Ruang Hitam

Ruang Hitam
Pesimis


__ADS_3

"Kamu tidak akan tahu, kalau kamu tidak mencoba"


****


Pernah ngak sih kamu suka dengan seseorang tapi kamu merasa pesimis banget untuk bisa mendapatkan seseorang itu? Atau kamu tidak berhenti untuk kagum dan jatuh cinta meskipun kamu tahu bahwa seseorang itu tidak mungkin bisa untuk kamu miliki?


Aku pernah mendambakan fiona hingga akhirnya mengalah sebab fiona hanya menganggapku hanya sebatas teman. Aku tahu fiona tidak punya perasaan lebih dari itu. Meskipun aku tidak pernah menyatakan perasaanku. Aku lebih percaya bahwa fiona akan menolakku mentah-mentah. Entah kenapa aku begitu yakin dengan kepesimisanku itu. Lalu memilih untuk diam dam memendam tanpa dinyatakan sama sekali. Tapi satu hal yang aku pahami. Mungkin fiona memang hanya nyaman sebagai seorang teman.


Dan sekarang aku merasakan hal yang sama dengan guru mudaku disekolah. Buk mutia yang beberapa bulan ini membuatku merasakan pahitnya cinta bertepuk sebelah tangan. Namun, perasaan tetaplah perasaan meskipun tak pernah terjamah oleh harapan.


Aku masih menyukai buk mutia. Aku menyumpah dalam hati dengan pengakuanku barusan. Aku tetap menyukainya walaupun aku pernah merasakan luka sebab buk mutia yang sudah memiliki kekasih. Aku tidak bisa mengelak dengan hatiku yang merasakan bahagia ketika buk mutia tersenyum dan tertawa. Tetapi, aku berpikir bisa memilikinya hanyalah ketidakmungkinan yang membuatku takut untuk mencoba. Hingga aku hanya bisa mengaguminya dari kejauhan.


Bell istirahat baru saja berbunyi. Aku berjalan dengan ketiga sahabatku menuju kantin tek rida. Sekedar mengisi perut dan merokok dikantin. Kantin tek rida ramai seperti biasanya. Aku memesan nasi goreng dengan campuran kecap manis seperti biasa. Lalu duduk dikursi paling belakang tempat favoritku bila duduk dikantin tek rida.


"Buk asmarni, kesini" Ujar tek rida pura-pura berjalan kebelakang, sandiwara agar buk asmarni tidak mengetahui siasatnya.


Siswa-siswa didalam kantin rusuh dengan segera mematikan rokoknya. Takut ketahuan oleh buk asmarni. Buk asmarni masuk kedalam kantin. Semua siswa menyapanya. Dia hanya tersenyum membalas sapaan siswa.


"Ada apa buk?" Tanya tek rida.


Kantin seperti lengang dan sepi. Semua murid fokus memperhatikan buk asmarni. Tidak satupun yang merokok. Termasuk anak MAN yang ikut mematikan rokoknya. Buk asmarni liar menatap kesemua arah. Sepertinya dia mencari seseorang.


"Ada dikan?" Buk asmarni menanyaku. Ada apa buk asmarni mencariku? Semua orang menunjuk kebelakang.


"Hadir buk" Sahutku "Makan ibuk?" Sapaku.


"Ohh, lagi makan, lanjutlah?" Kata buk asmarni.


"Baru aja dia makan" Kata tek rida kepada buk asmarni. Buk asmarni membalik badan dan menoleh tek rida. Lalu berbicara kepada tek rida. Entah apa yang mereka bicarakan. Kantin kembali bergemuruh. Aldi, nando, dan ijep memburuku dengan pertanyaan 'Kenapa buk asmarni mencariku'. Aku juga tidak kenapa buk asmarni mencariku.


"Dikan" Panggil buk asmarni lagi "Ibuk tunggulah dikan dikantin guru ya" Kataku buk asmarni.


"Ada apa ya buk" Tanyaku penasaran.

__ADS_1


"Ngak, ibuk mau cerita-cerita aja dengan dikan" Sahut buk asmarni "Ibuk tunggu ya" Ingat buk asmarni.


Aku mengangguk.


Berarti bukan masalah yang serius. Palingan buk asmarni mengajakku untuk bertukar pola pikir. Seperti biasanya ia menesahatiku.


"Jangan lama-lama ya ngerokoknya" Kata buk asmarni.


"Enggak buk. Palingan cuman sebatang" Sahutku santai.


Seisi kantin tertawa. Buk asmarni tersenyum dan pamit dengan tek rida. Kantin kembali bergemuruh. 'Apa yang akan diceritakan buk asmarni kepadaku?' Orang-orang bertanya dengan apa yang kutanyakan kepada diriku sendiri.


Buk asmarni adalah guru yang paling dekat denganku. Meskipun aku anak yang nakal, buk asmarni tidak pernah marah. Hampir semua murid disekolahku mengatakan bahwa buk asmarni adalah guru yang baik. Dengan siswa laki yang masuk kedalam kategori nakal, seperti aku. Buk asmarni menasehati kami dengan mengajak kami berdiskusi. Sama hal nya dengan ajakan buk asmarni siang ini. Tapi jangan main-main dengan buk asmarni, buk asmarni bisa lebih galak dari guru lain saat marah.


