Ruang Hitam

Ruang Hitam
Jatuh cinta kembali


__ADS_3

Bisa bicara dan menatapnya saja aku sudah bahagia. Apalagi bisa memilikinya.


****


Mungkin memang benar kata orang, ataupun kata puisi para bujangga yang mengatakan bahwa cinta itu datang dari mata lalu turun ke hati. Mungkin begitulah sekiranya yang kurasakan kepada mahasiswa yang praktek disekolahku sebagai guru muda. Namanya buk mutia, atau yang tertulis di id cardnya Mutia Heriyenti. Mahasiswa dari fakultas sejarah STKIP pgri. Wanita yang cemberut waktu aku hampir menabraknya di tanjakan didepan kantor Kepala sekolah. Juga wanita yang tersenyum menertawakan kesialanku dipagi senin kemarin.


Buk mutia lebih lambat masuk(mendaftar praktek) dibandingkan guru muda lainnya yang memilih praktek disekolahku. Pantas saja waktu pengenalan Guru PL seusai kultum dihari jum'at aku tak melihat buk mutia.


"Orang kan pengenalan hari jum'at pagi kan, nah ibuk mendaftar hari sabtu" Jelas buk mutia suatu hari. Jadi mahasiswa STKIP pgri yang praktek disekolahku menjadi tujuh orang dengan ditambah buk mutia.


Buk mutia orang yang asik diajak bicara. Tidak seperti guru muda lainnya, yang kebanyakan cuek dan terlihat kaku. Buk mutia lebih enjoy dan terbuka. Terlebih lagi buk diana, orangnya terlihat lebih santai. Dia orang yang periang dan mudah akrab dengan siswa laki-laki. Tidak seperti guru PL wanita yang lain, yang lebih pencitraan dan terlihat arogan. Buk mutia dan buk diana lebih bisa menciptakan suasana yang berisi gelak tawa. Sedangkan dengan guru PL lainya cenderung serius dan kaku.


"Buk mutia ini adik kelas ibuk waktu smp, jadi kemaren buk mutia tuh bingung mau PL dimana, jadi dia nanya dan ngikutin ibuk makanya dia telat masuknya" Jelas buk diana.


Sedangkan buk mutia hanya senyum-senyum sendiri. Senyum yang tertanam didalam hatiku. Senyum yang membuatku untuk terus memikirkan buk mutia. Dan senyum buk mutia pula lah yang membuatku ingin bertemu dengannya setiap waktu.


"Iya waktu itu dikan hampir nabrak ibuk tuh. Makanya ibuk senang waktu tahu dikan dihukum hormat bendera" tawa buk mutia sehari setelah itu. Tawa yang membuatku merasa bahagia ketika mendengarnya.


Aku merasa senang dengan kebaradaan buk mutia. Entah kenapa perasaan itu semakin terasa sempurna ketika aku memikirkan buk mutia. Dadaku terasa sesak yang selalu ingin melihat senyumnya. Mungkin memang begitu tingkah seseorang yang sedang dilanda jatuh cinta. Dilanda debar-debar yang selalu penasaran ingin bertemu, yang kemudian terasa damai didada ketika sudah berhasil menemui senyumnya.


Hal yang sama pernah kurasakan pada fiona. Aku masih ingat waktu fiona tak sengaja melintas dijalan depan rumahku. Aku yang seketika itu baru pulang duduk didepan jendela, menunggu kemungkinan, hanya untuk bisa melihat fiona yang akan kembali melintas didepan rumahku. Dan perasaan yang sama kini tumbuh dihatiku. Perasaan yang hadir sebagai anugrah karna kelapangan hatiku merelakan fiona dimiliki oleh afdal yang jauh lebih beruntung.


Malam semakin larut dengan cahaya bulan yang bulat penuh diluar jendela. Aku tidur malam ini dengan perasaan bahagia. Perasaan yang tak sabar menanti pagi agar aku bisa kembali bertemu dengan buk mutia. Seseorang yang tiba-tiba menjadi semangatku untuk sekolah.


****


Mentari pagi bersinar terang lebih cepat. Jam dinding menunjukkan hari masih pukul tujuh kurang sepuluh menit. Aku berpamitan kepada mama setelah sarapan.


"Ma, dikan berangkat dulu ya" pamitku dengan menyalami tangannya.


"Hati-hati ya" Senyum mama terlihat bangga.


