
Sungguh, Surga dan neraka seorang istri berada ditangan suami.
****
Aku terbangun dipagi buta dengan puntung ganja yang padam ditanganku. Semalamam aku ketiduran sebelum lintingan kuhisap habis. Aku meletakkan puntung ganja itu didalam asbak. BB ku menunjukan pukul empat pagi.
Aku mengangkat tudung diatas meja makan setelah buang air dari kamar mandi. Ikan tongkol semalam masih ada. Aku memutuskan untuk makan karna perutku yang terasa lapar. Mungkin karna perutku yang lapar aku terbangun dipagi buta.
Ibu keluar dari kamarnya ketika aku sedang makan. Matanya begitu sembab, apakah ibu menangis lagi sepanjang malam ini? Sedangkan bapak mungkin sudah kabur lagi seperti biasanya setelah bertengkar dengan ibu.
"Tumben, kamu bangun pagi" Sapa ibu dan berjalan kekamar mandi.
Aku hanya diam dan terus makan. Setelah keluar dari kamar mandi, ibu membuat teh panas dan duduk didepanku. Tidak ada pembicaraan selama sepuluh menit lebih.
"Bapakmu, sepertinya tidak akan lagi pulang kerumah ini" Kata ibu mulai bicara.
Aku hanya diam dan membasuh tanganku setelah makan. Aku menunggu perkataan ibu selanjutnya.
"Bapakmu bilang dia sudah muak hidup dengan ibu. Hal yang tak mampu ibu pahami kenapa dia bisa berkata seperti itu" Ujar ibu serambi meniup teh yang panas dengan matanya yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"Ibu selalu memaafkan setiap kali bapakmu menyakiti ibu.."
"Bu, kenapa ibu tidak bercerai saja dengan bapak" Potongku cepat.
Ibu terdiam menatapku congo "Kau sudah dua kali mengatakan itu, Nak"
Dulu, aku juga pernah menyarankan ibu untuk bercerai saja dengan bapak. Menurutku itu lebih baik daripada terus menerus bersama dan mengadu ego mereka masing-masing.
"Ya itu lebih baik daripada ibu terus makan hati menghadapi keegoisan bapak?" Sahutku dan minum.
Ibu selalu bercerita tentang bapak kepadaku. Mungkin karna aku orang terdekat yang membuatnya bercerita. Bapak memang egois. Ibu mengeluhkan perubahan bapak setiap hari. Perubahannya seperti tidak sayang lagi pada ibu.
"Ibu tidak tahu apa penyebab bapakmu berubah. Dia seperti tersesat dan sulit untuk ibu arahkan. Dunia seperti telah berhasil membuat hati dan logikannya buta. Tapi ibu selalu memaafkan dan memilih berdoa agar pintu hatinya dibukakan. Oleh karena itulah ibu tidak membahas apa-apa saat bapakmu pulang"
Aku tetap diam. Aku merasa haru bercampur marah didalam hatiku. Aku haru mendengar cerita ibu, dan aku marah mendengar cerita tentang bapak.
"Sungguh, laki-laki adalah tanggung jawab disetiap keluarga. Surga dan neraka seorang istri berada ditangan suami. Ibu selalu mengingatkan agar dia kembali kepada kuadratnya sebagai seorang hamba. Namun bapakmu selalu marah dan memaki ibu setiap kali ibu memberita tahunya"
Air mata mulai terasa jatuh kedalam hatiku. Tersiram perasaan marah dan benci akan bapak. Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa dan dan hanya menahan semua kedukaan itu dalam-dalam.
__ADS_1
"Jangan pergi dulu" Ujar ibu yang membaca gerak-gerikku akan melangkah pergi "Ibu tahu kau membenci bapakmu. Kau tidak ingin mendengar cerita tentang dia. Tapi kau harus tahu semua ini. Dan hanya kepadamu lah ibu bisa bercerita"
Aku kembali diam dengan punggung yang tersandar. Ibu menyeruput teh panasnya. Uap keluar dari mulutnya yang dingin.
"Kau adalah anak yang paling mirip denganya. Hampir semua dari ragamu itu adalah salinan dari bapakmu. Sikap dan karaktermu hampir sama dengan bapakmu"
Aku merasa jijik dengan apa yang dikatakan ibu. Memang, aku mirip dengan bapakku. Wajah, hidung, mata, dan kulit semuanya salinan dari bapak. Tapi aku merasa jijik dengan kenyataan itu karena aku tidak ingin menjadi seperti bapak.
"Tapi aku tidak ingin jadi seperti bapak bu" Sahutku
"Ibu tahu" Jawabnya serambi menyeruput teh panasnya hingga abis "Mulai belajarlah dari sekarang agar kau tumbuh tidak seperti bapakmu" Saran ibu dan berlalu kedalam kamarnya.
Aku tetap diam dimeja makan. Tidak akan ada manusia yang tahu dirinya akan menjadi seperti apa suatu hari nanti. Tidak ada yang bisa dipastikan didunia ini selain sebuah kematian dan takdir. Dan aku tidak ingin menjadi seperti bapak yang gagal menjadi kepala keluarga. Mushola dibelakang rumahku sudah mengumandankan azan petanda waktu subuh telah tiba.
"Kau tidak sholat subuh?" Tanya ibu yang kekuar dari kamarnya lengkap dengan bukena.
Aku menggeleng dan masuk kedalam kamar.
"Entah sampai kapan kau akan melalaikan kewajibanmu sebagai seorang hamba" Kata ibu keluar rumah.
__ADS_1
Aku membakar puntung ganja yang tersisa setelah azan berlalu. Lalu menenggelamkan diri dengan kata-kata ibu yang masih terngiang dikepalaku. Kapan aku akan bosan menjadi manusia dalam gelap?