
Dunia ini adalah teka-teki dan banyak persimpangan yang menjadi pilihan yang tidak tahu akan berakhir dengan bagaiamana.
****
Suatu hari akan ada cerita yang akan menjadi kenang. Titik pemberhentian dari sebuah kisah sebagai arti dari kehidupan.Entah itu sebuah kemenangan atau kekalahan. Namun yang pasti. Esensi masa lalu hanyalah sebagai pelajaran.
Kehidupan terlalu besar bila terus dinikmati, juga terlalu kecil jika sudah kita pahami. Dunia hanyalah permainan yang kita percaya akan berakhir. Kelak, sikap dan perbuatan kita akan diminta pertanggung jawaban dihari nanti. Dimana surga dan neraka sebagai ganjaran dari dunia yang kita pilih. Putih atau hitam.
Tidak ada manusia yang bisa menjamin dengan pasti seseorang itu masuk surga atau neraka. Kita semua hanyalah manusia yang hanya bisa berupaya tanpa pernah bisa menentukan hasil akhir. Dunia ini adalah teka-teki dan banyak persimpangan yang menjadi pilihan yang tidak tahu akan berakhir dengan bagaiamana? Hitam belum tentu hina. Putih belum tentu suci. Manusia adalah makhluk yang tak pernah luput dari dosan dan kesalahan. Namun, satu-satunya harapan baik yang tersisa hanyalah keteguhan diri kepada jalan yang telah Ia kehendaki.
Dan kepada-Nya lah sebaik-baiknya jalan untuk pulang. Semoga aku tidak pulang dengan jalan yang tersesat. Hingga aku tidak menjadi seperti bapak. Agar aku selamat dari kehidupan yang memperdayakan.
Menjelang siang. Mentari menerpa hangat langkahku keluar dari kantin tek rida. Hari ini aku sengaja terlambat untuk datang kesekolah. Tidak pelajaran dan kegiatan yang harus membuatku tepat waktu datang kesekolah. Hari setelah ujian adalah hari-hari santai sebelum libur.
Dilapangan, semua murid dan guru berkumpul mengelilingi lapangan basket sebagai tempat pertandingan bola daster. Laki-laki memakasi daster dan jilbab menjadi hiburan yang penuh dengan tawa. Pertandingan berhenti seketika musik diputar, para pria berbaju daster bergoyang ditengah lapangan mengikuti peraturan dari permainan bola daster. Semua murid bersorak-sorai dalam kebahagian. Aku memutuskan berjalan kelapangan setelah melihat ijep dan nando yang berimpitan ditengah ramainya penonton.
Pertandingan dilanjutkan kembali setalah musik dimatikan. Ripo memasukkan bola kedalam dasternya dan membawanya berlari. Semua penonton tertawa melihat ripo yang seperti perempuan hamil. Nando dan ijep menyadari keberadaanku disela-sela tawa. Mereka menyapaku sebelum kembali terbenam dalam kebahagian bola daster.
Musik kembali dimainkan, semua pemain ditengah lapangan kembali menggoyangkan badan mengikuti alunan irama musik. Aku melihat mutia yang berdiri ditemani buk diana diseberang lapangan. Buk diana memberitahu keberadaanku kepada mutia. Aku tersenyum.
"Kamu gak main" bisik mutia dari kejauhan.
Aku menggeleng. Mutia mengerucutkan bibirnya. Lalu dia berbicara dengan buk diana. Musik berhenti. Pertandingan kembali dilanjutkan. Sorak-sorai kembali bergemuruh memeriahkan lomba. Guru dan murid larut dalam tawa dan kebahagian.
Dua puluh menit kemudian pertandingan bola daster akhirnya usai. Tidak ada kemenangan dan kekalahan dalam perlombaan kali ini. Bola daster diadakan hanya untuk menghibur dan memeriahkan lomba akhir semester. Begitu juga dengan perang bantal. Perang bantal bukan lagi perwakilan dari masing-masing lokal. Siapapun boleh ikut dan mendaftar dalam perlombaan perang bantal. Ketua osis menutup acara sebelum nanti dilanjutkan dengan perang bantal.
