
Kesalahan terbesar manusia adalah tidak bisa mengalahkan egoisme dalam dirinya sendiri.
****
Kendaraan ramai lalu lalang dijalan lintas simpang ice. Motorku berbelok kekiri disimpang ICE. Aku memutuskan untuk mencari dori kerumahnya setelah nomornya tidak bisa kuhubungi. Aku menyusuri jalan beton perumnas yang lengang siang ini.
Setelah melewati stasiun kareta api yang tidak lagi berfungsi. Aku bertemu ibu dori yang singgah disebuah warung. Aku menghampiri perempuan yang usianya sepelantaran ibuku. Aku kenal dan dekat dengan ibu dori. Beberapa tahun yang lalu aku sering menginap dirumah dori setiap libur sekolah. Aku menanyakan keberadaan dori setelah menyalami tangannya.
"Ada dirumah. Dikan kemana saja menghilang?" Tanyanya setelah lama tidak bertemu denganku.
"Sibuk sekolah bu" Jawabku "Yaudah dikan nyusul dori dulu ya bu" Pamitku
"Ohhh iya, ibu juga mau keluar sebentar. Dori masih tertidur tadi" Ucap ibu dori.
Aku memasuki kawasan perumnas ladang kapeh. Jalanan tanah yang basah membuatku berhati-hati agar genangan air tidak mengotori motorku. Rumah-rumah berdempet berbaris rapi. Entah ada berapa rumah diperumnas ini. Aku sampai disimpang rumah dori. Rumah dori diujung perumnas. Terpencil dari sesak dan padatnya rumah-rumah lainnya.
Pintu rumah dori tertutup. Ibunya bilang kalau dori masih tertidur. Aku membuka pintu dengan memanggil nama dori. Tidak ada jawaban. Aku berjalan masuk keruang tengah sambil memanggil nama dori. Kamar dori juga terlihat kosong. Pintu kamar dori terbuka hingga aku bisa melihatnya dari ruang tengah. Aku sangat hafal dengan seluk-beluk rumah dori. Rumah papan dengan halaman yang lumayan luas ini menjadi tempat ternyaman untukku beristirahat setahun yang lalu. Aku menyusuri dapur dengan memanggil nama dori.
"Dikan" Teriak dori dari ruang tengah.
Aku berjalan keruang tengah. Dori sedang memegang plastik hitam ditangannya. "Dimana kau?" Tanyanya dengan mata yang mencari-cari. Dori melihatku yang berdiri didepan pintu dapur. Dori sepertinya dari luar untuk membeli sesuatu.
"Ohhh mimpi apa aku semalam hingga aku ditemui teman yang selama ini kurindukan" katanya menghampiriku.
Kami saling berjabat tangan dan berpelukan setelah sekian lama tidak bertemu. Aku juga merindukan dori. Terlebih jauh lagi. Aku sangat merindukan kebersamaan kami didalam rumah ini.
"Kupikir kau tidak ingin berteman denganku lagi setelah pensiun" Ucap dori setelah melepaskan pelukannya.
"Aku tadi bertemu sandro"
"Ohhh ya dimana kau bertemu dengannya?" Dori berjalan melewatiku
"Didepan rumahnya" Jawabku membuntuti dori yang memasuki ruang dapur.
Dori hanya diam mengeluarkan sebungkus rokok dan satu mie instan yang tadi dibelinya. Dori seperti menahan diri untuk berbicara tentang sandro. Sandro, bojek, pindo, dan beberapa orang lagi yang kukenal dari kebersamaan dalam ruang hitam kini telah merubah haluan. Mereka tidak lagi menjadi manusia dalam gelap setelah berita noval menjadi teror bagi kehidupan mereka.
"Aku hanya membeli satu" Ucap dori mengalihkan topik
Aku mengangguk untuk menolak. Aku menemuinya bukan untuk makan. Aku kesini untuk meminta ganja. Dori menatapku panjang. Dia seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja kukatan.
"Aku ada hadiah untukmu. Kemarilah" Ucapnya menghampiriku.
