Ruang Hitam

Ruang Hitam
Terjadi Lagi


__ADS_3

Bagaimana aku bisa berhenti untuk menghisapnya. Jika disaat seperti ini hanya dia yang bisa menjadi penenangku.


****


Aku mengamini nasihat ibu. Dulu, ibu sangat marah ketika menemukan ganja. Ibu bahkan mengusir berminggu-minggu dari rumah. Tapi sekarang ibu tidak lagi mengekangku.


Ibu sibuk memasak didapur. Sedangkan aku menghubungi sandi lewat pesan BBM. Ingin bermaksud mengembalikan barangnya.


"Sandi, cimengnya udah dikembaliin ibu nih. Besok gua bawaiin ya kesekolah. Lu jemput ya kesekolah" Tulisku di mesengger.


"Simpan saja dulu. Disini pasaran sedang panas. Aku tidak ingin mendapatkan masalah hanya karna cimeng itu" Balas sandi.


"Terus gimana. Kalau aku yang simpan bisa habis nanti"


"Gak papa. Ambillah untukmu. Aku sudah muak dengan kehidupan seperti ini"


"Muak?"

__ADS_1


"Aku ingin berhenti, kan"


Aku bingung dengan pesan sandi yang tiba-tiba ingin berhenti menjadi manusia dalam gelap. Apakah dia juga punya masalah dengan ibunya?


"Rumah bang dedek digeleda polisi. Tapi bang dedek berhasil kabur kebogor" Pesan sandi.


Bang dedek juga kabur? Apakah aku akan menjadi incaran polisi setelah ini? Aku begitu takut ketika pikiranku mulai membayangkan hal itu menimpaku.


"Aman. Semuanya terkendali. Tidak ada yang tahu denganmu. Aku berhenti hanya karna tidak ingin seperti ipan dan bang dedek"


Pesan sandi tak berhasil membuat pikiran jahat itu enyah dari kepalaku. Ipan dan bang dedek mendapatkan ganja dariku. Tentu akulah sasaran polisi berikutnya. Aku merasa tersiksa dengan pikiran-pikiranku sendiri. "Ah, super paranoid" gumanku. Berhentilah memikirkan ketakutan yang kejadian belum terjadi. Ini sangat menyiksa.


Suara motor terdengar berhenti memasuki pekarangan. Bapak. Suara bapak terdengar berbincang-bincang dengan ibu. Aku masih sibuk dengan pikiranku. Hingga tak sadar aku tertidur.


Entah berapa lama aku tertidur sebelum dibangunkan ibu. Langit biru gelap ketika aku melihat keluar jendela. Aku menutup jendela kamarku. Ibu dan bapak sedang menanti dimeja makan.


Di meja makan. Bapak dan ibu berdebat atas tanggung jawab mereka yang masih ingin menyelohkanku. Aku sudah kelas tiga, dan ibu menceritakan sebagai berita baik dimeja makan.

__ADS_1


"Dikan bentar lagi mau lulus" Ujar ibu yang mengisi piring dengan nasi untuk bapak.


"Baguslah" Sambut bapak dengan riang, dengan matanya yang liar melihat kearah lauk. Ibu memasak ikan tongkol dengan dicampur tahu, ditambah nikmatnya sayur toge. Menu kesuakaanku.


"Aku lagi pusing dengan biaya kelulusan dikan, pasti banyak perlu uang" Keluh mama. Masih ada delapan bulan lagi aku akan lulus. Tapi sudah menjadi pikiran ibu sekarang.


"Aku sekarang join kayu disomel imang (Adiknya bapak), doain saja lancar" Ujar bapak


Ibu hanya diam. Dari raut wajahnya aku bisa melihat bahwa ibu memendam apa yang ingin sekali ia katakan. Tapi ibu memikih untuk diam. Terlihat sesak ketika ia menghembuskan nafas. Ada rasa sakit yang dititipkan ibu kepadaku.


Apa yang dikatakan bapak dimeja hanyalah omong kosong belaka. Ibu tahu itu hanyalah alasan bapak untuk menenangkannya hari ini. Namun, setelah dihari nya nanti pasti ibu juga yang membayarnya sendirian. Ibu seolah menahan amarah dengan sikap bapak yang seolah tidak mau tahu dengan keluarga. Semua tugasnya seperti diambil alih oleh ibu.


Makan malam sudah usai. Bapak membakar rokoknya untuk menenangkan perutnya yang baru saja diisi. Sedangkan ibu sibuk membereskan sisa makanan dimeja. Aku berjalan dan mengurung diri dalam kamar. Sama seperti bapak, aku juga merokok setelah makan.


Dari dalam kamar, sayup-sayup tendengar pertengkaran bapak dan ibuk. Entah apa lagi masalah yang sedang mereka ributkan. Mereka saling mencaci dengan kata-kata hina yang keras. Aku mendengar ibu menangis dan juga suara pecahan piring yang sengaja dipecahkan.


"Bunuh saja aku, agar kau merasa senang" Tangisan ibu terdengar pilu. Aku bergetar mendengarnya raungannya. Ini bukan pertama kalinya mereka bertengkar. Aku mengambil ganja yang tadi kusimpan dibawah kasur. Ya, hanya ganja yang mampu menenangkanku dari amarah yang lahir dari pertengkaran mereka.

__ADS_1


Hingar bingar terus terdengar dalam pertengkaran mereka. Bunyi piring dipecahkan terus melantun ketelingaku. Aku terdiam bisu. Aku membakar lintinganku. Terasa agak tenang ketika asap tebal melepuh dari mulutku. Bagaimana aku bisa berhenti untuk menghisapnya. Jika disaat seperti ini hanya dia yang mampu menjadi penenangku. Gumanku.


Aku menyalakan musik, dan menutup telingaku dengan handshet. Terbuai dengan musik dan perasaan yang mendayu-


__ADS_2