
Kemenangan adalah kebahagian dalam sebuah pertandingan.
****
Pintu kamar mess kami diketok beberapa kali. Bg yondra membangunkan kami tepat pukul tujuh. Yanda yang bangkit dari tempat tidur membuka gorden. Cahaya mentari pagi lansung memenuhi ruangan. Terlihat atap-atap rumah berjejer dikaca jendela yang lumayan besar. Wisma bukit asam ini bertingkat dua. Dan kamar kami berada dilantai dua.
Aku bangun dengan malas, sendi-sendiku berbunyi ketika aku melakukan sedikit peregangan. Wisma menyediakan dua kamar mandi dalam satu kamar. Kami mandi dengan bergantian. Aku dan yanda mandi lebih dulu, disusul eto dan randa, kemudian dika dan rezi.
Sesudah membereskan semua perlengkapan. Aku duduk dengan menghisap rokok kretekku dipojok kamar. Sedangkan teman-temanku yang lain masih mempersiapkan peralatannya. Terlebih dika dan rezi yang mendapat urutan terakhir untuk mandi. Pintu kamar diketuk.
"Siapa itu?" Tanya dika cepat "Bang yondra. Matikan" Kata dika dengan pandangan mengarah kepuntung rokokku.
"Tenang. Itu pelayan" Sahut yanda "Aku memesan teh tadi" Yanda membuka pintu.
Diluar kamar. Seorang pria dengan kameja merah dan celana hitam tersenyum lebar. Tertululis bukit asam beserta lambang didada kirinya. Yanda mengambil dua gelas teh yang dipesannya. Pelayan itu mengucapkan terimakasih setelah yanda membayar pesanannya.
"Pagi-pagi itu enaknya ngeteh" Ujar yanda setelah menutup pintu.
"Iya, berarti kita sejiwa. Saya juga suka teh" Rezi lansung mengambil teh diatas meja dengan telanjang dada. Rezi berseru nikmat setelah menyeruput teh. Aku menerima secangkir teh yang telah diminum rezi. Teh yang masih panas terasa menghangatkan dan menambah nikmat rasa rokok yang sedang kuhisap. Aku menatap keluar jendala. Langit mendung dengan awan yang kelabu. Semalam hujan turun deras menghantarkan kami tidur. Aku kembali menyeruput teh panas. Pagi yang nikmat. Tapi nikmat itu akan terasa sempurna bila aku mengawali pagi ini dengan selinting ganja. Namun, aku takut untuk membawanya.
"Coba gimana rasanya mengawali pagi dengan secangkir teh" Kata ripo meminta teh yang sedang kupegang.
Ripo ikut berseru nikmat, dengan guraun yang mengamini perkataan yanda tadi. Kami tertawa. Mengawali kebersamaan pagi.
Teman-temanku sibuk membahas pertandingan nanti siang. Perihal bang yondra yang akan membawa menambah kuota pemain dengan anak padang yang semalam menjadi lawan uji coba kami. Mereka juga menebak tim lawan dari daerah lain. Sedangkan aku terbenam dengan keindahan diluar jendela. Atap-atap rumah bebaris, lorong-lorong yang kadang dilalui kendaraan menjadi pemandangan yang membuat mataku suka. BlackBerry ku berbunyi petanda notifikasi BBM masuk. Aku mengeluarkan BB ku dari saku celana.
"Selamat bertanding" Pesan nisa.
Aku tersenyum kecup. Annisa juga akan bertanding. Ada acara lomba DrumBand ditingkat provinsi. Annisa juga akan bertanding pagi ini di muaro---ibu kota kabuhpaten.
Annisa ikut ekstrakurikuller DrumBand dengan memainkan alat musik pionika. Annisa bilang kalau menang ditingkat kabuhpaten, maka mereka akan tampil ditingkat provinsi--Dipadang.
"Jiahhhh, Annisa rusli" Kata randa yang tiba-tiba sudah ada dibelakangku. Aku tersentak kaget. Randa tertawa puas meledekku dengan menyerukan nama annisa.
"Annisa Rusli? Perasaan gua kenal deh nama itu" Dika mengotak atik androidnya. "Haah ini dia" Kata dika antusias.
"Ping lansung dik" Rezi memerintah.
__ADS_1
Aku hanya tertawa malu tertawa ketika mereka bergurau dengan membahas nisa. Aku memilih diam tak meladeni guraun teman-temanku. Tiba-tiba pintu dibukak.Rokokku sudah mati. Ripo dan rezi tangkas mematikan api roko mereokok. Bang yondra.
"Om jack ini ngangetin aja" Kata ripo.
