Ruang Hitam

Ruang Hitam
Malam minggu


__ADS_3

"Kita terlalu kecil untuk mengerti apa itu cinta. Kita terlalu dini untuk merasakan patah hati. Disaat cinta kita datang dan pergi"


****


Malam minggu adalah malam kebebasan bagi anak-anak sekolah. Tidak ada lagi tugas-tugas dan materi yang harus dipersiapkan untuk sekolah esok hari. Remaja-remaja yang biasanya terkungkung didalam rumah oleh rutinitas sebagai pelajar, kini bisa menikmati udara malam diluar rumah. Sebab sebagian orang tua ada yang tidak mengizinkan anaknya keluar rumah dihari-hari sekolah. Dan malam minggu adalah kebahagian untuk sejenak meliburkan diri dari jeratan tugas-tugas.


Jalan raya muaro sedang ramai dilewati oleh kendaraan ketika aku keluar dari hotel bukit gadang. Bukan. Aku bukan tamu yang menginap dihotel. Aku hanya menemui seseorang teman yang ternyata memilih taman hotel sebagai tempat untuk transaksi.


Muda-mudi ramai memenuhi sebagian jalan besar ditugu pancasila. Berimpitan dengan pedagang kaki lima yang berderet memenuhi sisi jalan. Beberapa orang berpakaian dinas membeli hadiah untuk dibawa pulang. Aku melaju motorku dengan kecepatan sedang. Menikmati angin senja dikota kabuhpaten.


Suara mesjid mulai mengisyaratkan bahwa waktu magrib akan segera tiba. Beberapa mobil plat merah menghiasi jalanan kota. Juga remaja yang masih berseragam sekolah menambah padat jalanan. Aku melewati sepasang remaja yang sengaja melaju motor mereka dengan pelan, seperti sengaja mengulur waktu. Beberapa polisi berseragam lengkap dengan pistol terlihat sedang bercengkarama dengan warga disisi jalan simpang pangeran. Dadaku selalu berdegup kencang ketika bertemu polisi. Terhimpit oleh rasa takut sebagai dampak buruk dari barang yang saat ini kubawa. Tapi ketakutan itu segera mereda setelah nasehat seseorang terngiang dikepalaku.


"Musuh kita bukalah polisi yang berseragam polisi. Tapi musuh kita adalah polisi yang tidak memakai segaram" Ujar pram suatu hari. Aku melampaui dua orang polisi yang sebenarnya tidak menghiraukanku sama sekali.


Setelah tanjakan, dijalan raya adinegoro. Aku melihat seorang wanita dengan wajah tertutup helm melaju motornya dengan pelan. Motor dan seragam sekolah yang dipakai pengendara itu seperti tak asing bagiku. Aku memutuskan untuk menepi menunggu pengendara itu lewat. Sekedar untuk mengobati rasa penasaranku. Dan ternyata dugaaanku benar, itu fiona, sahabatku. Fiona membuka helmnya setelah melihatku.


"Dikan, ban motor ku bocor" Kata fiona yang ikut menepi didepan motorku.


Aku menghampiri fiona "Emang kamu dari mana na?" tanyaku.


"Dari sekolah"


"Kok malam begini pulangnya?"


"Tadi ada tugas kelompok yang harus kukerjakan. Kamu sendiri dari mana?"


"Main tempat bg teiko"


"Main apa main nih" ledek fiona yang seakan sudah bisa menebak apa yang sudah kulakukan.


"Apa sih na" elakku


"Itu matamu, sayu begitu" ujar fiona dan tertawa.


"Terus ini gimana?" tanyaku mengalihkan topik.


"Tambal ban dekat sini ada ngak yah?"


Aku terdiam. Melihat-lihat kesemua arah.


"Ada ngak?" tanya fiona lagi.


"Dibawah kayaknya ada"


"Yah, putar balik lagi donk kebawah" keluh fiona dengan wajah iba.


"Daripada ke muaro bodi masih jauh mending kebawah deket"


"Yaudah ayuk"


Fiona bersekolah di SMA N 1 sijunjung, sekolah paling unggul dikabuhpaten. Hanya orang-orang yang memiliki otak encer dan aiq diatas rata-rata yang bisa bersekolah disana. Sedangkan fiona yang ketika SMP selalu juara umum, hanya dapat rangking 10 besar ketika di SMA, itu berarti tidak ada orang bodoh yang bersekolah disana. Kami sampai di tambal ban dekat simpang tugu muaro. Aku menghentikan motorku 5 meter didepan tambal ban.


"Yaudah sana" kataku kepada fiona yang masih sibuk menerawang tambal ban yang sedang ramai.

