Ruang Hitam

Ruang Hitam
Kebun teh


__ADS_3

Ciumanmu adalah kejutan yang meletuskan bahagia didalam hatiku


****


Kami sampai ditepi danau. Mutia lansung berlari kearah dermaga yang terbuat dari papan yang mengarah ketengah danau. Siang ini danau kembar sepi pengunjung, hanya ada sepasang kekasih yang duduk ditempat peristirahatan. Aula besar dengan empat tiang yang tak berdinding. Sepasang kekasih itu duduk membelakangi danau. Mutia lansung berjalan melintasi aula. Penjaga danau meminta uang parkir limabelas ribu. Mahal sekali.


Aku menyusul mutia yang sudah berdiri ditengah dermaga. Mutia bersuka ria melihat panorama yang begitu indah. Bukit diseberang danau terlihat hijau dengan sabana yang luas. Angin danau berhembus kencang, menitipkan dingin menembus blizer hitamku.


"Aku mau photo" Kata mutia memberikan hanphonenya kepadaku.


Aku mengambil gambarnya dengan latar belakang danau dan bukit beberapa kali. Rambutnya yang panjang bergoyang dibelai angin. Dia bahagia sekali melihat photonya sendiri. Aku juga merasa bahagia melihat mutia bahagia.


"Kamu ngak mau photo?"


"Mau" Sahutku dan bersiap berpose membelakangi danau.


Aku berpose dengan beganti gaya sesuai arahan mutia. Aku duduk menatap bukit yang hijau diseberang danau. Panaroma indah tercipta oleh danau yang dikelilingi bukit. Sungguh aku merasa pikiran segar dan suasana danau yang tenang.


"Diatas bukit itulah danau bawah" Ucap mutia.


Aku menoleh. Mutia mengeluarkan tuphware ungu dari dalam tasnya. Bakwan lengkap dengan sambal yang ditungkus didalam plastik. Aku memutar arah dudukku berganti bersimpu didepan mutia.


"Ada sambalnya juga" Ucapku setelah mutia membuka tutup tupwhare.


"Iya tadi aku juga bikin" Sahut mutia. Ia meletakkan taphware diatas lantai dermaga. Aku lansung mengambil satu dan memakannya. Bakwan mutia enak. Rasa bakwan.


Aku kembali menambah bakwan dan membasahinya dengan sambal. Sambal yang dibikin mutia juga enak. Pedas tapi nagih.


"Sambalnya enak?" Tanya mutia.


"Enak. Pedas tapi nagih" Sahutku menambah bakwan lagi. Cuaca yang dingin membuat perutku terasa lapar. Sudah tiga bakwan kuhabiskan. Dan mutia baru satu bakwan.


"Kamu tahu ngak ini sambal apa?"


"Sambal bakwan" Sahutku serambi memakan bakwan.

__ADS_1


"Kalau sambal penjual gorengkan biasanya saus dikasih air. Nah aku bikin juga dari saus. Tapi aku tambah lima sendok cabe giling dan tomat. Lalu aku rebus sekitar dua puluh detik" Ucap mutia setengah bakwan yang masih tertahan ditangannya.


"Tapi enak kok" Ucapku kembali mengambil bakwan.


"Ini resep dari ibu" Jelas mutia.


Mutia bercerita tentang kesukaannya memasak. Mutia didik oleh ibunya agar bisa masak. Ibunya bilang wanita minang harus bisa masak. Dan mutia juga suka memasak. Mutia bilang lewat memasak dia bisa merasakan tugas seorang ibu. Mutia terus bercerita tentang masa lalunya dengan ibunya. Hal yang membuatku bertanya, kapan aku akan bisa mengenal ibunya?


Angin berhembus kencang. Danau yang tenang memberi kedamain. Otakku terasa lepas. Hatiku terasa bahagia. Tak lupa juga, kami berselfie serambi memakan gorengan. Menciptakan kenangan dalam bentuk gambar, agar bisa diceritakan dikala masa depan.


"Danau bawah diatas bukit itu?" Tanyaku


Mutia mengangguk serambi memberekan perkakas kedalam tasnya. Aku kembali menatap bukit diseberang danau. Mutia juga memperhatikan bukit itu. Mutia bilang danau bawah hampir sama luas dengan danau diatas.


"Kenapa yang ini namanya danau atas, sedangkan letaknya dibawah. Kenapa bukan ini yang namanya danau bawah?" Tanyaku merasa aneh.


"Itulah keunikan danau ini. Ada banyak ceritanya sebenarnya tentang danau ini. Danau kembar ini penuh misteri. Aku kurang tahu juga"


Mutia bercerita pengetahuan tentang danau kembar. Danau diatas merupakan hulu dari Sungai Batanghari yang membelah pulau sumatra dan bermuara diselat malaka. Sedangkan danau dibawah yang hingga saat ini belum diketahui secara pasti kemana air dari danau dibawah dialirkan karena tidak ditemui sungai yang berhulu didanau bawah.


Mutia terus bercerita tentang danau kembar yang ketahui. Selain itu, kedalaman danau kembar ini juga berbeda. Danau atas termasuk kategori dangkal hanya berkisaran 40 meter. Sedangkan danau dibawah mempunyai kedalaman hingga 800 meter. Mutia bilang danau dibawah memang punya banyak misteri dikalangan masyarakat setempat.


