Ruang Hitam

Ruang Hitam
Berpura-pura


__ADS_3

Ada kecewa yang kutelan ketika aku melihatmu. Dan berpura-pura tidak melihatmu hanya membuat hatiku semakin terluka


****


Aku keluar dari kelas 3IPA dengan suka cita atas keberhasilanku mengubah tinta merah didalam raporku. Aku dan aldi tertawa bahagia atas keberhasilan kami menuntaskan remedi bahasa indonesia. Sedangkan ijep dan nando hanya tersenyum miris, mereka gagal dan menjadikan buk nit sebagai kambing hitam.


"Iya, tapi masih untung bisa diangsur. Kalau sekaliqus. Gak tau gua bakalan tuntas bahasa indonesia apa enggak" Ungkap aldi


"Emng tuh siraja bengkak. Memang ngak punya hati" Timpal ijep karna dia tidak berhasil menuntaskan remedi hari ini.


"Siapa yang ngak punya hati ijep" Tanya buk nit daru belakang.


Suasana hening seketika. Kami semua terdiam ketika buk nit sudah ada dibelakang kami. Buk nit berjalan terburu-buru melewati kami. Aldi dan aku menutup mulut. Aku merasa kesulitan menahan tawa melihat ekpresi ijep.


"Eh ibuk. Apa.. Ini buk, nando, masak ngak mau numpangin aldi pulang gegera aldi tuntas remedi dan nando enggak"


"Iya akbar deliando?" Tanya buk nit dengan terus berjalan menaiki tangga. Perutnya yang besar membuatnya sedikit kesulitan meniti anak tangga.


"Enggak buk" Jawab nando buru-buru "Lu apaan sih" Nando menjitak kepala ijep


"Nando dan ijep harus remedi ulang minggu depan ya" Ucap buk nit dan berlalu.


"Iya buk" Sahut nando dan ijep serentak.


Aku dan aldi tertawa lepas. Tertawa kami terndengar melantun dilorong koridor gudang, menggema diruangan yang mulai kosong. Ijep dan nando terus mengutuk buk nit atas kegagalan remedi mereka hari ini.


Matahari berteduh dibalik awan hitam, sehingga langit menampilkan sore yang teduh ketika kami mendaki tangga. Pemandangan sawah yang bebaris dibelakang lokal IPA menjadi pemandangan yang indah sore ini. Jalan yang membelah sawah dan bukit barisan menjadi panorama yang indah disekolahku. Sekolahku memiliki tanah yang berundak-undak. Beberapa lokal terpisah dengan atas dan bawah.

__ADS_1


Sekolah terlihat lengang. Hanya tinggal kami dan buk nit didalam sekolah. Remedi membuat kami pulang lebih lambat. Tapi aku merasa puas. Remediku hanya tinggal dua pelajaran lagi. Tak terasa sudah tujuh pelajaran saja yang sudah berhasil aku remedikan. Melewati nando dan ijep yang tinggal masing-masing tiga pelajaran, sedangkan aldi tinggal satu pelajaran. Nando dan ijep memiliki kemampuan yang kurang pandai. Meskipun mereka rajin dan hampir tidak pernah bolos sekolah. Tapi tetap saja daya ingat mereka sangat lemah dibandingkan aku. Aku merasakan kemudahan saat remedi dengan daya ingat yang kuat. Aku bisa menghafal soal dengan cepat.


Aku pulang dengan diboncengi aldi, sedangkan nando dengan ijep. Aku dan aldi berbelok kekanan disimpang lima, sedangkan nando berpisah dengan lurus mengantarkan ijep ke kosannya. Disimpang Al-furqon, aldi menyapa buk mutia yang berdiri didepan ruko. Aku menoleh kearah buk mutia yang sedang tersenyum. Buk mutia seperti sedang menunggu jemputannya. Kenapa buk mutia tidak pulang dengan buk diana? Ah, untuk apa juga aku masih peduli? Aku melengahkan pandangan dari buk mutia. Sibuk memperhatikan kendaraan yang berlalu lalang didepanku.


"Sendiri aja ibuk" Tanya aldi,


"Iya, tadi buk diana pulang dijemput pacarnya" Sahut buk mutia


"Ibuk suruh jemput jugalah sama pacar ibuk" Ucap aldi.


"Ibuk mana ada pacar aldi" Jawab buk mutia.


Bohong. Buk mutia punya pacar. Namanya ade. Dia berbohong. Gumanku.


"Gimana tadi remedinya?" Tanya buk mutia mengalihkan topik.


Buk mutia terdengar tertawa. Sedangkan aku masih bertahan tidak ingin melihatnya. Aku merasakan hatiku akan terluka bila aku melihat buk mutia. Namun berpura-pura tidak ingin menatapnya seperti juga membuatku terluka.


"Nih dia, yang dari tadi dicari-cari" Ucap ipan yang tiba-tiba sudah ada disampingku. Ipan terlihat sendiri dan begitu rapi.


"Eh pan" Sahutku kaget dengan keberadaan ipan yang tak terduga "Ada apa nyariin?" Tanyaku


"Kemana aja? Jam segini baru pulang?" Tanya ipan.


"Tadi. Remedi" Jelasku.


"Bah tumben rajin" Ucap ipan meledekku.

__ADS_1


Aku hanya tersenyum dengan ledekannya.


"Kesawahlunto yuk" Ajak ipan.


"Sawahlunto....Ngapain?" Tanyaku.


"Senang-senang" Sahut ipan dengan mata yang melirik.


"Berdua aja?"


Ipan menganguk.


"Sekarang"


"Ya lu pulang dulu lah ganti baju"


"Oke. Nanti kabarin lewat telpon aja"


"Gua dari tadi nelpon nomor lu kaga aktif" Ungkap ipan


"Oh iya hp gua dirumah. Gak bawa tadi" Sahutku.


"Yaudah gua tunggu ya"


Aku mengangguk. "Gua pulang dulu ya" Pamitku pada ipan.


Aku pulang dan berlalu tanpa menoleh kearah buk mutia.

__ADS_1


__ADS_2