Ruang Hitam

Ruang Hitam
Malam tahun baru


__ADS_3

Kemodernan zaman menjadikan tradisi adat yang seharusnya turun-temurun tidak lagi sampai dan diketahui oleh para generasi penerus.


****


Aku menganti pakainku setelah menelpon dori. Beberapa menit yang lalu bang pram menelponku untuk mencarikan ganja. Bang pram bilang semua bandar narkoba yang dikenalinya sudah pergi untuk liburan tahun baru. Aku kemudian teringat dengan dori yang kini telah menjadi bandar narkoba. Dan dori menjadi penyelamat didalam sulitnya memproduksi ganja diakhir tahun.


Matahari bersinar terang diufuk barat. Awan disekitarnya terlihat mulai memerah. Pukul empat sore lewat beberapa menit. Aku melaju motorku dijalanan dusun tuo. Bang pram dan teman yang lain sedang menunggu dirumah bang anes. Teman-temanku berkumpul untuk mengatur acara dalam pergantian tahun. Kami memang selalu merayakan malam pergantian tahun dengan kebersamaan. Setahun yang lalu, kami menyambut tahun baru dengan membakar ayam dan selimpul paket ganja.


Aku menyimpang kekikiri setelah tikungan depan SD. Rumah bang anes berada dibelakang sekolah tempat dulu aku bersekolah. Bang anes adalah kakak yang paling tua dalam RGM. Bang anes memang jarang berkumpul sebab tinggal dikampung istrinya. Kami selalu berkumpul dirumahnya ketika bang anes pulang. Bang anes tetaplah menjadi manusia dalam gelap meskipun sudah menikah. Sedangkan kebodohanku menanyakan apakah nanti aku bisa keluar entah tidak dari ruang hitam.


Motorku mulai melaju dijalan setapak menuju rumah bang anes. Aku melihat keramain dipondok kecil didepan rumah bang anes. Rumah bang anes menjadi tempat ternyaman dan aman untuk kami berkumpul dikala siang. Tidak akan ada orang yang resah dengan kami. Rumah bang anes berjarak dari pemukiman penduduk. Dan pondok kecil itu menjadi markas kami sebelum bang anes menikah. Banyak kenangan yang menjadi cerita bila aku kembali kerumah lakang.


Teman-temanku yang sedang bercengkrama langsung bersorak ketika melihatku. "Sang pahlawan" Itu sapaan yang meraka berikan ketika aku baru saja tiba. Aku hanya tertawa kecil menanggapi guraun abang-abangku itu. Itu hanya sebatas basa-basi sebab aku telah berhasil mencari jalan keluar dari kebuntuan. Semua teman RGM tampak hadir kecuali bang gates. Abangku yang satu itu mungkin sedang sibuk dengan rutinitasnya setiap sore; menjalankan anjing. Bang gates adalah orang yang hobi untuk berburu **** setiap hari minggu.


"Gimana sekolahmu dikan, Aman?" Tanya bang anes yang sedang memangku anaknya dibibir saung. Disebelah dan dibelakang bang anes ada bang eldom, bang febi, bang reno. Sedangkan bang pram berdiri dan bang deni duduk diatas motor.


"Aman bang" Jawabku tersenyum.


"Baguslah. Jangan contoh bang pram yang tidak mau bersekolah. Cukup dia saja yang menjadi orang bodoh " Ucap bang anes.


Kami tertawa. Bang febi ikut menimpali dengan candaan yang menyempurnakan tawa. Canda dan tawa seperti inilah yang kurindukan setelah sekian lama aku tidak berkumpul dengan mereka. Bang pram hanya tertawa kecil dan berjalan mendekat kearahku. Tangan kirinya tengah memegang uang. Sedangkan tangan kanannya sedang memegang lintingan yang sedang ia hisap. Bang pram meroling ganja kepadaku.


"Ini ada, ngapain mesti dicari lagi" Tanyaku heran.


"Itu sisa kemarin malam. Mana cukup malam tahun baru dengan tiga linting" Sahut bang pram.


Aku hanya tertawa. Aku menghisap lintinganku sangat dalam dan panjang. Seperti sudah biasa dimenjelang tahun baru. Kedai-kedai narkoba tutup. Katanya diakhir tahun situasi jalur hitam tidak kondusif dan banyak para pemburu yang sedang mencari tumbal. Setelah bang pram bercerita tentang sulitanya akses mendapatkan ganja diakhir tahun. Bang aneh mengalihkan cerita tentang acara berkaur dikampung istrinya seminggu yang lalu. Aku tidak tahu sama sekali apa itu berkaur adat. Namun dari penjelasan bang anes bisa kusimpulkan bahwa berkaur adalah makan bersama dengan lauk dan nasi yang diletakkan diatas daun pisang.  Bang anes bercerita tentang keseruan dan kemeriahan acara berkaur dikampung istrinya.


