Ruang Hitam

Ruang Hitam
Hari terakhir


__ADS_3

Orang-orang peduli, sebenarnya tak punya hati. Orang-orang yang mengaku simpati, ternyata menghakimi.


****


Dimalam minggu, aku kembali berkumpul dengan manusia dalam gelap, di RGM. Bang pram memaksaku untuk berkumpul setelah beberapa minggu terakhir ini aku sengaja mengasingkan diri dari mereka. Warnet tek lik ramai seperti biasanya. Anak-anak remaja berkumpul sekedar berbincang merayakan malam minggu tanpa wanita. Aku dan bang pram berbincang didepan rumah bang eldom, disamping warnet. Bang pram terus memaksaku untuk berkumpul di RGM.


"Ayolah, kau tidak pernah lagi hadir di RGM" Ajak bang pram lagi walaupun aku telah menolak beberapa kali.


"Lanjut lah bang. Aku udah enggak" Kataku berbohong untuk menghindari bang pram.


Aku punya ganja titipan sandi yang sudah dikembalikan ibu. Sandi memberikannya kepadaku sebab ia sudah tidak lagi mau menjadi manusia dalam gelap. Beberapa minggu terakhir aku memang jarang keluar rumah dan hanya menghisap ganja didalam kamar. Setidaknya, ibu merasa senang dengan aku yang tidak lagi keluyuran dan bergaul dengan orang-orang di RGM.


"Kau tak usah membohongiku. Aku tau ibumu melarangmu untuk berteman denganku" Tuduh bang pram tepat sekali. "Tapi cuman semalam ini aja. Anak-anak yang lain sedang menunggu kau dirumah gadang. Ayoklah"


Aku berpikir sejenak. Tak ada salahnya aku kembali berkumpul dengan manusia-manusia dalam gelap. Lagipula, besok hari libur. Ibu takkan marah kalau ia melihatku kembali berkumpul dengan manusia-manusia dalam gelap.


"Yaudah, tapi malam ini aja ya bang" Kataku dan menyalakan motorku.


"Iya, untuk terakhir kalinya" Sahut bang pram yang naik keatas motorku.


"Ya ngak gitu juga kali" Aku melaju motorku kearah rumah gadang yang hanya berkisaran 500 meter dari warnet.


"Santai aja"


Kami sampai di rumah gadang. Aku memarkirkan motorku dibelakang motor bang gates dan bang eldom. Sorak riang para teman-temanku menyambut kedatanganku.


"Lihat, anak yang hilang kembali pulang" Ujar bang denii dari beranda rumah gadang. Disana ada bang eldom, bang febi, bang reno, bang gates, bang deni, dan seorang teman yang baru bergabung; bang dio palaks. Kelak bang dio yang memecah kami di RGM. Aku menyapa mereka satu persatu.


"Kemana aja ngak pernah lagi ngumpul" Tanya bang eldom yang sedang melinting dipaling pojok.


"Biasa. Anak sekolah" Bang pram yang menjawab.


"Iya ya" Kata bang eldom sambil fokus dengan lintingannya "Mantap nuh" Sambungnya.


"Iyalah" Sahut bang pram menuangkan tuak kedalam gelas plastik. "Mana mungkin tinggal yang wajib demi yang sunnah" Bang pram memberikan tuak itu kepadaku.


Aku menerimanya tanpa bicara.


"Mari kita rayakan kebersamaan sebelum waktu kembali memisahkan dengan kesibukkan" Bang pram mengajakku bersulang.


Aku hanya diam dan menatap pram tak mengerti.


"Ayok"


Bibir gelas yang kupegang beradu dengan bibir gelas yang dipegang bang pram. Lalu aku meminum tuak itu hingga menyisakan ampas didalam gelas. Aku terasa ingin muntah dengan rasa tuak yang pahit. Teman-temanku tertawa melihat ekpresiku yang ingin muntah. Tapi kutahan.


"Mau lagi?" Tanya bang pram.