Aku membuntuti dori yang masuk kedalam kamarnya. Beberapa kasur lantai terlihat berantakan. Kamar dori tidak pernah berubah semenjak setahun yang lalu. Dori mengeluarkan botol minuman lasegar yang sudah dirakit menjadi bong. Shabu. Itukah hadiah untukku?
"Ini hadiah dariku. Kau habiskanlah" Ucap dori.
Aku hanya tertawa kecil. Aku meminta ganja tapi malah diberi shabu. Dori kembali mengeluarkan kaca yang sudah diisi shabu dari lemarinya. Dori berjalan keluar setelah memberikan kaca kepadaku.
"Cimeng ngak ada?" Tanyaku
"Ada. Kau habiskanlah itu dulu" Sahut dori dengan menutup pintu.
Aku menempelkan kaca pirek dengan kompeng. Kemudian menanggalkan kepala korek api. Aku meletakkan jarum dan mengatur besar-kecil api. Lalu mulai membakar shabu.
__ADS_1
Bunyi air mendidih mengiringi hisapanku. Asap-asap tebal berhamburan menutupi wajahku. Rambutku terasa tegang setelah empat atau lima kali hisapan. Rasa shabu juga tertinggal didalam tenggoranku. Ini nikmat sekali. Gumanku.
Tubuhku terasa ringan ketika berjalan menemui dori diruang dapur. Rasa kantuk yang tadi membuat gerakan malas, kini berganti dengan semangat dan percaya diri setelah menghisap shabu. Ah, pantas saja orang-orang bilang kalau memakai shabu adalah mabuk ganteng. Aku duduk ganteng didepan dori yang sedang makan mie.
"Bagaimana rasanya, Kurang?" Tanya dori
"Cukup. Aku sudah sampai" Jawabku.
"Kupikir kau sudah berhenti" Ujar dori.
"Kau sekarang jadi bandar shabu?" Tanyaku memotong ucapan dori.
"Iyaa, cari-carikanlah passien dimuaro bodi"
Sialan. Tertangkapnya noval dan larinya ipan karna masuk DPO tidak membuat dori jerah dan takut untuk bermain-main didalam dunia hitam. Bahkan dori lebih berani untuk menjadi bandar shabu dengan resiko besar yang harus ia hadapi.
"Kenapa kau menatapku congo seperti itu" Ujar dori memecahkan lamunanku.
Aku seketika mendelik. Dori memakan mie terakhirnya didalam piring. Dia masih menatapku dengan senyum yang penuh selidik. Aku membukak rokok untuk menghilangkan kecurigaan dori.
"Kau tidak memikirkan yang buruk tentangku bukan?" Ucap dori
"Bagaimana kau bisa menjadi BD shabu? Darimana kau mendapatkannya?" Tanyaku
"Bukankah kau sendiri yang bilang. Narkoba bisa membuat wawasan dan jaringan kita menjadi luas. Jadi aku mendapatkannya dari jaringanku yang sudah luas" Sahut dori.
"Kau tidak takut akan masuk penjara?"
"Tapi itu bisa saja terjadi. Bandar adalah musuh pertama polisi yang harus dimusnahkan. Sebagus dan serapi apapun kau bermain. Kau pasti akan menjadi target utama yang akan diburu. Dan kau akan mendekam dalam kandang harimau"
"Aku sudah memikirkan itu semua. Itu sudah bagian dari resiko yang harus dihadapi" Dori meletakkan gelas diatas dispenser. "Mari kutunjukkan sesuatu. Ipan juga punya hadiah untukmu"
"Ipan? Dimana dia sekarang?" Tanyaku dan melangkah mengikuti dori keruang tengah.
"Dia sudah senang sekarang. Di sudah mendapatkan hidup seperti yang dia mau. Menjadi mafia besar" Sahut dori menyalakan TV.
"Mafia besar?" Tanyaku penasaran yang duduk didepan tv.
"Pemasok narkoba terbesar" Jawab dori melangkah kedalam kamarnya.
