Ruang Hitam

Ruang Hitam
Remedi


__ADS_3

Tidak ada yang perlu disalahkan dari sesuatu yang telah terjadi. Dan tidak ada yang perlu dibenarkan dari sebuah penyesalan


****


Suatu hari akan ada cerita yang akan menjadi kenang. Titik pemberhentian dari sebuah kisah sebagai arti dari kehidupan. Entah itu sebuah kemenangan atau kekalahan. Namun yang pasti. Esensi masa lalu hanyalah sebagai pelajaran.


Separuh masa kecilku dihabiskan untuk mengaji dan belajar agama disurau belakang rumah. Aku selalu suka mendengarkan cerita tentang para nabi dan pepatah minang dalam pelajaran budaya disekolah dasar. Tapi entah apa yang harus kusalahkan dengan langkahku yang telah menyimpang dari kebenaran.


Tidak ada yang perlu disalahkan dari sesuatu yang telah terjadi. Meskipun penyesalan kerap kali menghadirkan gundah gulana yang tak berkesudahan. Namun peristiwa yang telah berlalu seharusnya menjadi kenangan untuk pelajaran.


Kehidupan terlalu besar bila terus dinikmati, juga terlalu kecil jika sudah kita pahami. Dunia hanyalah permainan yang kita percaya akan berakhir. Kelak, sikap dan perbuatan kita akan diminta pertanggung jawaban dihari nanti. Dimana surga dan neraka sebagai ganjaran dari dunia yang kita pilih. Tidak ada manusia yang bisa menjamin dengan pasti seseorang itu masuk surga atau neraka. Kita semua hanyalah manusia yang hanya bisa berupaya tanpa pernah bisa menentukan hasil akhir. Dunia ini adalah teka-teki dan banyak persimpangan yang menjadi pilihan yang tidak tahu akan berakhir dengan bagaiamana? Hitam belum tentu hina. Putih belum tentu suci. Manusia adalah makhluk yang tak pernah luput dari dosa dan kesalahan. Namun, satu-satunya harapan baik yang tersisa hanyalah keteguhan diri kepada jalan yang telah Ia kehendaki.


Aku tidak tahu masa depanku akan seperti apa. Tapi aku percaya bahwa hanya kepada alquran lah seharusnya aku berpedoman untuk hidup. Meskipun kini aku adalah seseorang yang hina karna terjerembab dalam ruang hitam. Aku berjanji kepada diriku sendiri untuk menjadi manusia dan kehidupan yang baik setelah menikah nanti. Semoga aku pulang dengan selamat.


Dirabu menjelang siang. Mentari menerpa hangat ketika aku keluar dari kantin tek rida. Suara menggema dari riuhnya lapangan. Semua murid dan guru berkumpul mengelilingi lapangan basket sebagai tempat pertandingan bola daster. Laki-laki memakai daster dan jilbab menjadi hiburan yang penuh dengan tawa. Aku berjalan menuruni anak tangga seorang diri. Pertandingan telah berjalan semenjak tadi.


Pertandingan berhenti seketika musik diputar. Para pria berbaju daster menghentikan bola dan bergoyang mengikuti aliran musik yang diputar. Seperti peraturan permainan bola daster. Setiap pemain harus bergoyang ketika musik diputar. Permainan bola daster biasanya ini biasanya hanya diadakan untuk hiburan. Murid bersorak-sorai dalam kebahagian. Aku memutuskan berjalan kelapangan setelah melihat ijep dan nando yang berimpitan ditengah ramainya penonton.


Pertandingan dilanjutkan kembali setalah musik dimatikan. Ripo memasukkan bola kedalam dasternya dan membawanya berlari. Semua penonton tertawa melihat ripo yang seperti perempuan hamil. Nando dan ijep menyadari keberadaanku disela-sela tawa. Mereka menyapaku sebelum kembali terbenam dalam kebahagian bola daster.


