
Hujan menciptakan rintik yang suatu hari akan menjadi kenangan bagi masa lalu.
****
Kami sampai ditepi danau. Mutia lansung berlari kearah dermaga yang terbuat dari papan yang mengarah ketengah danau. Siang ini danau kembar sepi pengunjung, hanya ada sepasang kekasih yang duduk ditempat peristirahatan. Aula besar dengan empat tiang yang tak berdinding. Sepasang kekasih itu duduk mengarah kedanau. Penjaga danau meminta uang parkir limabelas ribu. Mahal sekali.
Aku menyusul mutia yang sudah berdiri ditengah dermaga. Mutia bersuka ria melihat panorama yang begitu indah. Bukit diseberang danau terlihat hijau dengan sabana yang luas. Angin danau berhembus kencang, menitipkan dingin yang membuat badanku membeku.
"Aku mau photo" Kata mutia memberikan hanphonenya kepadaku.
Aku mengambil gambarnya dengan latar belakang danau dan bukit beberapa kali. Rambutnya yang panjang bergoyang dibelai angin. Dia bahagia sekali melihat photonya sendiri.
"Kamu ngak mau photo?"
"Mau" Sahutku dan bersiap berpose.
Lalu kami duduk ditepi dermaga. Menikmati panorama yang indah dengan danau yang dikelilingi bukit. Mutia mengeluarkan tuphware ungu dari dalam tasnya. Bakwan lengkap dengan sambal yang ditungkus didalam plastik.
"Ada sambalnya juga"
"Iya tadi aku juga bikin" Sahut mutia. Ia meletakkan taphware diatas lantai dermaga. "Masih hangat. Cobalah" Sambung mutia.
Aku mengambil bakwan. Bakwan mutia enak, rasa bakwan.
"Mau saus?" Tanya mutia.
Aku medekat bakwan kedekat mutia. Mutia menyirami bakwanku dengan sambal. Lalu kembali memasukkan bakwan kedalam mulutku. Sambal membuat bakwan mutia bertambah gurih. Pedas dan manis.
"Sambalnya enak?" Tanya mutia.
"Enak. Pedas tapi nagih" Sahutku menambah bakwan. "Kasih" Ujarku mendekatkan bakwan. Udara dingin membuat perutku terasa lapar.
"Kamu tahu ngak ini sambal apa?"
"Sambal bakwan" Sahutku serambi mengulum bakwan.
Mutia tertawa. "Kalau sambal penjual gorengkan biasanya saus dikasih air. Nah aku bikin juga dari saus" Mutia meletakkan saus diatas lantai "Tapi aku tambah lima sendok cabe giling dan tomat. Lalu aku rebus sekitar dua puluh detik" Sambungnya dan melahap bakwannya.
"Tapi enak ya" sahutku serambi menutaskan makanku.
__ADS_1
"Ini resep dari ibu" Jelas mutia.
Mutia bercerita tentang kesukaannya memasak. Mutia didik oleh ibunya agar bisa masak. Ibunya bilang wanita minang harus bisa masak. Dan mutia juga suka ketika memasak. Mutia terus bercerita tentang masa lalunya dengan ibunya.
Angin berhembus kencang. Danau yang teang memberi kedamain. Otakku terasa lepas. Hatiku terasa bahagia. Tak lupa juga, kami berselfie serambi memakan gorengan. Menciptakan kenangan dalam bentuk gambar, agar bisa diceritakan oleh masa depan.
"Ini danau atas atau bawah" Tanyaku.
"Danau atas. Danau bawah diatas sana" Tunjuk mutia kerah bukit.
"Disebalik bukit itu?"
Mutia mengangguk. Matanya fokus melihat bukit.
"Kenapa yang ini namanya danau atas, sedangkan letaknya dibawah. Kenapa bukan ini yang namanya danau bawah"
"Itulah keunikan danau ini. Ada banyak ceritanya sebenarnya tentang danau ini. Danau kembar ini penuh misteri. Aku kurang tahu juga"
Mutia menutup tuphwarenya yang kosong. Memasukkannya kedalam tas. Sebotol aqua keluar dari tas mutia. Dia meminumnya lebih dulu sebelum memberikannya kepadaku.
Embun mulai mulai menjalar menutupi bukit diseberang danau. Angin semakin kencang menghempas. Gerimis mulai turun. Kami akhirnya berteduh disebuah pondok. Hujan turun dengan deras. Bukit yang tadinya hijau berganti putih yang kelabu.