Dilapangan, aku masih berdiri ditengah kerumunan yang mulai membubarkan diri. Aldi menghampiri kami dengan baju daster yang masih lengkap. Rambut klimiknya basah dengan keringat. Dia menanyakan kenapa aku tidak ikut main. Aku menggeleng. Aldi melepas daster serambi bercerita tentang keseruan permainannya. Kami hanya membalas dengan tawa. Lalu berjalan kearah lokal.
Dilapangan volly, anggota osis sibuk dengan bila dan tali. Gani dan caknun menancapkan bila kedalam tanah. Sepertinya sedang mempersiapkan arena perang bantal. Ijep menyapa winty yang ditemani elsa dikoridor gudang. Winty membalas dengan senyum. Ijep bersuka ria selepas kepergian winty yang menjadi gebetan ijep.
"Setelah gagal mendapatkan annisa kini beralih ke winty" Ujar aldi meledek.
"Oh ya. Patah itu harus bertumbuh" Sahut ijep riang. Matanya masih memperhatikan winty yang sibuk dengan kegiatan osis dilapangan volly. Nando menggelengkan kepala melihat tingkah ijep. Cinta membuat manusia tak memakai logika. Aku memafhumi tingka ijep. Aku juga pernah merasakan punya seseorang yang dikagumi disekolah. Bedanya aku tidak terlalu menunjukkannya kepada semua orang dan mutia.
Kami duduk ditangga terakhir didepan kelasku. Dilapangan volly, arena perang bantal yang dibatasi tali mirip dengan ring tinju. Diseberang lapangan volly, mutia dan buk diana berjalan kearah kantor.
"Kau sudah mendekatinya?" Aldi bertanya.
"Sudah" Sahut ijep "Aku sudah punya pin BB nya. Tapi aku mendekati dengan sms" Jelas ijep.
"Bagaimana responnya?" Tanya aldi penasaran.
"Baik. Tapi dia tidak membalas lagi setelah beberpa pesan. Mungkin pulsanya habis"
"Kenapa kau tidak mendekatinya lewat bbm jep?" Tanyaku.
"Andoridku rusak. Jadi aku harus memakai nokia senter" Sahut ijep.
"Deketin aja terus. Kapan perlu telpon sekalian. Buat dia nyaman sama lu" Aldi menyarankan.
Ijep menganggukan kepala. "Yang penting aku tidak seperti nando yang hanya bisa memendam" Ujar ijep.
Kami semua tertawa. Nando menyukai tika teman sekelas kami dengan diam-diam. Nando tidak berani untuk mendekati tika. Apakagi untuk mengungkapkan perasaannya. Aldi bercerita tentang mantan gebetannya sebelum berpacaran dengan karin. Junior dua tahun dibawah kami itu sangat cuek ketika didekati aldi. Hingga aldi menyerah untuk mendekatinya. Tapi mantan gebetan aldi itu mengatakan aldi PHP setelah berpacaran dengan karin.
Dilapangan volly, didepan meja panitia, buk eni pesma sebagai pembina osis mengumunkan bahwa pendaftaran perang bantal telah dibuka. Tidak ada pungutan dan syarat, siapa saja boleh mengikuti lomba.
"Ikut yuk" Ajak aldi
Aku menggeleng. Nando juga menggeleng. Nando lebih pemalu dari aku.
"Yuk, kita aja" Sahut ijep.
Aldi dan ijep menuruni tangga untuk mendaftarkan diri dalam lomba perang bantal. Aku dan nando masih duduk dianak tangga. Meja panitia ramai oleh murid yang ingin berpatipasi dalam lomba akhir semester.
Seperti bola daster, perang bantal juga tidak diperuntukkan untuk perempuan. Buk eni pesma mengumumkan pendaftaran sudah ditutup. Panitia hanya menyediakan 16 kuota. Beberapa siswa tampak mengeluh karna tidak mendapatkan jatah. Lagu dessert mengalun dengan volume yang keras. Beberapa siswa ikut bergoyang mengikuti alunan musik.
Setelah membagi lot, putry sebagai protokol membuka acara perang bantal dengan pertandingan pertama antara adan dan arga. Caknon dan gani menutup mata kedua pemain dengan dasi sebagai aturan lomba. Adan dan arga saling melayangkan bantal setelah joko sebagai wasit memulai pertandingan. Semua murid bersorak riang melihat kedua pemain yang memukul angin. Arga akhirnya menang setelah berhasil memukul adan lebih dulu. Sederhana itu permainannya.