Musik kembali dimainkan, semua pemain ditengah lapangan kembali menggoyangkan badan mengikuti alunan irama musik. Aku melihat mutia yang berdiri ditemani buk diana diseberang lapangan. Buk diana memberitahu keberadaanku kepada mutia. Aku tersenyum.


"Kamu gak main" bisik mutia dari kejauhan.


Aku menggeleng. Mutia mengerucutkan bibirnya. Lalu dia berbicara dengan buk diana. Musik berhenti. Pertandingan kembali dilanjutkan. Sorak-sorai kembali bergemuruh memeriahkan lomba. Guru dan murid larut dalam tawa dan kebahagian.


Dua puluh menit kemudian pertandingan bola daster akhirnya usai. Tidak ada kemenangan dan kekalahan dalam perlombaan kali ini. Bola daster diadakan hanya untuk menghibur dan memeriahkan lomba akhir semester. Begitu juga dengan perang bantal. Perang bantal bukan lagi perwakilan dari masing-masing lokal. Siapapun boleh ikut dan mendaftar dalam perlombaan perang bantal. Ketua osis menutup acara sebelum nanti dilanjutkan dengan perang bantal.


Dilapangan, aku masih berdiri ditengah kerumunan yang mulai membubarkan diri. Aldi menghampiri kami dengan baju daster yang masih lengkap. Rambut klimiknya basah dengan keringat. Dia menanyakan kenapa aku tidak ikut main. Aku menggeleng. Aldi melepas daster serambi bercerita tentang keseruan permainannya. Kami hanya membalas dengan tawa. Lalu berjalan kearah lokal.


Dilapangan volly, anggota osis sibuk dengan bila dan tali. Gani dan caknun menancapkan bila kedalam tanah. Sepertinya sedang mempersiapkan arena perang bantal. Ijep menyapa winty yang ditemani elsa dikoridor gudang. Winty membalas dengan senyum. Ijep bersuka ria selepas kepergian winty yang menjadi gebetan ijep.


"Setelah gagal mendapatkan annisa kini beralih ke winty" Ujar aldi meledek.


"Oh ya. Patah itu harus bertumbuh" Sahut ijep percaya diri.


Kami tertawa. Ijep masih memperhatikan winty yang sibuk dengan kegiatan osis dilapangan volly. Nando menggelengkan kepala melihat tingkah ijep. Aku memafhumi tingka ijep. Aku juga pernah merasakan punya seseorang yang dikagumi disekolah. Cinta memang membuat manusia tak memakai logika.


Kami duduk ditangga terakhir didepan kelasku. Dilapangan volly, arena perang bantal yang dibatasi tali mirip dengan ring tinju. Diseberang lapangan volly, mutia dan buk diana berjalan kearah kantor.


"Kau sudah mendekatinya?" Aldi bertanya.


"Sudah. Aku juga sudah punya pin BB nya. Tapi aku mendekati dengan sms" Jelas ijep.


"Bagaimana responnya?" Tanya aldi penasaran.


"Baik. Tapi dia tidak membalas lagi setelah beberpa pesan. Mungkin pulsanya habis"


"Kenapa kau tidak mendekatinya lewat bbm jep?" Tanyaku.


"Andoridku rusak. Jadi aku harus memakai nokia senter" Sahut ijep.


"Deketin aja terus. Kapan perlu telpon sekalian. Buat dia nyaman sama lu" Aldi menyarankan.


Ijep menganggukan kepala. Aldi terus menyemangati ijep untuk mendekati winti. Meskipun kadang diakhir kalimat aldi menyudutkan ijep yang terlalu kuncun untuk mendekati annisa hingga gadis itu berpacaram dengan ferdi anak kelas dua belas ipa.