Kami menghembuskan napas lega. Meskipun sudah diberi lampu hijau untuk merokok, kami tetap segan bila ketahuan merokok oleh bang yondra. Oleh karna itu kami sembunyi-sembunyi merokok demi menghargai bang yondra sebagai menajer.
Om jack tergelak. "Ayok. Bang yondra suruh kalian menunggu dibawah"
"Iya" Sahut kami dan bergegas berjalan keluar wisma. Kami duduk menikmati pagi dihalaman wisma yang cukup besar.
Tepat didepan gerbang wisma, ada sebuah kuil sebagai tempat untuk beribadah umat budha. Tiang besar dikiri dan kanan sebelum pintu masuk, juga plafon dan tulisan cina yang diberi warna emas sebagai kemegahan kuil. Kuil itu tampak sepi dan lengang. Jalan besar didepan wisma pun juga terlihat lengang dengan sesekali kendaraan melintas. Kami berangkat dari wisma setelah bang yondra keluar dari mess.
Mobil kembali melewati lampu merah merapat dijalan taplau. Hamparan batu dibibir pantai yang memanjang. Anak-anak berpakain kaus dengan tas yang disandangnya nampak memenuhi sebuah warung ditepi laut. Mobil dan motor terparkor ditepi jalan. Mobil mulai memasuki kerumunan kota. Ruko-ruko berbaris memenuhi sisi-sisi jalan. Kami sibuk menyaksikan keramain jalanan kota.
"Sarapan kita dulu ya" Ujar bang yondra. "Cari tempat sarapan om jack"
Setelah dua puluh menit menyusuri keramain kota. Kami akhirnya sampai disebuah warung mie ayam. Gedung tinggi menyambut kami setelah keluar dari mobil. Aku terkesima memandang keatas. Ibis. Yanda menjelaskan bahwa ibis adalah hotel berbintang lima dikota padang. Warung mie ayam terlihat ramai. Kami duduk dimeja panjang. Seseorang pria menanyakan pesanan serambi membersihkan meja.
"Mie ayam tujuh, Es teh tujuh" Ujar bang yondra.
Pria itu menangangguk. Berjalan ketempatnya untuk mempersiapkan pesanan kami. Tak lama setelah itu pesanan kami datang. Kami menghabiskan mie ayam itu dengan lahap.
"Apa lawan kita bang?" Tanya yanda.
"Belum tahu, sistimnya cabut lot. Ada 32 tim disini. Kalian harus menang. Jika kalah, kalian berarti gugur"
"Anak padang itu juga ikut bang" Rezi berani menanya.
"Iya, jumlah kita kurang. Ada lima orang anak didik pak nanda yang akan bergabung dengan kita"
Kami tidak menyahuti lagi. Bang yondra dan om jack sibuk dengan android mereka masing-masing. Kami berjalan keluar warung. Menikmati pemandangan hotel ibis yang tinggi menjulang. Tak lupa juga kami mengabadikan moment bersama dengan latar hotel ibis. Setelah tiga puluh menit berlalu. Kami berangkat menuju lokasi acara. Mobil kembali melintasi jalan raya. Cukup jauh gor futsal tempat kami bertanding. Yanda dan randa berseru riang ketika kami memasuki jalan gor haji agus salim. Mobil-mobil berimpitan dengan ramainya pejalan kaki dan pedagang disisi jalan.
Ternyata gor futsal tempat kami bertanding tidak jauh dari stadion H. Agus Salim. Hanya berjarak 200 meter. Om jack harus memarkir mobilnya agak jauh karna sesak dan padatnya pengunjung dan pedangan didepan stadion. Kami berjalan ditengah ramainya pengunjung lainnya. Pedagang kaki lima disepanjang jalan menyeroki jualannya. Mereka menjual pernak-pernik semen padang. Yanda berdercak kagum melihat stadion H. Agus salim didepan kami. Di stadion inilah tim kebangaan urang awak bermarkas; SemenPadang Fc.
Gor Tepak Bola terlihat ramai dengan tamu dari berbagai daerah. Bang yondra menyuruh kami untuk menunggu diluar gor. Bang yondra mengumpulkan semua syarat-syart untuk turnament. Dia berjalan kedalam gor. Tak lama setelah itu pak nanda menghampiri kami dengan lima anak didiknya. Kami saling bersalaman dengan menyebutkan nama kami masing-masing. Adalah fikri, boni, deno, panda, dan ucil yang akan menjadi rekan setim kami. Bang yondra terlihat berjalan kearah kami dengan membawa sebuah bendera. Sijunjung.
"Ayok masuk, acaranya akan dimulai" Kata bang yondra. Kami mengikuti dan berdiri diantara tamu dari daerah lain. Acara dibuka dengan sambutan dari orang-orang politik dari partai perindo. Kemudian mencabut lot sebelum bertanding. Kami main setelah tiga pertandingan. Semua lawan hebat-hebat.
