
Orang-orang peduli, sebenarnya tak punya hati.
Orang-orang yang mengaku simpati, ternyata menghakimi.
****
Warnet tek lik ramai oleh pria yang merayakan malam minggu tanpa wanita. Aku melewati keramain setelah pulang dari pangkas rambut. Segerombolan pemuda itu memarkirkan motor mereka dibahu jalan. Kendaraan yang melintasi didepan warnet tek lik harus melaju dengan pelan. Beberapa teman diwarnet menyapa. Aku balas menyapa tanpa berhenti. Warnet tek lik memamg tempat perkumpulan teman-teman sebayaku.
"Dikan" Teriak seseorang
Aku menoleh setelah melewati keramain tempat tek lik. Bang pram melambaikan tangannya untuk memanggilku. Aku memutar arah dan menghampiri bang pram yang duduk sendiri didepan rumah bang eldam. Aku tersenyum kepada bang pram. Sudah seminggu lebih aku tidak berkumpul dengan teman-teman di RGM. Bang pram pasti akan mengajakku untuk berkumpul. Tapi aku sudah memikirkan alasan untuk menolak ajakannya.
"Dari mana?" Tanya bang pram.
"Pangkas rambut" Jawabku "Yang lain mana?" Tanyaku.
"Dirumah gadang. Kesana yuk" Ajak pram
"Lanjut lah bang. Aku udah enggak" Ucapku berbohong.
Aku punya ganja titipan sandi yang sudah dikembalikan ibu. Sandi tidak lagi mau berurusan dengan narkoba setelah kejadian ipan dan bang dedek. Oleh karena itu sandi memberikan ganjanya kepadaku.
"Satu demi satu kita akan berpisah. Entah itu sebagai korban atau memang suratan nasib. Tapi yang paling tragis adalah ketika kita berpisah karna salah satu dari kita masuk penjara" Pesan sandi suatu hari.
Ditangkap polisi adalah resiko bagi manusia dalam gelap. Dikampungku, terkenal dengan kampung narkoba. Ada tujuh orang muaro bodi yang ditangkap polisi dalam tiga tahun terakhir ini. Beberapa warga juga mulai resah dengan berita miring yang menyangkut narkoba. RGM juga menjadi topik utama dalam berita kampung. Orang-orang memandang buruk terhadap kami. Orang-orang kampung memperlakukam kami seperti perusak bangsa. Padahal kami hanya melakukan apa yang kami senangi. Dan akhirnya aku paham; orang terkadang lebih suka mencari kesalahan seseorang ketimbang membenarkannya.
Seminggu terakhir ini aku memang jarang keluar rumah dan hanya menghisap ganja didalam kamar. Aku enggan untuk keluar rumah didalam pasaran yang memanas. Aku lebih memilih mengurung diri dalam kamar. Setidaknya, ibu merasa senang dengan aku yang tidak lagi keluyuran dan bergaul dengan orang-orang di RGM.
"Kau dilarang sama ibumu ya main sama abang" Tanya bang pram.
Aku menggeleng. Meskipun bang pram benar. Aku tidak ingin bang pram beranggapan seperti itu. Lagipula, bukan ibu saja yang menjadi alasan untuk aku mengurung diri dalam rumah. Terlebih jauh lagi, aku merasa tidak nyaman untuk keluar rumah.
"Sudah lama kau tidak kumpul dengan kami" Ucap bang pram.
"Gua sibuk sekolah sekarang bang. Sudah kelas tiga soalnya. Bukan lagi waktunya untuk main-main"
"Besok kan libur"
"Lanjutlah bang" Ucapku.
Bang pram menghembuskan nafas. Terlihat kecewa. Matanya liar memperhatikan keramain dikedai gorengan diseberang kami.
"Abang ngapain disini?" Tanyaku mengalihkan topik.
"Ayoklah kerumah gadang" Ajak bang pram lagi.
Aku tertawa kecil. Ucapan bang pram seperti memaksa.
"Cuman semalam ini aja. Anak-anak yang lain sedang menunggu kau dirumah gadang" Ajak bang pram.
Aku berpikir sejenak. Tak ada salahnya aku kembali berkumpul dengan manusia-manusia dalam gelap. Lagipula, besok hari libur. Aku akhirnya mengamini permintaan bang pram. Kami menyimpang kekanan diperempatan yang tak jauh dari rumahku. Atap rumah gadang yang melonjong setelah perempatan. Rumah gadang yang kosong terlihat ramai oleh teman-temanku yang duduk diberanda rumah gadang. Aku memarkirkan motorku ditepi jalan. Sorak riang para teman-temanku menyambut kedatanganku.
"Lihat, anak yang hilang telah kembali pulang" Ujar bang deni.
