Ruang Hitam

Ruang Hitam
Berhayal dengan ketidakmungkinan


__ADS_3

Tidak ada luka dalam keikhlasan


****


Bulan melengkungkan senyum diluar jendela. Cahaya membentuk lingkaran dengan warna putih dilangit yang gelap. Tapi hanya setengah lingkaran bulan yang terlihat dari jendela kamar, sedangkan setengahnya tertutup oleh awan gelap.


Aku duduk dibibir kasur serambi menatap keluar jendela. Rasa penat dan letih menggerogoti tubuhku setelah seharian beraktivitas. Aku mengeluarkan ganja dari bawah kasur tidur. Lalu mulai melinting untuk doping malam ini.


"Tinggg" Notifikasi BBM masuk.


Aku melanjutkan melinting tanpa melihat blackberryku. Aku sudah bisa menebak kalau itu balasan dari fiona. Fiona sedang galau berat sebab putus dengan pacarnya. Fiona bercerita banyak tentang hubungannya yang berakhir dua hari yang lalu. Fiona memutuskan afdal lantaran mantan pacar afdal masih menghubungi afdal. Anehnya fiona yang mengakhiri hubungan, fiona pula yang merasa galau berat. Memang benar perempuan itu memiliki ego yang lebih tinggi ketimbang laki-laki.


Aku melihat Blackberryku setelah membakar ganja. Mantan pacarnya afdal juga satu sekolahan dengan fiona. Namanya raisha nadiva. Fiona memutuskan afdal lantaran fiona tidak ingim bermusuhan dengan raisha. Fiona juga bilang kalau raisha sering menghakiminya dengan kata-kata. Sebab itulah fiona memutuskan afdal dan memilih untuk terluka. Namun, aku mencoba untuk menghibur fiona dengan semangat dan kata-kata. Apa yang telah ditakdirkan untuk kita tidak akan pernah menjadi milik orang lain.


Aku meraih tasku yang berada diatas bopet. Aku teringat akan buk mutia setelah membaca pesan dari fiona. Aku mengeluarkan buku latihan bahasa indonesia dan mulai menginvite buk mutia. Lalu menghisap lintinganku sedalam mungkin. Peristiwa sebelum pulang sekolah tadi kembali terngiang dikepalaku. Senyum dan tawa kecil buk mutia menjadi cara ampuh untuk melepaskan penat dari tubuhku.


Aku mulai berhayal menjadi kekasih buk mutia. Aku tahu bahwa semua yang kupikirkan ini hanyalah angan-angan semata. Namun aku terlalu sulit untuk menghentikan pikiranku bekerja. Semua itu terasa sangat indah dan menyenangkan. Meskipun kenyataannya menggariskan semua itu belum tentu akan terjadi. Tapi aku tetap saja melakukannya untuk menghibur diriku sendiri.


15 menit berlalu. Aku memerikasa setiap menit pemberitahuan BBM. Tapi belum ada pemberitahuan tentang buk mutia yang telah menerima pertemananku. Aku sempat berfikir bahwa buk mutia akan menolak pertemananku. Namun buru-buru aku mengusir pikiran jahat itu. Sabar dulu, barangkali saja buk mutia sedang sibuk. Gumanku.


Fiona mengirimkan lagu anggun yang berjudul mimpi untuk menggambarkan perasaannya. Aku merasakan hatiku sendu mendengar lagu yang dikirimkan fiona. Aku pernah merasakan apa yang sedang dirasakan oleh fiona. Sakit itu akan terasa perih ketika kita harus melepaskan agar seseorang yang kita cinta bisa segera menemukan bahagianya. Luka itu akan menjadi pilu saat kita tahu bahwa pengorbananlah yang membuat hati menjadi patah. Apa yang kini sedang melanda fiona, pernah kurasakan tiga tahun yang lalu ketika fiona bergonta-ganti pasangan. Namun satu hal yang kupahami setelah kejadian itu. Tidak akan ada luka dalam keikhlasan.


Setengah jam kemudian. Nama Mutia Heriyenti akhirnya keluar dipembaruan BBM. Aku lansung menstalking photo profil buk mutia. Aku tersenyum melihat photo buk mutia yang berlatarkan koridor kantor. Mata panda buk mutia seperti mempunya daya pikat untuk terus kupandangi. Senyum dan lesung dikedua pipinya juga berhasil membiusku untuk terus menatap photo buk mutia. Aku ScreenShoot photo buk mutia untuk menyimpannya. Lalu mulai mengajak buk mutia mengobrol di BBM.


Dikan Alendra


"PING!!"

__ADS_1


Mutia Heriyenti


"PING!!"


Aku tersenyum melihat balasan buk mutia yang begitu cepat. Aku mengetik dengan bibir yang tersenyum-senyum.


Dikan Alendra


"Dari tadi dikan nungguin ibuk"


"Tapi baru ibuk acc ya"


Mutia heriyenti


"Kok nyalahin ibuk?"


Dikan Alendra


"Dari tadi sore dikan meinvite ibuk lagi"


Mutia heriyenti


"Mana ada"


"Permintaan dikan aja baru masuk magrib tadi"


Dikan Alendra

__ADS_1


"Hahaha"


"Cantiknya ibuk diphoto lagi"


Mutia Heriyenti


"Ohh jadi aslinya jelek gitu"


Dikan Alendra


"Lebih cantik aslinya sih 😁"


Mutia Heriyenti


"Heeh dikan, dikan"


"Tidurlah dikan lagi"


Dikan Alendra


"Iya buk, ini mau tidur. Gd Night buk"


Aku tidak tahu lagi apa yang harus kubahas dengan buk mutia. Buk mutia hanya melihat pesan dariku. Aku mulai merebahkan diriku diatas ranjang. Bius ganja membuatku menjadi ngantuk.


Aku tidak tahu apakah buk mutia akan membalas perasaanku atau tidak. Aku masih ragu untuk mengatakan perasaanku yang sebenarnya. Disaat aku merasakan sikap keterbukaan buk mutia hanyalah sebatas menghargai perasaanku yang menganguminya. Ah, entahlah. Aku tidak ingin memikirkan semua itu. Lagi pula. Tujuanku meminya pin buk mutia hanya ingin berteman dengannya. Meskipun aku sangat berharap untuk bisa menjadi pacar buk mutia. Tapi diriku terlalu pengecut untuk mencoba. Ada rasa canggung yang membuatku tidak berani mengambil kemungkinan itu. Dan akhirnya aku memasrahkan diri dan menjalani saja apa yang telah digariskan untukku.


Aku membuka twitter dan memasukan photo buk mutia. "Tuhan, inilah dia yang kumau" Tulisku dalam status twitter. Malam ini aku merasa bahagia bisa berbalas pesan dengan buk mutia. Dan akupun tidur lebih cepat dari biasanya.

__ADS_1


__ADS_2