Ruang Hitam

Ruang Hitam
Hamba yang lalai


__ADS_3

Tiga hal yang menjadi musuh dalam diri seorang laki-laki; Harta, tahta dan wanita.


****


Suatu hari, akan ada cerita yang akan menjadi kenang. Masa lalu adalah titik henti untuk sejenak mengenang sebuah kisah sebagai arti dalam kehidupan. Entah itu perihal kebenaran dan kesalahan, keindahan ataupun menyakitkan. Namun yang pasti, eskistensi dari masa lalu hanyalah untuk menjadi sebuah pelajaran.


Tidak ada hal yang sia-sia didalam hidup ini. Baik dan buruk hanyalah persepsi manusia dalam menilai suatu kejadian. Kadang yang baik belum tentu baik untuk kita. Dan yang buruk belum tentu sepenuhnya buruk untuk kita. Hidup ini seperti timbangan yang bisa berubah-ubah dengan seketika. Dimana semuanya tergantung atas kehendak-Nya.


Tidak akan ada anak yang bahagia menerima kedua orang tuanya bercerai. Seberapa bencinya aku melihat perlakuan bapak terhadap ibu. Percerain mereka tetap saja menjadi kesedihan yang paling mendalam. Namun, aku mencoba untuk berpikiran positif. Dan mengambil hikmah agar kelak aku tidak menjadi seperti bapak.


Aku mulai memahami arti kebahagian dan kesedihan dalam hidup. Kesedihan dan kebahagian terlahir dari pola pikir kita dalam menyikapi sebuah keadaan. Pikiran yang larut dalam kesedihan akan membuat kita semakin terpuruk dalam keadaan yang sulit. Dan kebahagian tercipta apabila kita bisa berbesar hati menerima semua kesulitan.


Hujan lebat sekali turun dimalam rabu. Aku berbincang-bincang dengan ibu setelah makan malam. Ibu menceritakan perihal persidangan yang tadi siang tidak aku hadiri. Aku bertambah benci dengan bapak ketika ibu bilang kalau bapak menghadiri persidangan bersama istri barunya. Namun ibu seolah kebal dengan sikap bapak yang terlalu bebal.


"Benci hanya akan membuat sakit itu menjadi perih. Luka menjadi nanah. Dan hatimu akan terus tersiksa oleh dendam" Ucap ibu.

__ADS_1


"Tapi bapak pantas untuk dibenci bu?" Sahutku tidak terima.


"Setiap manusia yang hidup tak luput dari kesalahan. Ada kesalahan yang memang disengaja. Dan ada juga kesalahan yang memang tidak pernah disadari sama sekali. Tapi tugas kita sebagai manusia hanyalah berusaha untuk memaafkan."


Aku hanya diam. Aku tidak punya jawaban lagi untuk meluapkan kebencianku kepada bapak. Ibu selalu membelah bapak. Entah terbuat dari apa hati ibu hingga dengan mudahnya ibu memaafkan bapak yang telah mengkhianatinya.


"Dunia ini seperti sebuah permainan lego yang suatu saat akan berakahir dan hancur. Jika kau pikirkan bagaimana kehidupan ini berawal takkan sesuai dengan nalar. Tapi bisa diterima dengan logika. Memang tidak masuk dalam akal ketika manusia mati akan dihidupkan kembali dalam keabadian. Tapi kita harus percaya. Setidaknya kita percaya bahwa mati adalah sebuah kepastian"


Aku hanya diam dan mengangguk. Aku mengamini semua perkataan ibu.


"Kikan akan pegang nasehat ibu. Kikan tidak akan seperti bapak" Ucapku.


"Dunia ini hanyalah tentang hitam dan putih. Warna-warna lain adalah pelengkap dari kesempurnaan. Namun kehidupan hanyalah perihal hitam dan putih. Seperti neraka dan surga. Dosa dan pahala. Kematian dan kehidupan. Manusia menjalani kehidupan diantara sisi baik dan sisi buruk"


Aku menatap ibu tidak mengerti. Kata-kata ibu terlalu sukar untuk kucerna.

__ADS_1


"Hidup ini hanyalah perjalanan menunggu mati. Setiap detik kita berjalan menuju ajal. Dan bila batas waktu itu telah tiba, maka cobaan kita didunia telah berakhir. Ketahuilah, Nak.... Dunia ini hanyalah sebuah ujian dimana nilai akhirlah yang akan menjadi penentu kita masuk surga atau neraka"


Aku mengangguk. Ibu menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. Ibu tersenyum menahan air matanya yang akan jatuh.


"Kau tidak mau menjadi seperti bapakmu bukan?" Tanya ibu.


Aku menggelengkan kepala.


"Mulailah sholat dari sekarang" Ucap ibu.


Aku menelan ludah. Ibu membereskan piring kotor diatas meja. Aku hanya diam dan tak mampu menjawab pertanyaan ibu.


"Sholatlah yang akan menjadi penolongmu diakhir kelak" Ucap ibu dan berlalu kedapur.


Aku tetap terdiam dimeja makan. Aku bukanlah manusia yang suci saat aku hidup dalam ruang hitam. Aku manusia yang hina dan penuh dosa. Entah sampai kapan aku akan terbelunggu dengan kehidupan manusia dalam gelap. Jauh didalam sanubari. Aku juga ingin pulang dengan menjadi manusia yang selamat. Namun, entah bila pintu hidayah itu akan terbuka dalam hatiku.

__ADS_1


Hujan diluar rumah mulai reda. Kendaraan mulai berlalu lalang dijalan dusun tuo. Aku mengurung diri didalam kamarku. Ibu terdengar menyalakan televisi dan menontom film kesukaannya. Aku merenungkan kehidupan sebelum tidur.


__ADS_2