
Ketika kau mulai percaya pada harapan. Dengan seketika itu pula kau harus mempersiapkan diri untuk kembali bangkit. Sebab, harapan kadang terlahir untuk menjatuhkanmu.
****
Matahari mulai naik sepenggalah. Sinar yang terik melewati celah dedaunan. Aku dan ripo berjalan keluar kantor dengan perasaan marah. Kami kembali menuju lokal dengan menyumpah buk yana dan buk de.
"Hanya karena remedi, aku harus mengubur mimpiku untuk bisa ikut poprov" Ripo mengutuh sedih.
"Sialan. Kesempatan itu sudah datang. Kita malah tidak bisa mengambilnya" Aku juga iku geram.
Aku dan ripo terpilih masuk tim futsal lansek manih dalam rangka poprov dikota payakumbuah. Kami bisa masuk tim futsal poprov tahun ini berkat bang yondra. Namun, bang yondra harus kembali mencoret nama kami setelah sekolah tidak memberi izin untuk kami berpatisipasi dalam ajang dua tahunan itu. Remedi kami yang banyak menjadi alasan sekolah tidak mengizinkan kami untuk ikut serta dalam ajang porprov yang akan diselengarakan bulan november besok.
Aku dan ripo berjalan kekantin tek rida. Kami tidak kembali kedalam kelas sebab sebentar lagi akan masuk waktu istirahat. Didalam kantin hanya ada dua orang warga nagari padang sibusuk yang dulu juga bersekolah disekolahku. Aku memanggilnya da imron dan bang wandi. Bang wandi adalah mantan pelatih sepakbola sekolah kami tahun kemaren dalam ajang LPI. Da imron dan bang wandi lansung memperolok-olok ripo dengan guraun khas mereka. Sedangkan ripo lansung saja mencerita keluh kesahnya yang tidak diberi izin oleh sekolah untuk mengikuti porprov.
Sebenarnya bukan remedi saja yang menjadi alasan sekolah tidak mengizin kami untuk ikut porprov. Lebih jauh lagi, aku dan ripo sudah kelas tiga dan harus fokus untuk mempersiapkan diri menjelang ujian nasional. Ajang dua tahunan itu diselengarakan selama satu bulan penuh. Kalau aku dan ripo ikut serta tentu kami akan tertinggal banyak pelajaran. Tapi seandainya boleh memilih. Kami pasti akan memilih untuk ikut porprov ketimbang harus tenggelam dalam pelajaran yang membosankan.
Aku dan ripo boleh saja merasa kesal. Tapi alasan sekolah tidak memberi izin juga tidak bisa disalahkan. Hingga bang yondra saja mengalah dan harus pulang dengan tangan hampa.
15 menit duduk berbincang didalam kantin tek rida. Bell sekolah petanda jam istirahat berbunyi. Kantin tek rida dengan seketika penuh oleh anak-anak yang berseragam batik sekolah. Aku memesan rokok kembali kepada tek rida dan beralih duduk dibangku paling belakang. Ketiga sahabatku bercerita tentang keseruan kelas dalam pelajaran geografi. Aku tidak mengikuti pelajaran geografi sebab aku harus mendengar penolakan buk de dan buk yana didalam kantor. Aldi bercerita perihal kelucuan lola dan doris yang disertai dengan gelak tawa. Aku dan ketiga sahabatku kembali berjalan kedalam lingkungan sekolah setelah bell masuk berbunyi.
__ADS_1
Aku duduk ditangga didepan kelas bersama ketiga sahabatku. Waktu istirahat sudah berakhir sepuluh menit yang lalu. Tapi murid-murid masih berkeliaran didepan kelas mereka. Beberapa orang murid kelas sepuluh bermain bola dilapangan. Murid kelas sebelah terlihat menghampiri mereka. Dapit dan zico berteriak mengajakku untuk ikut bergabung dalam permainan mereka. Aku menolak dengan melambaikan tangam dari atas. Siang ini matahari sangat panas membakar kulit.
"Kenapa guru belum juga pada masuk kelas ya?" Tanyaku pada ketiga sahabatku.
"Guru lagi breffing" Sahut ijep.
"Breffing apalagi?" Aku bertanya lagi.
"Anak marching band kan mau lomba kepadang" Aldi yang menjawab.
"Ohhh" Aku mengangguk.