Aku hanya diam tidak mengerti dengan perkataan dori. Ipan telah menjadi mafia besar? Dori keluar dari kamarnya dengan menggengam kertas. Didalam kertas itu adalah ganja. Daun-daun yang masih menempel dengan ranting terlihat ketika kertas dibuka.
"Maksudmu ipan pemasok narkoba terbesar?" Tanyaku
"Dia sekarang bekerja sebagai mafia yang memasok shabu dan ganja disekitar sumbar" Ucap dori serambi meracik ganja.
"Ohhh ya, hebat sekali ipan. Terus dimana dia sekarang?" Tanyaku antusias
"Dipayakumbuh" Ucap dori memberikan kertas wayang kepadaku.
"Jadi kau mendapatkan ganja dan shabu dari ipan" Tanyaku
Dori mengangguk. Dia terlihat sibuk meracik ganja yang dicampur dengan tembakau dalam lintingannnya.
__ADS_1
"Hebat sekali ipan bisa menjadi mafia besar" Ungkapku kagum.
"Kau juga bisa mendapatkan barang denganya jika kau mau" Ucap dori
"Tidak" Aku tertawa kecil menolak "Menjadi penikmat saja aku sudah mendapatkan teror. Apalagi menjadi bandar. Bisa-bisa aku mati sebab dibunuh rasa takutku sendiri" Jelasku.
Dori tertawa. Dia sudah siap dengan lintingannya. Aku masih sibuk dengan lintinganku. Dori berjalan kearah dapur. Dia datang dengan membawa madu yang dikemas dalam sebotol fresscare. Dori mulai melumas lintingannya dengan madu.
"Semua hal yang kita kerjakan memiliki resiko. Sedangkan oranh baik jada ada yang membenci. Kadang, untuk hidup yang sempurna kita harus mengesampingkan resiko" Ucap dori bersiap membakar lintingannya.
"Tapi sehebat-hebatnya tupai melompat pasti akan jatuh juga" Ucapku menggapai botol madu.
Api menyala besar didepan wajah dori. Dengan seketika api itu padam setelah dori melepaskan hisapannya. Asap-asap tebal mengepul ditengah ruangan.
"Setiap manusia punya pikiran dan firasat sebagai keseimbangan dalam menghadapi rasa takut. Jika kau berhenti mencoba hanya karena takut dengan resiko yang belum tentu pasti akan terjadi. Mungkin itulah yang disebut pecundang"
"Bukan pecundang. Tapi manusia hidup dengan sudut pandangnya sendiri. Ya, mungkin saja pikiran dan firasat mereka mengatakan pecundanglah kehidupan yang aman dan tenang" Ucapku.
Dori mengangguk-angguk tersenyum. Aku sedikit sensitif dengan perkataan dori. Persetan dengan julukan pecundang. Aku hanya tidak ingin memperpanjang masalah dengan terkurung bertahun-tahun dengan kasus narkoba.
"Kita tidak bisa memaksa orang untuk setuju dengan kita bukan?" Ucapku bersiap membakar lintinganku.
Dori hanya mengangguk. Dori bercerita tentang film barat yang kemarin malam ditontonnya. Aku juga sempat menonton sekilas. Titik pemberhentian. Hanya keberhasilan yang membuat aktor film itu berhenti dalam berkeinginan. Kegagalan bukanlah arti untuk berhenti. Berbagai olahraga yang menantang ditaklukan dalam film itu.
"Orang-orang yang berhasil menyebrangi bukit tinggi dengan berjalan diatas tali. Mustahil hanya dengan sekali percobaan" Ucapku menimpali perkataan dori.
"Itulah arti filmnya. Mereka selalu mencoba meskipun berkali-kali gagal. Mereka takkan berhenti sebelum mereka berhasil. Point break. Hanya keberhasilan yang membuatnya berhenti" Sahut dori
Siang itu aku menghabiskan waktu dirumah dori. Kami punya banyak topik pembicaraan. Dori terlihat lebih serius siang ini. Tidak seperti biasanya yang suka bertele-tele kalau sudah menghisap ganja. Mungkin karna bius shabu dori jadi serius.