"Ah, yang penting aku tidak seperti nando yang hanya bisa memendam" Ungkap ijep


Kami semua tertawa. Sedangkan nando hanya tersenyum menahan malu. Nando menyukai tika teman sekelas kami dengan diam-diam. Nando tidak berani untuk mendekati tika. Apalagi untuk mengungkapkan perasaannya. Aldi bercerita tentang mantan gebetannya sebelum berpacaran dengan karin. Junior dua tahun dibawah kami itu sangat cuek ketika didekati aldi. Hingga aldi menyerah untuk mendekatinya. Tapi mantan pacar aldi itu mengatakan aldi PHP setelah berpacaran dengan karin.


Buk eni pesma berdiri didepan meja panitia dilapangan volly. Buk eni pesma sebagai pembina osis mengumunkan bahwa pendaftaran perang bantal telah dibuka. Tidak ada pungutan dan syarat, siapa saja boleh mengikuti lomba.


"Ikut yuk" Ajak aldi


Aku menggeleng. Nando juga menggeleng. Nando lebih pemalu dariku. Aldi dan ijep menuruni tangga untuk mendaftarkan diri dalam lomba perang bantal. Aku dan nando masih duduk dianak tangga. Meja panitia ramai oleh murid yang ingin berpatipasi dalam lomba akhir semester. Seperti bola daster, perang bantal juga tidak diperuntukkan untuk perempuan. Buk eni pesma mengumumkan pendaftaran sudah ditutup. Panitia hanya menyediakan 16 kuota. Beberapa siswa tampak mengeluh karna tidak mendapatkan jatah. Lagu dessert mengalun dengan volume yang keras. Beberapa siswa ikut bergoyang mengikuti alunan musik.


Setelah membagi lot, putry sebagai protokol membuka acara perang bantal dengan pertandingan pertama antara adan dan arga. Caknon dan gani menutup mata kedua pemain dengan dasi sebagai aturan lomba. Adan dan arga saling melayangkan bantal setelah joko sebagai wasit memulai pertandingan. Semua murid bersorak riang melihat kedua pemain yang memukul angin. Arga akhirnya menang setelah berhasil memukul adan lebih dulu. Sederhana itu permainannya.


Aldi masuk kedalam arena menantang kiki yang sejengkal lebih tinggi darinya. Mereka saling melayangkan bantal dengan mata tertutup. Aldi membelakangi lawan dan malah memukul bila sebagai sudut arena hingga terjatuh. Semua murid tertawa terbahak-bahak. Aku dan nando terpingkal-pingkal. Joko memulai pertandingan setelah caknon dan gani berhasil memperbaiki kerusakan arena.

__ADS_1


Langkah kaki terdengar mendekat kearah kami. Mutia dan buk diana sudah ada dibelakang kami. Aku tersenyum melihat mutia. Badannya sudah sama lebar dengan buk diana.


"Ngapain dikan senyum-senyum" Sinis buk diana


"Apa dikan ngak ke ibuk" Sahutku tersenyum kecil.


"Mentang-mentang udah jadian sama buk mutia" Ucap buk diana duduk diatas kami.


Aku tertawa kecil. Nando juga ikut tertawa sebelum kembali menatap keseruan dilapangan. Diarena perang bantal sorak-sorai semakin riuh. Aku juga ikut terbenam menatap keseruan dilapangan. Aldi akhirnya kalah setelah kepalanya terkena bantal. Mutia duduk dengan memuji keseruan lombam


"Nando sama dikan kenapa ngak ikut?" Tanya buk diana.


Nando menggelengkan kepala. "Malas buk"


"Gengsi kali kak" Kata mutia.


Gengsi? Mutia tersenyum ketika aku menoleh kebelakang.


"Bukan gengsi tapi malu" Sahutku.


"Lihat gani tu heh" Kata buk diana tertawa. Gani dibawah sedang berjoget mengganggu caknon. Mereka memang bersahabat semenjak kecil. "Kebawah yuk mut" Ajak buk diana.


"Ngak deh kak. Tia disini aja" Sahut mutia.


"Yaudah akak kebawah dulu ya" Buk diana berdiri "Nando disini cuman jadi obat nyamuk dikan sama mutia?" Celetuk buk diana.