Aku hanya tersenyum. Aku sadar bahwa mama melepasku dengan perasaan senang untuk berangkat sekolah. Selain senyum buk mutia. Mama adalah alasan utama kenapa aku harus berubah dan rajin untuk belajar.


"Jangan lupa bayar uang SPP" ketika aku sudah berada diatas motorku.


Aku hanya mengangguk. Lalu berangkat sekolah dengan sepeda motor maticku. Jalan lintas sumatra lancar seperti hari-hari biasanya. Tidak ramai dan tidak pula lengang. Jarak sekolahku berada sekitar sepuluh kilo meter dari rumahku. Dan jaraklah yang sering kali menjadi alasanku ketika aku terlambat. Tapi kemudian alasan itu seperti tak mempan lagi semenjak buk det menjulukiku sebagai "Raja telat". Buk det bilang telat sudah menjadi darah daging didalam diriku.


Pukul tujuh lewat delapan menit. Aku memarkirkan motorku sesampai dikantin tek rida. Kantin tek rida adalah kantin yang biasa kukunjungi semenjak kelas satu. Selain menu makanan yang lengkap. Kantin ini juga menjual rokok, dan hampir sebagian murid laki-laki yang merokok akan nongkrong disini untuk mengisi waktu istirahat. Sebelum tek rida, pemilik kantin ini adalah tek wen, kakaknya tek rida. Namun, waktu kelas dua, tek wen meninggal karna mengidap penyakit jantung. Dan tek rida meneruskan usaha kakanya.


"Nando baru saja kebawah" Ujar tek rida yang berdiri didepan pintu kantinnya.


"Iya tek, bell udah bunyi?" Tanyaku merapikan rambutku dikaca spion.


"Udah, barusan. Nando palingan juga baru sampai dilokal"


"Yaudah tek, dikan upacara dulu" kataku lalu berlari ditengah ruangan bekas sekolah yang sudah tidak dipakai. Dinding-dinding tua itu menjadi pemisah antara sekolahku dengan kantin tek rida.


Suara buk yana terdengar berteriak-teriak melalui microfon. Aku melihat nando sedang bergegas masuk kedalam barisan. Aku segera berlari kelapangan dengan perasaan yang bangga. Hari ini aku tidak telat lagi. Aku meletakkan tasku dibelakang barisan.


"Wiehhh tumben nih" Celetuk windi ketika aku baru saja bergabung kedalam barisan.


Aku hanya tersenyum menanggapi windi.


"Raja telat gak telat lagi" Sambungnya.


"Dikan sudah berubah" timpal aldi dengan menepuk pundakku.


Sebagian barisanku tertawa. Aku hanya diam dan merasa bangga. Aku siap untuk berdiri mengadapi upacara. Walaupun upacara itu terasa membosankan bagiku.


Sungguh aku tak bisa memastikan bahwa ialah wanita yang paling cantik. Tapi, aku mengakui, aku sadar diantara deretan barisan guru didepanku ialah barisan yang berhasil menghentikan pandanganku. Dia bisa menahanku hanya untuk terus menatap. Mengagumi semua hal yang ada dalam dirinya.


Dan aku juga tidak bisa membedakan seperti apa itu wanita yang cantik. Bukankah cantik itu relatif? Bukankah diatas langit masih ada langit. Dan aku mengaguminya, walaupun aku tau dia adalah guru. Dan aku sadar, aku takkan bisa lebih.


Buk mutia tak sengaja menoleh kearahku. Dan dia melihat aku terus menatapnya. Aku tersentak. Aku menundukkan kepala. Apa dia melihatku sedari tadi menatapnya? Gumanku.


Aku hanya diam dan menyembunyikan keberadaanku dibalik badan nando. Badan nando yang tinggi besar menutupi keberadaanku dari buk mutia. Aku bersembunyi dibalik badan nando sampai upacara selesai.


Beberapa menit kemudian. Setelah upacara, aku berjalan didalam kerumanan murid-murid yang behamburan berjalan menuju lokal mereka masing. Sinar matahari sudah terasa panas. Badanku mulai merasakan gerah dengan keringat yang terus bercucuran. Aku membuka topiku sesampai dikelas. Anehnya, hanya aku yang terlihat berkeringat pagi ini. Sedangkan temanku juga mengeluh gerah dengan keringat yang hampir tidak terlihat. Kepalaku terasa dingin dengan keringat yang membasahi rambutku. Baju belakangku juga sudah basah. Aku merasakan kepalaku berdenyut. Terasa ngilu hingga aku memaksakan tidur dengan kepala terpaku diatas meja.


