Ruang Hitam

Ruang Hitam
Liburan akhir tahun


__ADS_3

Negeri ini kaya akan pesona alam yang indah. Hanya saja, minimnya investor dan pengelolaan membuat keindahan itu kurang dikunjungi


****


Desember telah sampai dipenghujung tahun. Semua sekolah telah memasuki libur semester dengan serentak. Aku menerima rapor dengan peningkatan yang luar biasa disemester ini. Aku mendapatkan rangking delapan. Peningkatan yang signifikan untuk menghadapi semester terakhir sebelum kelulusan.


Ibu merasa bangga sekali kepadaku saat penerimaan rapor. Ibu bahkan menanyakan apa keinginanku akan diturutinya sebagai hadiah atas membaiknya nilaiku disekolah. Tapi aku tidak minta apa-apa kepada ibu. Aku tidak mau merepotkannya dengan hadiah. Bagiku kesabarannya menghadapi semua kenakalanku yang mengecewakan adalah hadiah yang paling istimewa untukku. Lagipula aku punya sedikit tabungan dari rekening gelap.


Pukul delapan pagi. Awan gelap masih menghiasi langit setelah semalaman diguyur hujan. Hari ini aku akan jalan dengan mutia. Kami sudah mengatur jadwal dari jauh-jauh hari. Aku memakai sepatuku setelah mutia memberi kabar bahwa di nagari tempat dia tinggal tidak turun hujan. Lalu mengunci rumah dan berangkat menemui mutia. Awan terlihat ingin hujan. Sepeda motorku melaju dengan kecepatan tinggi. Menyalip kemacetan selintas dianatara mobil pusp yang berlawanan.


Disimpang muaro kalaban, aku duduk ditrotoar menanti mutia. Seperti biasanya kalau bertemu denganku. Mutia harus dijemput buk diana agar bisa diizinkan untuk keluar rumah. Buk diana melintas dengan sepeda motornya dan menyuruhku untuk menunggu. Aku mengangguk dari kejauahan. Jalanan disimpang muaro kalaban ramai dilewati kendaraan. Antrian terlihat menumpuk dilampu merah. Kendaraan yang akan menyimpang kekota sawahlunto harus bersabar menunggu lampu hijau menyala. Aku memutuskan untuk membakar rokok kretekku sebelum mutia datang. Pandanganku liar kearah kanan untuk mewanti-wanti agar mutia tak melihatku sedang merokok. Dia pasti akan marah jika melihatku merokok.


"Orang yang perokok adalah orang tak memikirkan kesehatanya dimasa tua. Aku ngak mau ya direpotin kamu dimasa tua nanti karna kamu ngak nurut sama aku sekarang"


Oleh karena itulah aku bersandiwara dengan berjanji tidak akan lagi merokok kepada mutia. Tapi itu hanya didepan mutia saja. Dibelakang mutia aku tetap pria yang tidak bisa bernafas tanpa rokok. Bayangkan saja, merokok saja sudah membuat mutia marah. Apalagi dia tahu tentang sisi gelap yang kusembunyikan.


Buk diana terlihat membonceng mutia dari kejauhan. Aku segera membuang rokokku. Aku memakan permen agar nafasku tak berbau rokok. Aku terkesima melihat mutia turun dari motor. Celana hitam dan baju kameja hijau bermotif batik. Dia menyandang tas salempang abu-abu menyilang dibahunya. Mutia cantik sekali hari ini. Rambutnya panjang lurus sampai bahu. Poninya dibiarkan terurai membelah tengah rambutnya. Memperlihatkan sebagian keningnya yang luas.


"Bajunya sama-sama hijau. Sudah janjian ya" Tanya buk diana.

__ADS_1


Aku tersenyum. Kamejaku juga berwarna hijau dengan motif bintang-bintang putih.


"Takdir" Kataku tersenyum.


"Yayaya terserah dikanlah" Sahut buk diana "BTW selamat ya atas rangking delepannya. Usahain meningkat terus ya" Ucar buk diana


"Sipp. Makasih buk" Jawabku.


"Eh jangan panggil ibuk lagilah. Ibuk kan bukan guru kamu lagi" Ucap buk diana tertawa.


"Kak diana" kataku tersenyum kecup.