"Berkaur tuh apa bang?" Aku memutuskan untuk bertanya.


"Belum pernah dikan ikut acara berkaur?" Bang anes balik menanya.


Aku menggeleng. Aku belum pernah melihat orang makan bersama seperti yang diceritakan oleh bang anes. Bang anes meroling ganjanya kepada bang eldom yang duduk disebelahnya. Bang eldom juga memperlihatkan ganja yang sedang dipegangnya. Bang anes terpakasa beranjak dari duduknya agar bisa meroling ganja kepada bang denis yang tengah duduk diatas motor.


"Umur dikan berapa sekarang?" Tanya bang anes berdiri disebelah bang denis


"Dua puluh" Sahutku


"Berkaur itu biasanya dilakukan setelah panen padi. Kata orang sih sebagai persembahan rasa syukur kepada Tuhan. Dulu dikampung kita juga ada berkaur dipasa. Ya sudah lama juga sih. Pantesan ngak ketemu sama dikan" Ucap bang anes.


"Ehhh terus nasi sama lauknya dari mana. Dibawa dari rumah masing-masing?" Tanya bang febi.


Bang pram tertawa. Dia mencela bang febi dengan nada yang bercanda. Kami tertawa mendengar ocehan bang pram. Bang febi juga ikut tertawa melihat bang pram yang kesal.


"Lauknya daging kerbau. Sebenarnya acara berkaur ini bukan hanya sekedar makan bersama saja. Ada banyak ritual yang juga dilakukan. Tapi yang paling unik adalah kepala kerbau yang sudah dibantai tadi dimasukkan kedalam gua" Jelas bang anes


"Apa itu maknanya ya bang?" Tanya bang febi


"Kurang tahu juga abang bi. Mungkin itu sudah turun temurun dari nenek moyang dahulu" Jawab bang anes


"Tapi sekarang kok gak ada lagi orang berkaur?" Tanyaku


"Bagaimana mau ada. Sawah-sawah sudah sudah disulap habis menjadi tambang emas" Bang denis yang menjawab.


Beberapa orang dari kami tertawa. Apa yang baru dikatakan oleh bang deni benar. Sawah-sawah sekarang sudah banyak dijadikan tambang emas. Keuntungan tambang emas lebih menggiurkan ketimbang sawah yang menghasilkan padi. Cara atau alat yang digunakan untuk menambang emas berkembang sedemikian modernya dengan pesat. Ketika aku masih kelas empat SD penambangan emas hanya dilakukan pinggir sungai dengan menggunakan mesin dompeng---ataupun orang menyebutnya dengan tambang darat. Lalu seiring berjalannya waktu cara atau alat penambangan emas menjadi lebih efisien dengan hadir inovasi kapal dan bok pc. Bukan hanya sawah. Ladang karet juga dikelola menjadi area penambangan emas.

__ADS_1


Obrolan beralih menbahas masalah tambang emas yang belum juga diberi izin untuk beroperasi. Pemda melarang dan memberikan sangsi bagi siapa saja yang menambang emas. Bang eldom bercerita tentang beberpa orang dan alat berat yang ditangkap oleh polisi didaerah lubuk batu. Pemda menerapkan aturan untuk para penambang emas ilegal sebab ada kejadian runtuh tower listrik akibat tambang emas. Aku hanya diam dengan mendengar obrolan mereka dari atas motorku. Pandangan dan perasaanku mulai terasa berbeda setelah menghisap ganja. Bang pram dan bang reno sedang mengobrok intim berdua. Entah apa yang sedang mereka ceritakan hingga mereka acuh dengan obrolan tentang tambang emas.


"Bang pram" Panggilku dengan maksud meroling ganja.


"Sebenar lagi lah kita jalan ya" Ucap bang pram serambi mengambil lintinganku.


Aku mengangguk. Bang pram kembali bercerita dengan bang reno. Aku tidak terlalu paham apa yang mereka ceritakan. Sedangkan yang lain masih bercerita tentang penambang emas. Aturan pemda membuat masyarakat kehilangan mata pancariannya. Larang untuk menambang emas yang diatur dalam peraturan pemerintah membuat ekonomi masyarakat menjadi lumpuh.


Lima belas menit berlalu. Dengan serentak keempat orang pamit untuk pulang. Hari sudah kian petang menjadi alasan untuk membubarkan diri. Senja yang akan tenggelam tertutup oleh awan yang besar. Cahaya merah merekah terlihat diri balik awan. Aku dan bang pram juga lansung bergerak menuju nagari padang busuk.


