Ruang Hitam

Ruang Hitam
Galau


__ADS_3

Tidak usah berpikir panjang. Kalau kau tidak berani untuk mengambil resiko.


****


Memang benar tentang pepatah yang mengatakan bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Bahwa anak akan mewarisi sifat orang tuanya. Akan ada kemiripan yang akan menjadi kehendak bagi seorang anak tersebut, yang mewakili sifat ayah atau ibunya. Salah satu kehendak itu adalah agama dan kepercayaan akan Tuhan. Seorang anak pasti akan mengikuti apa yang diajarkan oleh orang tuanya. Seperti aku yang mempercayai islam.


Aku didik dan dibesarkan dengan ajaran islam yang dianut oleh kedua orang tuaku. Masa kecilku dihiasi dengan belajar membaca alquran dan menghafal bacaan sholat disurau belakang rumah. Hingga aku tumbuh sebagai warga negara yang beragama islam.


Islam adalah agama yang lahir untuk menyempurnakan semua ajaran sebelumnya. Kitab alquran adalah pelengkap kitab-kitab sebelumnya. Zabur, taurat, dan injil adalah bagian dari sejarah islam didalam kitab terakhir yaitu alquran. Dimana kitab zabur diturunkan kepada Nabi Daud. Taurat kepada Nabi Musa. Dan injil diwahyukan kepada Nabi Isa.


Setiap manusia yang beragama islam akan menjadikan alquran sebagai pedoman hidupnya. Namun, tidak semua manusia beragama islam yang berpegangan kepada alquran. Atau tidak semua manusia yang beragama islam mengamalkan alquran. Seperti bapak dan aku yang sengaja meninggalkan kewajiban sebagai seorang muslim.


"Islam kalian hanya islam KTP. Kalian percaya pada islam. Tapi kalian tidak benar-benar menyakini islam dari hati. Iman kalian hanya sebatas ucapan. Sungguh berdosa besar bagi seorang muslim yang sengaja meninggalkan sholatnya" Ujar ibu suatu malam.


Ibu memang benar. Aku tahu bahwa sholat adalah kewajiban bagi seorang muslim. Dan sholat yang akan menjadi penolong diakhir kehidupan didunia. Namun, hatiku terlalu berat untuk melaksanakan semua kewajibanku sebagai seorang muslim.


"Kau itu laki-laki, Nak. Kelak, kau akan memikul tanggung jawab yang lebih besar. Istri dan anak-anakmu menjadi tanggung jawabmu dihadapan Allah. Bagaimana nasib anak dan istrimu nanti jika kau saja tidak bisa mempertanggung jawabkan dirimu sendiri" Pesan ibu terngiang lagi.


Aku kembali ditekan oleh pikiran-pikiranku sendiri. Laki-laki adalah iman sekaligus kepala keluarga yang akan menjadi tanggung jawab bagi istri dihari kiamat kelak. Sedangkan aku merasa sulit untuk keluar dari ruang hitam. Tetapi, aku menenangkan diriku dengan berjanji bahwa aku akan berubah setelah menikah nanti.


"Itulah arti meminang. Laki-laki membeli perempuan dengan mahar dan kesucian sebuah pernikahan. Lewat jabatan tangan dari seorang ayah, dengan mengucapkan ijab kabul kau sudah membeli wanita sesuai dengan janji alquran. Kita diciptakan berpasang-pasangan"


Dua hari yang lalu. Dimeja makan, ibu kembali memberiku ceramah tanpa judul. Diawali dengan cerita teman kecil ibu yang beristri dengan orang nagari lubuak tarok. Bapak sekarang tinggal dirumah selingkuhannya yang juga orang lubuak tarok. Teman ibu itu bercerita kepada ibu kalau bapak sekarang sudah menjadi toke karet. Mungkin selingkuhan bapak adalah orang berada. Berita teman keci ibu itu merembes keobrolan yang tidak penting tapi sangat berguna untukku, kelak.


