
Manusia dalam gelap adalah manusia yang jatuh cinta pada dunia hitam.
****
Manusia dalam gelap adalah manusia yang mencari kebahagian didalam dunia hitam. Manusia yang menjadikan narkoba sebagai tempat pelampiasan emosi mereka. Manusia yang beranggapan bahwa kehidupan ini hanya bernafas dan tidak perlu untuk berpikir macam-macam. Manusia yang memilih untuk mencintai dunianya sendiri.
Manusia dalam gelap adalah manusia yang dikatakan orang tak punya tujuan dan tak punya masa depan. Manusia yang tidak peduli meskipun banyak orang mengecam negatif perihal kehidupan dan dirinya. Manusia yang berpikir kehidupan tanpa narkoba akan terasa sangat membosankan. Dan aku adalah salah satu dari manusia dalam gelap.
Aku jatuh dalam gelap ketika usiaku masih 17 tahun. Waktu itu abangku (Syuja atiendra) yang menjadi manusia dalam gelap sedang menghisap ganja didalam kamar tidur kami. Bau menyengat yang keluar dari rokok yang ia bakar membuatku bertanya apa yang sedang ia hisap.
"Ini, penenang, cobalah" Sahutnya dengan memberikan ganja yang sedang ia hisap itu kepadaku. Awalnya aku merasa pusing, tapi seringkali abang memberiku ganja, aku mulai terbiasa dan kecanduan.
Aku jatuh cinta pada gelapnya kehidupan yang kujalani. Kehidupanku yang keras dan jiwa yang sering kali tertekan oleh pertengkaran ibu dan bapak, membuatku menemukan ketenangan dalam kegegelapan. Resah, gelisah, benci, dan amarah seakan mereda setelah asap-asap ganja mengepul dari mulutku.
Namaku Dikan Alendra. Aku lahir dari rahim perempuan sunda dengan bapak keturunan asli minang. Aku lahir disebuah desa bernama karang hantu dipelosok kota serang sana. Lalu tiga bulan sejak kelahiranku, ibu dan bapak pindah kekampung halaman bapak. Ibu bilang krisis moneter pada tahun kelahiranku membuat ibu dan bapak harus pulang dengan sebab susahnya kehidupan dizaman itu. Hingga aku tumbu dan besar disebuah desa kecil yang bernama muaro bodi.
Aku anak terakhir dari dua bersaudara. Abangku (syuja atiendra) kini tengah merantau dikota batam. Sudah beberapa tahun ini ia tidak pulang dan hanya sesekali menelpon sebagai kabar bahwa ia masih hidup.
Aku tumbuh dalam tekanan-tekanan yang lahir dari pertengkaran ibu dan bapak. Pertengkaran yang hampir setiap hari terjadi membuat mentalku terasa terpuruk. Pertengkaran mereka bukanlah perdebatan hal sepele seperti layaknya pasangan suami-istri lainya. Pertengkaran itu selalu berakhir dengan mengalahnya bapak yang pergi dari rumah dalam waktu yang cukup lama.
Pertengkaran ibu dan bapak seperti sebuah tragedi yang membuatku menjadi lemah. Aku lemah dalam urusan hati dan pikiran. Layaknya hati dan pikiran yang tak pernah sejalan dan riuh dengan perdebatan-perdebatan. Aku hidup dalam tekanan-tekanan pikiranku sendiri.
Setiap kali ibu bercerita tentang bapak. Aku merasakan jiwaku begitu tertekan. Seperti ada kecewa yang kutelan dengan paksa. Semakin banyak aku mendengar cerita tentang bapak dari ibu, semakin aku merasa dongkol dan marah. Aku tidak tahu apa penyebab mereka selalu tak bisa akur. Aku hanya tidak ingin lagi mendengar cerita tentang perkelahian mereka.
Tapi dibalik kehidupan keluarga yang keras. Aku besar sebagai remaja yang penuh dengan kebebasan. Tidak ada aturan dan marahnya orang tua yang membuatku harus berhenti dengan apa yang aku lakukan. Ibu hanya mengingatkan aku dengan kata-kata nasehat. Sedangkan bapak memang tidak pernah peduli dengan apa yang aku lakukan.
Dan kebebasan itulah yang membuatku menjadi manusia dalam gelap. Narkoba membuat pergaulan dan wawasanku menjadi luas. Aku mengenal banyak orang sebagai manusia dalam gelap. Manusia yang akhirnya menjadi teman dalam setahun belakangan ini.
Sebut saja kami dengan kelompok RGM(Rumah Gadang Minang) karna kami sering nongkrong dan menghabiskan malam disebuah rumah gadang adat suku jambak. Hampir setiap malam kami berkumpul diberanda rumah gadang. Rumah gadang ini sudah seperti markas untuk kami. Rumah gadang ini memang tidak lagi dihuni dan hanya dipakai apabila ada acara adat.
Malam sudah semakin larut, kamipun berangsur pulang kerumah kami masing-masing. Jarak rumahku dari rumah gadang hanya berkisaran 200 meter. Aku pulang berjalan kaki karna aku memang tidak membawa motor.
__ADS_1
Sesampainya dirumah, ibu sedang duduk diruang tamu. Sepertinya ibu sengaja untuk menantiku. Dari raut wajah dan gerak-gerik ibu, aku akan mendapatkan ceramah tanpa judul lagi. Seperti kebiasaan ibu kalau marah.
