Ruang Hitam

Ruang Hitam
Teman yang ditangkap


__ADS_3

Satu hal yang pasti dari masa depan adalah cerita masa lalu yang akan terkenang dengan menjelma kerinduan.


****


Suasana riuh menyambut bel pulang sekolah yang telah berbunyi. Semua murid serentak keluar dari kelas mereka untuk pulang kerumah masing-masing. Namun hanya kelas satu dan dua yang diperbolehkan pulang. Sedangkan kelas tiga harus mengikuti pelajaran tambahan sebelum menghadapi Ujian nasional yang berbasis komputer.


Aku dan ketiga sahabatku berjalan ke tempat biasa motor kami diparkirkan. Kantin tek rida seperti biasa sudah tutup setelah sholat zuhur tadi. Kami meninggalkan perkarangan sekolah untuk membeli nasi. Aldi dan ijep berboncengan dengan motorku, sedangkan aku berboncengan dengan nando.


Kami membeli nasi bungkus di ampera berkah didekat simpang binjai. Ampera terlihat sesak oleh pengunjung. Aldi bilang selain harga yang terjangkau, makanan disini juga sangat enak. Nando memesan tiga nasi bungkus. Kami menunggu diparkiran ampera. Jalan lintas sumatra sangat ramai siang ini. Mobil pribadi dan truck kontainer berpacu dengan anak-anak sekolah yang baru saja pulang.


Aldi memanggil karin yang melintas didepan kami. Karin berhenti didepan ruko yang masih kosong diseberang jalan. Aldi dan menghampiri kekasihnya. Ijep mengikuti aldi dari belakang. Aku mengeluarkan BB ku dari saku celana. Satu pesan dari mutia belum kubaca.


Mutia Heriyenti.


"Selamat pagi senin, Goblin 😘 . Kalau disana panas, jangan panas-panasan. Kalau disana hujan, jangan hujan-hujanan 😂 Semangat sekolahnya. Jangan lupa makan. Dan jangan mentel-mentel disekolah"


Aku tersenyum setelah membaca pesan mutia. Dia memanggilku goblin sebagai panggilan sayang. Aku memanggilnya dengan sebutan tingkerbell. Goblin dan tingkerbell adalah peran utama dalam sebuah drama korea yang sangat disukai oleh mutia.


Dikan Alendra


"Selamat siang tingkerbell 😘 Bagaimana kabar kuliah kamu? Semoga baik. Semangat ya ngerjain proposal penelitiannya. Jangan lupa makan biar ngak sakit" Balasku.


Aldi dan ijep terlihat sedang tertawa diseberang. Entah apa yang sedang meraka bicarakan. Karin mulai melaju motornya untuk pulang. Aldi dan ijep bercanda gurau sebelum menyebrang. Nando juga menyelesaikan tugasnya dengan membawa dua kantong plastik.


"Nih giliran lu yang bawa" Ujar nando memberikan kantong plastik itu kepada ijep.


"Ya beginilah kelakuan teman kalau kita sedang dibawah" Sahut ijep dengan perasaan iba. Kami bertiga patungan untuk membeli dua nasi bungkus. Ijep hanya menyumbang dua ribu.


"Emang lu pernah diatas jep?" Aldi menimpali kata-kata ijep


Kami tertawa serambi menaiki motor.


"Yah rendahin aja gua terus"


Motor kami kembali melaju menuju sekolah. Sesampai disekolah kami memilih ruangan tua sebagai tempat makan. Ruangan tua itu menjadi markas untuk kami menghabiskan waktu istirahat dengan merokok disana. Tiga nasi bungkus kami bentangkan menjadi satu. Lalu kami mulai makan secara bersamaan.


Tawa dan canda yang menghiasi makan siang kami. Kelak kebersamaan ini akan menjadi kenangan setelah lulus nanti. Kami mungkin akan berpisah dengan jalan yang telah kami pilih. Nando dan ijep akan mencoba peruntungan dengan mengikuti seleksi polisi dan tentara. Aldi berencana akan kuliah. Sedangkan aku ingin pergi jauh dengan menyebrangi lautan. Mungkin, kebersamaan ini akan menjelma kerinduan pada suatu hari nanti.


Kami merokok setelah selesai makan. Waktu istirahat masih tersisa setengah jam lagi sebelum sekolah sore dimulai. Ketiga sahabatku berbincang-bincang perihal ujian nasional yang berbasis komputer. Ini pertama kalinya ujian nasional dilaksanakan dengan komputer. Pada angkatan sebelum kami masih menggunakan ujian tulis. Sekolahku akan menumpang ujian di SMK 5 karna komputer disekolah masih kurang. Aku menyimak obrolan mereka serambi membaca pesan dari mutia.

__ADS_1


Mutia Heriyenti


"Aku sudah makan goblin. Kamu sudah pulangkah? Proposal penelitianku sudah kuberikan kepada dosen pembimbing. Semoga bisa di acc dengan cepat" Pesan mutia.


Dikan Alendra


"Aku juga baru siap makan. Aku mulai hari ini belajar sore. Sebentar lagi masuk. Syukurlah proposal kamu sudah kelar. Semoga segera di acc. Amin" Balasku.


Asap-asap rokok memenuhi ruangan tua yang dilingkupi oleh daun-daun dari pohon besar ditengah ruangan. Kami akan mengikuti simulasi sebelum UNBK. UNBK akan terbagi menjadi tiga rombongan dengan tiga ship yang berbeda. Aldi bercerita tentang informasi yang ia dapat dari buk yarnis. Blackberryku kembali berdering.