Aldi masuk kedalam arena menantang kiki yang sejengkal lebih tinggi darinya. Mereka saling melayangkan bantal dengan mata tertutup. Aldi membelakangi lawan dan malah memukul bila sebagai sudut arena hingga terjatuh. Semua murid tertawa terbahak-bahak. Aku dan nando terpingkal-pingkal. Joko memulai pertandingan setelah caknon dan gani berhasil memperbaiki kerusakan arena.
__ADS_1
Langkah kaki terdengar mendekat kearah kami. Mutia dan buk diana sudah ada dibelakang kami. Aku tersenyum melihat mutia. Badannya sudah sama lebar dengan buk diana.
"Ngapain dikan senyum-senyum" Sinis buk diana.
"Dikan senyum bukan ke ibuk" Jawabku tertawa melihat kesinisan buk diana. Aku tahu buk diana hanya bercanda.
"Mentang-mentang udah jadian sama buk mutia" Ujar buk diana.
Aku tertawa kecil. Nando juga ikut tertawa. Diarena perang bantal semakin seru. Aldi akhirnya kalah setelah kepalanya terkena bantal. Mutia dan buk diana duduk di anak tangga diatas kami.
"Nando sama dikan kenapa ngak ikut?" Tanya buk diana.
Nando menggeleng "Malas buk"
"Gengsi kali kak" Kata mutia.
Gengsi? Mutia tersenyum ketika aku menoleh kebelakang. "Bukan gengsi tapi malu" Sahutku.
Mutia tertawa kecil. "Eh remedi geografi kamu udah siap?" Kata mutia.
Aku baru ingat kalau aku belum meremedikan UH geografiku yang merah.
"Lihat gani tu heh" Kata buk diana tertawa. Gani dibawah sedang berjoget mengganggu caknon. Mereka memang bersahabat semenjak kecil. "Kebawah yuk mut" Ajak buk diana.
"Ngak deh kak. Tia disini aja" Sahut mutia.
"Yaudah akak kebawah dulu ya" Buk diana berdiri "Ayolah nando, ngapain nando disini jadi obat nyamuk dikan sama mutia" Ujar buk diana.
Nando berdiri dari duduknya dengan bibir tersenyum menahan malu. Nando menuruni tangga ditemani buk diana. Badan nando hampir sama besar dengan badan buk diana.
"Buk, ibuk terlihat cocok jalan sama nando" Ujarku.
"Jangan ngeledek" Sahut buk diana terus berjalan.
Aku tertawa. Mutia juga tertawa. "Kak diana udah punya tunangan loh itu" Kata mutia.
"Biarlah, aku kan hanya bercanda" Sahutku bermaksud bergurau.
"Tapi aku kan ngak mau tahu"
"Gapapa, aku kan promosi" Jawab mutia.
Aku tertawa kecil. Pertandingan perang bantal kembali dilanjutkan. Sorak-sorai kembali bergemuruh merayakan kemeriahan lomba. Mutia pindah dan duduk disebelahku.
"Oh iya, selesaikanlah remedi kamu sama sintya" Ujar mutia "Waktu kami hanya tinggal sehari lagi disini. Nanti kamu susah nyariin dia buat remedi"
"Iya, iya. Nanti aku remedikan"
"Kenapa gak sekarang. Selagi masih ada waktu"
"Sekarang aku mau nikmatin waktu berdua sama kamu dulu" Sahutku
"Bisa ya kamu cari alasan" Sahut mutia tersenyum "Sekalian sama latihan-latihan di LKS. Sintya bilang kamu belum masukin nilai latihan di LKS" Sambungnya.
Aku mengangguk. Suasana diam sejenak. Kami sama-sama tenggelam dalam keseruan perang bantal. Badan salah satu peserta yang gemuk dan pendek terlihat lucu ketika melayangkan bantal. Penonton tertawa terbahak-bahak. Nando, aldi dan ijep tertawa terpingkal-pingkal. Mutia juga tertawa. Lesung pipinya yang dalam terlihat jelas dari samping.
"Lucu ya si andre" Ujar mutia disela-sela tawanya. Pria gemuk itu bernama andre. Dia murid kelas sepuluh.
Aku mengangguk "Dia lucu karena badannya gendut" Jawabku.
