Ruang Hitam

Ruang Hitam
Hati yang berbunga


__ADS_3

Beranilah mengambil resiko dalam sebuah keputusan. Jika berhasil kamu akan bangga. Dan jika gagal kamu akan menjadi bijak.


*****


Bell pulang sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. Murid-murid yang tadinya lesu seketika menjadi penuh semangat untuk pulang. Aku berjalan kekantor untuk melaksanakan remedi bahasa indonesia yang telah kuhapal dari kemarin malam.


Kantor guru terlihat penuh. Aku segera menemui buk nit yang duduk disisi kiri kantor. Buk nit terlihat sibuk mencari sesuatu ditumpukan buku. Buk nit menyuruhku untuk menunggu sebentar. Aku berdiri dan memperhatikan buk nit yang entah mencari apa.


Kantor mulai ribut dengan suara guru dan keramain. Sekumpulan anak kelas sepuluh terlihat memenuhi meja buk des. Pandanganku terlengah kearah buk mutia yang duduk dimeja buk asmarni. Ditempat pertama kali aku melihatnya tersenyum. Buk mutia tertawa kecil tanpa suara kearahku. Aku tersenyum untuk membalas sapaannya. Buk mutia terlihat sibuk membereskan barang-barangnya. Seperti bersiap-siap untuk pulang.


Buk nit memanggilku untuk memberitahu waktu remedi sudah dimulai. Aku melisankan ulangan harian bahasa indonesia yang sedari malam sudah kuhafal. Disekolahku, setiap remedi akan dilaksanakan dengan ujian lisan. Kecuali matematika dan olahraga. Aku melisankan kelima soal remdi dengan mudah dan lancar. Hanya berselang lima menit aku sudah berhasil mendapatkan tanda tangan buk nit sebagai bukti tuntas. Buk nit memuji daya ingatku yang begitu lancar melisankan semua soal. Meskipun dikenal galak dimata murid, buk nit tetaplah guru yang baik dan ingin yang terbaik untuk muridnya.


Aku keluar dari kantor dengan bibir tersenyum melihat tanda tangan buk nit yang berhasil kudapatkan. Aku berjalan dengan perasaan bangga sebab telah berhasil menuntaskan satu tinta merah didalam rapor semester empat. Didepan labor, aku melihat buk mutia sedang mengobrol dengan pak apin (penjaga sekolah). Aku mendengar pak apin mendesak buk mutia agar tidak lupa untuk mengirim. Aku akhirnya tahu setelah pak apin mengatakan dua puluh. Pak apin mengirim pulsa kepada buk mutia.


"Eh nak dikan. Sudah siap remedinya?" Sapa pak apin


"Sudah pak" Sahutku dan tersenyum. Buk mutia juga terlihat tersenyum.


"Terus pulang lagi?" Tanya pak apin yang berselisih jalan denganku.


"Iya, pak" Sahutku melewati pak apin.


Didepanku buk mutia tengah berdiri disamping tiang dekat pintu labor. Aku menyapa dengan senyum. Buk mutia membalasnya dengan tertawa kecil. Caranya tertawa membuat hati riang dengan bahagia. Lesung dikedua pipinya bagaikan pesona yang membuat hatiku merasa terhenti. Aku akhirnya memberanikan diri dan membalikkan badan kearah buk mutia.


"Buk" Sapaku


"Iya" Buk mutia menatapku tajam.


Aku merasa gerogi dengan tatapannya. Buk mutia terlihat penasaran dengan apa yang ingin kukatakan. Aku merasa kaku untuk memulai bicara.


"Jangan lupa dikirim ya mut" Teriak pak apin.


Buk mutia hanya diam dan tak menjawab. Matanya yang bulat besar masih menatapku tanpa bicara. Matanya seperti mata panda yang sangat indah. Aku tertawa menyembunyikan gerogi dan kaku yang sedang kurasakan. Buk mutia mengangkat alis matanya agar aku segera bicara.


"Itu pak apin kenapa ngak disahutin" Ucapku.

__ADS_1


"Oh pak apin. Dia membeli pulsa. Ada apa?"


Aku merasakan diriku gemetar melihat buk mutia menatapku. Aku bisa melihat diriku yang tenggelam dibening bola mata buk mutia. Lubang dalam yang tak berdasar, betapa tajamnya tatapan itu.


