
Kesibukkan akan membuatmu lupa pada rasa sakit dan kekecewaan
****
Malam jatuh ditengah-tengah belantara sumatra. Bintang-bintang kecil menghiasi langit malam kamis. Aku melintasi jalanan kampung setelah membeli seporsi bakso pesanan ibu. Bang pram, bang reno, dan bang febi terlihat duduk dibangku seberang warnet.
"Hei calon profesor" Ujar bang pram.
Aku hanya tersenyum tanpa berhenti. Bang reno dan bang febi terdengar tertawa dengan ocehan bang pram. Mereka berkumpul disana untuk menanti teman-teman yang lain. Aku memang tidak lagi pernah berkumpul dengan mereka semenjak tiga minggu yang lalu. Kesibukkan sekolah dan anggapan buruk masyarakat menjadi alasan bagiku untuk mengasingkan diri dari mereka.
Aku membuka pintu yang tidak dikunci dan lansung memasukkan motor matickku kedalam rumah. Ibu terlihat tengah fokus menonton film drama turki yang sangat disukainya. Aku meletakkan pesanan ibu diatas meja makan dan berlari masuk kedalam kamar setelah aku mendengar Blackberryku berbunyi.
Mutia Heriyenti.
"Bayangin. Saking awet mudanya mama. Ibuk kalau jalan dengan mama dikira adek kakak sama orang. Ibuk berpikiran ibuk yang kelihatan tua atau mama yang awet muda"
Aku tersenyum membaca pesan buk mutia. Aku selalu tertawa seorang diri membalas pesan buk mutia. Mungkin benar ada benarnya kata orang. Seseorang yang sedang jatuh cinta akan bertingkah seperti orang yang kurang waras. Dan aku merasakan diriku memang kurang waras ketika aku senyum-senyum sendiri menerima pesan buk mutia.
Semakin hari aku semakin dekat dengan buk mutia. Hampir setiap malam aku berbincang di obrolan BBM. Dan setiap hari pula aku bertemu buk mutia disekolah. Harapan yang dulu pernah sempat padam kini kembali menyala dengan api cinta yang membara. Semenjak dua minggu yang lalu buk mutia mengomentari statusku, kami selalu berbalas pesan membahas banyak hal. Aku menjadi tahu tentang buk mutia yang memang suka bercerita. Keluarga, perkuliahan, teman kampus, sampai-sampai guru disekolah juga menjadi bahan obrolan. Buk mutia orang sangat terbuka dan menyenangkan. Namun kedekatanku dengan buk mutia tak lebih dari sekedar murid dan guru.
Aku mengeluarkan ganja dari bawah kasur. Aku meracik halus ganja yang tinggal tujuh atau enam linting lagi. Aku mulai melinting setelah daun-daun ganja sudah dirasa halus. Semenjak tragedi tertangkapnya noval dan larinya ipan, aku hanya menghisap ganja dengan mengurung diri didalam kamar. Terbenam dalam tugas-tugas ataupun tenggelam dalam halusinasiku sendiri. Aku merasakan ganka adalah penenang yang bisa menghilangkan beban dan penat dalam tubuhku. Namun kelak aku akan sadar bahwa itu semua hanyalah fantasi dari nafsu belaka.
Dulu, aku menghisap dua linting ganja dalam sehari. Disekolah aku juga menghisap ganja setiap jam istirahat. Bojek dan tullo menjadi yang menemani bila aku membawa ganja kesekolah. Namun, bojek sudah tidak lagi menghisap ganja semenjak trauma dengan kejadian yang menimpa sahabatnya noval. Dan aku juga tidak lagi pernah membawa ganja kesekolah. Sekarang aku hanya menghisap satu linting untuk porsi dalam sehari.
__ADS_1
BlackBerryku yang tergeletak diatas lantai berbunyi. Lampu hijau Berkedap-kedip petanda notifikasi bbm masuk. Aku menyelesaikan lintinganku. Lalu memberi mengoleskan madu agar tahan lama.
"Kamu hanya beli satu porsi kikan" Teriak ibuk dari meja makan.
"Iya, kikan sudah kenyang" Sahutku berteriak didalam kamar.
Aku mulai membakar lintinganku. Bau menyengat lansung tercium dihidungku. Aku menghisap lintinganku sedalam mungkin. Asap-asap indah mengepul keluar dari mulutku. Malam yang sempurna. Gumanku.
Mutia Heriyenti
"Kamu suka sama ibuk"
Aku tertawa melihat pesan buk mutia. Tiba-tiba saja buk mutia bertanya seperti itu. Aku merasa konyol dengan pertanyaan buk mutia. Dan entah apa yang ada dipikiran buk mutia hingga bertanya hal yang demikian kepadaku.
Dikan Alendra
Aku membalas pesan buk mutia dengan jujur. Lagi pula. Buk mutia sudah mengetahui identitasku yang menyukainya secara diam-diam. Entah dari mana buk mutia bisa mengetahui itu semua. Mungkin dari buk asmarni ataupun dari sahabat-sahabatku.