"Nanti kita pulang lewat aro suka aja. Sekalian singgah di kebun teh" Ujar mutia yang masih fokus melihat photo-phot digalerinya.
"Terserah kamu aja" Sahutku dengan menahan dingin. Meskipun aku memakai jaket, dingin masih saja terasa. Aku ingin sekali merokok agar bisa mengusir dingin. Tapi mutia pasti tidak akan memperbolehkanku.
Hujan masih turun dengan deras menciptakan kehangatan dalam kisah yang akan menjadi kenangan. Mutia bercerita tentang kesulitannya memikirkan judul penelitiannya. Mutia mengambil sejarah murni untuk skripsinya nanti.
Satu jam berlalu, hujan akhirnya reda menyisakan rintik didaunan. Kami melanjutkan perjalanan menuju kebun teh. Pemandangan danau sudah menghilang dari pandangan. Berganti bukit dan gunung talang yang tertutup oleh kabut hujan.
Kami akhirnya sampai dikebun teh. Aku memarkirkan motorku didekat warung tepi jalan. Udara dingin masih melekat ditubuhku. Membuat gerakan dan langkahku menjadi malas.
Mutia kupersilahkan untuk lebih dulu menyebrang. Aku memesan dua kapucino kepada pak tua penunggu warung. Pak tua itu mengangguk dan lansung bertugas.
"Dari padang" Tanya pak tua itu serambi menuangkan air panas kedalam gelas plastik.
"Dari sijunjung" Sahutku.
Bapak tua itu mengangguk. "Hujan tadi dibawah?"
__ADS_1
"Enggak. Didanau kembar ini baru dapat hujan" Jelasku.
"Disini hujan terus" Pak tua itu memberikan pesananku.
"Berapa pak?"
"Delapan ribu"
Aku membayar dengan uang sepuluh ribu. "Sisanya parkir aja pak" Jawabku membalik.
"Eh parkir mah gratis" Sahut bapak itu "Ambil saja makanan atau permen" Ujarnya.
Aku mengangguk dan mengambik roti. Aku mengira dia akan meminta uang parkir seperti didanau kembar tadi. Aku menyusul mutia yang tengah sibuk dengan androidnya.
Kebun teh begitu luas hingga tak terukur luasnya oleh mata. Dibelakang warung, diseberang jalan juga ada kebun teh yang begitu luas. Awan terasa begitu sejajar dengan tempatku berdiri. Bunyi pesawat terdengar bergemuruh diatas awan. Matahari siang ini bersinar dibalik awan yang mendung.
Aku mengambik photo mutia beberapa kali dengan androidnya. Beberapa kali aku mengambil photonya dengan latar yang sama. Tapi tak pernah memuaskan nafsunya. Dia masih menyuruhku untuk mengambil photo meskipun telah puluhan kali.
"Kamu ngak suka ya jalan-jalan ke kebun teh" Tanya mutia sambil memperhatikan androidnya. Sibuk melihat hasil jepretanku tadi. Aku duduk menjongkok menahan dingin dengan memeluk diri sendirk.
"Suka" Jawabku dingin.
"Kalau suka kenapa dari tadi kamu cuman diam aja" Ujar mutia protektif.
"Dingin tia" Sahutku.
Dia berdiri menatapku. Kami beradu pandang. Dia menatapku penuh tanda tanya "Kamu lanjut aja photo. Ngak usah."
Mutia mencium bibirku. Dia mengulum bibirku beberapa detik. Tubuhku yang dingin terasa hangat oleh ciumannya. Hasrat terasa bergejolak. Membuatku memejamkan mata. Nikmat. Dia melepas ciumannya. Itu pertama kalinya kami berciuman.
"Masih dingin?" tanyanya.
"Enggak" Jawabku tersenyum kecup. Dia menciumku tiba-tiba?
Mutia tertawa kec. "Aku photo-photo sebentar ya, habis itu kita baru pulang"
Aku mengangguk. Mutia meninggalkanku dengan kesibukan mengambil gambar. Aku duduk termenung menahan dingin. Ciuman mutia tertinggal sebagai kekuataan yang menghangatkan.
Setelah beberapa menit kemudian kami melanjutkan perjalanan pulang. Kebun teh yang luas menghiasi pemandangan sepanjang jalan. Di aro suka, ditugu ayam, hujan kembali turun dengan lebat. Kami berteduh serambi mengisi perut yang kosong dengan semangkuk mie ayam. Setelah hujan reda. Kami melanjutkan perjalanan pulang.
__ADS_1