
Dengan cinta. Kau bawa aku terbang tinggi dan jauh melihat masa depan.
****
Cinta adalah emosi yang kadang membuat kita merasa jatuh dan bangkit. Tidak ada yang bisa tahu cinta itu akan berakhir dengan kebahagian atau menyedihkan. Aku tumbuh dan besar dengan rasa sakit. Pertikain yang berakhir dengan percerain menjadi gambaran bahwa cinta juga bisa berakhir menyedihkan. Oleh karena itu, aku tak pernah jauh dalam berharap akan cinta. Disaat cinta bisa datang dan pergi.
Sudah hampir masuk dua bulan hubunganku dengan mutia. Masalah-masalah yang hadir dengan perdebatan bisa terselesaikan dengan baik. Mutia menjelma bak bidadari yang menjadi bayangan dalam diriku sendiri. Hal sepele bisa menjadi masalah besar yang tak menemui ujung jika ego saling meninggi. Namun akhirnya memilih reda dan memaafkan dengan alasan cinta.
Aku tak pernah percaya pada imajinasi-imajinasi yang lahir saat aku jatuh cinta. Menggantungkan harap pada manusia beresiko membunuh diri sendiri. Manusia tidak dapat dipercaya sepenuhnya. Seperti bapak yang mengkhianati keyakinannya sendiri. Atau seperti para koruptor yang termakan sumpah negaranya sendiri. Apalagi cinta dimasa muda yang tak pernah benar-benar ingin menetap. Tapi tidak ada salahnya untuk hidup dengan harapan.
Adalah mutia yang menjadi imajinasi dari mimpi dan cinta. Mutia adalah belahan jiwa yang selama ini ingin kutemukan. Kehadirannya bagaikan sinar yang memberiku banyak harapan dan cinta. Dan dari obrolan malam inilah tercipta mimpi dimasa depan itu. Mutia merangkai kata-kata dengan angka dua adalah cara takdir untuk mempertemukan dan menyatukan kami.
"Kamu tuh benaran sayang gak sih sama aku?" Tanya mutia saat aku masih mencoba untuk membujuknya.
"Duhhh. Tiaa" Keluhku. Tidak seharusnya mutia mempersalahkan salahku yang telat memberinya kabar. Tadi, selepas pulang menemani ibu keundangan, ada tiga puluh panggilan tak terjawab dan pesan bbm yang tak terhitung dari mutia. Dan bb ku sedang dichas dan tidak kubawa keundangan. Tapi mutia dengan berat hati menerima semua alasanku.
"Dikan. Aku ngak marah " Ucap lembut dari seberang "Aku nanya serius"
__ADS_1
"Apakah kamu berpikir bahwa aku tidak sayang padamu hanya karna telat mengabari?"
"Bukan. Iya tadi sempat tuh mikir kamu ngak sayang karna sengaja menghilang"
"Aku ngak menghilang tia. Hp ku dichas" Jelasku lagi.
"Iya. Iya. Aku tanya kamu sayang aku gak?"
"Enggak" jawabku.
"Aku serius dikan"
"Kamu sayang aku?" Tanya mutia lagi
"Engggak" Sahutku dengan menahan tawa.
"Bodoh" Kata mutia tertawa. Aku juga melepaskan tawa.
__ADS_1
"Ehh kamu ingat gak kita tanggal jadian?" Tanya mutia.
"Tanggal dua"
"Umur kita juga beda dua tahun"
"Iya ya, jumlah huruf dinama kita juga beda dua huruf" Kataku takjub.
Kemarin lusa, mutia ikut mengoment status twitterku yang meretwet pertanyaan twit spekeer now.
"12" @dikkan @spekernow "Berapa huruf dinama panjangmu?"
"14" @mutiahrynti @dikkan "12" @spekernow "berapa huruf dinama panjangmu?"
Angka dua seperti angka spesial bagi hubungan kami. Aku mengamini ucapan mutia "Angka dua adalah cara takdir untuk mempertemukan kita. Kalau benar-benar kamu jodoh aku. Aku ingin kita menikah tangal dua, bulan dua, dua ribu dua-dua" Harapan mutia. Dan aku tak lagi berlogika ketika aku ingin harapan itu menjadi nyata.
****
__ADS_1
Ahahaha gak kerasa ya udah episode 43 aja. Semakin hari semakin bingung merangkai ceritanya. Susah juga buat cerita menjadi novel. Gak tau lah ceritanya bagus atau enggak. Hei yang mampir dan membaca cerita diruang hitam. Tinggalkan jejak dikolong koment dan vote. Terimakasih sudah membaca karangan saya.