Ruang Hitam

Ruang Hitam
Bersiap melawan jarak


__ADS_3

Jarak bukanlah sebuah halangan yang besar, jika dua hati yang terikat saling percaya.


****


Aku keluar dari ruangan dengan kepala lega. Meskipun aku semalam tidak belajar. Soal-soal ujian pkn tadi siang bisa kuisi dengan mudah. Soal remedi ulangan pkn masih tertinggal dikepalaku. Aku percaya diri jawabanku itu akan benar.


Aku melihat kedalam kantor dengan mata yang mencari-cari. Lalu meninggalkan kantor setelah aku tidak menemukan sosok yang tadi siang berjanji. Kekasihku.


Aku memutuskan untuk berhenti dikantin tek rida. Tek rida menyapaku dengan hangat. "Sudah tiga hari ujian ini, dikan selalu menjadi murid pertama keluar dari ruangan ujian" Tawa humor tek rida ketika aku memesan rokok.


Aku duduk dibangku favoritku. Aku menanyakan keberadaan mutia. Dia membalas tiga menit kemudian. Dia menungguku dirumah buk sintya. Aku memutuskan untuk menghabiskan rokok sebelum menemui mutia.


Tadi dijam istirahat setelah balik dari kantin tek rida. Aku berjalan dengan ketiga sahabatku. Dijalan didepan labor, aku bertemu dengan mutia yang berjalan ditemani buk diana. Mutia membisikkan 'meminta tolong untuk diantarkan pulang setelah ujian'. Aku mengiyakan dengan hati yang berbunga-bunga.


Aku pamit pulang dengan tek rida setelah membayar rokok sebatang. Aku melaju sepeda motorku dijalanan menuju rumah buk sintya. Disimpang alfurqon, didepan rumah buk sintya, ramai dengan banyak orang yang mengantri atm dan keluar masuk kedalam bank. Rumah buk sintya dibawah bank bri dan atm. Aku berhenti diparkiran atm, aku tidak menemukan mutia didalam pandanganku. Mungkin dia masih didalam rumah buk sintya. Aku memberitahunya bahwa aku sudah didepan ruko buk sintya lewat pesan bbm.


"Ayok" Kata mutia yang sudah naik keatas motorku.


"Kemana" Jawabku gerogi dengan kehadiran mutia yang sudah ada dibelakangku. Ini pertama kalinya aku berjanji bertemu diluar jam sekolah dengan mutia. Aku menyebutnya dengan kencan pertama.


"Pulanglah" Sahut mutia "Kamu mau kan ngantar aku pulang?"


"Yah mau"


"Yah ayok" Ajak mutia.


"Ya sabar donk. Buru-buru amat buk" Ujarku menyalakan motor.


"Dari tadi ibuk sabar nak, demi bisa ketemu kamu" Balas mutia dengan bergurau.


Aku tersenyum tersipu malu. Motorku melaju dijalan lintas sumatra arah solok. Bukit-bukit kupitan dikiri kanan jalan terlihat tinggi menjulang, dan sungai yang jernih mengalir dibawahnya membelah bukit barisan. Orang-orang berhenti ditepi jalan untuk sekedar menikmati pesona alam.


Matahari siang ini bersahabat. Tidak panas dan tidak juga mendung. Mungkin karna masih pukul 11 siang. Kami menikmati suasana perbukitan dijalan raya menuju kota sawahlunto. Aku kesulitan mencari bahan untuk mengobrol dengan mutia. Ada rasa canggung dan kaku diantara kami. Mungkin karna kencan pertama.


"Kita kemana?" Tanyaku gerogi. Entahlah, aku merasakan diriku kaku semenjak mutia naik tadi. Aku merasakan kesulitan mengendalikan detak jantungku yang berlari.


Mutia hanya diam. Aku melihat kaca spion. Mutia juga melihat wajahku dari kaca spion. Kami beradu pandang. Mutia menatapku tajam dengan muka datar.


"Aku gak tau daerah sawahlunto" kataku dan melengah kejalan.


"Kamu belum pernah kesini?" tanya mutia.


Jalan yang menanjak kini berganti menurun dan berbelok-belok. Kota sawahlunto terlihat dikelilingi oleh bukit-bukit. Menara mesjid yang tinggi, rumah-rumah dikaki bukit menjelma pemandangan yang asri.


"Pernah. Tapi gak sering" Sahutku. Aku pernah kesawahlunto beberapa kali. Kerumah sakit, kelapangan sepakbola ditengah kota, dan juga kerumah bang dedek ketika diajak ipan beberapa bulan yang lalu.


