Ruang Hitam

Ruang Hitam
Malam pengharapan


__ADS_3

Dalam hidup, orang lain hanyalah pameran pembantu. Dan untuk sebuah perubahan, itu dimulai dalam diri kita sendiri. Sedangkan lingkungan hanyalah faktor dalam perubahan.


***


Malam ini aku kembali berkumpul dengan manusia-manusia dalam gelap. Ibu pasti akan marah jika melihatku yang masih berkumpul dengan teman-temanku. Tapi, aku ingin membuktikan kepada ibu bahwa aku bisa berubah tanpa harus menjauhi teman-temanku. Bukankah perubahan itu dimulai dari diri sendiri?


Sudah satu jam lebih kami menunggu bang gates yang pamit untuk mandi. Rasa kesal didalam jiwa kami mulai tak terbendung. Keramain disekitar kami hanyalah kebisingan yang membuat jiwa kami semakin sakau.


"****** gates ni mah" pancing bang pram dengan raut wajah yang gelisah.


Kami tertawa mendengar celoteh bang pram. Sudah pukul setengah sembilan malam. Seperti biasa, kami selalu menyumbang untuk membeli satu paket ganja. Dimana satu paket ganja dihargai Limapuluhribu. Dan uang yang terkumpul masih empatpuluhribu. Dan bang gates belum juga menampakkan diri.


"Heran deh sama gates"Ungkap bang pram yang berdiri dari duduknya "Laki-laki tapi mandinya lebih lama dari perempuan"


"Ah, lu kayak gak tau gates aja, pram" Sahut bang deni.


"Gates kan artis pram" Bang reno ikut menimpali.


"Artis kampung" Ketus pram.


Kami tertawa. Kami tak heran lagi dengan kebiasaan bang gates. Bang gates memang selalu lama kalau mandi. Bahkan bang gates bisa dua jam dikamar mandi. Itulah kebiasaan bang gates yang selalu bikin kami kesal. Seperti saat ini misalnya, bang gates seperti tidak punya rasa tenggang. Padahal bang gates sudah tau kalau kami menunggu. Tapi ia seakan sengaja membiarkan kami menunggu. Kebiasaan buruk bang gates itu terasa sangat aneh bagi kami. Namun, keanehan itu hanya bisa untuk kami mengerti.


Suasana warnet tek lik semakin ramai. Kendaraan yang parkir didepan kedai tek lik memakan bahu jalan yang membuat kemacetan terjadi selintas. Warung gorengan da jangguik diseberang warnet juga terlihat laris manis. Kami duduk disamping warung gorengan da jangguik. Lawakan bang pram membuat kami tertawa terbahak-bahak. Bang pram memang tipikal orang yang suka berbicara. Maka dengan itu bang pram sering melahirkan jenaka dengan cerita-cerita konyolnya.


Beberapa menit kemudian bang gates datang dengan momboncengi momon. Bang gates terlihat ganteng dengan kaus putih polos bertuliskan rusti didadanya. Juga rambut yang klimis disisir kesamping.


"Yok, vino bastian sudah datang. Syuting dimulai" Sindir bang pram.


Kami tertawa terbahak-bahak. Bang gates juga tertawa kecil. Sadar akan kesalahannya yang membuat kami menunggu lama. Bang gates lansung mengeluarkan selembar uang sepuluhribu dari saku celanannya. Bang pram bersiap-siap untuk transaksi setelah menerima uang dari gates.


"Kemana jajan pram?" Tanya bang deni.


"Kemana lagi, kalau bukan ke palangki" Sahut bang pram "Pinjam motor ya dik" Ucapnya minta izin.


"Pakai lah bang" Sahutku.


"Yuk. Gua temenin" Ujar bang deni

__ADS_1


"Gak usah. Gua sendiri aja" Bang pram menolak. Takut sandiwaranya akan terbongkar.


Sandiwara? Yah, pergi ke palangki hanyalah alibi bang pram untuk membohongi kami. Bang pram sebenarnya juga memiliki beberapa paket ganja untuk dijual. Dan hanya aku yang tahu tentang sandiwara yang sedang dilakukan oleh bang pram.


