Ruang Hitam

Ruang Hitam
Rindu


__ADS_3

Rindu adalah hukum alam ketika dirimu jatuh cinta


****


Dunia adalah ruang tunggu sebelum sampai pada hitam atau putih sebagai akhir dari penantian. Kelak, manusia akan mempertanggung jawabkan segala perbuataannya didunia. Amal dan dosa akan ditimbang, hingga rohani berhak menempati surga atau neraka dalam keabadian(Akhirat).


Dalam harapan akan kepercayaan pada takdir. Manusia lahir dan tumbuh dengan dunianya sendiri. Masa kecil, remaja, menikah, punya anak, melihat cucu, dan tua. Setiap manusia hidup dengan ceritanya masing-masing. Namun, Kematian adalah janji takdir yang tak bisa dipungkiri oleh manusia. Kita hidup untuk mengantri dijemput kematian.


Aku hidup dalam tekanan diriku sendiri. Rasa takut, marah, kecewa, sedih dan kebahagian semua perasaan itu membuat hati dan pikiranku berkata-kata. Aku hidup didalam dua sisi. Antara hitam dan putih. Dimana satu sisi selalu kusembunyikan sebagai aib diri.


Karenanya aku adalah manusia dalam gelap. Manusia yang terkurung dalam ruang hitam. Sebuah ruang yang dipandang hina dan diharamkam untuk umum. Aku tidak peduli tentang perdebatan ganja itu tumbuhan yang alami dan tidak ada tertulis (haram) didalam alquran. Memang benar semua dugaan itu. Namun aku berfikir bukan Ganjanya yang haram. Cuman manusianya saja yang salah mempergunakan hingga akhirnya menjadi haram. Sebab itulah ganja dinegeri ini dilegalkan.


Aku kembali terjebak dalam ilusi kepalaku sendiri. Pikiran-pikiran yang menekan diriku sendiri sebelum tidur. Ketakutan dan semua kemungkinan terasa sangat dekat menghantui. Kehidupan yang sia-sia, masa depan yang suram, dan dosa yang menumpuk didalam buku takdir. Semua ini terasa sangat melelahkan. Sebab, aku juga tak mampu beranjak dari ruang hitam.


Satu hal yang kusadari. Kebahagian menjadi manusia dalam gelap, ataupun keindahan dalam ruang hitam hanyalah kesenangan dunia yang menipu. Namun, aku tetap memilih untuk hidup dengan mencintai dunia gelap yang kupilih.


*****

__ADS_1


Desember telah datang untuk mengakhiri tahun. Bulan yang menjadi rangkuman dari kelender untuk menjadi kenangan ditahun 2016. Desember telah datang dengan satu kenyataan umurku bertambah tua, dan dunia semakin terasa fana.


Aku duduk didepan ruang tiga bersama segerombolan siswa yang sibuk membaca buku pagi ini. Semua murid menunggu pengawas ujian didepan ruangan mereka. Ada yang mengusir kebosanan dengan membaca buku. Nando, ijep, aldi berdebat tentang rumus-rumus matematika. Mereka seperti tiba-tiba semangat belajar. Desember datang dengan ujian akhir semester. Semua murid belajar seperti dikejar deadline.


Aku mengeluarkan bb ku dari dalam tas. Sudah pukul delapan kurang sepuluh menit. Sial, sudah 20 menit pengawas ujian belum juga masuk. Gumamku.


Aku membaca pesan bbm dari mutia. Ya, aku tidak lagi memanggil kekasihku dengan sebutan ibuk. Mutia yang menyuruhku untuk tidak memanggilnya dengan sebutan ibuk.


"Yah terserah kamu lah. Sebut nama, kakak atau apalah gitu yang kamu suka terserah kamu. Asalkan jangan ibuk, kecuali disekolah. Disekolah aku guru kamu bukan pacar kamu" pesan mutia suatu hari.


Dalam sebulan ini, aku selalu berbincang di-bbm dengan mutia disetiap malam. Obrolan bbm membentuk history panjang tentang banyak hal. Menjadi kenangan yang menyenangkan untuk dibahas. Dan setiap pagi juga aku bertemu dengan mutia disekolah. Pertemuan yang hanya kami isi dengan tegur sapa seperti layaknya murid dan guru. Namun sudah tiga hari ini mutia tidak lagi ada jadwal kesekolah. Masa PKL nya telah berakhir. Itu berarti aku tidak akan melihatnya lagi setiap pagi. Senyum dan tawa itu akan menjelma badai rindu yang menghantui didalam perjalananan. Guru muda didebaskan untuk mengawaskan ujian dan disibukkan dengan laporan pkl yang harus rampung minggu ini.


"Aku nanti kesekolah kayaknya. Ngurus laporan pkl, sekalian bisa ketemu kamu. Kamu yang semangat ujiannya" jelas mutia pagi ini. Aku tersenyum datar.


Buk det berjalan kearah ruangan ujianku. Ruang ujianku disebelah kantor guru---Yang menjadi kelas sepuluh tiga. Buk det menjelaskan bahwa molornya jadwal ujian dikarenakan guru breaving masalah anak drumband yang akan mengikuti lomba ditingkat provinsi. Ujian dimulai beberapa menit kemudian. Aku sedikit kesulitan mengerjakan jabaran angka-angka dalam soal matematika.


Aku terbenam dalam keheningan ruang ujian. Berperang dengan diriku sendiri. Otak kiri dan otak kananku saling berdebat mengunjuk kemampuan.

__ADS_1


Satu jam berlalu. Aku masih menyerah dengan beberapa nomor dari empatpuluh soal yang kuisi dengan asal. Aku melangkah kedepan mengumpulkan kertas ujian. Aku melangkah keluar ruangan setelah menyalami tangan buk det.


Baru sampai dipintu ruangan, aku tersenyum melihat mutia yang berjalan melintas didepan ruangan ujianku. Mutia tidak melihatku sebab ia berjalan dengan terburu-buru.


"Buru-buru amat buk, apa yang dicari" Sapaku kecil dari samping.


Mutia menoleh dan terkejut melihatku yang ada disampingnya. Mutia berjalan dengan pandangan yang fokus kedepan hingga ia tidak melihatku disamping kanannya.


"Kamu. Ehhh"Sahutnya kaget "Diruang berapa teguh ujian?" Tanya mutia basa-basi.


"Diruang tiga" Jawabku tersenyum dan melewatinya yang berhenti didepan koridor kantor. "Ibuk tambah gendut saja tidak hadir beberapa hari ini" Candaku berjalan dengan membelakangi jalan.


Mutia mengurucutkan bibirnya. Aku tertawa kecil melihatnya.


"Doa in laporan ibuk di acc ya" Ujarnya.


Aku mengangguk. Dan berlalu dikantin tek rida. Makan dan merokok menghabiskan setengah jam istirahat sebelum ujian kedua.

__ADS_1


__ADS_2