Ruang Hitam

Ruang Hitam
Cinta terpendam


__ADS_3

Ada kebahagian dalam keikhlasan


****


Bulan september telah berlalu menjadi sebuah cerita. Oktober datang menyambut dengan hari yang siap dijani dengan kebahagian. Seusai sholat jum'at, Aku menaiki mini bus avanza yang akan membawa kami kekota padang.


Didalam mobil, kami duduk sedikit berdesak-desakan sebab jumlah kami memenuhi kapasitas mobil. Dibangku kemudi duduk seorang pria gendut yang kami panggil om jack. Om jack adalah pemilik mobil avanza yang kami tumpangi. Disebelah om jack, duduk menajer tim yang juga merangkap sebagai anggota KONI. Kami memanggilnya dengan Da yondra, dan da yondralah yang menyeleksi kami diacara futsal dimontela. Sedangkan aku duduk dibangku tengah dengan ripo, leopi randa, yanda. Tiga pria berbadan jangkung duduk dibagian belakang, yaitu eto, andika, dan rezi. Kami telah mengenal satu sama lain sebelum menaiki mobil ini.


" Tidak ada yang ketinggalankan" Tanya bang yondra. "Syarat kalian semua sudah lengkap?"


"Sudah bang" Jawab kami serentak.


"Kalau kalian masuk final, kalian akan diberi bonus oleh ketua koni dan ketua partai bintang" Ujar bang yondra"


Kami berbisik riang seakan penuh semangat. Partai perindo adalah partai baru yang dibentuk dengan ketua umum 'ttteg''.


"Ada 32 tim yang bertanding dalam turnament ini. Semua kabuhpaten disumbar ikut andil dalam turnament futsal kali ini"


"Iya bang, turnament ini dalam rangka apa bang?" Tanya yanda.


"Perayaan ulang tahun partai bintang" Ujar bang yondra "Pelatih kalian nanti, pelatih yang menyeleksi porprov futsal kemaren. Mungkin yanda tahu"


"Bang nanda, bang?" Sahut yanda.


"Iya, dia sudah ada dipadang menanti kita"


Rezi dan dika juga kenal dengan pelatih yang disebutkan bang yondra. Bang nanda adalah pelatih yang menyeleksi pemain untuk dipilih mewakili lansek manih di porprov dipariaman nanti. Yanda, dika, rezi, dan ripo kenal bang nanda karna mereka ikut seleksi porprov.

__ADS_1


"Dikan, ngak ikut seleksi kemaren?" Tanya bang yondra.


"Enggak bang" Sahutku.


"Kenapa?"


"Gak tau kemaren kalau ada seleksi bang"


"Ripo ngak ngasih tahu" Tanya bang yondra menertawakan.


"Gimana lagi bang, sedangkan ripo aja lambat sehari ikut seleksi" Sahutku.


"Ohhhh iya ya, ripo hanya ikut seleksi dihari kedua ya" kata bang yondra "Diantara kalian siapa yang terpilih?" Tanya bang yondra.


"Gak ada bang" Sahut dika dibelakang "Yanda cuman, tapi yanda mewakili sepakbola juga" Sambungnya.


Mini bus avanza melaju dijalanan lintas sumatra. Jarak sijunjung dan padang berkisar seratus kilometer. Jarak itu bisa ditempuh dengan dua jam perjalananan. Sawah-sawah dikaki bukit menghiasi pemandangan yang menyejukkan mata ketika kami melintasi memasuki daerah solok.


Bang yondra menyuruh om jack berhenti dimesjid arosuka untuk sholat. Ini kedua kalinya aku berhenti dimesjid ini. Seminggu lalu, aku dengan sandi, ipan dan dori juga singgah dimesjid ini untuk makan sate. Dan ini adalah kedua kalinya aku melihat padang. Namun, bukan lagi untuk lari dan sembunyi. Tapi dengan sebuah kebanggan, seperti nama baik aku terpilih untuk mewakili lansek manih di provinsi.


Memang, jarak kebahagian dan kesedihan serupa kedua kaki melangkah. Dibalik kesedihan tersimpan kebahagian. Begitu juga sebaliknya. Kebahagian tergantung hanyalah pola pikir kita dalam menyikapi sebuah keadaan. Sedangkan dalam takdir, kesedihan takkan berubah hanya dengan penyesalan. Dan kebahagian lahir dari kepasrahan diri dalam menerima kenyataan.


"Ibaratkan sebuah kapal yang berlayar ditengah deras badai hujan, seperti itulah kehidupan. Meskipun sulit dan berat, namun tetap harus berlayar, hingga kamu sampai pada tujuan yang kamu tuju" Cerita fiona suatu hari.


