
Hitam adalah warna kesengsaraan neraka. Putih adalah warna kebahagian disurga. Manusia hidup dibanyak warna, dibanyak sisi. Tapi akan berakhir dengan hitam atau putih.
****
Kematian adalah janji takdir yang tak bisa dipungkiri oleh manusia. Kelak semua yang hidup akan dijemput oleh kematian. Tidak ada manusia yang bisa tahu kapan ajal akan datang mengambil nyawa dari tubuh. Kematian seperti teka-teki dan tragedi yang menakutkan. Dan manusia hidup untuk menjemput kematian.
Dunia adalah ruang tunggu sebelum kematian membawa kepada putih atau hitam sebagai akhir dari petualangan hidup didunia. Kelak bila tiba saatnya nanti, akan ada masanya dunia ini hancur tak bersisa seperti apa yang dijanjikan oleh takdir. Amal dan dosa manusia akan dihisap hingga rohani berhak menempati surga atau neraka sebagai ganjaran perbuatan selama didunia.
Beberapa minggu terakhir ini aku memiliki waktu lebih banyak bersama ibu. Hampir setiap malam seusai pulang sholat maghrib dari mushola belakang rumah, saat ketika dimeja makan, ibu selalu memberiku nasehat dengan ceramah tanpa judulnya. Aku hanya bisa diam saat apa yang dikatakannya adalah kebenaran yang hakiki. Dunia ini hanyalah sebuah perjalanan yang menjadi ujian bagi manusia. Aku merasa setengah hatiku dongkol ketika apa yang dibicarakan ibu menyudutkanku dengan kesalahan. Tapi setengah hati lagi menyimak dengan hikmat apa yang keluar dari mulut cerewet seorang ibu. Aku hanya diam sebab ibu akan malah menjadi jika aku mencoba untuk membantahnya.
"Hitam itu seperti kesengsaraan dineraka. Sedangkan putih adalah warna kebahagian disurga. Dan manusia menjalani hidup didalam banyak warna, didalam banyak sisi. Tapi hanya akan berakhir dengan hitam atau putih. Neraka atau surga" Nasehat ibu yang membuatku tertegun dan terkagum.
Manusia hidup dengan harapan dan kepercayaan pada takdir. Manusia tumbuh dengan pikiran dan dunianya sendiri. Masa kecil, remaja, menikah, punya anak, melihat cucu, dan tua adalah sejarah hidup yang memikilik arti disetiap masa. Setiap manusia hidup dengan perjalanan dan memiliki cerita masing-masing. Namun, aku seperti hidup dalam kubangan dosa yang kusadari tapi tak mampu untuk kuhindari.
Aku duduk termenung dengan sebatang ganja yang mulai padam ditanganku. Kata-kata ibu tadi terngiang dalam kepala sebagai pembahasan yang membuat pikiran menjadi jauh. Batin dan diriku berdebat tanpa pernah bisa kusimpulkan. Aku merasa pikiranku telah melayang dimalam jumat kliwon ini. Aku seperti hidup didalam tekanan diriku sendiri. Terlebih jauh lagi. Nasehat ibu terasa menusuk dan tepat mengenai kesadaran kalbu. Aku hidup didalam dua sisi. Antara putih dan hitam. Dimana aku lebih dominan berdiri dalam ruang hitam. Satu sisi yang selalu kusembunyikan sebagai aib diri.
__ADS_1
Aku kembali terjebak dalam ilusi kepalaku sendiri. Pikiran-pikiran kembali menekan diriku sendiri. Ketakutan dan semua kemungkinan terasa sangat dekat menghantui. Kehidupan yang sia-sia, masa depan yang suram, dan dosa yang menumpuk didalam catatan takdir. Semua ini terasa sangat melelahkan. Sebab, aku juga tak mampu beranjak dari ruang hitam yang menjadi dunia dan pilihan yang kucintai.
Satu hal yang kusadari. Kebahagian menjadi manusia dalam gelap, ataupun keindahan dalam ruang hitam hanyalah kesenangan dunia yang menipu. Namun, entah sampai kapan aku terus melakukan dosa yang telah kusadari.
Blackberry ku berbunyi mengacaukan lamunanku. Getaran dering membuat blackberryku berjalan diatas meja belajar--Bopet. Aku berdiri untuk mengambil blackberryku. Nama Tia(Mylife) tertulis dilayar ponsel. Aku mengangkat telpon dengan bibir tersenyum. Aku menyadari kesalahanku yang lupa untuk menghubungi mutia lebih dulu.