"Nanti kita pulang lewat aro suka aja. Sekalian singgah di kebun teh" Ujar mutia yang masih fokus melihat photo-phot digalerinya.


Aku hanya mengangguk. Dingin memaksaku untuk bungkam. Meskipun aku memakai jaket, dingin masih saja terasa. Aku ingin sekali merokok agar bisa mengusir dingin. Tapi mutia pasti tidak akan memperbolehkanku.


Hujan masih turun dengan deras menciptakan kehangatan dalam kisah yang akan menjadi kenangan. Mutia bercerita tentang kesulitannya memikirkan judul penelitiannya. Mutia mengambil sejarah murni untuk skripsinya nanti. Mutia bilang, selain jadi guru sejarah dia juga bisa jadi seorang jurnalis.


Satu jam berlalu, hujan akhirnya reda menyisakan rintik didaunan. Kami melanjutkan perjalanan menuju kebun teh. Pemandangan danau sudah menghilang dari pandangan. Berganti bukit dan gunung talang yang tertutup oleh kabut hujan. Kami akhirnya sampai dikebun teh setelah setengah jam perjalanan dari danau. Aku memarkirkan motorku didekat warung ditepi jalan. Udara dingin masih melekat ditubuhku. Membuat gerakan dan langkahku menjadi malas. Mutia kupersilahkan untuk lebih dulu menyebrang. Aku memesan dua kapucino kepada pak tua penunggu warung. Pak tua itu mengangguk dan lansung bertugas. Dia memakai jacket tebal dan peci hitam.


"Dari padang" Tanya pemilik kedai


"Dari sijunjung" Sahutku.


"Ohhh. Sijunjuang" Sahut pak tua itu dengan bahasa solok ateh yang kental "Hujan tadi dibawah?" Tanyanya.

__ADS_1


"Enggak. Didanau kembar ini baru dapat hujan" Jelasku.


"Disini hujan terus" Ucap lak tua itu memberikan pesananku.


"Berapa pak?" Tanyaku


"Delapan ribu"


Aku membayar dengan uang sepuluh ribu. "Sisanya parkir aja pak" Jawabku membalik.


"Eh parkir mah gratis. Ambil saja makanan atau permen" Ujarnya


Aku mengangguk dan mengambik roti. Aku mengira dia akan meminta uang parkir seperti didanau kembar tadi. Aku menyusul mutia yang tengah sibuk dengan androidnya ditengah kebun teh. Kebun teh begitu luas hingga tak terukur luasnya oleh mata. Dibelakang warung, diseberang jalan juga ada kebun teh yang begitu luas. Aku terus mengikuti mutia dijalan mendaki kebun teh. Awan terasa begitu sejajar dengan tempatku berdiri. Bunyi pesawat terdengar bergemuruh diatas awan. Matahari siang ini bersinar dibalik awan yang mendung.


Aku mengambik photo mutia beberapa kali dengan androidnya. Beberapa kali aku mengambil photonya dengan latar yang sama. Tapi tak pernah memuaskan nafsunya. Mutia masih menyuruhku untuk mengambil photo meskipun telah puluhan kali.


"Kamu ngak suka ya jalan-jalan ke kebun teh" Tanya mutia sambil memperhatikan androidnya. Sibuk melihat hasil jepretanku tadi. Aku duduk menjongkok. Mutia mungkin merasa ilfil dengan gerakku yang tidak semangat.


"Suka" Jawabku singkat.


"Kalau suka kenapa dari tadi kamu cuman diam aja" Ujar mutia protektif.


"Dingin tia" Sahutku.


Dia berdiri menatapku. Kami beradu pandang. Dia menatapku penuh tanda tanya "Kamu lanjut aja photo. Ngak usah."


Mutia mencium bibirku. Dia mengulum bibirku beberapa detik. Tubuhku yang dingin terasa hangat oleh ciumannya. Hasrat terasa bergejolak. Membuatku memejamkan mata. Nikmat. Dia melepas ciumannya. Itu pertama kalinya kami berciuman.


"Masih dingin?" tanyanya.


"Enggak" Jawabku tersenyum kecup.


Dia menciumku tiba-tiba? Perasaan tidak menyangka meletus menjadi perasaan yang bahagia. Mutia tertawa kecil melihatku tersenyum.


"Aku photo-photo sebentar ya, habis itu kita baru pulang"

__ADS_1


Aku mengangguk. Mutia meninggalkanku dengan kesibukan mengambil gambar. Aku duduk termenung menahan dingin. Ciuman mutia tertinggal sebagai kekuataan yang menghangatkan.


Setelah beberapa menit kemudian kami melanjutkan perjalanan pulang. Kebun teh yang luas menghiasi pemandangan sepanjang jalan. Dipusat perkantoran diaro suka, ditugu ayam, hujan kembali turun dengan lebat. Kami berteduh serambi mengisi perut yang kosong dengan semangkuk mie ayam. Setelah hujan reda. Kami melanjutkan perjalanan pulang.


__ADS_2