleh kebelakang. Sekilas buk mutia masih terlihat tersenyum. Senyum yang memaksaku untuk berhenti. Dan aku merasakan langkahku terhenti, lalu aku memberanikan diri berjalan mundur kebelakang.

__ADS_1


"Buk" Sapaku


"Iya" Jawab buk mutia dengan matanya terfokus kearahku.


"Jangan lupa dikirim ya mut" Ujar pak apin dan berjalan meninggalkan kami.


Buk mutia hanya diam dan tak menyahuti pak apin. Matanya terus menatapku. Tatapan yang membuatku gerogi dan terhibur. Matanya begitu tajam, aku melihat diriku siap jatuh lebih dalam.


"Itu pak apin kenapa ngak disahutin" Ujarku dengan tertawa kecil melihat ekpresi buk mutia. Mungkin buk mutia penasaran dengan apa yang ingin kukatakan.


"Oh pak apin. Dia membeli pulsa. Ada apa?" Jawab buk mutia.


"Pin BB" Sahut buk mutia dan tersenyum "Minta sama doris dan nofri, mereka punya pin ibuk" sambung mutia dengan sibuk mencari sesuatu didalam tas nya.


"Eehhh, aku maunya dari ibuk lansung" jawabku.


"Loh, apa bedanya?" kata buk mutia yang masih terlihat sibuk mencari sesutu didalam tasnya.


"Bedalah buk..." Belum sampai aku menjelaskan buk mutia berlari kearah kantor dan meninggalkan tasnya begitu saja. Aku terdiam dan melihat buk mutia hilang didalam kantor.


Aku berjalan kekantin tek rida--tempat motorku di parkirkan untuk segera pulang. Aku hari ini ada jadwal latihan bola. Aku tidak mau menunggu buk mutia yang pergi tanpa alasan. Lagipula, buk mutia juga tidak bilang untuk menunggu. Buk mutia seperti tidak mau memberikan pin bb nya. Mungkin dugaanku benar, buk mutia tidak mau memberikan pin BB nya karena takut ketahuan kalau dia memang sudah punya pacar.

__ADS_1


"Teguh" Teriak buk mutia yang terlihat berlari kearahku. "Ngak jadi pinnya" Ujarnya


Aku menghampirinya yang berhenti dibelakang labor.


"Kirain gak boleh karna ibuk main tinggal aja" Cetusku.


"Teguh sih ngak sabaran. Ibuk tadi cari Hp. Eh taunya tinggal dimeja buk asmarni" Kata buk mutia. "Catatlah" sambungnya.


Aku mengeluarkan buku dan pena dari dalam tas ku. "Berapa?" Ujarku yang bersiap mencatat dihalaman belakang buku.


"5F....34....38....CB"


"Makasih buk" Ucapku penuh senyum.


"Mana ada nih nama cowok status ibuk" Ujar buk mutia dengan menghadapakan hpnya didepan wajahku. Aku melihat tulisan 'BUSY' distatus buk mutia. Tapi aku tidak salah lihat ketika itu. Mungkin saja sudah diganti oleh buk mutia. Tetapi apa alasanya mengganti statusnya lalu memperlihatkannya padaku hari ini? Entahlah.


Aku hanya tersenyum dan pamit pulang kepada buk mutia.


"Hati-hati dijalan" Pesan buk mutia.


Aku tersenyum lagi. Iya, ada hati yang siap dijalani.

__ADS_1


__ADS_2