"Dikan, ada apa?"


"Itu. Apa... Boleh minta pin BB?" Ucapku memberanikan diri.


"Ooohhh pin bb" Ucap buk mutia "Minta sama doris atau ngak sama nofri. Mereka punya pin ibuk" Sambung buk mutia.


"Eehhh, Aku maunya dari ibuk lansung" Keluhku.


"Loh, apa bedanya?" Sahut buk mutia serambi mencari sesutu didalam tasnya.


"Bedalah buk..."


Belum sampai aku menjelaskan buk mutia sudah berlari ke arah kantor dan meninggalkan aku begitu saja. Aku terdiam dan melihat buk mutia yang hilang didalam kantor. Aku menghembus napas kasar. Aku bertanya-tanya kenapa buk mutia meninggalkanku sebelum aku selesai bicara?


Aku akhirnya berjalan ke kantin tek rida. Tempat dimana biasanya aku memarkirkan motor. Aku hari ini ada jadwal latihan bola dikampungku. Aku berjalan ditengah ruangan tua dengan hati yang merutuk. Aku sudah bersusah payah untuk mengalahkan gengsi untuk meminta pin BB buk mutia. Namun, yang kudapati hanyalah rasa malu dari kegagalan. Mendapatkan pin BB buk mutia saja aku gagal, apalagi untuk mendapatkan hatinya.


"Dikan" Panggil buk mutia dari ruangan tua. Buk mutia berdiri dengan nafas yang terengah-engah. Buk mutia berlari dan menghampiriku. "Ngak jadi pinnya?" Tanya buk mutia.


Aku tersenyum dan menghampirinya. Buk mutia memberikan pin nya kepadaku. Lalu kenapa buk mutia meninggalkanku tadi didepan labor?


"Kirain gak boleh karna ibuk main tinggal aja" Ucapku


"Dikan sih ngak sabaran. Ibuk tadi cari Hp. Eh taunya tinggal dimeja buk asmarni" Jelas buk mutia "Catatlah" Perintahnya


Aku mengeluarkan buku dan pena dari dalam tas ku. Buk mutia sedang sibuk mengotak-atik androidnya.


"Berapa?" Ujarku yang bersiap mencatat dihalaman belakang buku.


"5F....34....38....CB"


"Makasih buk" Ucapku penuh senyum.

__ADS_1


"Mana ada nih nama cowok status ibuk" Ucap buk mutia dengan memperlihatkan androidnya tepat didepan wajahku.


Aku melihat tulisan 'BUSY' distatus buk mutia. Tapi waktu itu aku memang melihat nama ade dalam status buk mutia. Buk muti mengerucutkan bibirnya. Aku tertawa melihatnya. Buk mutia semakin terlihat mempesona dengan wajah manyun seperti itu.


"Ibuk ganti pasti ya" Ucapku menggoda.


Buk mutia menghembuskan nafas. Wajahnya terlihat mengeluh. Hatiku mekar dengan bunga-bunga. Tingkah buk mutia seolah menggambarkan harapan untukku.


"Kenapa sih dikan gak percaya sama ibuk" Ucap buk mutia.


"Ya kali aja"


Buk mutia mengehela napas. Wajahnya terlihat kesal karna aku tak percaya. Tapi aku malah tersenyum melihat buk mutia hari ini. Entah kenapa aku merasa buk mutia sedang mencoba untuk meyakinkanku.


"Apa gunanya ibuk bohong sama dikan" Ucapnya.


Aku hanya tersenyum.


"Tapi kalau..."


"Dikan pulang dulu ya buk" Potongku cepat.


Buk mutia mengangguk dan tersenyum.


"Buk mutia ngak pulang" Tanyaku


"Iya, ibu nunggu buk diana dulu" Sahut buk mutia.


"Dikan duluan ya"


Buk mutia kembali mengangguk dan tersenyum. Buk mutia masih tersenyum ketika aku sudah naik keatas motorku. Senyumnya yang memaksaku untuk terus menatapnya.


"Duluan buk" Pamitku menyalakan motor.


"Hati-hati dijalan" Pesan buk mutia.

__ADS_1


Aku tersenyum. Iya, ada hati yang siap dijalani. Aku pulang dengan perasaan dan hati yang berbunga-bunga.


__ADS_2