Kami tengah mengobrol perihal kehebatan orang barat dalam membuat film. Sebuah mobil terdengar dihalaman rumah dori. Mobil cunter--losbak terlihat dari jendela rumah dori. Aku bernafas tenang setelah dori bilang itu adalah orang yang dikenalnya.
Dua orang pemuda yang sudah berumur masuk dengan sapaan hangat terhadap dori. Bang indun dan seorang temannya berbadan gempal. Mereka datang untuk membeli shabu. Mereka masuk kedalam kamar dori setelah diberikan satu paket sesuai jumlah yang mereka berikan. Dua pemuda itu hilang untuk menghisap shabu didalam kamar dori.
Dua jam telah berlalu Ganja yang kami linting sudah habis semenjak tadi. Dua orang passien dori tadi juga sudah pergi satu jam yang lalu. Pukul setengah empat. Aku pamit pulang setelah membungkus sedikit ganja untuk kubawa pulang. Dori punya banyak ganja yang disimpan untuk pakain sehari-harinya. Dori hanya menjual shabu.
Aku melajukan sepeda motorku dengan pikiranku yang liar. Pandanganku boleh saja memperhatikan jalan. Tapi pikiranku entah kemana. Ganja membuatku menghayal.
"Dunia hanya cobaan, Akhiratlah kehidupan. Dan semua manusia sedang bermimpi untuk masuk surga" Kata-kata itu terngiang dipikiranku.
Aku kembali teringat nasehat ibu. Hidup hanyalah tentang hitam dan putih. Seperti manusia yang hidup dengan sisi baik dan buruk. Dan dunia adalah perang mengalahkan nafsu dan diri kita sendiri.
"Kau tahu apa iblis yang paling jahat didunia? Adalah manusia yang pergi bertamu kerumah iblis. Meminta jimat keramat ataupun santet. Itulah yang orang minang sebut; Jubili"
Aku lagi-lagi tertegun oleh pikiranku sendiri. Aku lagi mengumpat pikiranku yang kosong. Simpang Ice lumayang ramai sore ini. Orang-orang banyak berhenti digorengan seberang simpang ice. Gorengan jagung itu memang enak. Bermacam gorengan yang diolah dengan cumpuran jagung. Bakwan, paragedel, tahu, tempe, godok, dan empek-empek terkombinasi dengan adonan jagung sebelum digoreng. Gorengan itu memang enak. Aku dan nando selalu membelinya sebelum pulang. Aku melajukan sepeda motorku setelah kemacetan selintas.
Aku seperti super paranoid. Aku serupa paranoia dengan prasangka-prasangka diriku sendiri. Entah kenapa aku selalu suka memikirkan sesuatu hal yang menyiksa diriku sendiri. Namun, apa yang dikatakan ibu benar. Hanya saja, aku yang terlalu rapuh untuk meninggalkan ruang hitam. Hahaha aku seperti tahu teori tapi lupa prakteknya.
Aku hanya tertawa melihat kelemahan diriku sendiri. Tapi mau bagaimama lagi? Aku juga tidak ingin menjadi munafik yang meninggalkan kesenanganku demi dianggap sebagai orang baik. Namun, kelak, aku akan paham bahwa kesalahan terbesar manusia adalah tidak bisa membunuh egoisme dalam dirinya sendiri.
Simpang simancung juga ramai. Beberapa orang disisi kiri baru turun dari angkutan umum. Diseberang pangkalan ojek juga ramai berimpitan dengan kedai kelontong. Konon katanya simpang simancung ini adalah tempat pemancungan dizaman penjajahan.
Aku mengambil ganja dari saku seragamku. Ganja yang kutungkus dengan plastik rokok itu cukup untuk lima hari. Aku memindahkan dan menyembunyikannya didalam sepatuku. Entahlah. Kupikir disitu lebih aman.
__ADS_1