
Dengan cinta. Kau bawa aku terbang tinggi dan jauh melihat masa depan.
****
Cinta adalah emosi yang kadang membuat kita merasa jatuh dan bangkit. Tidak ada yang bisa tahu cinta itu akan berakhir dengan kebahagian atau menyedihkan. Aku tumbuh dan besar dengan rasa sakit. Pertikain yang berakhir dengan percerain menjadi gambaran bahwa cinta juga bisa berakhir menyedihkan. Oleh karena itu, aku tak pernah jauh dalam berharap akan cinta. Disaat cinta yang kujalani bisa datang dan pergi.
Sudah hampir masuk dua bulan hubunganku dengan mutia. Masalah-masalah yang hadir dengan perdebatan bisa terselesaikan dengan baik. Mutia menjelma bak bidadari yang menjadi bayangan dalam diriku sendiri. Hal sepele bisa menjadi masalah besar yang tak menemui ujung jika ego saling meninggi. Namun akhirnya memilih untuk memaafkan kesalahan demi keberlansungan hubungan.
Aku tak pernah percaya pada imajinasi-imajinasi yang lahir saat aku jatuh cinta. Menggantungkan harap pada manusia beresiko membunuh diri sendiri. Manusia tidak dapat dipercaya sepenuhnya. Seperti bapak yang mengkhianati keyakinannya sendiri. Atau seperti para koruptor yang termakan sumpah negaranya sendiri. Apalagi cinta dimasa muda yang tak pernah dapat dibuktikan kepastianya. Tapi tidak ada salahnya untuk hidup dengan harapan.
Aku selalu berharap keluargaku kelak tak seperti keluargaku kini. Aku akan menjadikan kesalahan bapak sebagai pelajaran untuk masa depan. Meskipun kini aku masih jauh dari kata baik. Namun aku akan berusaha untuk meninggalkan sisi gelapku setelah menikah. Sebab setelah menikahlah tanggung jawab sebagai lelaki sejati dimulai.
Dan mutia menjadi imajinasi dari mimpi dan cinta dimasa depan. Ia menjelma bidadari yang memberi nafas dalam setiap detik nafas. Mutia adalah belahan jiwa yang selama ini ingin kutemukan. Kehadirannya bagaikan sinar yang memberiku banyak harapan dan cinta. Dan dari obrolan malam inilah tercipta mimpi dimasa depan itu. Mutia merangkai kata-kata dengan angka dua adalah cara takdir untuk mempertemukan dan menyatukan kami.
"Kamu tuh benaran sayang gak sih sama aku?" Tanya mutia saat aku masih mencoba untuk membujuknya.
"Duhhh. Tiaa" Keluhku. Tidak seharusnya mutia mempersalahkan salahku yang telat memberinya kabar. Tadi, selepas pulang menemani ibu keundangan, ada tiga puluh panggilan tak terjawab dan pesan bbm yang tak terhitung dari mutia. Dan Blackberry ku sedang dichas dan tidak kubawa keundangan. Tapi mutia dengan berat hati menerima semua alasanku.
__ADS_1
"Dikan. Aku ngak marah " Ucap lembut dari seberang "Aku nanya serius"
"Apakah kamu berpikir seperti itu hanya karna aku telat mengabari?"
"Bukan. Iya tadi sempat tuh mikir kamu ngak sayang karna sengaja menghilang"
"Aku ngak menghilang tia. Hp ku dichas" Jelasku lagi.
"Iya. Iya. Aku tanya kamu sayang aku gak?"
"Aku serius dikan"
"Aku juga serius mutia"
"Kamu sayang aku?" Tanya mutia lagi
"Engggak" Sahutku dengan menahan tawa.
__ADS_1
"Bodoh" Kata mutia tertawa. Aku juga melepaskan tawa.
"Ehh kamu ingat gak kita tanggal jadian?" Tanya mutia.
"Tanggal dua"
"Umur kita juga beda dua tahun"
"Iya ya, jumlah huruf dinama kita juga beda dua huruf" Kataku takjub.
Kemarin lusa, mutia ikut mengoment status twitterku yang meretwet pertanyaan twit spekeer now.
"12" @dikkan @spekernow "Berapa huruf dinama panjangmu?"
"14" @mutiahrynti @dikkan "12" @spekernow "berapa huruf dinama panjangmu?"
Angka dua seperti angka spesial bagi hubungan kami. Aku mengamini ucapan mutia. Akupun ikut terbang dengan imajinasi yang dirangkai oleh mutia. Angka dua adalah angka spesial dalam hubungan kami. Mutia menetapkan tanggal 22-2-2022 sebagai hari pernikahan kami kelak. Meskipun itu berbentu hayalan dan angan. Tapi aku merasa bahagia dengan apa yang dipikirkan mutia.
__ADS_1