"Ibu kok belum tidur" Sapaku menutup pintu.
"Duduklah dulu" Suruh ibu
Aku duduk dikursi yang menghadap ke ibu. Aku mencium rasa kesal ibu yang akan memarahiku dengan kata-kata. Tapi aku tidak tahu kesalahan apa yang aku perbuat.
"Nilai rapor kamu yang merah sudah kamu remedikan?" Tanya ibu.
Aku mendesis. Ibu tak henti-hentinya bertanya tentang remediku disekolah. Baru kemarin malam ibu menasehati agar aku menyelesaikan remedi. Dan sekarang ibu kembali mengulanginya.
"Sudah. Hanya tinggal beberapa pelajaran lagi yang belum" Sahutku dan berdiri bersiap melangkah.
"Duduk" Ibu membentak.
Aku kembali duduk dengan hati yang mendongkol.
"Iya, hanya tinggal satu PKN lagi cuman" Sahutku malas
"Gak ada itu. Banyak pelajaran yang belum kami remedikan" Ucap ibu membongkar kebohonganku.
"Iya, iya. Besok kikan kerjain" Ucapku menenangkan ibu.
"Kamu selalu begitu. Semenjak nerima rapor kemarin ibu nyuruh kamu buat nuntasin remedi kamu. Tapi sampai sekarang, udah mau nerima rapor kenaikan kelas, belum juga kamu selesaikan" Ujar ibu "Gimana mau bisa kamu remedi kalau kamu jarang masuk kelas"
"kikan masuk kok. Selama semester dua ini gak ada kikan bolos"
"Kamu ngak usah mengelak. Ngak mungkin guru kamu bohongin ibu" Ucap ibu
"Yaudah, kalau ibu ngak percaya" Kataku dan berjalan masuk kedalam kamar.
__ADS_1
"Kamu tuh ya, dibilangin orang tua malah ngelawan"
"Besok kikan kerjain" Teriakku dari dalam kamar.
"Kamu berteman sama orang yang gak bener, makanya kamu ngak bener jadi anak" Ujar ibu yang mulai mempermasalahkan teman-temanku di RGM.
"Mereka ngak sekolah. Aku yang sekolah. Apa hubunganya nilai sekolahku dengan mereka?" Sahutku dari dalam kamar.
"Ibu lebih dulu hidup dari kamu. Yang mengajarkanmu berjalan dan berbicara seperti ini adalah ibu. Tidak seharusnya kamu membantah perkataan ibu"
Aku hanya duduk terdiam dipinggir ranjangku. Ibu bagaikan hakim didalam persidangan, sedangkan aku adalah tersangka yang harus dinasehati dengan kata-kata. Ibu mungkin benar tentang lingkungan dan teman-temanku. Tapi permasalahan terbesarnya ada didalam diriku sendiri. Untuk apa menyalahkan teman-temanku yang pada kenyataannya mereka tidak satupun yang sekolah, kecuali aku. Aku saja yang malas masuk dan lebih suka bolos dari pelajaran yang menurutku membosankan.
Ibu terus mengomel tentang hal yang ia ketahui. Ya, ibu memang cerewet. Ibu hanya tau apa yang dia katakan adalah benar. Dan tidak ada pembenaran untuk semua yang dikatakannya. Namun, aku sadar, ibu adalah kasih sayang Tuhan yang melahirkan dan mengenalkan aku pada dunia. Sepintar dan sehebat apapun aku takkan bisa menyangkal kebenaran yang dikatakan ibu.
"Ibu tidak pernah berharap apa-apa padamu" Suara ibu terdengar parau. "Ibu hanya berharap kamu bisa tamat SMA" Sambungnya dengan nada yang tertahan oleh tangis.
Ibu menangis? Aku keluar dari kamarku. Kulihat ibu masih duduk diruang tamu dengan kepala tertunduk. Isak dari tangis ibu membuat haru dalam hatiku. Dengan seketika air mulai menggenangi mataku.
Kupeluk tubuhnya yang dingin dari samping. Aku merasa bersalah telah membuatnya menangis. Ini pertama kalinya aku membuat ibu menangis. Oh tidak, aku merasa menyesal dengan apa yang aku katakan tadi pada ibu.
"Maafkan kikan bu" Ujarku dengan air mata yang terasa berlinang "kikan janji akan berubah bu"
"Ibu tak pernah melarang kamu. Karna ibu tahu kamu akan semakin keras jika ibu kekang dengan aturan" Ujarnya tersedu-sedu.
Kupeluk tubuhnya lebih erat. Aku benar-benar merasa bersalah telah membuatnya menangis. Semenjak kecil, ibu yang selalu membiayai sekolahku. Bahkan apa yang tidak ada selalu diusahakan ada oleh ibu. Tak peduli ia harus berhutang sekalipun. Sedangkan bapak memang tidak pernah peduli sama sekali dengan sekolahku.
"Lepaskan ibu, ibu mau tidur" Ujarnya pelan.
Kulepaskan pelukanku dari tubuh ibu. Kubimbing ia menuju kamar tidurnya. Kuselimuti tubuhnya yang dingin. Kucium kedua pipinya dengan perasaan penuh pilu.
Malam ini aku tertidur dikamar ibu. Bapak? bapak masih dalam waktu pelariannya yang memilih minggat dari rumah.
__ADS_1