Ruang Hitam

Ruang Hitam
Sakau


__ADS_3

Patah hati tidak ada apa-apanya dibandingkan menahan kesakaun


****


Terik jatuh pada siang rabu diawal september. Bel istirahat baru saja berbunyi, siswa-siswa berhamburan keluar kelas, mencari makan kekantin atau duduk dikoridor sarambi merumpi tentang gosip terbaru. Aku berjalan kekantin bersama ketiga sahabatku dengan sangat lesu, bius shabu kemarin menyisakan penat diseluruh persendianku.


"Lu sakit" Tanya aldi yang berhenti berjalan didepanku.


"Hanya kurang enak badan" Jawabku dengan berjalan melewati aldi.


"Annisa nanya-nanya lu tuh" Ucap aldi dan berjalan disampingku.


"Annisa mana?" Tanyaku.


"Annisa kelas sepuluh" Sahut aldi.


"Annisa wafiq azizah mak?" Ijep penasaran


"Bukan, Annisa siapa ya namanya?" Sahut aldi kebingungan.


Ijep dan nando tertawa melihat aldi yang kebingungan. Aku terus berjalan tanpa menghiraukan mereka. Kepalaku terasa nyeri.


"Kalau annisa wafiq, kalah sainglah gua" Ucap ijep


"Bukan annisa itu" Jawab aldi ketus.


"Annisa wafiq itu cantik ya ndo" Ujar ijep. Dia sangat mengagumi anissa wafiq junior dua tahun dibawah kami. Disekolahku ada dua nama annisa. Satu annisa wafiq yang menjadi gebetan jefri. Kedua annisa rusli yang akan menjadi pacarku.

__ADS_1


"Annisa yang lokal sepuluh tiga itu hah. Yang temannya niken" Ucap aldi masih kebingungan.


"Annisa rusli" Jawab ijep.


"Ah iya" Ujar aldi riang "Katanya dia suka sama lu dik" Sambung aldi.


Aku tidak terlalu menyahuti aldi. Aku mendengar apa yang dia katakan. Tapi aku tidak terlalu ingin menanggapi aldi. Selain tidak kenal dan tidak tahu yang mana orangnya. Pikiranku sudah direnggut oleh ke-sakaun yang tak sanggup lagi kukendalikan, pikiran membuat diriku menjadi sulit untuk terkontrol. Entahlah, mungkin ini yang sering kali dibicarakan oleh teman-temanku di RGM. Resiko yang harus ditanggung setelah bius shabu itu mulai redup. Terasa teraniaya dengan mata yang ingin tidur, tapi tertahan oleh beratnya pikiran-yang terus meminta untuk menambah shabu. Sial, terasa menyiksa sekali.


Kantin tek rida terlihat lengang ketika kami sampai. Hanya ada tek rida dan salah satu juniorku yang tak kuketahui namanya. Wajahnya familiar bagi mataku, tapi aku tidak tahu siapa namanya.


"Bg, makan bg" sapa juniorku itu.


"Yah lanjut" Sahutku memaksakan senyum. Aku juga tidak ingin tahu siapa namanya.


"Makan" Tawar tek rida kepadaku.


Aku tidak merasa lapar. Aku tidak nafsu untuk makan. Meskipun aku terakhir kali makan kemarin siang dikantin tek rida. Sial, gara-gara shabu aku kehilangan nafsu makan.


"Minum"


"Yah susu dingin" Pesanku


Susu. Aku ingin menetralisasi racun shabu yang mengalir didalam darahku. Aku ingin normal saja. Ini sangat menyiksa sekali.


"Rokok enggak" Tawar tek rida


"Iya sebatang"

__ADS_1


"Etek sangka udah berhenti ngorokok" Tek rida mencoba bergurau.


Aku hanya tersenyum dan berjalan untuk duduk diruang belakang kantin. Setelah beberapa bulan yang lalu, kantin tek rida ditambah bangunannya kebelakang. Aku lebih suka duduk disini. Kantin tek rida adalah bekas bangunan yang dulu pernah menjadi ruangan. Bangunan tua itu masih membekaskan fondasi tanpa atap yang dijalari oleh batang-batang yang besar. Dinding disisi kanan kantin dibatasi oleh tembok besar dari bangunan tua. Sedangkan disisi kiri kantin ditutup dengan dinding papan. Disebelah kiri kantin tek rida adalah jalan setapak dan lokal MAN. Dan disebelah kanan berbatasan dengan bangunan tua. Disanalah aku sering memnghisap ganja, jika aku membawa ganja kesekolah.


Kantin tek rida mulai ramai oleh pengunjung. Canda dan tawa menjadi kehebohan didalam kantin. Ketiga sahabatku berjalan menghampiriku diruang belakang kantin. Nando dan ijep membawa sepiring nasi goreng untuk mengisi perut  mereka yang lapar.


"Bagaimana, dia mintak pin BB lu. Kasih ngak?" Tanya aldi yang duduk disampingku.


"Kasihlah" Jawabku malas.


"Susu dingin" Ucap tek rida meletekkan segelas susu dingin didepanku.


"Kasih api tek" Pintaku.


Tek rida mengeluarkan korek dari saku celemeknya. Lalu menyalakan korek untuk rokokku. Aku mendekat dan menghisap rokokku.


"Wiehhh romantis kali etek ni" Ucap ijep.


"Yah begitulah etek demi dikan" Sahut tek rida serambi berjalan.


"Aku mau juga lah diperlakukan seperti itu tek" Ujar ijep.


"Oh tidak bisa....Perlakuan seperti itu hanya khusus untuk dikan." Ucap tek rida dan berlalu.


"Pilih kasih"


Aldi dan nando tertawa. Ijep bersungut-sungut. Ketiga sahabatku sibuk mengobrol tentang anak kelas sepuluh yang beragama kristen. Ada tiga orang murid perempuan yang beragama kristen disekolahku. Tiga orang murid kristen itu diberi kebebasan untuk tidak hadir dalam pelajaran pendidikan agama islam. Namun aldi bilang mereka tetap mengikuti pelajaran. Kantin riuh dengan obrolan yang tak menentu. Obrolan itu menjadi bising dengan kepalaku yang berdenyut-denyut nyeri.

__ADS_1


Bel berbunyi petanda jam istirahat telah habis. Aku masuk kedalam kelas. Siang ini kelasku belajar BK dengan guru muda. Kami hanya bercerita-cerita serambi bermain. Aku hanya duduk dengan kepala terpaku diatas meja. Kepalaku sangat nyeri sekali. Hingga tak sadar tertidur didalam kelas.


__ADS_2