Aku tersenyum mengingat fiona. Sebuah ketulusan yang menjadi arti kebahagian dalam ikhlasnya aku mencintai fiona. Fiona adalah sandiwara dari cinta terpendam.


Udara dingin mengeregoti kami ketika turun dari mobil. Air bukit terasa menyegarkan ketika kami mencuci muka. Bang yondra, yanda, dan eto memenuhi waktu ashar. Sedangkan kami duduk diwarung sate. Om jack, randa, dika, dan resi memesan sate. Sedangkan ripo tidak memesan karna alergi daging kambing. Aku tersenyum membaca bbm dari annisa.

__ADS_1


"Jangan lupa makan" Pesan nisa dua puluh tujuh menit yang lalu. Annisa memberiku bekal sebelum berangkat tadi. Dia memasukkan plastik hitam kedalam tasku ketika aku menghampirinya disekolah. "Untuk bekal nanti" Jawabnya ketika aki bertanya.


"Dikan ngak pesan" Tanya om jack.


"Enggak om" Serambiku mengeluarkan plastik hitam dari tasku.


"Ohhh bawa bekal dikan" Ujar om jack.


Didalam plastik. Ada tuphwere dengan gambar monion. Film kartu kesukaanku. Aku tersenyum ketika beberapa paragade disusun rapi dengan nasi putih. Paragede adalah kesukaanku. Annisa mengingatkan aku ketika pergi merantau dulu. Ketika ibu menitipkan bekal untukku.


Ripo dan dika ikut memakan paragede. Setelah makan. Bang yondra memesan satelah menunaikan kewajibannya. Tak lupa juga bang yondra memesankan untuk yanda dan randa.


"Apa lagi dikan?" Tanya om jack menatapku gelak "Rokok?" tanyanya menyindir diiringan dengan tawa.


"Enggak om" Sahutku menolak cepat. Om jack tertawa melihat tingkahku. Aku tidak merokok sebab menghargai bang yondra sebagai menajer.


"Abang ngak masalah kalian merokok. Kalau mau merokok, ngerokok lah. Abang tidak melarang. Lagipula, abang pun perokok aktif." Ujar bang yondra memberi lampu hijau "Tapi abang minta kalian untuk tanggung jawab dilapangan" Jelas bang yondra.


Aku menghisap rokok kretekku. Ripo, dan rezi ikut merokok setelah bang yondra mengizinkan kami untuk merokok. Kami melanjutkan perjalanan setelah puas berbincang-bincang. Aku berdecak kagum menyaksikan siluet senja dipesisir kota padang. Om jack melambatkan laju mobilnya dipenurunan sitinjau. Lembayung yang indah akan tenggelam diufuk barat. Hingga terciptalah jingga yang mempesona dari ketinggian bukit sitinjau.


Kami sampai disebuah wisma bukit asam didekat taplau. Senja sudah gelap ketika kami melintasi taplau. Bang yondra memesan dua kamar. Bang yondra sekamar dengan om jack. Sedangkan satu kamar untuk kami. Aku menghempas diriku diatas kasur yang berundak-rundak.


"Istirahatlah dulu, siap magrib kalian akan uji coba dengan bang nanda" Ujar bang yondra dan kembali kekamarnya.


Selepas magrib kami berangkat untuk uji coba. Gor tempat kami bertanding lumayan jauh. Kami melewati beberapa keramain kota. Yanda becerita antusias dengan menunjuk sebuah gor molateli. Lapangan futsal yang kini tengah diadakan liga futsal nusantara tingkat provinsi.


Kami sampai setelah setengah jam perjalanan. Anak-anak dengan kostum hitam terlihat mendominasi lebih banyak. Bang yondra menyalami dengan seorang pria bertubuh besar. Yanda, dika, rezi berkata pria bertubuh besar itulah yang namanya pak nanda. Pak nanda adalah guru olahraga dipadang. Dan kami akan uji coba dengan tim sekolahnya pak nanda.

__ADS_1


Bang yondra menyuruh kami untuk memakai sepatu dan kostum. Kami sedikit pesimis akan bisa menang dengan melihat tendangan mereka yang begitu keras. Jumlah mereka sangat banyak dan terlihat kompak. Kami akhirnya kalah telak tujuh kosong. Tapi bang yondra merasa puas dengan penampilan kami. Setelah kembali ke mess, kami tertidur lelap untuk mengobati badan kami yang lelah.


__ADS_2