__ADS_1
****
Didalam mess, kami bersuka cita merayakan kemenangan kami. Kami berhasil lolos keperempat final setelah memenangkan dua pertandingan. Dipertandingan pertama kami bertemu dengan mentawai yang bisa kami kalahkan dengan begitu mudah. Sedangkan dibabak penyisihan kami berhadapan dengan pasaman barat yang membuat pertandingan sedikit sengit. Gol fikri dan aku menjadi penyelamat untuk kemenangan kami. Kami memuji kehebatan-kehebatan anak didik pak nanda yang menjadi rekan satu tim kami.
"Iyalah, dipadang mah dia main bolanya hanya dengan futsal" Kata yanda menjelaskan "Mana ada lapangan bola disini"
"Ada tuh, Stadion yang besar" Sahut rezi
"Tidak sembarangan orang bisa main disana zi. Kalaupun iya, mereka harus membayar sewa" Yanda memakan snack yang tadi ia beli diperjalanan menuju mess "Sedangkan semen pada saja membayar main di stadion agus salim" Sambung yanda.
"Emang iya?" Rezi mendelik penasaran
"Stadion agus salim itu punya PSP padang" Jelas yanda.
Bunyi pintu diketuk memotong pembicaraan kami. Eto membukakan pintu. Terlihat tubuh hitam bang yondra dipintu. Dia terlihat rapi dengan baju OceanPasific berwarna hitam.
"Kalian makan malam sendiri-sendiri saja ya. Abang ada perlu keluar sebentar dengan om jack" Ucap bang yondra mengeluarkan dompet.
"Kemana bang?" Tanya ripo.
"Jangan tanya kemananya. Pamali" Sahut bang yondra.
Kami tertawa melihat ripo. Bang yondra mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya. "Nih cukup untuk makan malam dan sebungkus rokok kalian" Kata bang yondra meletakkan uang diatas kasur.
"Abang pergi dulu ya, kalian main-main lah lihat taplau disore hari" Pamit bang yondra dan berlalu.
Randa membagi uang yang diberikan bang yondra. Kami mendapat selembar kertas dengan nominal lima puluh ribu untuk makan malam. "Mari jalan-jalan. kita harus merayakan kemenangan ini dengan kebahagian" Ujar randa membukak pintu.
Kami keluar dari mess untuk jalan-jalan mencari makan. Kami melewati persimpangan setelah lampu merah. Ada lima simpang dilampu merah. Kami menyebrang kejalan taplau. Sebuah club motor trayel sedang berlatih ditepi pantai. Kami menyaksikan beberapa menit sebelum melanjutkan perjalanan. Dika dan rezi bercerita tentang taman melati yang tak jauh dari tepi laut. Dika dan rezi bilang taman melati identik dengan *******-******* yang menjualkan dirinya pada tamu-tamu yang datang.
Siluet senja menguning terlihat mengagumkan diufuk barat. Orang-orang ramai duduk diatas bebabtuan disepanjang pesisir pantai. Bebatuan itu sampai ketengah laut. Ombak terlihat pecah dengan bebatuan yang membelah perarairan.
Yanda mengajak kami untuk melihat tugu ditaman muaro lasak yang baru siap dibangun april kemarin. Kami akhirnya sampai setelah 15 menit berjalan menyusuri jalanan tepi laut.
"Tugunya baru diresmikan oleh pak jokowi. April kemarin"
Monumen pantai muaro lasak ramai oleh pengunjung. Yanda menunjuk kagum tugu sebagai lambang monumen. Tugu muaro lasak hampir mirip dengan tugu pancoran dikota jakarta. Bedannya kalau ditugu pancoran adalah patung orang, sedangkan tugu ditaman muaro lasak adalah burung merpati. Orang-orang mengabadikan kekalahan matahari yang tenggelam didasar laut dengan kamera mereka. Setelah dirasa puas, kami kembali berjalan kearah mess sebelum gelap.
__ADS_1
Kami memilih sate untuk mangganjal perut kami yang lapar. Setelah itu kami kembali kemess. Langit dipenuhi bintang tanpa bulan dimalam minggu. Terlihat mengagumkan dari kaca jendela kamar yang belum ditutupi gorden. Teleponku berdering. Annisa. Aku menghabiskan malam dengan bertelponan dengan annisa.
Annisa bercerita dengan semangat. Anak Drumband sekolahku lolos kepadang untuk mewakili kabuhpaten. Mereka mendapatkan juara umum. Aku tertidur dengan perasaan bahagia. Berharap pertandingan besok bisa menang.