Kepalaku masih kian terasa sakit saat aku memaksa untuk tidur. Sementara itu buk net mengucapkan salam yang bersahutan salam dari seisi kelas. Aldi menyiapkan anggota kelas sebelum memulai doa pagi yang menjadi tradisi sebelum memulai pembelajaran. Diawali dengan Al-fatiha, Al-ikhlas, An-nas, Al-falaq, dan diakhir dengan Ayat kursi. Aku masih mendengar dengan kepala tertunduk seolah tertidur. Kepala dan mataku memaksaku untuk tidur. Dan suara lantunan ayat-aya Al-quran terasa mengema ditelingaku. Membuat kepalaku berdenyut-denyut. Terasa ngilu ketika aku memakasakan membuka mata.


"Sakit teguh" ujar buk net dengan mengusap keningku. Entah apa yang ia rasakan. Entah panas entah dingin yang dirasakan oleh buk net. Tapi badanku memang terasa dingin. Aku seolah menggigil dengan keringat yang terasa dingin menjalar membasahi sebagian bajuku.

__ADS_1


"Semalam teguh bagadang ya?" Tanya buk net.


Aku hanya diam. Buk net benar. Semalam aku tidur sudah hampir pagi.


Terdengar buk net melanjutkan topik pembelajaranya. Setelah itu hingar-bingar. Lalu aku menjadi tuli dan bisu.


****


Aku terbangun karna dibangunkan oleh nando. "Lah ud, uranglah istirahat, lah pai makan" ujar nando. Terlihat nando berdiri ditemani jefri.


Aku mengangkat kepalaku. Sakit dikepalaku sedikit mulai terasa reda. Aku mengelap pipiku yang terasa basah. Sebagian teman-temanku terlihat berjalan keluar. Aku terdiam sejenak menatap sekeliling. Seoalah mengumpulkan kesadaranku kembali. Aku melihat tika, aulia, vingky dan pariti membawa bukena.


"Istirahat urang ud?" tanyaku pada nando.


"Lah istirahat yang kedua" sahut nando tertawa.


Pantas saja tika dan anak cewek lainnya membawa bukena. Disekolahku, dalam satu hari menyediakan dua waktu istirahat. Dimana istirahat pertama dengan waktu 30 menit. Dimulai pukul 10:15-10:45 dan 12:30-45. Sedangkan istirahat kedua 45 menit sudah termasuk sholat zuhur berjamaah.


"Lah makan" Ajak nando.


Aku berjalan mengekor nando dan ijep. Dikelas tiga ini, mereka adalah temanku disekolah. Sesampai dikantin ternyata tek rida sedang membicarakan aku dengan aldi yang telah lebih dulu kekantin.


"Panjang umur nya di" Ujar tek rida.


"Sudah sadar dia dari komanya tek" Ledek aldi.


Aku duduk disebelah aldi. Aku terlihat bingung. Kepalaku tidak lagi terasa sakit. Tapi aku merasakan mataku sembab karna terridur cukup lama.


"Mimpi apa tadi, sampai segitu nyenyaknya tidur?" Ledek aldi.


Aku hanya tertawa kecup.


Tek rid tertawa "Bagadang semalaman dika ya?" Tanya tek rida.


"Iya tek, semalam bagadang" Sahutku menjadi alasan. Aku kemarin bagadang lagi. Bukan karna nonton bola. Aku semalam duduk di RGM, dan semalam aku pulang jam satu. Di RGM, kami memang bubar sering larut malam. Semalam tuak lebih banyak dibawa oleh tamu---teman bisnis lama pram yang pernah sama-sama menjadi kurir bandar sabu besar. Bg GM namanya, GM adalah kepanjangan dari gendut manis. Pram dan GM bercerita bayaran yang menggiurkan dan hidup mereka yang menyenangkan sewaktu menjadi kurir bang napi. Tapi resiko dibalik itu membuat pram dan GM melarikan diri dari rumah bang napi. Cerita lama mereka menjadi syahdu dengan dimensi selimpul cimeng dikombinasi delapan liter tuak.


"Dak ka makan dikan?" Tawar tek rida.


"Lai ado juo tek?"Tanyaku menanya nasi goreng.


