Ruang Hitam

Ruang Hitam
Orang-orang kampung


__ADS_3

"Namanya juga manusia, hanya bisa membicarakan keburukan orang lain dan lupa menjaga diri dari dosa. Kita bisa mengkaji dan menyalahkan orang lain tapi lupa untuk memperbaiki diri"


****


Tidak semua cerita orang bisa kita percayai. Bukan berarti seseorang itu telah membohongi kita. Tapi bisa saja apa yang diceritakan nya dilebih-lebihkan dan tidak sesuai dengan kejadian yang sebenarnya. Ataupun seseorang bisa saja salah menanggapi sebuah isu. Bukankah kita menilai sesuatu dengan sudut pandang kita masing-masing? Oleh karna itu kita tidak bisa begitu saja percaya dan berbagi berita seolah yakin itulah kejadian yang sebenarnya. Mungkin, apa yang kita bicarakan bisa saja menjadi fitnah bagi orang lain.


Mungkin itulah yang namanya gibah. Membicarakan keburukan orang lain lalu lupa untuk menjaga diri dari dosa. Kita seolah lupa bahwa membicarakan dan mencari-cari keburukan orang lain adalah dosa besar yang diharamkan. Buk ade fadila pernah bilang dipelajaran Al-quran dan hadist; Gibah (mengunjingkan orang lain) sama hal nya dengan kita memakan bangkai saudara kita sendiri. Layaknya bangkai, orang yang sudah mati sama sekali tidak mengetahui siapa yang memakan dagingnya. Ini sama halnya dengan orang yang hidup juga tidak tahu siapa yang menggunjingkan dirinya. Oleh karna itu gibah adalah perbuataan yang haram yang selayaknya kita jauhi. Bergunjing sama hal nya dengan memakan bangkai. Maka tentulah kita merasa jijik untuk melakukannya"


Bergunjing seperti sudah menjadi kebiasaan dalam keseharian kita. Kita sudah terbiasa mengonsumsi omongan miring seseorang sebagai berita harian. Berbagi cerita dari mulut ke mulut dengan membahas keburukan seseorang. Kita seolah tidak peduli dengan apa yang kita katakan dan kita ketahui akan menjadi sebuah prasangka yang bisa saja mengundang dosa.


"Namanya juga manusia, hanya bisa membicarakan keburukan orang lain dan lupa menjaga diri dari dosa. Kita bisa mengkaji dan menyalahkan orang lain tapi lupa untuk memperbaiki diri" Ujar ibu tenang.


"Tapi, apa untungnya bagi mereka membicarakan aib orang lain?" Tanyaku.


"Ya namanya juga orang kampung. Dikampung kecemburuan sosial lebih tinggi. Orang yang beli mobil baru, kita yang panas sendiri melihat orang punya mobil. Orang lain yang punya masalah, kita yang sibuk mengurusi"


Pada akhirnya, saya berusaha memaklumi pandangan yang membuat manusia menjadi berbeda. Kita tidak bisa memaksan hal yang sama dalam sudut pandang yang berbeda. Dan saya mulai mengerti, terkadang seseorang lebih suka mendikte sebelum memahami lebih jauh, menyimpulkan sebelum menyelami jiwa lebih dalam. Lalu berkomentar dengan opini-opini yang menjatuhkan.


Seperti cerita ibu yang bilang bahwa tetangga disekitar rumah menggunjing ibu dan bapak yang bercerai. Ibu merasa terhakimi saat orang-orang bertanya apakah ibu dan bapak kembali rujuk. Padahal, ibu tidak pernah bercerita tentang bapak kepada siapapun. Tapi mengapa bisa orang-orang memberitakan kalau ibu dan bapak sudah bercerai. Orang-orang berpikiran dan berpenilain seperti itu sebab bapak sudah pulang dari pelariannya.


Ya, bapak sudah pulang setelah berbulan-bulan ia menghilang dari pelariannya. Sudah dua hari ini bapak pulang. Dan seperti biasanya kalau bapak sudah pulang dari pelariannya. Ibu dan bapak akan kembali berbicara akrab seolah tidak ada masalah sebelumnya. Aneh.


"Terus bapak kemana bu?" Tanyaku dimeja makan.


"Keluar tadi" Sahut ibu yang berjalan kekuar dari kamarnya "Oh iya, ini barang kamu" Ujar ibu dengan memberikan plastik hitam. Ganja. Ibu memulangkanya?


"Kenapa ibu mengembalikannya" Tanyaku heran.


"Cara itu takkan berhasil untuk membuat kamu berhenti menghisapnya" Sahut ibu "Percuma, kalau dihati kamu sendiri tidak ada niat untuk berhenti"


"Bu"


"Tugas ibu hanya mengingatkan. Jika kamu tidak mau mendengar kata ibu itu tidak masalah. Tapi kamu harus siap menanggung semua resikonya" Mata ibu berkaca-kaca

__ADS_1


"Bu, kikan."


"Jangan mengobrol janji" Potong ibu "Ibu tidak mau lagi kamu berbohong hanya karna takut ibu marah"


"Tapi bu"


"Ibu serius. Kembalikanlah barang itu jika memang bukan punya kamu"


Aku terharu. Aku merasa aku ingin berubah dan ingin berhenti untuk menjadi manusia dalam gelap. Tapi aku paham bahwa keinginan ingin berhenti hari ini bukanlah keyakinan benar-benar dari dalam hati.


"Bu, kikan akan berubah demi ibu"


"Nak, berubahlah demi dirimu sendiri. Sebab hidupmu adalah tanggung jawab dirimu sendiri"


Aku mengamini nasihat ibu. Dulu, ibu sangat marah ketika menemukan ganja. Ibu bahkan mengusir berminggu-minggu dari rumah. Tapi sekarang ibu tidak lagi mengekangku.