__ADS_1


"Kamu tunggu disini ya"


Aku mengangguk.


"Jangan pulang duluan loh" ujarnya serambi membelokkan motornya kearah tukang tambal ban.


"Iya, iya neng, takut amat ditinggalin"


Aku menurunkan standar motorku. motorku kini terparkir dibahu jalan. Aku mengeluarkan hp dari saku celanaku. Dari pemberitahuan BBM, aku melihat riska membagikan photo berdua dengan alfin. Aku tertawa pedih. Lucu sekali kenyataan ini.


Aku teringat vingky. Mungkin vingky benar,  kami berdua hanya pelampiasan didalam kisah cinta alpin dan riska. Dan terjawab jugalah dugaanku atas menjauh dan berubahnya sikap alpin kepadaku. Aku terus menatap layar ponsel yang memperlihatkan kemesraan riska dan alfin. Aku menghela napas kasar. Ada rasa ngilu didalam hatiku.


"Mereka balikan?" tanya fiona yang sudah ada dibelakangku. Sejak kapan ia disitu?


"Mungkin" jawabku.


"Kamu cemburu?"


Cemburu? Tidak, aku tidak cemburu. Rasa sakit didadaku hanyalah kenyataan yang menggariskan aku sebagai benalu dalam hubungan mereka. Waktu riska meminta putus denganku hanya karna cemburunya yang berlebihan itu, aku hanya menjawab terserah dan malah terlihat santai. Sama sekali aku tidak terlalu galau karna diputuskan riska. Lagipula, aku sudah menyerah untuk menyakinkan riska yang tak lagi percaya dengan semua penjelasan.


"Woiiiii" seru fiona dengan tangan kirinya melintas didepan wajahku. "Malah bengong"


Aku terkejut. Aku baru sadar bahwa ada fiona didepanku. Sialan, bius ganja telah berhasil membuat pikiranku melayang.


"Kamu cemburu?" ulang tanya fiona.


"Tidak"


"Hmp" Fiona tersenyum. "Jangan bohongin diri kamu sendiri"


"Masa??"


"Masak mie goreng mah bisa"


"Begook" Fiona tertawa.


Orang ketiga? Ngapain juga aku harus mendefinisikan diriku seperti itu. Toh sebelum riska dekat dan menjadi pacarku, dia telah lebih dulu putus dengan alfin. Tapi orang-orang akan menilai aku sebagai orang ketiga didalam hubungan alfin dan riska. Bukankah kebanyakan orang hanya menilai dari apa yang mereka lihat? Dan kenyataanya kini alpin dan riska balikan.


Orang-orang mungkin mengira aku adalah penyebab putusnya hubungan alpin dan riska. Lebih jauh lagi, pertemanan aku dan alfin yang renggang setelah alfin tahu aku berpacaran dengan riska. Aneh, dulu, alfin begitu percaya diri mencampakkan riska setelah berpacaran dengan dinda. Tapi setelah aku jadian dengan riska dan dia putus dengan dinda. Dia malah membuat cerita seolah aku ini adalah teman yang merebut riska darinya.


"Dikan, kita duduk disana yuk" Ajak fiona yang menunjuk kursi diseberang jalan.


"Motor kamu gimana?"


"Masih lama kyknya. Masih antri" Jawabnya dan menyebrang jalan.


Aku menyalakan motorku dan menyusul fiona kekursi yang dia maksud. Aku duduk dikursi. Fiona tak terlihat. Mungkin fiona singgah kewarung untuk membeli minum atau apalah yang akan dia beli.


Beberapa menit kemudian terlihat fiona berjalan kearahku. Tangan kananya menjinjing plastik hitam, sedangkan tangan kirinya mengenggam sebotol minuman. Royal sekali dia.


"Minum dulu, biar galaunya hilang" ujarnya yang kemudian duduk disebelahku.


"TerimaKasih" jawabku, lalu mengambil botol minuman untuk melepaskan rasa hausku.

__ADS_1


"Kamu dari mana bawa tas begitu?" Tanya fiona "Pasti cabut dari sekolah kamu ya" Tuduh fiona.


"Iya, tadi main futsal" elakku. Tadi aku tidak sekolah. Aku sengaja mengulang tidur setelah ibu berangkat kepasar. Aku memang malas kesekolah. Aku membohongi ibu dan fiona. Fiona adalah teman yang tahu ceritaku dalam manusia dalam gelap.


"Bg teiko emang bisa main futsal?" Tanya fiona ragu.


"Iya" Jawabku serambi menggapai snack, perutku jadi lapar mendengar ia mengunyah. Entah sudah beberapa ia makan dari tadi. Fiona memang selalu royal.