Jalan lintas sumatra sangat ramai sore ini. Tahun baru masehi menjadi euforia tersendiri bagi sebagian kalangan masyarakat. Tak hanya remaja dan anak muda. Para orang tua juga ikut merayakan malam pergantian tahun baru dengan mengunjungi kota besar; Solok, bukitinggi, atau padang.


"Dari jambi" Ucap pram yang duduk dibelakangku.


Aku mengangguk. Dari plat nomor segerombolan pengandara yang baru kulewati itu tertulis BH sebagai identitas daerah. Aku melaju sepeda motorku dengan kecepatan tinggi. Dori sedang menanti dirumahnya. Simpang simancung juga ramai dengan kemacetan selintas. Aku menyalip diantara mobil puso dan sepeda motor. Polisi juga bersiaga didepan polsek kupitan. Beberapa dari mereka memantau jalan lintas yang lumayan ramai. Aku melaju sepeda motorku tanpa sedikitpun rasa takut.


Aku berbelok kekanan setelah sampai disimpang ICE. Sekumpulan para pemuda terluhat sedang berkumpul dipinggir jalan beton. Beberapa dari mereka meneriakki namaku. Nurfan, afdol dan zico. Pakain mereka terlihat rapi dan gagah sekali. Mereka seperti akan merayakan malam pergantian tahun dengan pergi kekota besar. Motorku terus melaju menyusuri jalan perumnas ladang kapeh. Aku melewati tanah membentuk gunung disisi kanan sebelum jembatan. Bekas pertambangan emas itu dulunya adalah sawah yang luas. Blackberry bergetar ketika aku telah melewati jembatan. Nama dori febrian tertulis dilayar ponsel. Dori adalah orang yang ingin kutemui sore ini.


"Iyaa?" Mulaku.


"Sudah sampai mana?" Tanyanya gelisah diseberang sana.


"Ini jalan mau masuk perumnas" Jawabku.


"Ohh yasudah. Agak ligat sikit" Sahut dori


Telepon mati sebelum aku menjawab. Dori pasti sudah merasa bosan menungguku. Aku memacu sepeda motorku cukup kencang. Debu berhamburan terbang dijalanan tanah  perumnas. Rumah dori terlihat lengang ketika aku datang. Pintu rumah tertutup seperti rumah dori sedang kosong. Aku menelpon dori untuk memberitahu sekaligus memastikan keberadaanku.


"Aku sudah didepan rumah" Ucapku setelah telepon diangkat.


Aku dan bang pram membuka pintu rumah yang tidak dikunci. Dori lansung terlihat dipintu kamar ketika aku baru saja masuk. Aku tersenyum melihat dori yang tidak pakai baju. Kulitnya yang coklat dan rambutnya seperti ciri khas dari indonesia timur.


"Angku kayak orang jauh saja" Dori menyindir dengan basa-basi.


Bang pram tertawa kecil. Dori menyapa bang pram. Dori dan bang pram sudah saling kenal. Aku dan bang pram melangkah mendekati dori.


"Ibu kawan mana?" Tanyaku.


"Kawan sudah jauh sekarang"


"Kirain tadi kawan tidak dirumah. Lancang namanya jika masuk rumah rumah orang saat ngak ada orangnya dirumah" Sahutku masuk kedalam kamar dori.


"Kawan sudah menjauh sekarang. Sudah pernah makan dan tidur dirumah ini. Masih saja rumah ini terasa asing bagi kawan" Ucap dori menggelengkan kepala.


Bang pram tertawa mendengar bercandaan dori. Aku hanya tertawa kecil mendengar ucapan dori. Kami duduk saling berhadapan diatas lantai. Ditengah-tengah kami ada asbak rokok. Ganja yang sengaja dimatikan tergeletak diatas asbak. Aku mengambil lintingan yang tersisa setengah.


"Santai sajalah dori. Jangan seperti bocah yang baru tahu apa arti dari melingkar" Sahutku serambi bersiap untuk membakar puntung ganja.


"Hahahaha sang pujangga cinta" Ucap dori.


Aku hanya tertawa. Dori menjuluki dengan pujangga cinta sebab status facebook yang puitis. Hampir disetiap status tentang cinta yang kutulis dikomentari oleh dori.


"Sembunyikan lah ini dulu dori. Sakit perut abang melihatnya" Ucap bang pram dengan meletakkan botol minuman plastik ketengah-tengah diantara kami.


Aku tertawa. Botol minuman itu lengkap dengan dua sedotan kecil terkulai diatas tutupnya. Botol minuman yang dirakit menjadi bong untuk menghisap shabu.