Mutia Heriyenti.


"Aamiin. O iya, aku mau pergi ke transmart sama putri dan nuna. Pacarnya putri juga ikut. Kamu semangat sekolah sorenya"


Bunyi motor terdengar berisik ditelinga. Motor itu terdengar memasuki perkarangan sekolah dengan bunyi bising yang semakin terasa dekat. Ketiga sahabatku saling bertanya itu motor siapa. Aku tidak peduli dengan kehebohan dan sibuk mengetik untuk membalas pesan mutia


"Dik, dia nyariin lu dik" Kata aldi yang mendengar percakapan disamping kelas.


"Iya?" Sahutku penasaran dengan berjalan keluar ruangan tua. Siapa yang mencariku?


"Sudah pulang dia doris?" Tanya seseorang yang suaranya kukenali. Sandro. Ada apa dia mencariku.


"Sandro" Panggilku.


Sandro lansung menoleh. Dia tersenyum melihatku disamping labor komputer. Sandro turun dari motornya dan menghampiriku. Aku mengajaknya duduk didalam ruang tua. Sandro duduk dengan mengeluarkan tiga batang rokok dari saku kamejanya. Ketiga sahabatku telah mengenal sandro. Tapi mereka hanya sebatas kenal.


"Disini tempat kau menghabiskan jam istirahat?" Tanya sandro.


Aku mengangguk. "Disini sejuk. Ada apa mencariku?"


"Aku punya berita yang ingin kusampaikan. Itu si dori"


"Kenapa dori?" Tanyaku membakar rokok.


"Dia ditangkap polisi"


"Hah" Aku terkejut dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan sandro. "Kapan? Dimana?"


"Kemarin malam"

__ADS_1


"Terus dimana dia sekarang?"


"Dipolsek. Kau tidak ada menghubunginya kan?" Tanyo sandro.


"Iya, malam tahun baru kemaren aku menghubunginya untuk minta tolong mengambilkan ganja" Jawabku.


Sandro membakar rokoknya. Aku mulai gelisah dengan apa yang menimpa dori. Ketiga sahabatku hanya diam dan menyimak obrolan kami. Aku pernah berpesan kepada dori untuk hati-hati dengan passien yang bisa saja berperan untuk membantu polisi. Dan sekarang telah terjadi.


"Siapa yang mengibusnya ndro?"


"Bukan. Dia tertangkap bukan karna kasus narkoba"


"Lalu?" Keningku terangkat


"Dia tertangkap dengan kasus pencurian besi rel kareta. Cuman ada pesan igo yang membuat dori bermasalah dengan narkoba"


"Igo?" Tanyaku semakin penasaran. Igo adalah manusia dalam gelap yang juga bersekolah di MAM tanjung ampalu.


"Iya, Hp nya dori disita oleh polisi. Dan didalamnya ada pesan dari igo. Dori kenapa barangnya belum sampai. Tentu pesan itu jadi pertanyaan bagi polisi. Barang apa yang dimaksud? Lalu dori menjawab kalau igo hanya mengirim baju. Tapi polisi itu akan gampang percaya dengan apa yang dikatakan dori. Dan aku kesini mau minta tolong. Bukan aku sebenarnya. Tapi dori yang minta tolong. Kau kan tahu rumah igo. Jadi temani aku menemui dia. Igo harus kabur sebelum masalah dori kelar"


Aku sangat bimbang sekali. Bukan aku tidak mau membantu. Tapi waktunya tidak tepat sekali. "Aku sekolah sore"


"Ah, Hanya sehari ini saja kau tidak ikut sekolah sore. Lagipula ini baru hari pertama kan?" Ucap sandro.


"Justru karna hari pertama itulah aku harus masuk ndro" Sahutku.


"Rajin sekali kau sekarang. Kau sudah berubah aliran?" Ujar sandro tertawa meledek. Ketiga sahabatku juga ikut tertawa. Sedangkan aku hanya diam dengan perasaan yang bimbang.


"Ayoklah, dik. Dori mungkin akan dikurung hanya beberapa minggu karna kasus pencurian. Dia bisa terselamatkan sebab dia masih anak sekolah. Tapi itu tidak berlaku jika ia terjerat kasus narkoba. Dan igo, mungkin akan menjadi sasaran polisi berikutnya untuk membuktikan kesalahan dori" Ucap sandro.


"Kenapa kau tidak mencoba menelponnya saja?"


"Nomornya tidak aktif. Dia juga tidak hadir kesekolah. Tapi teman satu kampungnya bilang dia masih dikampung"


Aku hanya diam dengan segala kebimbangan. Sungguh aku benci ikut campur dalam hal seperti ini. Aku paling takut berurusan dengan polisi. Tidak ada lagi kata melawan jika sudah tertangkap oleh polisi.


"Hanya kau yang bisa membantu dori"


Aku beralih menatap sandro. Wajahnya sangat memelas meskipun itu sama sekali bukanlah masalahnya. Aku akhirnya mengikuti permintaan sandro. Tidak ada salahnya aku mengorbankan sekolah sore dan menghadapi rasa takut demi seorang teman. Aku meinta tolong nando untuk mengambilkan tas didalam kelas. Aldi dan ijep pamit kedalam lokal bersama nando. Aku dan sandro berangkat menuju rumah igo yang berada dikenagarian durian gadang.

__ADS_1


__ADS_2