Ruang Hitam

Ruang Hitam
Rumah


__ADS_3

Rumah bukanlah tempat bagi perasaannya


***


Dimalam harinya, aku berkumpul dengan manusia dalam gelap. Kami duduk ditempat biasa kami menghabiskan malam. Rumah gadang minang ini adalah rumah panggung yang digunakan untuk acara adat suku jambak. Dikampungku, ataupun didaerah sekitarnya, rumah gadang yang menjadi rumah adat minang sudah langkah untuk kita temui. Ada banyak suku dalam adat minang, tapi hanya beberapa suku yang memiliki rumah gadang untuk melaksanakan acara adat suku mereka. Peradaban dan modernisasi telah berhasil mengubah tatanan hidup masyarkat. Cepat atau lambat budaya hanya akan menjadi sejarah dalam kehidupan masyarakat. Dan rumah gadang jambak yang menjadi markas kami ini adalah satu dari empat rumah gadang yang masih kokoh berdiri.


Kami duduk dengan sepaket ganja dan seliter tuak. Aku seperti sedang ketinggian dengan kombinasi bius shabu tadi siang. Rambut yang masih terasa tegang dan kepala yang terasa lapang membuatku begitu santai malam ini. Tapi aku berusaha mengendalikan diri agar teman-temanku tidak mengetahui kalau aku siap menyabu. Mereka akan sensi jika tahu aku menyabu.


Obrolan malam ini membahas tentang kehidupan. Bang febi bercerita tentang kesusahan hidupnya dikampung. Tanpa pekerjaan membuat bang febi merasa muak dengan kehidupannya. Bang febi merasa akan gila bila berlama-lama menjalani kehidupan yang membosankan seperti ini. Tentu saja, bang febi tinggal didalam kampung. Dikampung orang-orang hanya akan punya dua kesibukan dalam setiap harinya. Siang hari untuk bekerja, dan malam hari untuk mengobrol dikedai kopi yang kadang juga bergunjing. Tidak ada hiburan ataupun keramain yang bisa menghilangkan rasa suntuk. Beberbeda dengan dikota, kita akan merasa terhibur dengan hanya menyaksikan keramain dan kelap-kelip lampu kota.


"Tidak ada manusia yang sempurna bi. Kehidupan orang yang kita kira sempurna mustahil tidak pernah mengalami kesulitan. Dan mungkin saja mereka tidak mengeluh seperti kita" Ucap pram menasehati bang febi.


Bang pram benar. Kadang kita hanya terlalu meratapi kesusahan yang kita alami hingga kita menilai kehidupan orang lain sangat sempurna dibandingkan kehidupan kita. Padahal, bisa saja diluar sana banyak yang orang tidak seberuntung kita dan menginginkan kehidupan seperti kita.


"Betul.... Ya, jangan banyak mengeluh kalau jadi laki-laki" Bang deni ikut mengamini.


"Intinya, Jalani saja" Ucap pram.


"Tumben bijak kata-kata pram malam kini" Ujar bang gates.


"Pram kalau siap nyabu akan terlihat pintar. Tapi kalau belum dapat sabu, gobloknya kelihatan" Cetus bg deni.


Kami tertawa. Pram dan bang deni juga mengkomsumsi shabu hari ini. Itu berarti bukan aku saja yang mengkombinasi racun tiga dimensi kedalam darahku. Ada pram dan bg deni yang ternyata sebelum ini juga menghisap shabu. Sedangkan aku mendapat shabu dari ipan yang ternyata mengajakku ke sawahlunto untuk menukar segaris ganja dengan satu gram shabu.


"Emang iya. Kalau siap nyabu tuh, wawasan kita menjadi terbuka" Sahut pram.


"Tapi kalau belum dapat sabu akan jadi orang ******" Celetuk bang deni.


Kami tertawa terbahak-bahak.