Aku dan mutia tertawa. Nando berdiri dari duduknya dengan bibir tersenyum menahan malu. Nando menuruni tangga menyusul buk diana. Nando tetap kebawah meskipun sudah kutahan. Badan gempal nando terlihat hampir sama besar dengan badan buk diana.


"Buk, ibuk terlihat cocok jalan sama nando" Ujarku.


Buk diana dan nando hanya menoleh dan tersenyum kebalakang. Aku dan mutia tertawa. Buk diana dan nando bergabung didalam keramain penonton.


"Kak diana udah punya tunangan loh itu" Kata mutia.


"Biarlah, aku kan hanya bercanda" Sahutku


"Tapi aku kan ngak mau tahu"


"Gapapa, aku kan promosi" Jawab mutia.


Aku tertawa kecil. Pertandingan perang bantal kembali dilanjutkan. Sorak-sorai kembali bergemuruh merayakan kemeriahan lomba. Mutia masih duduk diatasku sedangkan aku duduk ditanggah bawah.


"Oh iya, selesaikanlah remedi kamu sama sintya. Waktu kami hanya tinggal sehari lagi disini. Nanti kamu susah nyariin dia buat remedi" Ucap mutia serambi menyaksikan keseruan lomba.


"Iya, iya. Nanti aku remedikan" Sahutku


"Kenapa gak sekarang. Selagi masih ada waktu" Ucap mutia


"Sekarang aku ngak konsen karna ada kamu" Sahutku menggoda


Mutia tersenyum lebar menahan tawa. Kedua lesung pipinya cekung sangat dalam. Sedalam hatiku yang jatuh cinta ketika ia tertawa


"Sekalian sama latihan-latihan di LKS. Sintya bilang kamu belum masukin nilai latihan di LKS" Ucap mutia setelah tawanya


Aku menoleh dan mengangguk. Mutia tersenyum. Kami kembali menyaksikan keseruan dilapangan. Kami sama-sama tenggelam dalam keseruan perang bantal. Badan salah satu peserta yang gemuk dan pendek terlihat lucu ketika melayangkan bantal. Penonton tertawa terbahak-bahak. Nando, aldi dan ijep tertawa terpingkal-pingkal. Mutia juga tertawa. Lesung pipinya yang dalam terlihat jelas dari samping.


"Lucu ya si andre" Ujar mutia disela-sela tawanya. Pria gemuk itu bernama andre. Dia murid kelas sepuluh.


Aku mengangguk "Dia lucu karena badannya gendut" Jawabku.


Pria gemuk itu akhirnya menjadi pemenang. Dia merayakan kemenangannya dengan mengangkat tangan dan berlari riang mengelilingi ring. Semua orang tertawa melihat tingkah lakunya. Dramatis sekali.


"Badanku tambah gendut ya" Tanya mutia.


"Iya, badan kamu semakin lebar aja. Sudah hampir sama lebar dengan buk diana" Sahutku dingin.


"Itulah, aku baru merasa setelah aku berkaca tadi pagi"


"Baguslah" sahutku serambi menatap kelapangan.

__ADS_1


"Bagus?" Tanya mutia tak mengerti. Dia menatapku dengan wajah yang penuh tanya.


"Iya, Bisa jadi kamu bahagia makanya berat badan kamu bertambah"


"Iya, aku bahagia karna banyak dapat banyak teman disini"


"Kamu bahagia karna ada aku kan?" Cetusku.


"GR" Sahut mutia tersenyum.


Kami kembali tenggelam dalam keseruan lomba. Perang bantal berhasil menjadi hiburan yang menyenangkan. Tawa-tawa lahir sebagai kebahagian dari semua siswa. Buk diana dan ketiga sahabatku berjalan kearahku setelah dari lapangan. Ijep juga kalah dalam perlombaan perang bantal. Kami duduk berenam dengan sesekali tertawa memperhatikan perang bantal. Setengah jam setelah mengobrol dan tertawa bersama. Mutia dan buk diana berjalan untuk kembali kekantor.