Aku memutar lagu rinto harahap yang dinyanyikan oleh regina. Aku jatuh cinta. Lagu yang yang mewakili perasaanku saat ini. Asap-asap indah menari mewarnai kebahagianku malam ini.
Mutia Heriyenti
"Suka dan sayang itu berbeda. Suka belum tentu sayang. Tapi kalau sayang sudah pasti suka"
__ADS_1
Aku tersenyum membaca pesan buk mutia. Siapa juga yang bilang rasa suka dan rasa sayang itu beda. Aku membalas pesan buk mutia dengan perasaan bahagia yang meluap-luap.
Suka belum tentu sayang. Tapi sayang sudah pasti suka. Memang benar. Tapi bagiku kalau rasa suka itu belum tentu kita memikirkan seseorang yang kita suka. Tapi kalau sayang sudah pasti kita memikirkannya. Dan buk mutia selalu menjadi pembahasan yang membahagiakan dikepalaku.
Mutia heriyenti
"Hehehe ibuk halu ya. Sorry, ibu kira dikan sayang sama ibuk. Oh iya, ibuk boleh cerita?"
Aku tertawa binggung membaca pesan buk mutia. Ini kode atau hanya aku yang terlalu pake perasaan. Tapi aku lebih setia dengan prinsipku. Aku tidak ingin mengacaukan semua kebahagian yang kurasakan dengan kembali berharap lebih pada kedekatanku dengan buk mutia. Aku berpikir mungkin buk mutia hanya bercanda. Lebih lagi, buk mutia memamg suka bercanda.
Dikan Alendra
"Silahkan. Mau cerita apa buk?"
Buk mutia mengirim pesan yang panjang untuk menceritakan mantan kekasihnya. Nama mantan kekasih buk mutia itu ade yang waktu itu kulihat distatus BBM buk mutia. Mantan kekasih buk mutia itu kuliah di UNP dengan jurusan olahraga. Buk mutia mengirim pesan yang sangat panjang seakan tangannya tidak lelah untuk mengetik.
Aku menghisap lintinganku sangat dalam. Terbesit pertanyaan dalam pikiranku. Untuk apa buk mutia menceritakan seseorang yang telah menjadi masa lalunya itu. Ataukah mungkin buk mutia masih berharap pada mantan kekasihnya? Aku memmbaca setiap pesan buk mutia dengan perasaan yang cemburu. Aku cemburu dengan kisah mereka yang begitu sangat indah.
Buk mutia berkenalan dengan mantan pacarnya itu disebuah rumah makan. Buk mutia kenal dekat dengan pemilik rumah makan sebab buk mutia selal makan disana. Dan pemilik rumah makanlah yang mengenalkan buk mutia dengan mantan kekasihnya. Buk mutia masih mengetik pesan yang menceritakan kedekatannya sebelum berpacaran dengan sang mantan kekasih.
Aku menelan ludah membaca pesan buk mutia. Ganja yang tadinya terasa nikmat kini terasa sangat pahit ketika kuhisap. Aku memutuskan untuk tidak lagi membuka pesan dari buk mutia. Persetan dengan cerita cinta masa lalunya itu. Buk mutia masih sedang mengetik dikontak masuk.
Aku menghisap lintinganku sangat dalam. Asap-asap yang keluar dari mulut seakan melepaskan resah dalam jiwaku. Aku mencampakkan Blackberryku yang mendarat mulus diatas kasur. Aku kembali menikmati lintingan yang hampir terpuntung.
__ADS_1
Aku tertawa ketus mengingat buk mutia. Semua kekecewaan dan rasa sakit yang malam ini kurasakan adalah salah diriku sendiri. Aku seakan larut dalam angan-angan tentang harapan akan buk mutia. Aku yang telah terbuai oleh euforia akan kehadiran buk mutia dalam hidupku. Dan seketika rasa sakit itu terasa mengiris hati dengan ketidakterjangkaun diriku untuk bisa memiliki buk mutia.
Aku berdiri dan memgambil tas sekolah dari atas bopet. Aku mengeluarkan buku catatan PKN dan buku cetak yang dibeli dari sekolah sebagai referensi. Aku memilih untuk mengerjakan tugas PKN yang sangat banyak dan panjang. Buk de memberikan tugas dengan menyuruh kami untuk menyimpulkan dan meringkas materi dalam buku cetak yang kemudian disalin kedalam buk catatan. Tugas yang sangat melelahkan. Tapi aku memilih untuk terbenam dengan buku dan pena agar aku bisa melupakan rasa sakit dan buk mutia. Bukankah kesibukkan bisa membuat kita lupa pada rasa sakit dan kekecewaan? Aku tenggelam dalam rutinitasku sebagai pelajar hingga aku tertidur dan melupakan kejadian malam ini.