"Salahnya. Resiko siap nyabu itu kantong lansung kering"


Harga satu paket shabu itu berkisaran 200, 300, 500, dan 800. Itu uang yang cukup besar dalam keterbatasan kami sebagai pemakai. Mata pencharian rata-rata kami adalah penambang emas. Diantara delapan orang jumlah kami yang ada di berondoh rumah gadang. Hanya aku yang masih sekolah. Sedangkan yang lainnya adalah penambang emas harian. Kecuali gates yang memang pengangguran senang. Ekonomi dikampung bertumpu pada tambang emas. Dimana jika tambang emas ini mengalami razia atau dilarang oleh pemerintah dalam waktu yang lama. Maka, kehidupan ekonomi masyarakat akan mengalami krisis finansial. Bahkan pedagang-pedagang dipasar seperti ibuku mengeluh karna sepinya pasar. Ibu bilang razia tambang emas yang menjadikan lumpuhnya ekonomi.


"Shabu itu memang untuk orang-orang yang banyak uang" Kata bg deni sambil menghisap ganja sangat dalam.


Bg deni benar, didalam pendapatan yang sedikit dengan kebutuhan yang mendesak. Kami tidak boleh egois dengan melalaikan kebutuhan pokok hanya untuk kesenangan yang menjadi kebutuhan pelengkap. Sedangkan aku tadi siang menghisap shabu hanya karna gratis. Aku tidak akan menghisap shabu jika aku diminta untuk membelinya terlebih dahulu. Sebab, aku sadar bahwa hidupku akan berantakkan jika aku sudah ketergantungan pada shabu yang tidak murah itu.

__ADS_1


Itulah pertama kalinya aku menghisap shabu. Aku yang mengenalkan ganja kepada ipan, dibalas ipan dengan mengenalkan shabu kepadaku. Pertemanan kami seperti simbiosis mutualisesme.


Lagu-lagu sendu yang terputar menghiasi cerita malam ini. Obrolan semakin intens membahas kehidupan. Uang adalah nyawa kehidupan. Itulah pokok pembicaraan kami. Tidak ada manusia yang tidak butuh uang. Bahkan kebanyakan manusia juga diperbudak oleh uang.


"Hidup tanpa Hp dan motor seperti patah kaki, tidak dapat kemana-mana" Ungkap bg febi yang menggambarkan keluhannya. Muaro bodi ini kampung mati, tidak ada kesibukkan dan kehidupan. Bahkan bg febi pernah bilang distatusnya 'kampung ******'. Bg febi sudah merasa muak dengan kehidupan dikampunh. Ia merasa bisa gila, jika masih tinggal lebih lama dikampung.


"Tidak ada kehidupan disini" Bg febi ingin kebatam. Ia merindukan kehidupannya dibatam.


Lagu naff terputar didaftar musik, terendap laraku mengalun merdu. Seketika dingin menyerangku, lagu ini mengingatkanku dengan buk mutia. Seseorang yang berhasil mematahkan hatiku. Namun aku berusaha untuk tidak mengingat hal yang menyakitkan dari buk mutia.


"Wak, Kalau diberi satu permintaan sama Tuhan, awak ingin menjadi kaya" Celetuk momom.


Kami tertawa melihat kekonyolan momon. Momon


"Hei mon, menjadi kaya adalah mimpi banyak orang" Sahut gates.


"Mon.. Seandainya dikasih satu permintaan sama Tuhan.. Baguslah minta masuk surga lansung mon" Pram ikut menimpali.


"Iya yah, jelas loh selamat dari dunia" Kata bg eldom.


Kami terus bercerita tentang momon dengan gelak tawa. Sepaket ganja dan tuak sudah habis. Namun obrolan kami tetap semakin seru. Gates bercerita tentang kekonyolan momon lainnya. BlackBerry ku berdering, lampu notifikasinya berkedip-kedip petanda BBM masuk.


Fiona Lantika


"Malam minggu besok, sibuk?"


Dikan Alendra


"Kamu mau mengajakku jalan-jalan?"


Fiona Lantika


"Nanti guru muda itu cemburu"


Aku mendesis. Fiona juga tahu kalau aku menyukai buk mutia. Lagu naff menjawab dengan liriknya yang memberi pilu. Seperti aku mengagumi seseorang yang sudah punya pacar. 


....Letih menahan perih yang kurasakan. walaupun ku tau, kumasih mendambakanmu....