__ADS_1


"Ada bang. Sengaja ditinggalin" Ucapnya berdiri mendekati lemari yang ada dibelakangnya.


"Iya, ada dori?" Tanya bang pram terlihat semangat


"Aku minta tolong dikan cariin pasien dimuaro bodi bang. Tapi sampai sekarang tidak ada satupun pasien yang berhasil dia bawa" Cerita dori kepada bang pram. Dori mengeluarkan kaca dan setungkus plastik kecil yang terisi sabu dari lemari.


"Dori minta tolong sama anak sekolah iyalah" Sahut bang pram mengambil plastik yang baru saja diletakkan dori.


"Iya bang, Mungkin dia sudah ingin bertaubat kali ya bang" Ujar dori menyindirku. Dia meletakkan plastik sabu ditengah-tengah serambi mempersilahkan kepada kami


"Dori ngak tahu. Dikan sudah dapat hidayah"


"Hidayah?" Dori tertawa senang. Aku hanya menggeleng kepala mendengar obrolan mereka "Dimana pula dikan dapat hidayah tuh bang?" Sambung dori menanya.


"Dori tanyalah sama orangnya lansung" Ucap bang pram. Tangannya sedang sibuk memindahkan sabu kedalam kaca.


"Dimana kawan dapat hidayah kawan?" Tanya dori kepadaku.


"Jangan sampai bahagianya dori bikin orang jengkel. Cukup dori saja yang bahagia" Sahutku bergurau untuk menghentikan cemohan yang sedang berlansung.


Dori tertawa puas. Bang pram selesai dengan tugasnya dan memulai memanggang sabu. Bunyi air mendidih terdengar kencang ketika bang pram menghisap panjang. Seketika sap-asap tebal menutupi wajah bang pram. Bang pram meroling bong kepadaku setelah tiga kali menghisap. Aku merpling ganja kepada dori sebelum menerima pemberian bang pram. Aku menghisap sabu serambi mendengarkan obrolan bang pram dan dori.


"Ini baru barang enak. Dari mana dori ngambilnya" Tanya bang pram.


"Dari payakumbuh bang" Sahut dori.


"Awet barangnya. Gak sama kayak sabu di empat nagari, Boroosss" Jelas bang pram.


"Iya bang. Bisalah ya masuk satu tempat dimuaro bodi" Ucap dori.


"Aman, kalau ada orang jajan abang oper kedori" Jawab bang pram


Kepalaku terasa ringan setelah tiga kali menghisap sabu. Bius sabu sangat terasa kental mengalir didalam darahku. Mataku yang sebelumnya layu kini kembali membesar. Persendianku yang semulanya terasa lelah kini menjadi kuat dan semangat sekali. Aku meroling botol bong kepada dori. Dori menolaknya dan menyuruhku untuk memberikannya kepada bang pram.


"Kemana kawan tahun baru" Tanyaku pada dori serambi.


"Kepadang rencananya. Ikut kawan ngak?"


"Sama siapa kawan pergi?"


"Sama anak perumnas. Algazali sekarang bintang tamu diteebok" Jelas dori


"Wieeeh teebokkk main kawaan" Ucapku bergurau takjub.


"Iyalah. Tahun baru dikampung apa yang akan dilihat. Hanya kembang api dilangit" Ucap dori.


Aku tertawa mengamini perkataan dori. Suara azan magrib terdengar jauh. Bang pram meroling botol bongnya kepadaku. Aku kembali menghisap dengan nafas yang panjang. Seakan tidak ada kata puas untuk menghisap sabu. Dori berjalan keluar kamar. Dori kembali dengan membawa plastik hitam. Aku menggalkan kaca pirek dari bong. Sabu didalam kaca sudah habis.


"Sudah sampai kawan?" Tanya dori.


Aku mengangguk. Aku sudah sampai meskipun hanya dapat enam kali shoot. Sabu dori sangat awet dan enak sekali.


"Bang pram? Sudah sampai? Kalau enggak biar aku tambah" Ucap dori.


"Enggak-enggak, sudah cukup. Ntar kebanyakan malah rugi dori entar" Ucap bang pram.

__ADS_1


Dori tertawa. Aku juga tertawa. Dori dan bang bang pram saling menukar ganja dan uang. Kami membuat ganja satu linting sebelum pulang dari rumah dori. Kami beralih pindah dan duduk didepan rumah dori. Setelah setengah jam berlalu dengan mengobrol. Aku dan pram kembali kemuaro bodi. Teman-teman RGM sudah menanti kami dirumah bang anes.


__ADS_2