Pram panendean adalah mantan narapida yang baru saja bebas setahun yang lalu. Bang pram pernah dikurung selama tiga tahun karna kepemilikan ganja. Aku mengenal bang pram setelah ia bebas dari penjara. Ketika itu aku sedang duduk melingkar dengan bang febi, bang gates, dan bang eldom, bang pram yang baru keluar dari penjara langsung bergabung duduk melingkar dengan kami. Aku adalah anak baru dalam kelompok RGM ini. Dan semenjak itulah aku mengenal bang pram. Aku dan bang pram semakin dekat saat ipan dan dori meminta tolong untuk mencarikan ganja skala besar. Dan bang pram memperkenalkan bang teiko sebagai bandar besar kepadaku.


Dari sanalah aku mulai ikut penjualan narkoba. Bisnis ilegal ini sudah berjalan setahun kurang. Aku mengambil ganja kepada bang teiko sebanyak dua kilo untuk sekali transaksi. Satu kilo untuk ipan dinagari padang sibusuk, sedangkan satu lagi untuk sandi dinagari tanjung ampalu. Keuntungan yang kudapat dari sekali transaksi adalah dua juta. Satu juta dari ipan, dan satu dari sandi.


Sedangkan bang pram mendapat segaris ganja dari bg teiko. Ganja itu diterima bang pram sebagai upah karna telah membantu bg teiko untuk mencari passien. Dan ganja pemberian bang teiko itulah yang dijual oleh pram untuk dijadikan uang. Bang pram sengaja dengan bersandiwara sebagai kurir agar identitasnya sebagai pengedar ganja tidak terbongkar. Bang pram tidak mau lagi mengulang kesalahan yang sama.


Malam semakin meriah dengan ingar bingar yang tak terkendali. Kami masih duduk menanti kedatangan bang pram. Hanpone ku berdering sebab panggilan masuk. Dendi. Aku agak menjauh dari kerumanan dan mengangkat telpon.


"Iya" Mula ku


"Dimana?" Tanya dendi dari diseberang sana.


"Diwarnet. Ada apa?"


"Bisa tolongin cimeng ngak?"


"Berapa?"


"Lu lagi dimana sekarang?" Tanyaku


"Didepan rumah"


"Yaudah nanti gua kabarin" Tutupku.


Aku lansung segera menelpon bang pram dan menyuruhnya untuk membawakan satu paket lagi untuk dendi. Lalu aku kembali kedalam deretan para pria sakau yang sedang menunggu kedatangan bang pram.


Teman-temanku sibuk membicarakan omongan miring orang-orang tentang kami. Aku tak heran dengan penilain orang yang mengatakan kami tidak punya masa depan. Orang-orang pasti akan memandang negatif siapa saja yang terjerat dalam narkoba.


"Sebenarnya itu adalah rahasia umum. Tapi mereka menjadikan itu sebagai obrolan harian mereka" Ujar bang eldom


"Mau bagaimana lagi" Sahut bang gates "Dikampung kita ini, yang suka bergunjing bukan emak-emak saja, Tapi bapak-bapak juga" Sambungnya


Kami tertawa terpingkal-pingkal mendengar ocehan bang gates. Tak lama kemudian bang pram datang. Bang pram berbisik kepadaku bahwa pesananku ada didalam saku motorku. Lalu teman-temanku mulai beralih tempat. Menuju rumah gadang tempat biasa kami duduk menghabiskan malam.

__ADS_1


"Ayo dikan, lu ngak ikut?" Tanya bang denis yang melihatku masih duduk.


"Duluan aja bg, nanti gua nyusul" Jawabku.


"Beliin aja ke tuak" Ujar bang pram yang menyuruhku untuk membeli tuak.


Aku mengangguk. Kemudian mereka pergi dengan meninggalkanku sendiri dikursi seberang warung tek lik. Aku segera menelpon dendi dan menyuruhnya untuk menemuiku. Beberapa menit kemudian dendi datang bersama iit.


