Ruang Hitam

Ruang Hitam
Kamis, membawamu kembali.


__ADS_3

Cemburu adalah perbandingan dari sebuah perasaan. Penyeimbang antara kebahagian dan kesedihan, antara keindahan dan kepahitan.


****


Matahari bersinar terik tepat diatas kepala. Sinarnya terasa menyengat kedalam kulit saat aku dan aldi duduk dibawah pohon durian didepan kelasku. Lokalku mendapat pelajaran sosiologi yang nganggur. Anak-anak DrumBand terus berlatih dilapangan mengejar target agar bisa juara ditingkat provinsi. Aku menceritakan kepada aldi bahwa aku telah putus dengan annisa. Juga berita gempar bahwa annisa tidak lagi perawan.


"Mantannya, siapa?" Tanya aldi.


"Itulah yang aku gak tau. Dia ceritapun aku gak akan kenal orangnya. Tapi masa bodohlah tentang itu. Yang jelas sekarang gua udah putus dengan annisa" Sahutku serambi memperhatikan annisa yang tengah berlatih drumband dilapangan.


"Iya, itu lebih baik. Daripada meneruskan gelaa retak" Ujar aldi "Orang yang menikmati perawannya, lu yang disuruh tanggung jawab" Sambungnya.


Aku mengamini perkataan aldi. Dengan garis besar, kata-kata aldi juga mengarah kepadaku. Tapi aku tidak menceritakan kepada aldi perihal keperjakaanku yang direnggut oleh annisa yang tidak lagi perawan.


Musik DrumBand terus mengalun merdu dengan nada disetiap ketukan yang diiring dengan penari. Lokalku terdengar berisik dengan kekacaun yang entah apa. Obrolan aku dan aldi sudah beralih membahas pelajaran yang akan diremedi.


"Yang mana annisa itu aldi?" Tanya buk mutia yang tiba-tiba sudah berdiri dibelakang kami. Buk diana juga berdiri disamping buk mutia. Buk diana tersenyum kearahku. Sedangkan buk mutia menatapku dengan sudut matanya. Aku tersenyum melihat buk mutia menanyakan tentang annisa. Dia pasti sedang menyindirku.


"Itu buk yang megang alat pionika" Tunjuk aldi.


"Megang pionika banyak aldi" Sahut buk mutia.


"Itu buk yang pakai celana loreng-loreng" Tunjuk aldi lagi.


"Mana" Buk mutia fokus mengikuti arah telunjuk aldi. "Cantik annisa itu aldi?" Sambung buk mutia menanya.


"Lumayan" Jawab aldi.

__ADS_1


Aku tersenyum melihat tingkah buk mutia. Entah apa maksudnya siang ini. "Emang kenapa dengan annisa buk?" Tanyaku pura-pura tidak mengerti.


"Dikan, kamu sakitin adek ibuk. Ibuk kecewa sama dikan" Sahut buk diana yang ikut-ikutan memperolok-olokku siang itu.


Aku tertawa kecup mendengar perkataan buk diana. Aku sedang dipermainkan oleh dua guru muda ini. "Sakitin?" Kataku menggeleng dan tertawa kecil.


"Dikan bikin ibuk kecewa, cukup tau ibuk siapa dikan" Ujar buk mutia dengan wajah yang bercanda. Terlihat sekali dia berolok-olok wajahnya yang menahan senyum.


"Oh ibuk kecewa?" Sahutku dengan santai "Lantas bagaimana dengan Ade SPD?"


"Haah ade? ade mana kata dikan nih" Tanya buk mutia terkejut. Pipinya berubah merah. Mungkin tak menyangka dengan apa yang aku katakan.


"Iya pacar ibuk"


"Ibu ngak ada punya pacar" Elak buk mutia.


"Ibuk masih ngeles" Sahutku dengan sedikit tertawa. Buk mutia menatapku dengan ekpresi yang penasaran. Mungkin dia penasaran dari mana aku bisa tahu tentang kekasihnya. "Dikan lihat dengan mata kepala dikan sendiri. Ibu mengganti status bbm ibu dengan nama Ade Spd. Disitu tuh" Kataku menunjuk kedepan labor. Langkah kaki terdengar berlari dan berhenti didekat kami. Doris.


Aku tertawa. "Ibuk masih mau mengelak, apa salahnya ibuk jujur" Kataku tak percaya.


"Hp ibuk mati pula, kalau ngak ibuk kasih lihat ke dikan" Kata buk mutia dengan perlihatkan hpnya kearahku.


"Ngak perlu. Buat apa juga ibuk memperlihatkannya" Jawabku.


Buk mutia mengerucutkan bibirnya sekejap. Lalu bertanya kembali kepada aldi tentang yang mana annisa. "Mana annisa tuh aldi?"


"Tunggu" Kata doris "Ibuk cemburu dikan pacaran dengan annisa" Tanya doris ke buk mutia.

__ADS_1


"Enggak, buat apa ibuk cemburu" Jawab buk mutia dengan wajah masam. Aku tersenyum melihat ekpresinya. "Ketawa dikan ya" Kata buk mutia yang melihatku tersenyum.


"Yasudah, kalau ibuk ngak cemburu, untuk apa ibuk nanya-nanya annisa" Kata doris.


"Ibuk kan cuman pengen tahu" Sahut buk mutia.


"Ya untuk apa ibuk tahu yang mana annisa" Tanya doris menyudutkan buk mutia. Aku tersenyum. Buk mutia menatapku tanpa ekperesi.


"Mana cantik ibuk dibandingkan annisa itu aldi" Tanya buk mutia. Cantikan kamu buk, tapu kamu sedang memperolok-olokku bukan. Gumanku.


"Itu tuh buk annisa" Sahut aldi dengan menunjuk kearah kerumunan anak Drumband yang membuabarkan diri "Annisa berjalan nomor dua paling depan" Sambung aldi.


"Mana" Buk mutia terliha fokus dengan arah yang ditunjuk aldi "Ngak kelihatan sama ibuk" Jawab buk mutia.


"Annisa rusli anak sepuluh tiga itu loh. Masa ibuk ngak tahu"


"Iya ngak tahu. Ibu jarang masuk sepuluh tiga" Sahut buk mutia.


"Ibuk mau lihat annisa. Ayok dikan tunjukkin" Ajakku sambil berdiri.


"Ayok" Sahut buk mutia.


"Ayok di" Ajakku pada aldi.


Aku, aldi, buk mutia dan buk diana berjalan menghampiri annisa kedalam lokal sepuluh tiga. Belum sampai kami dikelas annisa. Didepan kantor, bel pulang sudah berbunyi. Buk mutia menyeret buk diana untuk masuk kekantor. Sedangkan aku dan aldi balik kelokal untuk mengambil tas. Aku bahagia meskipun buk mutia hanya memperolok-olokku siang itu.


"Dia sering nanya-nanya annisa wan" Tanya aldi.

__ADS_1


"Biarlah di" Sahutku "Aku tidak ingin lagi mengulang" Jawabku.


Aku dan aldi mengambil tas dan pulang. Aldi pulang dengan nando lebih dulu. Sedangkan aku menunggu annisa didepan kantin tek rida. Annisa berjalan menghampiriku. Tapi yang ada dipikiranku adalah buk mutia. Perasaan yang kupunya terhadap buk mutia masih utuh sejak pertama kali melihatnya dikantor senin itu. Juga lengkap dengan rasa sakit bahwa ia takkan bisa untuk kusentuh.


__ADS_2