Aku mengangguk. "Nanti jemput tia ya kak?" Teriak mutia.


"Iya, telpon aja nanti" Jawab buk diana dan berlalu.


"Kenapa kamu masih senyum-senyum" Kata mutia.


"Kamu cantik hari ini" Jawabku.

__ADS_1


"Oh jadi kemaren-kemaren aku ngak cantik gitu" Mutia sinis.


"Bukan. Tapi hari ini lebih cantik"


"Gombal" Mutia tersipu "Yok lah jalan" ajaknya mengambil helm diatas motorku.


Motorku melaju dijalan lintas sumatra menuju solok. Mutia mengajakku untuk ke danau kembar yang ada nagari alahan panjang kabuhpaten solok. Aku belum pernah kesana. Aku sudah berusaha menolak karna mutia juga belum pernah aa. Tapi mutia memanfaatkan kecanggihan android miliknya sebagai penunjuk jalan. Google map memberitahu bahwa danau kembar masih 137 KM lagi. Lintas sumatra ramai lancar. Bukit dan persawahan menjadi pemandangan yang indah diperjalanan sebelum kota solok. Mutia bercerita dia membawa bakwan yang tadi dibuatnya setelah sholat subuh. Aku baru tahu kalau mutia suka memasak.


Setelah setangah jam lebih perjalanan, kami berbelok kekanan setelah lampu merah kedua. Setelah 15 menit dengan kecepatan sedang, kami memasuki jalan menanjak. Berbelok dijalanan yang dibatasi bukit dan jurang terjal disisi jalan. Pesawangan yang luas dan rumah-rumah terlihat begitu jelas dari ketinggian. Panorama memberikan kesejukan bagi mata. Semakin tinggi tanjakan semakin dingin udara. Jalan yang basah dan berbelok-belok membuatku sedikit berhati-hati. Pohon pinus yang berderet disisi tebing memanjakan mata. Embun terasa dekat menghalangi jarak pandang. Kami terus berkendara melawan udara yang semakin tinggi semakin dingin.


Ladang yang luas terlihat disepanjang jalan. Tanah yang berundak diolah menjadi lahan pertanian. Dikiri dan kanan jalan, dihiasi oleh kebun yang ditanam sayur-sayuran. Daun bawang dan cabe merah mendominasi. Sungguh pemandangan yang indah.


Motorku terus melaju dijalan yang mulai menurun. Aku berdercak kagum dengan pemandangan rumah-rumah diperkampungan. Sabana dikaki bukit juga menambah indahnya nagari ini. Perkampungan terlihat sangat luas dari kejauhan. Dimana ada dua bukit yang membatasi sisi selatan dan utara kampung ini. Mutia bilang kampung ini bernama Sungai nanam. Tempat nagari salah satu temannya tinggal.


Motorku terus melaju diperkampungan padat penduduk. Rumah-rumah berjejer dengan rapat. Beberapa rumah menyulap sepetak halaman dengan menanam bawang atau tomat. Udara yang dingin terasa tak berarti dengan pemandangan yang memuaskan dahaga. Kami menyimpang kekanan disimpang empat. Tulisan selamat datang di teratak jao tertulis sesudah simpang.


Danau yang luas terlihat setelah kami melewati perkampungan taratak jao. Motorku mulai melaju dijalan lintas yang menghubungkan solok selatan dengan kota padang. Aku memacu sepeda motorku dengan kecepatan sedang. Menikmati keindahan danau dan bukit diseberangnya yang begitu indah.


Pada akhirnya, provinsi sumatra barat memiliki alam yang indah untuk dijadikan destinasi wisata. Ada banyak kekayaan alam yang tersebar disetiap daerah. Hampir semua daerah disumbar ini memiliki tempat wisata yang bisa dijadikan sebagai pendapatan daerah. Misalkan perkampungan sungai nanam tadi yang diapit oleh dua bukit. Jika pemerintah membuat kareta gantung dengan memanfaatkan kedua bukit pasti akan menjadi wisata yang menyenangkan dengan pemandangan negeri diatas awan dan danau kembar yang indah. Hanya saja, minimnya investor dan pengelolaan membuat tempat wisata itu tidak dikenal oleh banyak orang. Hingga pengunjung hanya orang-orang dari provinsi sumbar saja.

__ADS_1


__ADS_2