Aldi dan ijep melanjutkan perbincangan mereka perihal wanita kelas sepuluh yang sekarang menjadi incaran ijep. Aldi dan ijep memang sangat dekat. Mereka selalu punya pembicaraan tentang wanita. Aku dan nando fokus memperhatikan kesibukan dilapangan. Para junior dilapangan masih mengoper-ngoper bola. Permainan futsal belum dimulai sebab jumlah mereka masih kurang.
Bojek dan anak kelas sepuluh lainnya bertanding melawan kelas sebelas yang ditambah dengan dua orang kelas dua belas. Kesepakatan permainan seperti biasa dengan taruhan dua ribu perkepala. Permainan dimulai setelah kedua tim menyetujui perjanjian. Pertandingan berjalan sengit dan menyenangkan. Gelak dan tawa menghiasi sepanjang permainan.
Setelah usai bermain futsal. Aku berjalan kekantin pak apin dengan keringat yang deras bercucuran diwajahku. Siang yang panas membuatku merasa sangat gera setelah bermain futsal. Didalam kantin pak apin, ada buk mutia yang duduk bersama habib dan juga pak fadlan. Namun ada yang berbeda dengan sikap buk mutia siang ini. Sikapnya begitu dingin dan tidak menoleh sekalipun kearahku. Apa karna ada fadlan disampingnya?
Aku memesan teh es kepada bik surti. Sedangkan ripo memesan es kosong. Aku dan ripo duduk dimeja yang bersebrangan dengan meja tempat buk mutia duduk. Aku merasa cemburu melihat buk mutia yang duduk disamping pak fadlan. Lebih lagi, cemburu itu semakin membakar hati ketika sikap buk mutia yang tidak peduli dengan keberadaanku.
__ADS_1
"Anak porprov sekarang mengadakan tc disawahlunto" Ucap ripo.
Aku menoleh kepada ripo yang tengah fokus dengan androidnya. Ripo mengetahui berita itu dari pemberuan bbm bang wanda yang memosting statusnya "Bismillah sawahlunto".
"Mau gimana lagi" Sahutku
"Andaikan sekolah mengizinkan kita pasti sedang bersenang-senang sekarang" Ucap ripo.
Aku hanya tersenyum simpul. Pandanganku fokus menatap buk mutia yang tengah sibuk berbicara dengan habib juniorku yang duduk didepannya. Entah apa yang sedang mereka bicarakan hingga buk mutia terlihat sangat menikmati obrolan mereka.
"Teguh" Sapa pak fadlan.
Aku terkejut. Apa fadlan memperhatikanku yang sedang menatap buk mutia? Aku hanya tersenyum simpul membalas sapaan pak fadlan.
"Kalian tidak diberi izin oleh sekolah untuk mengikuti porprov" Tanya pak fadlan.
"Tidak pak" Ripo yang menjawab.
Bahkan saat pak fadlan memanggil namaku, buk mutia juga tidak menoleh kearahku. Ada apa dengan buk mutia? Aku merasa asing dengan sikap buk mutia siang ini? Tidak biasanya buk mutia tidak peduli seperti ini kepadaku. Buk mutia selalu tersenyum setiap kali bertemu denganku. Tapi siang ini, aku hanya mendapatkan hatiku yang terbakar cemburu. Ah, cemburu. Memang aku ini siapanya buk mutia?
__ADS_1
Pak fadlan dan ripo mengobrol perihal lomab futsal dipadang kemarin. Aku merasa gelisah dengan diriku sendiri didalam kantin pak apin. Aku berjalan kedalam lokal dengan kepala yang penuh dengan pertanyaan. Aku menjadi percaya apa yang dikata aldi kemarin siang. Buk mutia memiliki hubungan dengan pak fadlan. Aku menghembus mapas kasar. Aku berusaha mengusir nama buk mutia dari pikiranku. Aku merasakan hatiku sangat terluka bila aku tetap memikirkan buk mutia dan pak fadlan.
Dan dimalam hari. Aku kembali berbincang dengan buk mutia lewat obrolan BBM. Buk mutia mengomentari statusku yang sebenarnya tertuju kepadanya. Aku memilih untuk tidak membahas sikap dingin buk mutia tadi siang. Aku meras tidak akan menemukan jawaban bila aku bertanya kenapa dia bersikap dingin kepadaku. Aku cukup sadar diri bahwa aku bukanlah siapa-siapa yang berhak untuk cemburu melihat buk mutia begitu dekat dengan pria lain. Aku dan buk mutia berbincang banyak hal hingga berakhir dengan ucapan selamat tidur.