Sebenarnya kota sawahlunto tidaklah terlalu besar. Hanya ada beberapa gang kecil dijalanan utama kota ini. Kota yang disekelilingi oleh bukit hingga membentuk lonjong seperti kuali. Persis seperti julukan sawahlunto; Kota Kuali.


"Sama siapa?" Tanya mutia. Aku melihat menoleh kekaca spion. Mutia juga menatapku. Sial, apakah dia selelu melihat kekaca spion? Aku menggeser kaca spion dengan tangan kiriku. Hingga yang ada dipantulan kaca bukan lagi wajah mutia, tapi jalanan dari arah belakang.


"Kok diputar sih" Tanya mutia heran.


"Iya, supaya lawan dibelakang bisa kelihatan"


"Yehhh Alasan" Sanggah mutia "Bilang aja kamu gerogi" Ujar mutia dengan intonasi yang meledekku.


"Kaca spion itu gunanya bisa ngeliat lawan dibelakang. Bukan untuk melihat kamu" Sahutku balas bergurau.


"Ihhhh" Mutia mencubit pinggangku. Aku meringis terkejut.


"Sakit tauu" Kataku dengan mengusap bekas cubitan mutia.


"Biarrinnn"


Aku tertawa kecup. Kami sampai dipusat kota. Sungai kecil membelah kota menjadi dua. Jalanan ramai dengan sesak pengunjung pasar. Kami melewati kemacetan selintas. Bangunan-bangunan ruko berjejer menghiasi kedua sisi jalan. Didominasi oleh kounter handphone, barang-barang elektronik, perabotan. Kota ini ramah dan bersih.


Kami sampai disimpang tujuh. Disimpang kanan ada gereja dan lapangan ombilin. Didepanku tepat lapangan segitiga. Sebuah taman yang ramai dikunjungi muda-mudi setiap malam minggu.

__ADS_1


"Ini kemana" Tanyaku sebelum persimpangan.


"Keatas aja" Tunjuk mutia. Aku menurut. "Kamu belum jawab pertanyaan aku loh" Ujar mutia.


Kami melewati Polres Sawahlunto yang berada disamping kanan kami. "Pertanyaan apa" Tanyaku.


"Kamu sama siapa kesini dulu?"


"Ohhh" Sahutku "Sama ibu"


"Kemana? ngapain?"


"Kerumah sakit. Berobat"


"Siapa yang sakit?"


"Aku, operasi mandel" Sahutku.


"Kapan itu?"


"Udah lama"


"Ya kapan?" Tanya mutia mendesak.


"Waktu smp" Jawabku.


"Cuman sekali itu" Tanya mutia lagi.


"Dua kali" Sahutku.


Kami sampai ditaman silo setelah melewati tanjakan dengan dua tikungan tajam. Bangunan pabrik batu bara terlihat tidak jauh didepan mata. Kota-kota sawahlunto juga terlihat dari atas sini. Mutia menyuruhku untuk menyimpang kekanan. Sedikit menurun dan berhenti ditaman silo.


"Satu lagi sama siapa" Tanya mutia serambi berjalan kedalam taman. Taman silo siang ini sepi. Hanya ada segerombolan berbaju seragam sepertiku disudut taman. Duduk mengobrol dibawah pohon besar.


"Sama teman" Jawabku.


Aku tertawa melihat mutia. Ia semakin lucu kalau cerewet.


"Sahabatku, Fiona" Jawabku dan duduk disampingnya.


"Kemana itu?" Tanya mutia memutar badannya menghadap kearahku. Mutia terlihat penasaran sekali. Dan dadaku terasa berdebar-debar. Tapi sudah bisa kukendalikan.


"Lapangan ombilin"


"Ngapain? Nonton kamu main bola"


"Bukan" Sahutku dengan gelengan kepala.


"Terus" Tanya mutia dengan muka ditekuk.


"Nonton pertandingan basket"


"Dia yang main basket?"


Aku mengangguk. "Udah lama, waktu kelas satu kalau enggak salah" Ujarku.


"Dia sekolah dimana?"


"Di SMA 1 sijunjung"


"Kok aku gak tau ya kalau kamu punya sahabat cewek"


"Iya, aku belum pernah ceritain fiona kekamu"


"Kamu sahabat gimana dengan dia?" Tanya mutia. Ia seperti cemburu dengan fiona. "Rumah kalian berdekatan?"


"Enggak" Sahutku. "Fiona itu teman aku semenjak smp" Jelasku.