"Mungkin karna sesekali ikut upacara kali ya" Tanya tek rida dengan meletakan sepiring nasi goreng dan sebotol kecap manis. Tek rida sudah tahu nasi goreng sering kucampurin dengan kecap. Seperti sudah menjadi kebiasaanku. Bahkan tek rida pernah menanyakan apakah aku keturunan jawa. Karna nasi goreng setiap hari ku campuri dengan kecap.


"Bisa jadi tek" Sahut aldi. "Dikan sekarang sudah berubah" sambung aldi serambi mengusap pundakku. Nando dan ijep tertawa mendengar ledekan aldi. Aku terus mengisi perutku dengan sepiring nasi goreng.


Siang ini kantin tek rida hanya ada aku dan ketiga sahabatku, juga ada beberapa orang junior satu tingkat dibawahku. Seperti biasanya diistirahat kedua, kantin tek rida lengang dibandingkan istirahat pertama yang selalu ramai.


Afdol, nurfan, dan beberapa teman-temannya terlihat baru datang. Aku memesan rokok ke tek rida setelah selesai makan. Meskipun tidak sekolah disini lagi, nurfan dan afdol kadang menyempatkan untuk main ke kantin tek rida.


"Woiii kawan" Sapa nurfan diiring dengan melambaikan tangannya kearahku.


"Sudah pulang sekolah genji tawuran" Ledekku kepada nurfan.


"Enggaklah, awak dak suko tawuran. Awak orang baik-baik" Sahut nurfan dengan guraun juga.


"Woi goblin" Sapa afdol kepadaku. Goblin adalah panggilan yang diberikan afdol kepadaku. Panggilan itu ia berikan kepadaku ketika aku sering membulinya yang selalu main permainan COC. Aku mengatakan bahwa permainan COC hanyalah permainan orang bodoh. Afdol dan suhaimi selalu fokus menatap ke layar ponsel dan melupakan orang-orang sekitarnya. Seperti sudah kecanduan. Dan semenjak itulah afdol memanggilku dengan sebutan goblin. Kata afdol goblin itu adalah karakter dari permaina COC, prajurit dengan karung perum tempat ia menyimpan emas rampasan perang.


Nando, ijep, aldi, dan beberapa juniorku duluan kebawah untuk melaksanakan sholat zuhur berjamaah. Sekolahku mempunyai waktu untuk sholat zuhur berjamaah yang dilakasanakan pada hari senin, rabu, kamis, dan sabtu. Sedangkan selasa dan jumat tidak dilaksanakan sholat berjamaah. Didalam kantin kini hanya ada aku, afdol, nurfan, zico dan kiki junior dari jurusan IPS.


Afdol mengajakku untuk bermain futsal antara sekolahnnya dan sekolahku seusai pulang sekolah. Dia bilang suhaimi dan temannya yang lain telah menanti di gor montela. Aku menyetujui meladeni tantangan afdol setelah dapit dan zico menjawab dengan setuju.


Kami lalu bubar dari kantin tek rida yang sudah mau tutup. Aku, zico, dan dapit berjalan kembali kedalam sekolah. Sedangkan afdol dan nurfan menungguku pulang sekolah di gor montela.


"Jangan jadi pecundang ya" Teriak afdol untuk kembali mengingatkan kami.


"So jagoan" Timpal zico yang berjalan dibelakangku.


"Jangan lupa ajak dapit sama gani ya ko" Pesanku kepada zico.


"Siipp" Jawab zico singkat.


Aku berjalan kekantin pak apin menemui ketiga sahabatku yang mengambil wudhu disana. Sedangkan zico menyimpang kekanan dan mengambil wudhu didalam wc mushola.


Didalam kantin pak apin. Aldi terlihat sedang berbincang dengan buk diana dan buk mutia. Juga tek surti(Istri pak apin) yang sedang mengoreng gorengan yang akan dijual.

__ADS_1


"Di, hari ini kamu pulang bareng nando ya" Ujarku ketika baru saja sampai didalam kantin pak apin.


"Kok gitu?" Tanya aldi penasaran.


"Iya tadi afdol ngajakin sparing futsal pulang sekolah" Jelasku dan duduk menyamping disebelah aldi


Aldi hanya terdiam. Aku tersenyum kearah buk diana. Aku duduk disamping aldi, didepan buk diana.


"Goreng buk" Sapaku kepada buk diana dan mengambil goreng.


"Ya lanjut" Sahut buk diana.