"Bisa pula dia main futsal emang" Tanya fiona setelah mengunyah. Fiona mengambil minuman. Fiona terlihat haus, setengah botol ia sisakan.


"Ikut porprov malahan bg teiko itu. Dia kiper futsal lansek manih"


"Wieh hebat juga ya berarti bang teiko itu ya" Ledek fiona serambi membuka snack. Bersiap kembali mengunyah cemilan.


Aku hanya tersenyum. Suasana hening sejenak. Sunyi dihiasi dengan bunyi kunyahan mulut kami yang menyemil.


Aku berhenti, perutku sudah terasa kenyang. Sedangkan fiona sibuk menikmati cemilan serambi memainkan androidnya. Aku membakar rokok kretekku. Mengeluarkan BB ku, mengirim pesan BBM kepada Dori Febrian. Dia pasti gelisah dengan kabarku.


"Saba santa lu dih kawan. Wak masih dimuaro" Kirimku kepada dori.


Jalan disimpang tugu terlihat ramai. Terlihat beberapa segerombolan pemuda melintas didepan kami dengan memacu kendaraannya dengan ugal-ugalan. Melaju pelan dengan sengaja memamerkan bunyi knalpot mereka yang bising. Membuat gaduh dijalanan. Bunyi klakson mobil bersahut-sahutan protes dengan ulah anak jalanan itu. Fiona masih sibuk dengan gadgetnya. Entah apa yang ia baca.


"Selamat malam, minggu dan hati kelabu" Ujar fiona. Itu status BBM baru saja kubikin.


"Selamat malam" Balasku tersenyum.


Fiona tertawa. "Jangan galaukan orang yang sudah bahagia" Sambungnya


"Aku ngak galau vi, aku cuman.."


"Cuman ngak terima mereka balikan?" potong fiona cepat.


Aku mendengus. Ada rasa kesal dalam hatiku. Aku sama sekali tidak galau ataupun cemburu mendengar alfin dan riska balikan. Aku hanya mengecewakan penilain orang-orang yang mungkin saja tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya.


"Bukan begitu" Jawabku. "Aku hanya merasa malu dengan pertemananku dengan alfin yang renggang hanya karna masalah wanita"


Fiona hanya diam serambi menikmati cemilannya,sekarang fiona tengah menjilati lelehan es krim. "Tapi bukan karna sayang dengan riska kan?" Tanya fiona jujur.


"Sumpah" Jawabku yakin. "Aku serasa ingin mengembalikan waktu" Keluhku


"Jangan begitu. Ikhlas dan jadikan pelajaran. Jangan terlalu dipikirkan. Sebab penyesalanmu juga tidak akan merubah keadaan. Lebih baik kau persiapkan diri untuk yang akan terjadi didepan daripada mengingat masa lalu yang hanya akan melemahkan hatimu"


"Iya tapi aku tetap saja merasa malu dengan orang-orang yang mungkin saja berkata sebaliknya dan menuduku sebagai penikung teman"


"Dikan, didunia ini ada manusia yang baik dan manusia yang jahat. Ada omongan orang itu yang boleh kita ambil dan dijadikan sebagai saran untuk pelajaran. Dan ada juga omongan orang yang tidak perlu kita dengarkan sebab apa yang dikatakan hanyalah kebohongan yang menguras waktu kita untuk berpikir"


Aku hanya diam dan meresapi apa yang dikatakan fiona.


"Jadi, jangan biarkan pikiranmu terpengaruh oleh kata-kata orang yang kejadian sebenarnya tidak seperti itu. Karna mau bagaimanapun, hidupmu hanya kamu sendiri yang lebih tahu"


Apa yang dikatakan fiona benar. Omongan orang lain yang boleh kita ambil sebagai pelajaran, dan ada juga omongan orang lain yang memang tidak harus didengarkan agar hidup tetap berjalan sebagaimana mestinya. Tapi, bukankah otak seseorang kadang buntu untuk masalah yang ditimpanya sendiri? Bukankah seseorang lebih pintar menesahati dan memberi teori tapi lupa untuk mempraktekkan saat masalah yang sama juga menimpanya?


Itulah yang membuatku nyaman dengan fiona. Dia selalu bisa menenangkanku dengan kata-kata yang mengajarkan untuk dewasa. Fiona mengagumkan sekali hanya untuk kujadikan sebatas teman. Tapi memang sepantasnya begitu. Dan akupun mengerti, bahwa dihidup ini ada seseorang yang hanya memang nyaman sebagai teman daripada sebagai kekasih.

__ADS_1


Malam itu, tidak ada lagi rasa sakit didalam hatiku, hanya rasa bahagia dengan menikmati es krim berdua dengan fiona.


__ADS_2