Ruang Hitam

Ruang Hitam
Pacaran


__ADS_3

Pacaran identik dengan berhubungan intim


****


Diminggu malam, aku duduk didepan qonita mart menanti annisa yang akan menemuiku. Setelah pulang dari padang sore tadi, annisa mengajakku untuk bertemu melepas rindunya. Ya, kami gagal menembus semifinal dan harus pulang lebih cepat. Kami kalah dari padang pariaman dengan skor 2-1.


Simpang muaro badi malam ini cukup ramai. Aku membakar rokokku setelah membeli sebotol minuman kedalam qonita mart. Tak lama setelah itu annisa datang dengan motor maticnya.


"Kok bawa tas. Nisa dari mana?" Tanyaku.


"Buat alesan doank biar boleh keluar rumah" Sahut annisa yang masih duduk diatas motornya.


Aku tertawa "Nisa bohong hanya karna ingin ketemu abang"


"Begitulah perjuangan" Nisa terlihat santai dengan matanya yang liar.


"Tapi besok disekolah kan juga bisa ketemu"


"Itu beda" Sahut nisa menatap mataku tajam "Ayoklah" Ajaknya.


"Kemana" Tanyaku.


"Kok nanya kemana sih" annisa terlihat cemberut.


"Ya kita mau kemana?" Tanyaku berdiri


"Mejeng" Sahut annisa tersenyum.


"Genit ya"


"Kangen"


Kamipun meninggalkan qonita mart dan mencari tempat untuk duduk berdua. Motor terus melaju dijalanan dalam kampung. Annisa bercerita tentang kemenangan sekolah dalam lomba DrumBand tingkat kabuhpaten dan akan berlomba dipadang januari nanti.


Aku menyimpang kekanan disimpang pasar muaro bodi. Lapangan bola kaki adalah tempat biasa anak-anak muda berpacaran. Akupun mengajak annisa kesana. Dilapangan ada sepasang remaja yang sedang berpacaran dipojok kiri. Aku memarkirkan motor dipojok kanan lapangan. Gelap mendominasi ketika aku mematikan motor nisa. Aku memutar badanku hingga aku duduk berhadapan dengan annisa diatas motor.


"Abang satu tim ya sama bang andika?" Tanya annisa.

__ADS_1


"Iya, dika ngechat kamu ya?" Sahutku balik menanya.


"Iya, Awalnya dia nanya kalau nisa tuh pacar abang. Setelah itu dia bilang kalau abang punya cewe selain nisa. Nisa percaya aja. Tapi setelah itu dia baru ngaku kalau dia sekamar sama abang dipadang"


"Kamu kenal dika dimana?"


"Di BBM"


"Udah lama kenalnya"


"Baru kemarin. Waktu dia bilang dia sekamar sama abang"


"Bo'ong" Ujarku bergurau.


"Nisa ngak bo'ong kikan" Ujar nisa dengan tanganya mengerucutkan bibirku. Aku mengambil tangan annisa dan menggenggamnya. Annisa menarik tangannya dan terlepas dari genggamanku.


Malam ini bintang menghiasi langit tanpa kehadiran bulan. Annisa memegang tanganku. Aku membalas genggamnanya. Annisa menarik tanganku dan melingkarkan dipinggannya. Belum sempat aku bertanya annisa sudah mengulum bibirku. Ciumman anisa terasa hangat hingga akupun membalas ciummannya.


"Sudah lama nisa menahan ini" Jawab annisa dan lanjut mengulum bibirku. Annisa beralih menciumi tengkukku. Tangannya mengelus-ngelus dadaku. Aku menggeliat karna kesenangan. Udara malam dingin menjadi hangat dengan sentuhan annisa ditubuhku.


****


Annisa mengakui bahwa keperawanannya telah diambil oleh mantan pacarnya tiga tahun lalu. Aku mengutuk kesal sepanjang jalan. Pantas saja annisa bersikap agresiff. Dia bahkan telah menyiapkan pengaman untuk berhubungan denganku. Aku menyesali apa yang telah aku lakukan. Tapi penyesalan hanyalah kesalahan yang tak bisa diperbaiki.


Aku membuka pintu rumah yang belum dikunci. Ibu terlihat sedang berdiri menyiapkan sesuatu dimeja makan. "Ibu belum tidur?" Tanyaku dan mengunci pintu.


"Belum. Kamu mau bakso?"


Aku mengangguk dan menghampiri ibu. Ibu membagi dua seporsi bakso yang baru saja ia beli tak jauh dari rumah. Disimpang empat tak jauh dari rumahku. Ada tukang bakso mas pur yang sering berjualan disana.


"Ada yang mau ibu ceritakan" Kata ibu sambil duduk dimeja makan.


"Apa?" Sahutku yang duduk diseberang ibu.


Ibu diam sejenak "Ibuk akan menceraikan bapak?" Ibu mengambil minum.


Aku terdiam sejenak. "Apakah karna kikan yang nyaranin ibu mulai berpikiran seperti itu" Tanyaku.

__ADS_1


"Bukan. Ibu sudah mengurus surat perceraian nya. Dan bapakmu pun setuju" Ujar ibu dan melanjutkan makannya


"Terus kenapa ibu tiba-tiba ingin bercerai dengan bapak?" Tanyaku penasaran karna kemarin ibu begitu kuatnya tidak ingin bercerai dengan bapak.


"Nanti kamu juga bakalan tahu" Sahut ibu "Buru dihabisin baksonya" Sambung ibu.


Aku memakan bakso yang tersisa di mangkuk. Aku tidak mempermasalahkan ibu dan bapak bercerai. Itu pilihan yang baik agar mereka tidak ada lagi pertengkaran dirumah ini.


"Hati itu berubah-ubah. Seperti hati bapakmu yang tidak lagi diperuntukan untuk ibu. Tapi kamu tidak usah ikut campur dan mendendam. Bagaimanapun dia adalah bapakmu"


Bagaimana aku tidak dendam. Dia meninggalkan ibu dan pergi dengan wanita lain? "Bapak selingkuh?"


Ibu mengangguk "Tapi kamu tidak usah pikirkan. Kamu fokus saja dengan sekolah kamu"


"Tapi bu"


"Ibu tidak apa-apa. Tidak usah khawatirkan ibu. Kamu belajar saja baik-baik agar kamu bisa lulus. Ibu akan senang jika kamu bisa lulus" Ujar ibu.


Aku hanya mengangguk dan diam dengan memendam amarah. Pantas saja bapak betah tidak pulang kerumah. Dia punya wanita simpanan. Rasa benciku mulai memuncak terhadap bapak.


"Tumben kamu pulang cepat" Tanya ibu mengalihkan topik.


"Hahh" Jawabku agak kebingungan.


"Biasanya pagi baru pulang" Kata ibu dan berdiri dari duduknya. Belum sempat aku menjawab, ibu kembali bertanya.


"Leher kamu kenapa merah-merah?"


"Oh tadi ada serangga yang gigit" Jawabku dan menutup leherku dengan tangan. Sial, ini pasti bekas kisdmark dari annisa tadi.


"Kamu ngak usah bohong sama ibu" Ibu tersenyum "Ibu juga pernah muda"


Aku hanya diam dan menunduk menahan malu.


"Ibu hanya minta kamu jangan ngerusak anak gadis orang" Nasehat ibu dan berjalan kekamarnya.


Bukan aku yang merusak anak gadis orang bu. Tapi anak gadis orang yang merusak aku bu.

__ADS_1


__ADS_2