Pria gemuk itu akhirnya menjadi pemenang. Dia merayakan kemenangannya dengan mengangkat tangan dan berlari riang mengelilingi ring. Semua orang tertawa melihat tingkah lakunya. Dramatis sekali.
"Badanku tambah gendut ya" Tanya mutia.
"Iya, badan kamu semakin lebar aja. Sudah hampir sama lebar dengan buk diana" Sahutku.
"Itulah, aku baru merasa setelah aku berkaca tadi pagi"
"Baguslah" sahutku serambi menatap kelapangan.
__ADS_1
"Bagus?" Tanya mutia tak mengerti. Dia menatapku dengan wajah yang penuh tanya.
"Iya, Bisa jadi kamu bahagia makanya berat badan kamu bertambah"
Mutia tersenyum. "Iya, aku bahagia, aku dapat banyak teman disini" Ujarnya.
"Kamu bahagia karna ada aku kan?" Cetusku.
"GR" Sahut mutia tersenyum.
Kami kembali tenggelam dalam keseruan lomba. Perang bantal berhasil menjadi hiburan yang menyenangkan. Tawa-tawa lahir sebagai kebahagian dari semua siswa.
Buk diana dan ketiga sahabatku berjalan kearahku setelah dari lapangan. Ijep juga kalah dalam perlombaan perang bantal. Kami duduk berenam dengan sesekali tertawa memperhatikan perang bantal. Setengah jam setelah mengobrol dan tertawa bersama. Mutia dan buk diana berjalan untuk kembali kekantor.
"Dikan. Jangan lupa loh tuntasin nilai kamu sama sintia" Ujar mutia setelah beberapa langkah.
Aku mengangguk.
"Jangan iya-iya aja lu" Kata buk diana.
"Iya buk iya" Sahutku.
Buk diana tertawa. Ketiga sahabatku juga tertawa.
"Kalau ngak diremedikan putusin aja dikan buk" Teriak aldi.
Mutia hanya membalas dengan senyum dan berlalu. Ketiga sahabatku kembali tenggelam dalam keseruan dilapangan volly. Aku memutuskan untuk menghafal ulangan geografiku.
Setelah merasa bisa menghapal semua soal. Aku berjalan kekantor untuk menemui buk sintya. Didalam kantor, aku lansung menghampiri buk sintya yang tengah duduk dikursinya. Disebelah buk sintya ada buk diana dan mutia yang juga duduk dikursi mereka.
"Buk bisa remedi buk" Tanyaku.
"Apa dikan? Buk mutia" Sahut buk sintya.
Buk diana tertawa. Mutia tersenyum menahan tawa. Buk nit duduk dipojok juga menoleh. Mukaku memerah menahan malu.
"Remedi buk" Ucapku
"Ya, Puassin lah dulu lihat buk mutia" Sahut buk sintya.
Sial. Aku sedang diperolok-olokkan oleh buk sintya. Aku ingin melangkah pergi. Tapi aku tahu buk sintya hanya bercanda.
"Nanti gak bisa lagi lihat buk mutia" Buk diana ikut menimpali.
Akh hanya diam. Mutia senyum-senyum sendiri dengan menahan tawa. Aku menggeleng tak habis pikir dengan buk sintya dan buk diana.
"Ya, besok ngak akan ada lagi buk mutia disini" Jelas buk sintya.
"Besok kangen pula" Seru buk diana.
"Bisa remedi ngak nih buk?" Tanyaku
"Iya, mana kertas UH nya"
Aku memberikan kertas UH ku kepada buk sintya.
"Kalau ngak mutia yang bilangin, mungkin gak bakalan dikan remedi" Gerutu buk sintya.
"Bisa dimulai buk?"
"Mulai lah"
Aku mulai membacakan soal-soal dan jawaban ulangan yang tadi kuhafal. Disebelah buk sintya, mutia menatapku tanpa berkedip. Dia tetap menatapku meskipun aku sudah menatapnya. Dia sengaja membuyarkan konstrasiku. Dengan terbata-bata aku akhirnya menyelesaikan remediku. Aku keluar setelah buk sintya menanda tangani kertas ulanganku.
"Dikan" Panggil buk sintya.
Aku berhenti dan menoleh.
"Yang kuat yang menahan rindunya" Ujar buk sintya.
__ADS_1
Aku lansung berlari meninggalkan kantor tanpa merespon guraun buk sintya.