Aku menghampiri buk asmarni setelah makan. Aku memutuskan tidak merokok agar buk asmarni tidak menunggu terlalu lama. Aku membayar nasi gorengku pada tek rida. Lalu berjalan ketempat yang dijanjikan buk asmarni.


Buk asmarni tengah duduk didepan ruangan kosong yang tak lagi dihuni. Dulunya, ruangan itu adalah kantin guru sebelum akhirnya kembali menjadi ruang kosong. Buk asmarni tersenyum melihatku. Jarak kantin tek rida dengan tempat buk asmarni duduk tidak begitu jauh.


"Kenapa dikan ngak pake sepatu?" Tanya buk asmarni yang duduk dari semen yang sengaja dibikin memanjang sebagai tempat duduk. Bekas kantin guru ini memiliki dua pintu masuk. Satu pintu depan dari kantor dan satu sebagai pintu belakang dari kantin tek rida. Dan buk asmarni duduk didekat pintu belakang.


"Terus sayang sama sepatu daripada sama kaki"


"Ya, daripada sepatu yang kotor, buk. Kalau kaki kan bisa dicuci"


Buk asmarni tersenyum. "Dikan suka sama buk mutia?" Tanya buk asmarni. Buk asmarni mengangkat pelopak matanya saat aku menatapnya "Jujur saja sama ibuk. Dikan suka kan sama buk mutia?"


"Kenapa itu yang ibu tanyakan" Sahutku heran. Aku tak mengerti maksud buk asmarni. Dari mana buk asmarni mengetahui itu. Dan kenapa dia menanyakan hal itu.


Buk asmarni mendengus "Tidak ada salahnya murid berpacaran dengan guru. Lagipula mutia kan cuman guru PL" Ujar buk asmarni.


Aku diam tak mengerti. Aku berpikir-berpikir dari mana buk asmarni tahu kalau aku menyukai buk mutia. Dari teman-temanku, atau buk mutia yang menceritakannya pada buk asmarni. Aku ingat bahwa aku pernah suatu hari menanyakan ' kenapa kelas tiga tidak belajar dengan guru PL' kepada buk asmarni.


"Dari mana ibuk tahu?"

__ADS_1


"Ibuk tahu darimana dikan ngak usah tahu. Ibuk bisa tahu karakter kamu hanya dengan melihat kamu" Kata buk asmarni menatapku.


Aku hanya diam. Buk asmarni memang seperti punya ilmu psikplogi yang bisa membaca karakter seseorang. Aku merasakan itu dengan kedekatan buk asmarni dengan banyak murid yang nakal disekolah. Tapi kenapa buk asmarni baru menanyakannya sekarang?


"Teguh udah coba deketin buk mutia?" Tanya buk asmarni.


Aku menggeleng.


"Kenapa?"


"Gak mungkin aja bisa pacaran dengan buk mutia" Jawabku "Buk mutia lebih besar daripada dikan. Dia juga guru, gak mungkinlah guru berpacaran denga murid"


"Loh, apa salahnya" Sahut buk asmarni "Dulu ibuk dengan suami ibuk juga tua an ibuk dua tahun. Apasalahnya dengan umur, yang penting saling bisa memahami" Cerita buk asmarni.


"Gimana sih, belum melangkah saja sudah mengaku kalah. Dikan hanya memikirkan ketidakmungkinannya saja sih, makanya pesimis. Padahal, dikan sendiri belum mencobanya. Kadang-kadang, berangan-angan itu juga perlu. Coba deh bayangkan bagaimana semuanya menjadi mungkin. Toh, dikan juga belum mencoba kan?"


"Enggaklah buk. Buk mutia sedang kuliah. Sebentar lagi diwisuda. Sedangkan dikan, SMA saja sudah untung bisa tamat" Jelasku "Buk mutia sudah punya pacar buk?"


"Dia bilang dia ngak punya pacar sama ibuk" Kata buk asmarni.


"Biarlah, buk. Dikan biar mengagumi buk mutia dari jauh aja" Sahutku. Buk mutia juga berbohong kepada buk asmarni?


Ibuk asmarni bercerita tentang ia bertemu saat suaminya sedang PL dan buk asmarni sebagai guru honorer disekolah yang sama. Buk asmarni terus bercerita hingga akhirnya mereka menikah. Aku hanya mendengar dengan khidmat cerita buk asmarni.


Sepuluh menit berlalu dengan cerita buk asmarni tentang cinta dengan suaminya. Tentu saja cerita itu untuk memotivasiku agar tidak pesimis dan minder dengan perasaanku sendiri. Bell berbunyi mengakhiri jam istirahat.


"Jadi gimana, masih takut untuk mencoba?" Tanya buk asmarni ketika kami mulai berjalan kedalam lingkungan sekolah.


"Nantilah buk, kumpulin keberanian dulu" Sahutku.


"Ehh dikan ngak bakalan tahu, kalau dikan tidak mencoba"


Aku mengangguk.

__ADS_1


Disamping kantor. Aku pamit dan berjalan kekanan menuju lokal. Sedangkan buk asmarni menyimpang kekiri masuk kedalam kantor.


__ADS_2