__ADS_1


Dikan Alendra


"Dia sudah punya pacar"


Pada akhirnya, rasa sakit membuatku mengerti akan keikhlasan mencintai. Hati yang benar-benar tulus takkan berhenti untuk mencintai, walaupun dihadapkan pada kenyataan cinta bertepuk sebelah tangan. Ketulusan takkan hilang hanya karna tidak terbalas.


Hujan mulai turun, rintik-rintik terdengar berjalan diatas loteng. Kami lansung bergegas ingin segera pulang. Tapi hujan lebat dengan cepat sekali. Kami kembali berteduh naik keberondoh rumah gadang. Kepala dan sebagian baju kami sedikit basah karna tadi berniat menerobos hujan.


"Jam berpa sekarang?"


"Jam 12 kurang"


"Sudah lupa saja jam karna mengobrol"Ucap gates.


Kami berteduh kedinding rumah gadang. Hujan turun lebat sekali. Ucapan gates tadi mengartikan kebiasaan kami kalau sudah berkumpul. Seperti sudah hal yang lumrah. Malam ini hanya karna hujan turun kami ingin pulang. Kalau tadi tidak hujan. Kami pasti belum berpikir untuk pulang.


Hujan makin deras, angin kencang mengarahkan bercak air yang melantun dari kula kearah kami. Kami semakin merapat kedinding, duduk berjejer diatas tangga. Hujan menghalangi langkah kami untuk pulang, suara hujan membuat obrolan menjadi hingar bingar. BlackBerry kembali berdering, pesan dari fiona masuk.


Fiona Lantika


"Sebentar lagi kita lulus, Kamu sudah memikirkam setelah lulus akan mau jadi apa?"


Fiona seperti bertanya cita-cita. Hal yang tak pernah kupikirkan sebelumnya. Aku sekolah hanya untuk lulus. Bukan untuk jadi pilot, polisi, atau seperti cita-cita yang terlalu muluk. Bukan aku tidak mau, tapi aku tidak ingin menekan diriku dengan harapan seperti itu. Bagiku, hidup adalah hari ini yang harus dijalani. Perihal masa depan dan esok hari adalah urusan takdir.


Dikan Alendra


"Lulus saja belum tentu. Tapi setelah lulus nanti, aku ingin merantau. Bekerja dan menabung sebekum buka usaha sendiri. Kawan?"


Cita-cita adalah keinginan dimasa depan. Seperti mimpi untuk esok hari. Ijep bercita-cita ingin menjadi tentara. Sedangkan nando ingin menjadi polisi. Kalau mereka tanya cita-cita, aku hanya tau aku ingin merantau dan hidup sendiri. Aku ingin hidup mandiri semenjak dulu. Aku merasa bisa untuk melangkah sendiri. Keinginanku sedari kecil adalah ingin lepas dari pelukan ibu. Aku benci rumah saat aku dirumah. Ketika ego ibu dan bapak saling beradu memberikan gambaran bahwa aku hanyalah beban yang membuat mereka terus bertengkar. Entah siapa yang salah. Aku merasa rumah bukanlah tempat bagi perasaanku.


Fiona Lantika


"Kalau aku ingin masuk kedinasan pariwisata"


Cita-cita adalah harapan. Harapan yang menjadi semangat kita untuk menuju masa depan. Tentu semua orang berharap kehidupan yang lebih baik. Fiona ingin masuk sekolah kedinasan pariwisata. Hal yang menjadi kendalanya ia harus bisa berbahasa ingris. Untuk itu fiona berusaha untuk menghapal bahasa ingris. Sedangkan cita-citaku ingin merantau tamat sma. Untuk itu aku harus lulus dengan nilai yang cukup bagus. Namun, kelak aku akan paham; bahwa mimpi adalah tujuan dan arah hidup.


Hujan mulai reda, kami berangsur pulang kerumah masing-masing. Aku tidur dengan mata yang sulit terpejam. Efek shabu tadi siang masih terasa. Aku berselancar ditwitter untuk mengusir rasa bosanku. Seperti biasa, menulis twit galau adalah kebiasaanku.

__ADS_1


__ADS_2