__ADS_1


"Nanti lah lagi bang" Sahutku menolak. Aku tak suka tuak. Selain baunya yang kurang enak. Mabuknya juga tidak terlalu menyenangkan.


Bang pram tertawa "Ini hari kau. Kau harus bahagia malam ini. Seperti abang yang bahagia bisa berkumpul dengan kau" Bang pram kembali mengisi gelas plastik dengan tuak.


"Lebay" Sahutku.


Teman-temanku tertawa. "Engak abang serius" Kata bang pram.


"Dikan" Panggil bang deni dengan meroling ganjanya kepadaku melampaui gates.


"Bang gates" Kataku.


"Lanjutlah dun" Sahut bang gates dengan menunjukkan sebatang ganja yang belum dia bakar.


"Dikan, kau tau nggak" Kata bang deni setelah meneguk tuak "Bang pram kau ini, menanyakan kau terus setiap malam. Dia rindu kabarmu" Bang deni tertawa.


"Ah, masak iya bang pram selebai itu?"


"Kau tanya sendiri kalau kau tak percaya"


Aku meroling ganja ke bang pram. "Kau pasti dilarang oleh ibumu untuk bermain denganku, bukan?" Tanya bang pram setelah menerima ganjaku. Dia menghisap ganja dengan sangat dalam.


"Enggak, gua sekolah bang. Banyak remedia yang harus gua tuntasin"


"Jujur ajalah. Bang pram gak akan marah" Ujar bang febi.


"Orang-orang kampung sudah risih dengan kita" Bang gates yang bicara "Mereka bilang kita orang-orang yang tak berguna"


Aku tak lagi heran dengan apa yang dikatakan gates. Orang-orang sudah banyak yang mengenali kami. Bahkan mereka beranggapan buruk dengan pikiran-pikiran mereka sendiri. Kami memang salah dengan apa yang kami kerjakan. Tapi mereka lebih salah menilai kami dan lupa untuk bercermin diri. Seperti bapak-bapak yang nongkrong dikedai kopi. Mereka bisa menyebut perbuatan kami penuh dengan dosa. Namun mereka tak jauh beda dengan kami, mereka berjudi hampir setiap malam. Pada akhirnya, mereka yang mengatakan bahwa mereka peduli sebanarnya tidak punya hati.


Bunyi motor berhenti didepan kami. Momon datang dengan membawa plastik. Sepertinya momon habis belanja. Momon meletakkan plastik ditengah-lingkaran dan duduk ditangga.


"Baguslah orang yang tidak berguna lagi daripada orang berguna" Sahut bang febi.


Kami tertawa terpingkal-pingkal. Bang febi mulai kosong. Dimana letak bagusnya orang yang tidak berguna?


"Kosong febi mah" Ujar bang pram "Dimana letak bagusnya jadi orang yang berguna?" Tanya bang pram.


"Baguslah, bisa santai-santai aja dirumah"


Kami semakin tertawa terbahak-bahak. Bang febi konyol sekali.


"Bi, ngak ada orang yang tidak berguna dunia ini. Bahkan orang gilapun ada gunanya" Kata bang pram dengan asap yang mengepul dari mulutnya "Gunanya kita bisa membedakan orang waras dengan orang gila"


"Terserah gua lah bang. Gua lebih bagus jadi orang yang tak berguna" Sahut bang febi.


Kami tertawa terpingkal-terpingkal. Bang febi memang keras kepala. Bahkan bang febi akan tetap dengan pendiriannya walaupun orang lain mengatakan dirinya goblok. "Kosong" Tapi bang febi tak peduli.

__ADS_1


"Bang pram, gua pulang dulu ya" Pamit momon.


"Yah mon lanjut"


"Bang edom, tes, bang febi, semuanya"


"Yah mon, isilah perut dulu" Ujar bang eldom.


Kami tertawa. Obrolan beralih ke versi horor. Bang dio bercerita bahwa dia pernah diganggu oleh setan saat tepat ditempat kami duduk sekarang. Pram punya cerita yang lebih seram. Gates pun meringkuk menahan rasa takut. Gates memang fobia dengan cerita horor. Dulu, rumah gates pernah menjadi TKP sebuah kasus pembunuhan.