"Aku sudah menebusnya dari kemunafikan" Sahut bang pram.
Mereka tertawa. Aku juga tertawa. Bang eldom, bang gates, bang febi, dan bang reno tengah duduk didepan pintu rumah gadang. Sedangkan bang deni dan bang dio duduk ditangga. Bang dio palaks juga ikut bergabung didalam RGM. Aku menyapa mereka satu persatu.
"Kemana saja dikan ngak pernah lagi ngumpul? Tanya bang eldom. Tangannya sibuk melinting ganja.
"Biasa. Sibuk sekolah. Dia ingin jadi profesor" Bang pram yang menjawab.
Semua orang tertawa mendengar lawakan bang pram.
"Baguslah. Untung-untung besok bisa tercapai" Ujar bang eldom
"Iya. Jadi profesor ganja" Ujar bang pram.
Kami tertawa terbahak-bahak. Bang pram memang konyol dengan leluconnya. Bang deni dan bang gate mulai membakar lintingan mereka. Tak lupa juga mereka meminta izin untuk membakar terlebih dahulu. Seperti kebiasaan dan basa-basi.
__ADS_1
"Sekolah saja yang benar. Jangan sampai kayak kami yang tidak mau sekolah" Ucap bang deni.
"Iyalah. Mana mungkin tinggal yang wajib demi yang sunnah" Sahut bang pram serambi menuang tuak kedalam gelas plastik.
Bang pram memberikan segalaa tuak kepadaku. Aku menerimanya tanpa bicara. Bang pram kembali menuang tuak kedalam gelas plastik.
"Tunggu dulu" Ucap bang pram.
Aku menatapnya diam tak mengerti. Bang pram mengajakku bersulang. Bibir gelas yang kupegang beradu dengan bibir gelas yang dipegang bang pram.
"Mari kita rayakan kebersamaan sebelum waktu kembali memisahkan dengan kesibukkan"
Aku meminum tuak hingga menyisakan ampas didalam gelas. Aku terasa ingin muntah dengan rasa tuak yang pahit. Teman-temanku tertawa melihat ekpresiku yang ingin muntah. Tapi kutahan.
"Mau lagi?" Tanya bang pram.
Aku menggelengkan kepala untuk menolak. Bang pram tertawa. Aku tidak suka dengan tuak. Selain rasanya yang pahit. Baunya juga tidak enak. Mencium baunya saja aku ingin muntah. Apalagi meminumnya.
"Dikan" Panggil bang deni dengan meroling ganjanya kepadaku melampaui gates.
"Bang gates enggak?" Tanyaku.
Bang gates menunjukkan sebatang ganja yang belum dia bakar. Bang gates mulai mengoles susu kepada lintingannya agar bisa tahan lama. Aku menerima rolingan bang deni. Dan menghisap sedalam mungkin.
"Dikan, kau tau nggak" Ujar bang deni setelah meneguk tuak.
Aku menatap bang deni.
"Bang pram kau ini setiap malam menanyakan kabar kau mulu. Dia mengira kau sudah melarikan diri karna tak pernah lagi kelihatan" Ungkapan bang deni.
"Gua sekolah bang" Sahutku
"Iya abang tahu. Tapi bang pram kau ini selalu saja rindu dengan kau" Ucap bang deni.
Beberapa diantara kami tertawa. Aku juga tertawa mendengar bang pram yang merindukanku.
"Kalau kau tak percaya, kau tanyalah sama abang kau. Tanyalah. Selagi dia masih ada disini" Sahut bang deni.
Bang deni kembali meneguk habis segelas tuak. Aku meroling ganja kepada bang pram. Bang pram menghisapnya dan tidak lagi berkomentar.
Malam minggu cerah meskipun tanpa bulan dan gemintang. Beberapa kendaraan berlalu-lalang dijalanan jambak. Tidak seramai jalanan utama yang terbuat dari aspal. Jalanan jambak yang terbuat dari beton hanya dilewati oleh orang-orang yang tahu dengan jalan ini.
Obrolan beralih membahas orang-orang kampung yang sering menggunjingkan kami. Bukan hanya ibu-ibu yang bergunjing, namun juga bapak-bapak dan para niniak mamak. Aku tidak lagi heran dengan hal semacam itu. Orang-orang sudah banyak yang mengenali kami. Bahkan mereka beranggapan buruk dengan pikiran-pikiran mereka sendiri. Kami memang salah dengan apa yang kami kerjakan. Tapi mereka lebih salah menilai kami dan lupa untuk bercermin diri. Seperti bapak-bapak yang nongkrong dikedai kopi yang tak jauh dari warnet.
