Ruang Hitam

Ruang Hitam
Ingin putus


__ADS_3

Cinta juga bisa menjadi kepalsuan yang merusak harga diri.


****


Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Makhluk hidup yang diberi akal dan perasaan untuk menjalani kehidupan. Kehidupan? Seperti apa kita mengartikan sebuah kehidupan. Dan bagaimana pendapat kita tentang kehidupan?


Dunia terlalu ambigu untuk dipahami oleh manusia. Sebab itulah agama lahir sebagai pedoman hidup. Agama adalah sebuah kepercayaan. Keyakinan yang kuat bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan. Alam semesta, nyawa, roh, semua yang ada dimuka bumi ini adalah pemberian dari Tuhan. Ada tujuh agama didalam sejarah dengan nama Tuhan dan ajaran yang berbeda. Tapi semua agama membenarkan; Akan ada hari kiamat sebagai tanda berakhirnya kehidupan didunia. Hanya orang kafir atau Yahudi yang tidak percaya dengan adanya hari kiamat.


Dimalam selasa, aku keluar aku dari kamar setelah mandi. Aku menghampiri ibu untuk makan malam. Kali ini ibu memasak 'Jengkol tokok garam'. Masakan asli orang minang. Aku juga suka dengan jengkol. Apalagi dicampur dengan minyak dan garam. Aku makan dengan lahap sekali.


Setekah makan, ibu menceritakan tentang bapak yang ternyata akan kawin lagi. Itu berita yang terasa aneh, secara faktanya surat cerai saja belum keluar. Tapi bapak sudah berani mengatakan kepada ibu bahwa dia akan menikah lagi.


"Bapak kok ngak punya perasaan banget ya. Belum cerai saja dia sudah minta izin kawin. Sialan" Ucapku kesal.


"Bapakmu sudah dua tahun dengan wanita itu. Berarti dia juga mengkhianati ibu selama dua tahun" Jelas ibu. Matanya berkaca-kaca.


"Sudah dua tahun. Emang ****** ya itu orang" Aku merasa kesal.


"Jangan bicara begitu. Bagaimanapun dia bapakmu"

__ADS_1


Aku menelan ludah pahit. Aku merasa malu punya ayah seperti bapak. Apa yang sebenarnya ada dalam kepalanya hingga bapak tega meninggalkan ibu dengan menikah lagi.


"Bapak seperti kehilangan arah. Dia seakan lupa dengan tujuan manusia diberi kehidupan"


Aku mengamini perkataan ibu. Bapak orang yang keras kepala. Bapak selalu melawan ketika ibu mengingatkannya untuk sholat. Bapak telah melalaikan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga. Sebagaimana pantun berkata "Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya" Maka, jangan salahkan anaknya jika tidak sholat, kalau bapaknya saja tidak sholat. Orang tua adalah cerminan karakter sang anak.


"Wanitanya orang mana bu?" Tanyaku.


"Lubuak tarok" Jawab ibu berdiri mengambil gelas. "Ibu tidak pernah sadar selama dua tahun bapakmu membohongi ibu"


Aku merasa haru. Betapa menyakitkan rasanya dikhianati. Apalagi dengan cinta yang dipenuhi dengan ketulusan. Aku merasa sedih melihat ibu.


Aku diam tertegun. Mataku berkaca-kaca. Rasa sakit dan bangga memenuhi dadaku. Rasa sakit lahir dari bapak yang menyakiti ibu. Dan rasa bangga tercipta dari ibu yang memilih untuk memaafkan pengkhianatan yang dilakukam bapak. Untuk apa mendendam? Hanya menyiksa diri sendiri.


"Ibu percaya. Surga dan neraka itu ada. Kelak kita kan berakhir disana. Kehidupan hanyalah perihal menunggu ajal datang. Aneh memang, kita mati untuk hidup kembali. Tapi kita harus percaya. Akhirat itu nyata, itulah kehidupan yang abadi. Dunia ini hanyalah perjalanan sebelum mati. Dan lihatlah, betapa banyak manusia yang terlena. Seperti bapakmu. Seperti kamu"


"Aku akan berubah. Tidak sekarang. Tapi pasti" Bantahku cepat "Aku tidak akan seperti bapak" Ucapku penuh benci.


Ibu tersenyum serambi mengumpulkan piring kotor diatas meja. Aku membantunya dengan menutup tudung nasi.

__ADS_1


"Kamu tidak ingin seperti bapakmu, jadi sholatlah mulai sekarang. Agar kau tua nanti tak seperti bapakmu" Ucap ibu serambi berjalan membawa piring kotor kedapur.


"Nanti kikan bakalan sholat" Ucapku berjalan kedalam kamar.


"Ibu heran" Ucap ibu setelah kembali kemeja makan.


Aku berhenti didepan pintu kamar. Aku menoleh menunggu perkataan ibu selanjutnya. Apa yang diherankan ibu.


"Bagaimana bisa kamu pacaran dengan annisa yang begitu sholeha"


Aku mendesis. Ibu selalu memuji kebaikan annisa. Annisa anak yang pintar dan rajin sholat. Dan ibu terpedaya dengan semua pandangannya akan nisa. Aku berjalan kedalam kamar tanpa menjawab pertanyaan ibu.


Didalam kamar. Aku membakar rokok serambi mengingat kisah minggu malam yang terasa buram itu. Jujur saja, malam itu terasa syahdu dengan perasaan yang baru kurasakan. Tapi aku membenci semua keindahan dan kenikmatan itu. Entah mengapa, aku merasakan diriku sangat hina.


Aku bukanlah manusia yang sempurna. Aku juga mafhum bahwa kehidupan yang aku jalani tak luput dari dosa-dosa. Tapi bukan berarti aku tak mempunyai sisi baik dalam diriku. Jauh didasar hati. Aku juga ingin pulang dengan diri yang selamat.


Berhubungan badan dimasa pacaran adalah hal yang biasa kudengar dari sekitarku. Kadang, banyak wanita yang bisa diragukan kesuciannya. Peradaban yang modern kiranya menjadi pertukaran harga diri dengan kepalsuan cinta. Aku mulai percaya bahwa cinta itu membuat manusia menjadi buta. Seperti annisa yang dikenal sebagai wanita yang baik dan soleha. Tapi akhirnya terlena dalam kenikmatan cinta yang sebenarnya palsu.


Aku menelan ludah. Semua kepahitan itu terasa sangat menyakitkan. Aku juga terpedaya oleh rasa cinta. Apa yang dulu aku takutkan, kini telah menjadi kenyataan. Blackberryku sedang dichas berbunyi dari atas bopet. Annisa menelpon. Kebetulan sekali. Aku ingin putus.

__ADS_1


__ADS_2