Mentari cerah menyinari pagi senin dipertengahan september. Ujian semester ganjil telah berakhir sabtu kemarin. Siswa-siswa berkeliaran bebas tanpa aktivitas. Anggota-angota Osis sibuk mengatur dan menyusun acara untuk lomba akhir semester yang akan dilaksanakan besok pagi. Aku duduk termenung ditangga depan kelasku. Ketiga sahabatku sibuk mengerjakan remedi mereka didalam kantor. Aku memperhatikan orang-orang bermain bola volly dan basket dilapangan. Sejenak, aku kembali sibuk dengan pikiran-pikiranku sendiri.


Sudah seminggu ini aku tidak menghisap ganja. Ganja pemberian sandi sudah habis. Aku berencana untuk berhenti menjadi manusia dalam gelap. Tapi rencana hanyalah sebuah rencana disaat hatiku masih menginginkan untuk menghisap ganja. Seperti ada yang kurang dalam hidup ini. Entahlah, hidupku tidak terasa sempurna tanpa ganja.


Aldi datang dengan rasa kesalnya terhadap buk rahmi. Aldi berceloteh tentang remedi ekonomi yang tidak diterima buk rahmi. Aku hanya tertawa kecilmelihat kekesalan aldi. Aldi kembali fokus dengan buku dan pena. Mengulang semua remedinya dari awal. Blackberryku berbunyi petanda BBM masuk.


"Ayah sama ibu kamu berpisah?" Pesan mutia.


Sudah sebulan lebih aku dan mutia berpacaran. Namun mutia baru mengetahui kalau orang tuaku sudah bercerai. Mungkin mutia tahu dari puisi untuk ayah yang kubagikan di twitter. Puisi yang kuposting kemarin malam.


"Iya. Beberapa bulan yang lalu mereka bercerai" Balasku.

__ADS_1


Mutia tidak hadir disekolah selama ujian ini. Terakhir kali aku bertemu mutia adalah hari rabu kemarin sepulang ujian. Tapi besok pagi mutia akan kembali hadir disekolah. Ada tiga hari waktu untukku melihat mutia sepuas-puasnya sebelum dihari jumat sebagai hari perpisahan dengan semua Guru PL.


"Ohh Tuhan, malang sekali aku ini. Aku bahkan tidak akan tahu kalau kamu tidak memposting puisi itu ditwitter"


Twitter adalah rumah bagi semua keluh kesahku. Disaat galau, kecewa, dan merasa bosan. Aku selalu melampiaskan dengan kata-kata lewat status ditwitter. Sedangkan mutia juga memakai twitter jauh sebelum kami saling kenal. Dan keberanian mutia mengirim surat cinta muncul setelah melihat status-status galauku ditwitter.


"Sudahlah. Tidak usah dibahas lagi. Kamu sudah makan kah?" Balasku


Aku tidak tertarik untuk membahas percerain ibu dan bapak. Dikepalaku sekarang, berisi ide-ide liar agar bagaimana aku bisa menghisap ganja. Tapi buntu? Aku harus bersabar hingga nanti malam. Berkumpul kembali di RGM. Dan aku tidak bisa bersabar hingga nanti malam. Kepalaku terasa ingin meledak.


"Kantin tek rida yuk" Ajak aldi.


Aku mengangguk. Pilihan yang baik. Siapa tau dengan rokok sebatang dan kantin tek rida bisa merubah suasana hatiku yang tak menentu. Aku berjalan serambi mendengar ocehan aldi tentang buk rahmi. Aldi masih kesal dengan tugas remedinya yang harus diulang hanya karna tulisannya tidak rapi. Banyak coretan hitam pada kata yang salah didalam kertas UH aldi. Tapi aldi tidak peduli, ia tetap merasa kesal dengan buk rahmi.


Kantin tek rida lengang tanpa pengunjung. Tek rida tertawa melihat kami yang hanya berselang setengah jam kembali datang kekantinnya. Aku berjalan keruang belakang tanpa menghiraukan tek rida. Aldi memesan dua batang rokok dan segelas kuku bima.


Dibangku paling belakang. Aldi memperhatikan dengan tatapan yang lekat. Dia seperti menebak kenapa aku banyak diam hari ini. Kepalaku sibuk mempertanyakan bagaimana kabar dori? Apakah dia masih menjadi manusia dalam gelap? Aku tidak pernah bertemu dengannya setelah beberapa bulan yang lalu?


"Perpisahan guru PL hari juma'at ya? Tanya aldi.