Aku menghabiskan malam dengan menelpon dengan mutia. Canda dan tawa mengiringi kebahagianku dimalam ini. Mutia bertanya tentang pekerjaan bapakku. Aku jawab saja bapak bekerja sebagai seorang petani karet. Dan ibu sebagai pedagang grosiran dipasar.
Mutia belum tahu kalau orang tuaku sudah bercerai. Aku memang tidak pernah bercerita kepada siapapun tentang percerain orang tua ku. Bahkan ketiga sahabatku disekolah saja tidak ada yang tahu kalau orang tuaku sudah bercerai. Didalam lingkungan sekolah, mungkin hanya Buk de dan windi yang tahu tentang orang tuaku bercerai. Aku juga tidak menceritakan kepada mutia kalau orang tuaku sudah berpisah.
Mutia bercerita kalau dulu ia ingin menjadi seorang dokter. Tapi mutia harus membunuh cita-citanya itu sebab tidak berhasil menembus fakultas kedokteran unand. Mutia tidak lolos dalam SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Lalu mutia memilih STKIP PGRI dengan jurusan sejarah sebagai pilihan terakhir. Mutia bilang ia ingin menjadi seorang jurnalis.
Malam mulai menuju larut. Suara kendaraan mulai jarang terdengar melewati jalan depan rumahku. Jam dilayar ponselku sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat. Mutia masih bercerita tentang masa SMA kepadaku. Mutia bersekolah di SMAN 1 Sungai Lasi. Mutia memang suka bercerita tentang pengalamannya. Sedangkan aku hanya lebih banyak mendengar dengan sesekali bertanya.
Sudah hampir dua jam kami tercatat berbicara didalam panggilan telpon. Kami menutup obrolan dengan ucapan selamat malam dan selamat tidur. Mutia juga berpesan agar aku tidak lupa untuk membalas puisinya tadi siang. Aku lansung menulis puisi setelah mutia menutup telpon. Aku sedikit kebingungan merangkai kata hatiku. Beberapa puisi yang sudah kutulis harus kubuang karna tidak bagus menurutku. Bagaimana mungkin aku bisa jadi penyair atau penulis sepeti apa yang dikatakan mutia jika untuk menulis satu puisi aku kebingungan.
__ADS_1
Bunyik jangkrik memecah kesunyian didalam kamarku. Aku menghisap ganjaku yang sudah terpuntung. Asap-asap tebal mengepul dilangit-langit kamar. Senyum mutia terlintas dalam pikiranku. Aku menghisap dalam ganja sebelum kupadamkan dalam asbak. Lalu mulai menulis suara hati sesuai dengan apa yang terangkum dalam imajinasi.
Makna Senyummu
Aku selalu jatuh hati saat kau tersenyum. Tidak bisa aku untuk bilang tidak. Dari semenjak pertama kali kita bertemu. Aku selalu terpesona dengan lesung pipimu yang muncul saat kau tersenyum. Aku tidak tahu kenapa aku bisa terpana dan begitu simpati dengan melihat senyummu. Aku hanya tahu kalau aku telah jatuh cinta pada senyummu disetiap kita bertemu.
Aku selalu tersipu bahagia saat kau tersenyum. Tidak peduli seburuk apapun keadaan dan kondisi hati. Senyummu selalu berhasil membuatku merasa bahagia. Senyummu itu bagaikan wahana yang menghantarkan hatiku pada lembah kebahagian. Merubah warna hatiku lebih dari sekedar abu-abu. Menjadikan hati yang gelap itu penuh cahay dan penuh kasih.
Aku selalu terpesona saat kau tersenyum. Bahkan ketika menderita seperti ini. Senyummu menjadi penawar bagi duka yang hinggap didalam diri. Melihat senyummu adalah alasan terkuat bagiku untuk merindu. Senyummu adalah pesona yang tak ingin kulewatkan walau sedetikpun.
Aku selalu ingin menjadi alasan saat kau tersenyum. Mungkin melihatmu tersenyum dan tertawa akan membuat kehidupan terasa sempurna. Jadi, berikanlah aku kesempatan untuk mengukir kisah indah dengan senyummu. Dan jika seandainya bisa, bolehkah aku menjadi satu-satunya rumah untuk suka dan duka dalam senyum itu?
Hingga nanti,
Dan selamanya,
__ADS_1
Aku menutup puisi yang kutulis dihalaman belakang buku. Aku menyusun buku yang akan kubawa sesuai dengan mata pelajaran besok hari. Setelah selesai dengan semua tugas sekolah aku lansung merebahkan diriku diatas kasur. Malam ini aku tertidur lebih cepat.