Ibu sibuk memasak didapur. Sedangkan aku menghubungi sandi lewat pesan BBM. Ingin bermaksud mengembalikan barangnya.


"Simpan saja dulu. Disini pasaran sedang panas. Aku tidak ingin mendapatkan masalah hanya karna cimeng itu" Balas sandi.


"Terus gimana. Kalau aku yang simpan bisa habis nanti"


"Gak papa. Ambillah untukmu. Aku sudah muak dengan kehidupan seperti ini"


"Muak?"


"Aku ingin berhenti, kan"


Aku bingung dengan pesan sandi yang tiba-tiba ingin berhenti menjadi manusia dalam gelap. Apakah dia juga punya masalah dengan ibunya?


"Rumah bang dedek digeleda polisi. Tapi bang dedek berhasil kabur kebogor" Pesan sandi.


Bang dedek juga kabur? Apakah aku akan menjadi incaran polisi setelah ini? Aku begitu takut ketika pikiranku mulai membayangkan hal itu menimpaku.

__ADS_1


"Aman. Semuanya terkendali. Tidak ada yang tahu denganmu. Aku berhenti hanya karna tidak ingin seperti ipan dan bang dedek"


Pesan sandi tak berhasil membuat pikiran jahat itu enyah dari kepalaku. Ipan dan bang dedek mendapatkan ganja dariku. Tentu akulah sasaran polisi berikutnya. Aku merasa tersiksa dengan pikiran-pikiranku sendiri. "Ah, super paranoid" gumanku. Berhentilah memikirkan ketakutan yang kejadiannya belum terjadi. Itu sangat menyiksa.


Tiba-tiba aku begitu berani dengan resiko yang harus kutanggung. Aku juga pasrah seandainya polisi itu mengincarku dan mencembloskan dalam penjara. Aku meletakkan ganja dibawah kasurku. Aku menelentangkan badanku yang lelah diatas ranjang.


Suara motor terdengar berhenti memasuki pekarangan. Bapak. Suara bapak terdengar berbincang-bincang dengan ibu. Aku masih sibuk dengan pikiranku. Hingga tak sadar aku tertidur.


Entah berapa lama aku tertidur sebelum dibangunkan ibu. Langit biru mulai gelap diluar jendela. Aku menutup jendela kamarku. Ibu dan bapak sedang menanti dimeja makan.


Di meja makan. Bapak dan ibu berdebat atas tanggung jawab mereka atas sekolahku. Aku sudah kelas tiga, dan ibu menceritakan sebagai berita baik dimeja makan.


"Dikan bentar lagi mau lulus" Ujar ibu yang mengisi piring dengan nasi untuk bapak.


"Baguslah" Sambut bapak dengan riang, dengan matanya yang liar melihat kearah lauk. Ibu memasak ikan tongkol dengan dicampur tahu, ditambah nikmatnya sayur toge. Menu kesukaanku.


"Aku lagi pusing dengan biaya kelulusan dikan, pasti banyak perlu uang" Keluh ibu. Masih ada delapan bulan lagi aku akan lulus. Tapi sudah menjadi pikiran ibu sekarang.


"Aku sekarang join kayu disomel imang (Adiknya bapak), doain saja lancar" Ujar bapak


Ibu hanya diam. Dari raut wajahnya aku bisa melihat bahwa ibu memendam apa yang ingin sekali ia katakan. Tapi ibu memilih untuk diam. Terlihat sesak ketika ia menghembuskan nafas. Ada rasa sakit yang dititipkan ibu kepadaku.


Apa yang dikatakan bapak dimeja hanyalah omong kosong belaka. Ibu tahu itu hanyalah alasan bapak untuk menenangkannya hari ini. Namun, setelah dihari nya nanti pasti ibu juga yang membayarnya sendirian. Ibu seolah menahan amarah dengan sikap bapak yang seolah tidak mau tahu dengan keluarga. Semua tugasnya seperti diambil alih oleh ibu.


Makan malam sudah usai. Bapak membakar rokoknya untuk menenangkan perutnya yang baru saja diisi. Sedangkan ibu sibuk membereskan sisa makanan dimeja. Aku berjalan dan mengurung diri dalam kamar. Sama seperti bapak, aku juga merokok setelah makan.


Dari dalam kamar, sayup-sayup tendengar pertengkaran bapak dan ibuk. Entah apa lagi masalah yang sedang mereka ributkan. Mereka saling mencaci dengan kata-kata hina yang keras. Aku mendengar ibu menangis dan juga suara pecahan piring yang sengaja dipecahkan.


"Bunuh saja aku, agar kau merasa senang" Tangisan ibu terdengar pilu. Aku bergetar mendengarnya raungannya. Ini bukan pertama kalinya mereka bertengkar. Aku mengambil ganja yang tadi kusimpan dibawah kasur. Ya, hanya ganja yang mampu menenangkanku dari amarah yang lahir dari pertengkaran mereka.


Hingar bingar terus terdengar dalam pertengkaran mereka. Bunyi piring dipecahkan terus melantun ketelingaku. Aku terdiam bisu. Aku membakar lintinganku. Terasa agak tenang ketika asap tebal melepuh dari mulutku. Bagaimana aku bisa berhenti untuk menghisapnya. Jika disaat seperti ini hanya dia yang mampu menjadi penenangku. Gumanku.


Aku menyalakan musik, dan menutup telingaku dengan handshet. Terbuai dengan musik dan perasaan yang mendayu-dayu.

__ADS_1


__ADS_2