
Kita tidak bisa memaksakan pendapat dengan sudut pandang yang berbeda.
****
Aku terbangun oleh suara azan zuhur. Kelasku tampak kosong. Rasa nyeri dikepalaku sudah mulai mereda, mataku juga tidak lagi terasa perih. Aku keluar kelas dan berjalan kekantin tek rida. Aku merasakan kerongkonganku kering. Aku merasa sangat haus.
"Ehhh....Siraja tidur sudah bangun" Ujar ijep yang berselisih didepanku disamping labor.
Ijep berjalan dengan aldi, nando, dan ripo. Mereka tertawa mendengar ujaran ijep. Aku hanya diam dan melewati mereka.
"Orang udah azan dik" Ingat aldi.
"Minum sebentar" Ucapku
"Tek rida sudah mau tutup" Teriak aldi.
"Dikan" Panggil ripo yang berjalan mendekatiku. "Ntar sore kita latihan futsal. Katanya ada turnament futsal tingkat SLTA Se-kabuhpaten" Ucap ripo.
"Ngak bisa kayaknya. Sepatu futsal ngak gua bawa" Jawabku.
"Ngak papa. Kamu latihannya besok aja. Besok jangan lupa lansung bawa sepatu futsal sama baju ganti" Ucap ripo
Aku mengangguk. "Emang kapan acaranya?" Tanyaku.
"Acaranya dimulai minggu besok. Hari jumat dan sabtu" Jawab ripo.
Aku menangguk dan berjalan kekantin tek rida. Sesampai dikantin, tek rida tengah membereskan perkakasnya sebelum pulang.
"Mau pulang tek?" Sapaku.
"Iya dikan. Etek mau pulang lagi" Sahut tek rida. "Enak ya tidur sampai sebegitu kusutnya wajah kamu"
Aku tersenyum kecup. "Susu dingin satu tek" Pesanku. Dan merapikan diriku dikaca spion motor yang terparkir.
"Dibungkus aja ya, etek mau pulang lagu" Ucap tek rida.
"Iya tek, dibungkus aja" Sahutku.
"Tadi wanda kesini. Katanya akan ada pertandingan futsal sekabuhpaten di montela" Ucap tek rida dengan menodorkan susu dingin yang dikemas dalam plastik.
__ADS_1
"Oh iya. Tadi ripo juga udah bilang" Sahutku "Rokok dua batang tek" pesanku serambi mengeluarkan uang disaku belakang celanaku.
"Wanda bilang dalam rangka ulang tahun kodim" Kata tek rida dengan menyodorkan rokok dua batang.
"Iya, nih pas lima ribu kan" Sahutku dengan menbayar belanjaanku lalu berjalan masuk dalam ruangan tua.
"Terimakasih" Ucap tek rida.
Sesampai didalam bangunan tua. Aku mendengar suara bojek yang berteriak-teriak didalam kantin roza. Kantin roza bersebelahan dengan kantin tek rida. Hanya berjarak beberapa meter. Kantin roza juga bersebelahan dengan bangunan tua.
"Bojek" panggilku.
Bojek muncuk dari pintu belakang kantin rozaa. "Apa?"
"Mau cimeng?" Tawarku.
"Tunggu bentar" Ucapnya dan menghilang kedalam kantin roza.
Bojek keluar dengan membawa segelas coca-cola dingin dan sebatang rokok yang sedang dihisapnya. Aku masuk lebih jauh kedalam ruang bangunan tua. Duduk diatas kula disamping kantin tek rida. Suara iqamat terdengar menyerukan petanda sholat zuhur akan dimulai. Aku mulai melinting ganjaku. Semenjak kelas tiga ini, aku memang sering membawa ganja sesekali kesekolah. Aku selalu ditemani oleh bojek junior dua tingkat dibawahku. Bojek adalah teman ipan dan dori. Ipan dan dori lah yang mengajarkan bojek untuk menghisap ganja.