__ADS_1


"Kalian sahabat gimana sih" Tanya mutia penasaran bercampur curiga.


"Ya sahabat" Kataku dengan senyum yang terkembang "Kamu sendiri gimana laporannya, udah kelar" Tanyalu mengalihkan topik.


"Sudah. Tinggal minta tanda tangan pak marsan aja lagi" Sahut mutia.


Matahari tertutup awan gelap hingga membuat cuaca terang dengan suhu yang bersahabat. Angin berhembus sopan menerpa wajahku. Daun-daun pohon berguguran didepan kami.


"Gak berasa ya, sudah satu semester aja, padahal baru kemaren rasanya kita ketemu dikantor" Ujarku dengan pandangan yang lurus kearah jalan.


"Iya, semua begitu cepat berlalu. Tapi, begitulah cara waktu bekerja. Mau tidak mau, terima atau tidak, kita harus melangkah dan membiarkan waktu menjadikannya kenangan" Ujar mutia dengan pandangan yang juga lurus. Mata besar seperti berkaca-kaca.


"Aku pasti akan merindukan suasana sekolah, murid-murid, kelas, dan terlebih kamu" Kata mutia menatapku "Tapi mau bagaimana lagi, waktu ku disekolah sudah berakhir" Ujarnya.


Aku mengangguk setuju. Aku mengerti bahwa semua itu adalah ketetapan takdir. Waktu akan terus berjalan dan terkadang memberi keadaan yang tidak kita inginkan. Aku memahami bahwa perpisahan dengan mutia adalah sebuah rintangan dalam hubungan kami. Kami harus bisa mengalahkan jarak.


"Kamu gak akan nyerahkan hanya karna jarak" Tanya mutia.


Aku tertawa kecil mendengar pertanyaan mutia. Dia memandangku heran "Percayalah padaku. Aku juga tidak ingin beralih dari kamu" Ujarku.


Mutia tersenyum. Senyumnya membuatku hatiku merasakan bahagia yang sempurna. "Aku yakin kita bisa melewatinya" Ujar mutia menyenderkan kepalanya dibahuku.


Aku mengusap-usap kepalanya. Ingin sekali aku mengatakan bahwa aku sangat mencintainya. Tapi mulutku terlalu kaku untuk mengatakan itu.


"Kamu jangan mentel-mentel loh disekolah" Ujar mutia menatapku dengan kepalanya tetap bersandar dibahuku.


"Iyaaa cimuttt" Kataku mencubit hidung mancung mutia. Dia mengehentikan cubitanku dan menggenggam tanganku.


"Janji?" Ujarnya.


"Aku janji akan menjaga hati dan bakalan kuat menghadapi rindu" Ujarku agak keras.


"Tapi menghadapi rindunya masih seminggu lagi kok. Aku masih ada jadwal kesekolah" Ujar mutia tertawa.


Aku tertawa melihat mutia yang tertawa. Sangat mempesona sekali ia ketika tertawa. Lesung dikedua pipinya dalam. Sedalam hatiku yang jatuh cinta kepadanya.


"Eh lihat hp kamu donk" Tanya mutia.


"Buat apa?"


"Cuman pengen lihat"


Aku mengeluarkan hp dari saku celana "Aku boleh juga pinjam hp kamu?" Tanyaku memberikan hp


"Kamu mau menyelidiki aku juga?" Tanya mutia.


"Emang kamu minjam hp mau menyilidiki aku" Tanyaku


"Apa paswordnya?"


"Nama kekasihku" Jawabku.


"Siapa kekasihmu?" Ujar mutia memberikan androidnya kepadaku.


"Mutia heriyenti" Kataku. Mutia tersenyum.


"Hp kamu apa paswordnya" Tanyaku setelah melihat hp mutia juga pakai kata sandi.


"Nama kekasihku" Jawab mutia.


Aku menatapnya tidak percaya. Dia juga memakai namaku sebagai kata sandi handphonenya. "Nama aku?" Tanyaku lebih pasti.


"Kamu kan bukan kekasihku" Tanya mutia bergurau, dia sibuk mengotak-atik handphoneku.


Handphone mutia terbuka setelah kumasukan nama lengkapku dalam kata sandi. Siang itu mutia bercerita tentang teman-teman kuliahnya di kampus. Putry Oktavia dan Rahma quen adalah sahabat mutia. Mereka selalu bertiga kalau dikampus.


Taman silo menjadi saksi kemesraan kami dikencan pertama. Dengan satu kepastian bahwa waktu akan menjadi hari ini sebagai kenangan yang tak terlupakan.

__ADS_1


__ADS_2