Aku mendengar cerita pram serambi membalas pesan fiona. Aku lupa bahwa aku sudah berjanji untuk makan bakso dengan fiona. Tapi fiona mengerti dengan alasan yang kuberikan.


Malam semakin larut dalam gelap. Tuak masih tersisa setengah liter lagi. Ganja sudah habis kami hisap. Pram berhasil membujuk gates untuk membuka satu paket ganja. Gates adalah tangan kanan bandar ganja dimuaro bodi.


"Dikan, buatlah" Ujar bang pram.


"Lanjut lah bang" Kataku.


"Kemana lanjut" Pram bergurau "Buatlah, abang sudah lama tidak merasakan lintingan dikan" Kata bang pram.


Aku akhirnya menurut. Aku mulai melinting ganja yang diberikan gates. Setelah melinting, aku mengoles susu pada lintinganku agar ganja tahan lama dan tidak cepat habis. Selain susu, orang biasanya menggunakan madu ataupun daun kayu muda.


"Bakar dulu bang" Laporku sebelum membakar ganja.


"Lanjut"


Aku membakar ganja dan menghisapnya dalam-dalam. Pram bercerita tentang induk semang yang ternyata menjadi bandar shabu. Pram bercerita tentang dirinya yang begitu puas dengan shabu induk semang nya. Bang dio ikut bercerita sebab ia juga dekat dengan bang robi (Induk semang bang pram). Aku meroling ganja ku ke bang pram.


"Kemana lagi lah si kanslay" Ujar bang eldom setelah melihat momon yang kembali berjalan kearah kami.


"Dikan. Minumlah" Tawar bang deni. Bang eldom dan bang febi sibuk membahas momon yang kosong.


"Minumlah. Ini harinya kamu. Kau harus mabuk malam ini" Kata bang pram dengan memberika gelas yang berisi tuak kedepanku. Aku mengambil tuak yang diberikan bang pram dan meminumnya. Badanku terasa hangat setelah tuak itu habis dengan sekali teguk.


"Bang pram. Lah bubar kita lagi lah" Ujar momon baru datang.


Kami tertawa terbahak-bahak. Momong konyol, baru datang dia sudah menyarankan untuk bubar. Kami terus tertawa sebab ulah momon yang kosong.


"Lu keluar hanya untuk menyuruh kami bubar mon?" Tanya bang deni sambil tertawa


"Kenapa masih keluar mon? Kenapa ngak lansung tidur aja tadi" Bang pram ikut menimpali.


Kami terus tertawa. Semua kami mengatakan momon kosong. Obrolan tak henti-hentinya menghujat momon dengan membahas segala kebodohan momon. Gates yang paling banyak becerita. Momon hanya terdiam dan mendengar semua kenyataan yang menghimpitnya. Tapi momon akan mendengar dengan telinga kanan dan keluar ditelinga kiri. Semua omongan orang tidak akan dipikirkannya. Apalagi sedang kosong seperti ini.


Malam sudah menjadi dini hari. Angin malam yang dingin terasa hangat setelah aku meminum tuak sebagai penghabisan. Kepalaku berdenyut-berdenyut. Pram memaksaku untuk menghabiskan setengah liter tuak itu sebagai permintaan terakhirnya. Kami akhirnya pulang setelah blackbery menunjukkan pukul satu pagi.


Kelak, aku mendengar cerita bahwa kami di RGM sudah terpecah dan tidak lagi berkumpul. Bang dio yang menghasut bang reno dan bang febi untuk tidak lagi berkumpul dirumah gadang. Dan masalah kedua tertangkap basahnya teman-temanku dirumah godang oleh linmas nagari.

__ADS_1


Aku tidur dengan kepala dan mata yang terasa yang berat. Malam ini ternyata malam terakhir aku duduk dirumah gadang.


__ADS_2