"Dimontela ada turnement futsal dua minggu lagi " Ucap bojek ketika baru sampai.
"Iya. Gua kiper sebagai pengganti gani"
"Pemainnya sudah dipilih emang?"
"Sudah. Bang wanda yang milih" Jawab bojek dan duduk disampingku.
"Siapa-siapa aja pemainnya?" Tanyaku serambi memberi susu sebagai polesan pada lintinganku.
"Kalau kelas tiga cuman kamu sama ripo"
"Berapa orang semuanya?" Tanyaku lalu membakar lintinganku.
"Kelas satu. Gua, tullo, ade, dan fandi" Bojek sibuk memikir dengan jarinya yang menghitung jumlah orang yang ia sebutkan. " Sedang kelas dua yang ikut. Dapit, diki, dan gani. Ada 9 orang pemain" Jelas bojek.
"Si kiki ngak ikut"
"Enggak. Dia mainnya terlalu banyak skill, egonya tinggi" Ujar bojek.
__ADS_1
Aku meroling ganja ke bojek, bojek meroling rokok kreteknya kepadaku. Aku merasakan nyeri dikepalaku sudah mulai hilang. Rasa penatpun sudah tidak terasa lagi menggerogoki tubuhku. Ganja membuat pikiran dan jiwaku terasa tenang.
"Enak tuh besok. Ngak belajar selama dua hari" Ucap bojek.
"Emng acaranya dimulai dari pagi?"
Bojek mengangguk. "Sampai sore" Sambungnya
Bojek terlihat menikmati hisapannya. Asap-asap yang pekat keluar dari mulutnya dan hidungnya. Biasanya bojek bersama tullo teman selokalnya yang juga pemakai ganja.
"Tullo mana?" Tanyaku.
"Ada dikantin rozaa, dia ngak mau nyimeng katanya"
"Kenapa?"
"Gak tau, takut jadi ****** kali pas belajar" Ucap bojek dengan meroling ganja kepadaku.
"Emang kalau ngak ngehisap ganja dia bisa pintar dalam pelajaran?"
"Tetap aja ******" Bojek tertawa.
Aku merasakan efek ganja ini tidak terlalu berpengaruh kedalam kesadaranku. Tak seperti penilain banyak orang yang mengatakan bahwa ganja itu membuatnya menjadi bodoh. Atau yang dori bilang semua hal bisa jadi lucu setelah menghisap ganja. Namun, setiap kali aku menghisap ganja, aku hanya merasa pikiran dan jiwa yang terasa tenang. Entahlah, setiap orang punya persepsi yang berbeda-beda.
"Beda rasanya yah dengan ganja punya ipan" Kata bojek.
"Beda bagaimana?" Sahutku heran.
"Yang ini lebih enak. Tersangkut ditenggorakkan. Kalau punya ipan terasa agak lunak. Biusnya juga lambat naiknya. Kalau punya lu mah setengah linting saja sudah terasa penewww" Jelas bojek.
Aku tertawa mendengar penjelasan bojek.
"Sama kok dengan punya ipan" Ucapku.
"Tapi kok beda ya rasanya"
Memang benar, kita tidak bisa memaksakan pendapat yang sama meskipun dari sudut pandang yang berbeda. Bojek merasakan perbedaan dari ganja ipan dengan ganja yang kubawa. Padahal ganja kami berasal dari lubang yang sama--Sama-sama mengambil dari bg teiko. Namun. Lebih jauh lagi. Penyimpanan memang berpengaruh terhadap rasa dan baun pada ganja. Orang yang menyimpan ganja didalam tanah, akan membuat ganja berbau tanah dan terasa seperti tanah ketika dihisap.
Suara-suara murid mulai terdengar riuh didalam lingkungan sekolah. Itu petanda semua murid telah selesai melaksanakan sholat zuhur berjamaah. Aku dan bojek berjalan kekekelas kami masing-masing. Mengikuti pelajaran berikutnya sebelum pulang.
__ADS_1