
Rumah bukanlah tempat bagi perasaannya
****
Pernah tidak kau merasakan dirimu tersiksa dengan sebab yang sepenuhnya tidak kau mengerti? Atau tekanan batin yang terus memaksamu untuk berubah? Yang pada akhirnya kau tidak bisa menyimpulkan apa-apa dan berpikir sebaiknya hidup ini hanya dijalani saja seperti apa yang kau mau?
Harapan ibu hanya ingin melihatku lulus dari bangku SMA. Sebab harapan itulah ibu banting tulang untuk membiayai sekolahku. Ibu adalah pedagang grosiran dipasar. Usaha kecil yang ternyata cukup untuk menghidupi kami bertiga. Sedangkan bapak hanyalah tauladan yang memberi gambaran lelaki yang memikirkan dirinya sendiri dan tidak peduli dengan anak istrinya. Ah, aku tak ingin membahas tentang bagaimana bapak. Karna aku tidak ingin seperti bapak. Bapak lebih setuju dengan pendapatku yang tidak ingin lagi melanjutkan sekolah setelah tamat dari SMP. Tapi itu adalah bukti dari keegoisan bapak yang tidak memikirkan nasib anak-anaknya. Hal itu pulalah yang membuatku merasa benci melihat ibu yang keras hati untuk menyekolahkanku.
"Bu, dikan ngak usah nyambung ya ke SMA. Dikan udah bisa kok cari kerja. Kumpulin uang buat nanti buka usaha. Lagian, kalau dikan sekolah, dikan hanya bikin ibu kecewa" Ungkapku ketika seusai tamat dari bangku SMP
Dan awalnya ibu luluh dan membiarkan aku bekerja jauh kepulau jawa. Aku bekerja ditanah kelahiranku selama enam bulan. Namun kehidupan kelam dari gemerlapnya kota, membuat ibu khawatir dan memintaku untuk pulang lagi ke kampung. Ibu memintaku untuk kembali melanjutkan sekolah. Awalnya aku tidak setuju. Selain tidak niat sekolah, aku juga tidak mau merepotkan ibu dengan biaya SPP yang harus ia tanggung setiap bulan. Tapi ibu tidak ingin aku seperti bang syuja yang harus menggadaikan pendidikannya hanya karena keterbatasan ekonomi.
"Lihatlah abang kamu. Dia luntang-lantung dinegeri orang karena gak punya ijazah SMA. Sekarang cari kerja harus tamat SMA" Ujar ibu dua tahun lalu.
Aku memang terkenal dengan kenakalanku disekolah. Waktu kelas satu. Lokalku dijukuki lokal neraka oleh guru-guru. Itu terbukti dengan banyaknya murid kelasku yang seringkali masuk buku kasus. Ketangkap tidak upacara dan bolos bermingu-minggu tanpa keterangan. Aku salah satu dari sebagian siswa yang nakal dalam kelasku. Tapi itu hanya disemester satu. Di semester dua aku bisa berubah dan bisa naik kelas. Namun tidak dengan teman-temanku yang lain. Mereka tinggal kelas dengan banyaknya nilai merah yang tak mereka tuntaskan.
Dikelas dua ini, aku satu lokal dengan suhaimi. Suhaimi adalah teman sebangku yang selalu tidur disaat jam pelajaran. Aku dan suhaimi selalu hadir dibuku kasus dengan kenakalan yang sama. Namun suhaimi tidak mengikuti langkahku untuk berubah dan remedi. Suhaimi memilih pasrah untuk tidak naik kelas.
Disemester satu kemarin, raporku juga banyak yang merah dan kehadiranku juga banyak alfa tanpa keterangan. Ibu hanya marah dengan menasehati. Namun, kemarin malam ibu menangis setelah bertemu dengan buk de (Guru PKN) yang tinggal satu kampung denganku. Ibu menangis dan menuntut agar aku segera menuntaskan remediku. Dan aku akan membuktikan bahwa aku bisa berubah tanpa harus menjauhi teman-temanku.
"Dikan" Teriak seseorang gadis.
Aku tersenyum kepadanya. Gadis itu adalah vingky. Teman sekelasku. Dilapangan, siswa bersorak-sorai melihat pertandingan tarik tambang. Seminggu ini, sekolahku sedang mengadakan lomba akhir semester setelah ujian. Aku duduk dibawah pohon durian didepan labor. Aku memilih belajar untuk menuntaskan remediku ketimbang ikut tenggelam didalam perlombaan.
__ADS_1
"Dikan sudah tahu, kalau alpin dan riska balikan" Tanya vingky.
"Emang iya" Sahutku penasaran.
Alpin adalah mantan vingky. Sedangkan riska adalah mantanku. Alpin dan riska pernah berhubungan sebelum berpacaran dengan kami.
"Begitu kudengar dari indri" Jawab vingky yang duduk disebalahku.
