
Pergaulan yang luas akan menambah wawasan dan merubah cara pikirmu.
****
Sudah lumayan malam ketika aku sampai di simpang ICE. Bertemu dengan fiona tadi membuat jam ku molor jauh dari jam yang sudah kutargetkan. Tapi tidak ada yang harus disesali. Sebab, bertemu dengan fiona adalah sesuatu yang selalu membuatku merasa bahagia.
Simpang ICE terlihat lengang dari biasanya. Aku berhenti dibahu jalan lintas sumatra. Mengeluarkan HP dari saku celanaku. Pukul 20:47 PM. Aku segera menelpon ipan yang akan menjadi teman bisnisku dalam penjualan ganja. Didering ketiga telpon diangkat.
"Halo pan" Bukak ku
Terdengar suara ramai dari seberang sana. Dan hening seketika.
"Halo dikan" Sahutnya.
"Dimana?"
"Dirumah dori, udah dapat barangnya?"
"Udah"
"Yaudah kesini aja"
__ADS_1
"Rame nggak disitu?"
"Cuman bocah-bocah"
"Yaudah" Kataku menutup telpon.
Aku menyalakan kembali mesin motorku. Berbelok dan masuk ke dalam simpang ICE. Menyusuri jalan beton untuk menuju rumah dori yang berada dikompleks perumahan ladang kapeh.
Aku mengenal ipan dan dori dua tahun yang lalu. Mereka adalah penghisap lem sebelum berkenalan denganku. Sore itu aku berteduh dari hujan lebat di SD 05 seusai pulang ekskool sepakbola. Waktu itu rumah dori masih didekat SD 05, sebelum tiga bulan yang lalu pindah ke perumnas. Mereka menawarkanku untuk menghisap lem banteng. Tapi buru-buru kutolak dengan halus. Lebih jauh lagi. Lem yang umumnya mengandung zat toluena dan naftalena dapat merusak selubung mielin. Mielin adalah lapisan tipis di sekitar serabut saraf otak dan sistem saraf. Kerusakan ini dapat menyebabkan kerusakan jangka panjang pada fungsi otak, serta juga dapat menyebabkan masalah neurologis yang mirip dengan yang terlihat dengan multiple sclerosis. Dan yang lebih parah adalah hilangnya nafsu makan. Tak heran dengan tubuh ipan dan dodi yang kurus kering.
Ganja? Ganja juga termasuk barang ilegal yang dikategorikan bahaya dan dilarang digunakan oleh kebanyakan masyarakat umum. Tapi ganja adalah tumbuhan yang alami. Ganja juga bisa menyebabkan halusinasi. Memang benar. Itu terjadi pada teman saya sendiri. Kejadiannya lima bulan yang lalu. Namanya apis. Hari itu bukan hari pertama kalinya apis menghisap ganja. Namun, hari itu bisa jadi ia menghisap ganja terlalu banyak. Apis memang jarang menghisap ganja yang terkadang kala ia juga menolak ajakanku. Apis menjadi super paranoid dengan ketakutan yang sebenarnya tidak terjadi. Dia begitu memaksa aku dan pram untuk membantunya melarikan diri dari kejaran ibunya. Aku dan pram tak begitu saja percaya, kami malah tertawa melihat raut wajah apis yang begitu cemas. Kami tahu apis sedang mabuk dan kehilangan kontrol dirinya. Tapi apis malah semakin merengek untuk meminta kami agar tanggung jawab karna telah membuatnya seperti itu. Apis muntah sangat banyak. Dan aku mulai cemas. Selama ini aku menghisap ganja aku tidak pernah merasakan ingin muntah. Tapi wajah apis mulai merah dan ketakutan. Akupun ikut takut melihat apis yang sangat gelisah. Bagaimana nanti kalau ibunya tahu dan menjadi kami sebagai sasaran ulah anaknya? Tentu itu akan menjadi masalah yang semakin mencemarkan nama kami yang sudah buruk oleh sebagian masyarakat. Hingga akhirnya aku dan pram berhasil meyakinkan apis bahwa itu terjadi karna ia terlalu menuruti pikiran apa yang sebelum menjadi beban baginya. Bahwa yang ia cemaskan itu hanyalah ketakutan yang hanya terjadi didalam pikirannya. Kami menjelaskan bahwa hal yang dialami apis adalah ilusi kepalanya sendiri yang terjadi karna apis tidak bisa mengontrol dirinya dalam mabuk ganja. Apis akhirnya menurut ketika kami meminta dia untuk pulang dan tidur saja. Lalu esok harinya apis malu muka sendiri bila bertemu dengan kami.