"Sama siapa lu duduk?" Tanyaku


"Berempat sama alpin dan endo?"


Hah alpin. Aku tak ingin berkomentar panjang. Aku lansung menukar paket dengan uang yang diberikan oleh dendi. Tidak ada gunanya aku membahas alpin lagi. Semua sudah jelas. Alpin membohongiku bahwa dia tidak lagi merokok. Namun yang lebih sakit lagi dalam hatiku adalah alpin mulai menjauhhiku hanya karna masalah dengan riska.


"Lu lagi ngak baikan ya sama alpin" Tanya dendi.


"Alpin nya aja yang ngejauh"


"******. Gara-gara cewek pertemanan jadi rusak" Ujar dendi.


Aku tak menyahuti perkataan dendi. Aku tidak merasa dengan perkataan dendi. Lagi pula, dendi tidak tau kejadian yang sebenarnya. Lalu aku memacu motorku untuk membeli tuak. Kemudian menyusul teman-temanku ditempat biasa kami nongkrong.


Sesampainya dirumah gadang. Aku membuka tuak yang tadi kubeli dan menuangkannya kedalam gelas plastik. Teman-temanku sibuk mengobrol membahas tentang wanita dan cinta. Memang, musuh manusia didunia adalah harta, tahta dan wanita. Diantara kami bertujuh di RGM. Bang eldom, bang febi, dan bang reno telah menikah namun bercerai. Bang eldom dan bang febi memiliki satu orang anak. Kalau bang reno mempunyai dua anak yang tinggal bersama istrinya dipalembang. Sedangkan bang pram, bang deni, bang gates, dan aku masih bujangan.


"Kucing dikasih ikan asin masak nolak sih " Ujar bang deni


"Itulah. Munafik sekali kalau menolak" Sahut bang pram.


"Bukan begitu. Tapi bagaimana dengan anakku" Jelas bang eldom


"Ya, kalau lu masih mikirin anak, sebaiknya lu balik aja ke bini lama lu" Saran bang pram.


Mereka terus berbincang-bincang seputar cinta. Aku teringat dengan riska. Wanita yang dulu menawarkan cinta dan berjanji akan bertahan sekencang apapun ombak kehidupan memisahkan. Namun, kini aku merasa benci mengingat semua tentang riska. Terlebih lagi, rasa benci itu semakin membara melihat pertemanan aku dan alpin yang rusak hanya karna riska. Aku meneguk segelas tuak untuk menghilangkan masalah yang menjadi beban didalam pikiranku. Bukankah minuman bisa menghilangkan tekanan dari masalah yang tengah kita hadapi?


Aku menghisap ganja yang diberikan oleh bang febi kepadaku. Pram masih bercerita tentang wanita dan cinta masa lalunya yang meninggalkannya untuk menikah dengan laki-laki lain. Menyedihkan sekali. Blackberryku berdering petanda pesan masuk. Fiona lantika. Sahabatku.


"Hubunganku dengan afdal sudah dua tahun. Aku berharap dialah laki-laki yang akan menikahiku" pesan fiona.

__ADS_1


Aku menelan ludah. Terasa sangat pahit. Fiona adalah sahabat yang kukenal empat tahun silam. Aku menjadikannya sahabat karna aku tidak mampu mengatakan perasaanku kepadannya. Namun, fiona juga enggan untuk mengerti semua perasaan yang kupendam untuknya. Tapi satu hal yang kusadari, fiona tidak peka sebab ia memang tak pernah punya perasaan apa-apa selain menganggapku sebagai sahabat.


Aku menghisap ganja dengan menggunakan perut. Kepalaku berdenting.  Ganja mulai mempengaruhi kesadaranku. Aku hisap lebih dalam lagi. Aku merasa telah melayang sangat tinggi. Dan dimalam yang meriah karna sepi, aku berharap menemukam wanita seperti fiona, wanita yang membuatku jatuh cinta dalam luka.


__ADS_2