Mereka benar tentang ujaran yang mengatakan kami berdosa dengan apa yang kami lakukan. Tapi mereka lebih suka mengobral kesalahan kami ketimbang merangkul kami dan menasehati. Pada akhirnya, mereka yang bersikap seolah mereka peduli, sebanarnya tidak punya hati dan nurani.
"Alah, mereka tidak ada bedanya dengan kita. Mereka pikir diri mereka suci. Lihatlah mereka yang berjudi. Setiap malam main domino dan koa" Ujar bang pram.
Kami tertawa dan mengamini ucapan bang pram. Kedai kopi yang tak jauh dari warnet. Kedai tek yas adalah tempat perkumpulan para bapak-bapak dan orang penting dalam nagari. Mereka bermain domino dan koa setiap malam. Ah, memang benar pepatah minang yang mengatakan; tunggou di seberang lawik nampak, gajah dipelupuak mato indak nampak. Kita bisa melihat kesalahan orang lain meskipun kecil. Dan lupa dengan kesalahan kita yang padahal begitu besar.
Bunyi motor berhenti didepan kami. Momon datang dengan membawa plastik. Sepertinya momon mendapatkan tugas membeli makanan. Momon meletakkan plastik ditengah-lingkaran dan ikut bergabung duduk ditangga.
"Apak-apak dikedai tek yas sudah risih dengan kita. Mereka bilang kita orang-orang yang tak berguna" Ucap bang gates.
"Siapa yang bilang" Tanya bang pram.
"Bapak pakor" Sahut bang yuda.
"Dia lagi" Ucap bang pram geram "Dia pikir dirinya tuhan apa? Bisa-bisanya dia mengatakan kita tidak berguna" Sambungnya.
"Kenapa itu ya bapak pakor itu membenci kita" Tanya bang deni.
"Entah. Padahal kita ngak minta makan sama dia" Bang reno juga bersuara.
"Sebenarnya dia sendiri yang tak berguna. Bisanya cuman mencari kesalah orang lain" Ucap bang deni.
Kami mengamini ucapan bang deni. Bapak pakor memang sering menggunjingkan kami sebagai manusia dalam gelap. Wajar memang jika dia membenci kami yang hidup dalam dunia hitam. Tapi tidak wajar lagi jika kebencian itu ikut ditularkan kepada orang lain dengan omongan miring tentang kami. Bapak pakor seolah lupa, kebenciannya terhadap kami telah mendtangkan dosa terhadapnya.
"Baguslah orang yang tidak berguna lagi daripada orang berguna" Ucap bang febi.
__ADS_1
Kami tertawa terpingkal-pingkal. Dimana letak bagusnya orang yang tidak berguna? Dengan seketika ketegangan perihal bapak pakor mencair dengan kekonyolan bang febi.
"Dimana letak bagusnya jadi orang yang tidak berguna?" Tanya bang pram.
Kami tertawa. Bang febi mulai kosong.
"Kalau orang berguna pasti sibuk karna dia berguna. Baguslah orang yang tidak berguna. Bisa santai-santai dirumah" Sahu bang febi.
Kami malah semakin tertawa terbahak-bahak. Bang febi memang aneh. Tidak ada orang yang menginginkan dirinya tidak berguna. Tapi bang febi ingin menjadi orang yang tak berguna. Memang kosong.
"Bi, ngak ada orang yang tidak berguna. Bahkan orang gilapun ada gunanya. Gunanya kita bisa membedakan orang waras dengan orang gila" Ucap bang pram.
"Ya gua sukanya jadi orang yang tidak berguna" Sahut bang febi.
Tertawa kembali pecah. Bang febi memang keras kepala. Bahkan bang febi akan tetap dengan pendiriannya walaupun orang lain menganggap dirinya ****** ataupun kosong.
"Tidak ada orang yang tidak berguna didunia ini bi. Febi hidup pasti butuh makan kan? Nah, meskipun febo hanya santai-santai dirumah, febi tetap orang yang berguna. Gunanya febi menghabiskan makanan" Ujar bang pram.
Kami tertawa lagi. Bang pram benar. Tidak ada orang yang berguna didunia ini. Kami terus mengobrol melewati malam yang akan larut. Momon pamit pulang untuk mengisi perutnya yang kosong.
Obrolan mulai bercerita horor. Bang dio bercerita bahwa dia pernah diganggu oleh hantu tepat ditempat kami duduk sekarang. Pram punya cerita yang lebih seram. Bang gates pun meringkuk menahan rasa takut. Bang gates memang fobia dengan cerita horor. Dulu, rumah gates pernah menjadi TKP sebuah kasus pembunuhan. Dan semenjak itu bang gates mulai takut dengan hantu.
Blackberryku berbunyi petanda pesan masuk. Fiona. Aku lupa bahwa aku berjanji akan makan bakso dengan fiona. Aku mendengar cerita bang pram serambi membalas pesan fiona. Meminta maaf sebab sudah membiarkannya menunggu dan aku tidak juga datang. Tapi fiona mengerti dengan alasanku.