"Dikan. Jangan lupa loh tuntasin nilai kamu sama sintia" Ucap mutia setelah beberapa langkah.


Aku mengangguk.


"Jangan iya-iya aja lu" Cetus buk diana buk diana.


Aku hanya tertawa menanggapi celetuk buk diana. Guru muda ekonomi itu memang orang yang humoris. Buk diana tertawa.


"Kalau ngak diremedikan putusin aja dikan buk" Aldi juga menimpali


Mutia hanya membalas dengan senyum dan berlalu. Ketiga sahabatku tertawa sebelum kembali tenggelam dalam keseruan dilapangan volly. Aku mengambil selembar kertas dan mulai menghafal remedi geografi.


Setelah beberapa menit. Setelah merasa bisa menghapal semua soal. Aku berjalan kekantor untuk menemui buk sintya. Didalam kantor, aku lansung menghampiri buk sintya yang tengah duduk dikursinya. Disebelah buk sintya ada buk diana dan mutia yang juga duduk dikursi mereka.


"Buk bisa remedi buk" Tanyaku.


"Apa dikan? Buk mutia" Sahut buk sintya memperolok


Buk diana tertawa. Mutia tersenyum menahan tawa. Buk nit duduk dipojok juga menoleh. Mukaku memerah menahan malu. Ada beberapa guru senior didalam kantor.


"Remedi buk" Ucapku lagi menyakinkan diri


"Ya, Puassin lah dulu lihat buk mutia" Sahut buk sintya.


Sial. Aku sedang diperolok-olokkan oleh buk sintya. Aku ingin melangkah pergi. Tapi aku tahu buk sintya hanya bercanda. Aku akhirnya berdiri dan mendengar buk sintya tertawa kecil.


"Nanti gak bisa lagi lihat buk mutia" Buk diana ikut menimpali.


Aku hanya diam menahan malu. Aku merasa sangat gerogi. Tubuhku terasa kaku dan dingin. Mutia senyum-senyum sendiri dengan menahan tawa. Aku menggeleng tak habis pikir dengan buk sintya dan buk diana.


"Ya, besok ngak akan ada lagi buk mutia disini. Puas-puassin lah lihat buk mutia dulu" Buk sintya lagi


"Besok kangen pula" Seru buk diana menimpali.


Mereka tertawa riang. Aku merasa sedikit risih melihat ketiga guru muda ini memperolokku. Mutia menatapku dengan bibirnya yang kerucut dan kening yang berkerut. Aku tertawa kecil melihatnya. Merasa terhibur.


"Bisa remedi ngak nih buk?" Tanyaku


"Iya, mana kertas UH nya" Sahut buk sintya.


Aku memberikan kertas UH ku kepada buk sintya.


"Kalau ngak mutia yang bilangin, mungkin gak bakalan dikan remedikan" Gerutu buk sintya.


"Bisa dimulai buk?" Tanyaku lagi fokus


"Mulai lah" Sahut buk sintya tertawa.


Aku mulai membacakan soal-soal dan jawaban ulangan yang tadi kuhafal. Disebelah buk sintya, mutia menatapku tanpa berkedip. Dia tetap menatapku meskipun aku sudah menatapnya. Dia sengaja membuyarkan konstrasiku. Buk sintya dan buk diana tertawa melihatku yang terbata-bata melisankan soal remedi. Aku akhirnya keluar setelah buk sintya menanda tangani kertas ulanganku.


"Dikan" Panggil buk sintya.


Aku berhenti dan menoleh.


"Yang kuat yang menahan rindunya" Ujar buk sintya.


Aku lansung berlari meninggalkan kantor tanpa merespon guraun buk sintya. Meskipun sedikit ilfil dengan apa yang dilakukan buk sintya dan buk diana. Tapi aku merasa sangat bahagia. Aku kembali pulang dan menghantarkan mutia sampai depan sekolah dekat rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2