Alpin adalah teman akrabku. Perkenalanku dengan alpin bermula di balap jalanan yang rusuh. Ketika itu aku dan geng (teman-teman yang satu kampung denganku) melihat pertunjukkan balapan liar dijalan tol yang selalu ada setiap malam minggu. Jalan tol yang biasanya dihiasi dengan balapan berganti dengan perdebatan yang membuat gaduh suasana.
Dua geng itu saling berselisih memperebutkan menang dan kalah. Ego dan gensi mereka membuat mereka tidak mau mengakui kekalahan. Hingga darah muda yang mengalir dalam diri mereka membuat balapan menjadi pertunjukkan tinju bebas yang menghibur.
Dua geng itu berasal dari nagari koto baru dan mundam sakti. Sebenarnya kami tidak ada kaitan dalam pertengkaran mereka. Namun anggota dari salah satu geng membuat kami ikut campur dalam perkelahian itu. Adalah pemuda nagari mundam yang tak sengaja menabrak bagian belakang motor bowo yang ditumpangi oleh adik dan aris, pemuda mundam itu lari begitu saja tanpa tanggung jawab. Dan kami ikut mengejar anak mundam yang lari bersembunyi kedalam kampungnya.
Setelah kejadian itulah aku mengenal alpin. Perkenalanku dengan alpin semakin dekat setelah kami dipertemukan disekolah yang sama. Aku sebagai murid baru, dan alpin sebagi murid pindahan. Aku dan alpin sering berangkat sekolah bersama.
Namun, sikap alpin berubah dan terlihat sengaja menjauh dariku setelah aku berpacaran dengan riska. Wanita yang dicampakkan alpin dengan alasan tidak lagi cinta. Alpin memintaku untuk mencomblangkannya dengan vingky.
"Terus riska gimana?" Tanyaku pada alpin suatu hari.
Namun alpin begitu angkuhnya menjawab bahwa ia tidak lagi cinta. Cintanya kini beralih kepada vingky yang kemudian menjadi pacarnya.
Aku pernah menanyakan ketika alpin tidak lagi pernah hadir dikantin tek rida dijam istirahat. Aku bilang bahwa aku siap untuk memutuskan riska kalau semisalnya itu yang membuatnya menjaga jarak dariku. Namun alpin berkilah kalau ia sudah berhenti merokok dan menyuruhku untuk lanjut dengan riska.
__ADS_1
"Ternyata kita cuman pelampiasan" Kata vingky miris.
Vingky benar. Aku seperti pelampiasan bagi riska. Kedekatanku dengan riska berawal dari mention-mention ditwitter. Aku sering meledekki riska dengan twit galaunya. Awalnya aku hanya sebagai teman curhat dari kegalauan riska yang ditinggalkan alpin. Namun, semakin hari kami semakin dekat. Kedekatan kami menjalar hingga kami saling menukar nomor telpon. Hingga suatu hari riska mengajakku ketemu untuk pertama kalinya.
"Ngak ada, pengen ngobrol secara lansung aja" mention riska ditwitter.
Dipertemuan pertama itulah aku dan riska jadian. Riska bilang dia merasa nyaman denganku. Aku bilang aku juga merasakan hal yang sama. Lalu kami berpacaran setelah ciuman dibibir yang kurasakan untuk pertama kalinya.
Setelah dua berpacaran. Hubungan kami berakhir hanya karena sebuah photo aku dan vingky yang begitu dekat. Waktu itu aku, vingky, dan dua teman laki-laki diusir dari kelas ekonomi karena tidak membuat tugas. Lalu kami memutuskan untuk pergi ke danau biru--lubang bekas tambang didaerah tanjung ampalu. Kami berphoto-photo hingga aku punya photo berdua dengan vingky. Dan riska cemburu dengan photo itu. Jelas saja itu cemburu buta, riska bahkan sudah tahu bahwa aku dan vingky sudah berteman semenjak smp. Namun, segala penjelasanku tak berhasil membuat emosi riska mereda. Dia selalu bilang aku berbohong. Dan aku merasa muak dan mendiamkan riska begitu saja. Awalnya riska meminta break. Tapi tiga hari kemudian dia memutuskanku lewat sms "Kita lebih baik putus saja"
"Kau kecewakan bukan mendengar mereka balikan?" Tanya vingky lirih.
Kecewa? Satu-satu yang aku kecewakan adalah keangkuhan alpin yang mengakui bahwa dia tidak lagi cinta kepada riska.
"Kau masih cinta kan dengan riska?"
Cinta? Sungguh aku tidak bisa menyimpulkan perasaanku kepada seseorang yang jelas-jelas sudah mengkhianatiku. Riska adalah bunga yang layu saat kutemukan. Kuhibur dan kurawat agar ia tak merasa kesepian. Namun saat ia mulai mekar dan kembali berbunga. Riska mengkhinatiku dengan kembali memberika kepercayaan kepada kumbang yang pernah membuatnya hampir mati.
"Kau patah hati kan?"
"Ngky, kita terlalu kecil untuk mengerti patah hati" Sahutku serambi berdiri.
"Kau mau kemana?"
__ADS_1
"Remedi" Jawabku dan meninggalkan vingky dibawah pohon durian.