Malam semakin larut dalam gelap. Tuak masih tersisa setengah liter lagi. Ganja sudah habis kami hisap. Bang pram berhasil membujuk bang gates untuk membuka satu paket ganja yang dimilikinya. Bang gates sekarang menjadi tangan kanan bandar ganja dimuaro bodi.
"Dikan, buatlah" Suruh bang pram.
"Lanjut lah bang" Sahutku
"Lanjut kemana? Solok, padang?" Bang pram bergurau.
Beberapa diantara kami tertawa.
"Buatlah, abang sudah lama tidak merasakan lintingan buatanmu" Ucap bang pram.
"Kangen ya sama adik" Bang deni menimpali.
Beberapa diantara kami tertawa. Aku akhirnya menuruti permintaan bang pram. Aku mulai melinting ganja yang diberikan gates. Bang pram bercerita tentang induk semang yang menjadi bandar shabu. Bang dio juga ikut bercerita sebab bang dio juga dekat dengan induk semang bang pram. Shabu dan ganja tetap beredar meskipun sudah tiga orang yang tertangkap dalam tahun ini.
"Bakar dulu bang" Ucapku setelah melinting.
"Lanjut"
Aku membakar ganja dan menghisapnya dalam-dalam. Kepalaku mulai berdenting petanda ganja telah memprngaruhi kesadaranku. Bang pram masih bercerita perihal shabu dan induk semang. Bang pram bekerja dipelabuhan pasir yang berada di daerah panombun---pelosok muaro bodi. Bang pram mendapatkan induk semang seorang bandar shabu. Hampir setiap hari sebelum bekerja bang pram diberi dopping shabu oleh induk semangnya untuk penyemangat kerja. Bang pram bercerita dengan sangat antusias. Seakan seperti itulah kehidupan yang diinginkan oleh bang pram.
Aku meroling ganja kepada bang pram yang masih bercerita. Mataku mulai terasa sayu dan berat. Dingin juga mulai terasa hingga ditubuhku. Aku meminum tuak yang diroling oleh bang deni. Tubuhku terasa hangat setelah meminum tuak.
Diperempatan jalan, terlihat momom sedang berjalan menuju kearah kami. Momon berjalan dengan langkah yang meloyo. Tubuhnya yang tunjang dan kurus terlihat sangat lentik, seperti seorang bencong yang sedang berjalan.
"Kemana lagi si kanslay" Ucap bang eldom.
Beberapa diantara kami tertawa. Sedangkan bang pram masih sibuk bercerita. Momom berdiri didepan kami dengan menatap bang pram yang sedang bicara. Bang eldom, bang gates, bang febi dan aku tertawa melihat tingkah momon. Entah apa yang sedang dipikirkan momon hingga sebegitu fokusnya menatap bang pram.
"Bang pram. Lah bubar kita lagi lah" Ucap momon
Kami tertawa terbahak-bahak. Momong kosong. Baru datang momon sudah menyarankan untuk bubar. Apakah tujunya dari rumah hanya untuk meminta kami bubar. Kami terus tertawa melihat momong yang konyol.
"Lu keluar hanya untuk menyuruh kami bubar mon?" Tanya bang deni tertawa.
"Kenapa masih keluar mon? Kenapa ngak lansung tidur aja tadi" Bang pram ikut menimpali.
Kami terus tertawa. Semua kami mengatakan momon kosong. Obrolan tak henti-hentinya menghujat momon dengan membahas segala kebodohan momon. Gates yang paling banyak becerita. Momon hanya terdiam dan mendengar semua kenyataan yang menghimpitnya. Tapi momon akan mendengar dengan telinga kanan dan keluar ditelinga kiri. Semua omongan orang tidak akan dipikirkannya. Apalagi sedang kosong seperti ini.
Malam sudah menjadi dini hari. Angin malam yang dingin terasa hangat setelah aku meminum tuak sebagai penghabisan. Kepalaku berdenyut-berdenyut. Pram memaksaku untuk menghabiskan setengah liter tuak itu sebagai permintaan terakhirnya. Kami akhirnya pulang setelah blackbery menunjukkan pukul satu pagi.
Kelak, aku mendengar cerita bahwa kami di RGM sudah terpecah dan tidak lagi berkumpul. Bang dio yang menghasut bang reno dan bang febi untuk tidak lagi berkumpul dirumah gadang. Dan masalah kedua tertangkap basahnya teman-temanku dirumah godang oleh linmas nagari.
Aku tidur dengan kepala dan mata yang terasa yang berat. Malam ini ternyata malam terakhir aku duduk dirumah gadang.
__ADS_1