Aldi mengangguk. "Gua kira lo, galau karna ngak ketemu mutia" Ujar aldi.


Aku menatap aldi congo. "Maksud nya?" Tanyaku tidak mengerti.


"Enggak, gua cuman ngetes. Siapa tahu lo galau karna buk mutia" Sahut aldi tertawa kecil " Dari tadi lu murung kenapa, apa yang loh pikirin?" Ungkap aldi.


Sialan, aldi bahkan merasakan kegelisahanku. Aku menyalin minuman aldi kedalam gelas kosong, meminta setengah dan meminumnya. Apa aku harus jujur kepada aldi? Mengatakan bahwa aku tidak galau karna mutia. Tapi galau karna ganja.


"Lu semalam bagadang lagi?" Tanya aldi.


Aku mengangguk. "Gua ingin pulang. Lu bisa kan sama nando?" Jawabku.


"Iya, Duluan aja. Gua bareng nando aja. Nandokan juga remedi"


"Absen gua gimana?"

__ADS_1


"Ngak bakalan ada guru yang mengambil absen hari ini. Pulanglah, tidak usah dipaksain" Suruh aldi


"Sebentar lagi, habiskan rokok dulu" Sahutku.


"Sekarang ajalah" Ajak aldi.


"Lu ngusir gua?" Tanyaku tertawa.


"Gua duluan ya, masih remedi" Pamit aldi.


Aku mengangguk. Aldi membayar hutangnya kepada tek rida. "Rokok lu sudah gua bayarin" Teriak aldi dan berlalu. Aku juga pulang beberapa menit kemudian.


Setelah simpang PGA, aku melaju sepeda motorku dengan kecepatan sedang. Ditepi jalan lintas sumatra, seseorang meneriakkan namaku dari seberang jalan. Sandro? Dia berdiri didepan rumahnya. Dia melambaikan tangannya untuk menyuruhku menemuinya diseberang jalan.


Sandro adalah teman dori dan ipan. Dia juga menjadi manusia dalam gelap. Aku mengenalnya dirumah dori. Sandro adalah sepupu satu suku dengan dori. Aku sudah lama tidak bertemu dengan sandro. Bahkan aku tidak mendengar kabarnya dikejadian tertangkapnya noval dan bento.


Laki-laki berkulit sawo itu tersenyum kearahku. Tubuhnya yang lebih tinggi dariku menunduk. "Bagaimana kabar tuan tamu?" Sandro menyapaku dengan kebiasaannya ketika aku datang kerumah dori.


"Sudah lama aku tidak bertemu kau tuan muda" Kataku menjabat tangannya. Aku memanggilnya 'tuan muda' bila sandro menyebutku 'tuan tamu'


"Aku lebih suka menjadi anak rumahan sekarang" Ungkapnya. "Hitam ternyata juga bisa menakutkan. Dan aku tidak ingin merubah teror itu menjadi mematikan. Lebih baik aku berhenti. Hidup normal juga mendamaikan" Sandro tertawa.


Aku juga tertawa "Itu lebih baik ndro" Kataku "Untuk apa berpikiran panjang. Jika tidak berani mengambil resiko" Balasku.


Sandro tertawa. "Aku lebih suka jadi pecundang dikan" ungkapnya.


Aku tertawa. "Jangan pikirkan itu. Doakan saja aku menyusul" Kataku.


"Kau belum berhenti dikan?" Tanya sandro. Dia tertawa kecil. "Kau sama saja dengan dori. Tidak ada takut-takutnya" Ungkap sandro.


Aku tertawa. Dori? "Bagaimana kabar beruang bodoh itu sekarang?" Tanyaku.


Sebuah motor berhenti didepanku. Lelaki itu tersenyum. Aku membalas tersenyum. Aku mengenalnya, tapi tidak tahu namanya.


"Dia sudah menjadi beruang yang pintar sekarang. Kau lihat sajalah dia dirumahnya. Dia berpikir bahwa kau juga sudah taubat. Dia merindukanmu" Kata sandro dan naik keatas motor. "Aku memancing dulu. Kau temuilah dori dirumahnya" Sandro berlalu dengan bunyi motornya yang menjauh.

__ADS_1


__ADS_2