Sedangkan dori dan ipan mengakui bahwa mereka belum pernah mencoba ganja, dan sore itu mereka menghisap ganja denganku. Dodi dan ipan bilang kalau ganja ini terlalu sulit untuk didapatkan oleh mereka. Lama-lama bercerita ternyata dori adalah mantan citra yang juga mantan pacarku. Hal hasil kami menjadi dekat setelah itu. Kemudian aku mendengar pengakuan mereka bahwa mereka tidak lagi menghisap lem. Dan yang mereka tahu, ganja membuat hidup mereka lebih damai dan nafsu makan mereka bertambah. Tentu itu hanya penilain mereka saja. Semenjak itu pula lah aku menjalani bisnis ilegal ini dengan ipan.
"Sang pahlawan kita telah datang" Ujar ipan yang lansung menyalamiku. Dua orang yang belum kuketahui namanya itu bernama pindo dan bojek.
"Sandi belum datang?" Tanyaku serambi mengeluarkan satu plastik ganja dari dalam tas ku.
Ipan menggelengkan kepala. "Lihat, betapa beraninya orang ini dengan membawa dua kilo ganja didalam tas sekolahnya" Ujar ipan.
Pindo dan bojek tertawa.
__ADS_1
Ya, terlihat ceroboh memang caraku bermain dalam bisnis ilegal ini. Tapi satu hal yang aku pahami. Setiap orang narkoba yang tertangkap oleh polisi pasti ada satu orang yang harus menjadi kibul--atau yang sering kami sebut sebagai kibus. Oleh karna itu. Serapi apapun aku menyembunyikan barang ilegal itu, kalau sudah ada orang yang berniat untuk mengibusku, aku akan tertangkap juga. Maka aku lebih memilih percaya diri saja dengan resiko yang sudah siap untuk kutanggung.
Aku melemparkan satu kilo ganja yang dibungkus dengan plastik kearah ipan. Ipan menyambutnya dengan sigap. Lalu ikut bergabung duduk didalam lingkaran.
"Kan, berikan cendekiawan ini segelas bir" Ucap ipan kepada bojek dan masuk kedalam rumah dori.
"Nih dikan" Kata bojek dengan memberikan segelas bir kepadaku.
"Dori mana?" Tanyaku sebelum meminum bir.
"Dia lagi keluar" Sahut bojek.
"Nih, bikinlah dikan" Ucap bojek dengan mendekatkan setumpuk ganja diatas kertas kepadaku.
"Oh iya" Sahutku lalu mulai melinting.
Pindo tidak lagi sekolah. Dia berhenti dikelas dua smp. Sedangkan bojek masih duduk dikelas tiga smp. Bojek bercerita bahwa dia akan masuk SMA ditempat aku sekolah. Aku bercerita dengan bojek dan pindo serambi melinting ganja. Beberapa menit kemudian ipan datang dengan meletakkan uang satu juta didepanku.
"Hitunglah dulu" Ucap ipan dan duduk disebelahku.
"Tidak usah" Sahutku dan memasukkan uang kedalam tas ku. "Aku bakar dulu" Basa-basiku sebelum membakar lintinganku.
__ADS_1
"Lanjut"
Aku membakar lintinganku. Tubuhku yang dingin karna udara malam ini terasa hangat dengan segelas bir dan sebatang ganja. Kami bercerita dengan gelak tawa. Tak lama kemudian dori dan sandi datang. Aku lansung mengeluarkan satu plastik hitam pesanan sandi. Kami menghabiskan malam dengan bercengkrama dalam duduk melingkar.