"Buk" Sapaku kemudian kepada buk mutia. Buk mutia terlihat menolak dengan senyuman.


"Udah sehat sakit kepalanya dikan?" Celetuk buk diana.


Aku hanya tersenyum serambi memakan gorengan.


"Aldi ngak hobi suka futsal" Tanya buk mutia.


"Suka buk, tapi orang yang kurang pandai ini mana dipakai orang" sahut aldi merendah


"Ajak jugalah aldi main futsal dikan" Ujar buk diana.


"Aldinya yang gak mau ikut buk"


"Wajarlah buk. awak sadar diri juga dengan kemampuan awak. Tapi beda dengan dikan buk. Dia adalah pemain inti tim sepakbola sma ini buk. Sedangkan awak, terpilih saja enggak" Ujar aldi menyanjungku.


"Ohh iya, setiap tahun ada lomba main bola antar sekolah tingkat SLTA se-kabuhpaten mah ndg?" Tanya buk diana.


"Dan dikan adalah calon kapten sekolah tahun ini mah buk" Puji aldi yang mulai berlebihan.


"Emng iya ada?" Tanya buk mutia penasaran.


"Iya, setiap tahun. Biasanya dimulai disemester pertama ya kan" Tanya aldi.


"Tahun kemaren awal september mulainya" Sahutku.


"Dikan sebagai kaptennya?" Tanya buk mutia.


"Ya ibuk ngak percaya" Gelak tawa aldi.


"Belum tahu buk. Lombanya aja belum dimulai" Jawabku.


"Tahun kemaren siapa kaptennya?" Buk mutia terlihat antusias.


"Bg wanda, senior yang sudah tamat" Jawabku tersenyum. Itulah yang aku suka dengan buk mutia. Dia tidak segan-segan untuk bertanya. Meskipun kadang yang ditanyakan hanyalah sebuah dusta dari alibi senda guraun semata.


"Sekarang kelas tiga, siapa-siapa saja yang termasuk kedalam team sepak bola SMA?" tanya buk mutia lagi.


"Banyak" Jawabku singkat.


"Tapi hanya dikan dan ripo yang jadi pemain inti buk. Kapten kalau tidak ripo berarti ya dikan. Karna hanya mereka pemain senior yang siap bersaing" Jelas aldi.


"Seru donk besok nontonnya" Ujar buk mutia.


"Nontonlah buk, biar ada yang bisa bikin dikan semangat" Guraun aldi dan berlalu masuk kedalam rumah pak apin. Buk mutia hanya tersenyum. Buk diana menggeleng dengan apa yang dikatakan aldi.


Aku masih melanjutkan obrolanku dengan buk mutia dan buk diana. Buk mutia yang hampir sama tinggi denganku itu tua dua tahun daripadaku. Buk mutia kelahiran oktober 95 dan buk diana setahun lebih tua dari buk mutia. Buk mutia dan buk diana juga satu kampung namun dengan jarak rumah mereka terpisah agak jauh. Rumah buk diana didekat SMP 6 MuaroKalaban, sedangkan rumah buk mutia berada ditepi jalan lintas sumatra didepan SD O5 MuaroKalaban. Buk diana juga membercandaiku dengan menyuruhku untuk mampir kerumah buk mutia kapan-kapan. Buk mutia hanya tertawa kecil. Tertawa yang menyembunyikan rasa malunya.


"Lah ud, Ambil lah wudhu lagi" Ujar nando ketika baru keluar dari dalam rumah pak apin.


"Oh iya" jawabku lalu membuka sepatuku.


"Ehhh orang sudah azan tuh" Keluh nando.


"Gara-gara buk mutia nih, keasyikan ngajakin dikan ngobrol" Celetuk ijep.


Buk mutia hanya tertawa heran. Buk diana, dan bik surti juga ikut tertawa. Aku masuk mengambil wudhu didalam WC pak apin. Aldi, nando, dan ijep sudah tahu bahwa aku menyukai buk mutia. Aku keluar setelah mengambil wudhu. Buk mutia dan buk diana sudah tidak ada lagi selepas aku keluar dalam rumah pak apin.


"Berapa bik?" Tanyaku membayar jajananku.


"Sudah dibayarkan oleh buk mutia" Jawab bik surti.

__ADS_1


Aku berjalan ke mushola dengan perasaan bahagia. Kebaikan buk mutia siang ini semakin membuat aku kagum padanya.


__ADS_2