Ruang Hitam

Ruang Hitam
Bukan lelaki yang sejati


__ADS_3

Laki-laki sejati adalah lelaki yang bisa mempertahankan keperjakaannya untuk calon istrinya nanti


****


Simpang muaro bodi cukup ramai diminggu malam. Aku duduk didepan qonita mart menanti annisa yang akan menemuiku. Setelah pulang dari padang sore tadi, annisa mengajakku untuk bertemu melepas rindunya. Aku membakar rokokku setelah membeli sebotol minuman di qonita mart.


Kami gagal menembus semifinal dan harus pulang lebih cepat. Kami kalah dari padang pariaman dengan skor 2-1. Padang pariaman terlalu tangguh untuk kami kalahkan. Sepanjang permainan, kami kesulitan menahan serangan padang pariaman. Mereka begitu disiplin dan sabar dalam menyerang. Satu gol balasan hanya tercipta melalui titik penalti. Setelah rezi dijatuhkan dikotak terlarang.


Ruko-ruko diseberang terlihat sangat ramai. Terlebih ramai lagi warung bakso cah solo. Pedagang kaki lima berhimpitan didepan kantor pos. Sedangkan tak jauh dari tempatku duduk. Orang-orang sibuk keluar masuk kedalam atm. Tak lama setelah itu annisa datang dengan motor maticnya.


"Kok bawa tas?" Tanyaku.


Annisa tersenyum dan menghampiriku.


"Annisa habis belajar?" Tanyaku lagi.


"Buat alesan biar boleh keluar rumah" Sahut annisa duduk berhadapan denganku.


Aku tertawa mengetahui annisa yang berbohong agar bisa bertemu denganku. Annisa pasti tidak diperbolehkan keluar malam oleh ibunya. Sebab itulah ia memilih alasan untuk belajar.


"Begitulah perjuangan" Nisa terlihat santai dengan matanya yang liar.


"Tapi besok disekolah juga bisa ketemu kan"


"Itu beda" Sahut nisa menatap mataku tajam "Nisa beli munum dulu" Pamitnya berjalan kedalam qonita.


Aku menatap nisa yang sibuk didalam qonita. Aku merasakan perasaan itu mulai tumbuh dengan perlahan. Annisa begitu tulus menyayangiku. Bahkan saat aku membuatnya kesal dan kecewa. Annisa tetap sabar dan memaafkanku. Annisa keluar dengan membawa sebotol sprit dan chitato.


"Yuk" Ajak nisa berdiri didepanku.


"Kemana" Tanyaku.


"Kok nanya kemana sih" Jawab annisa ketus.


"Ya kita mau kemana?" Tanyaku berdiri.


"Mejeng" Sahut annisa tersenyum.


Aku tertawa kecil. "Genit ya"


"Kangen" Annisa memasang wajah lebai.


Kamipun meninggalkan qonita mart dan mencari tempat untuk duduk berdua. Motor terus melaju dijalanan dalam kampung. Annisa bercerita tentang kemenangan sekolah dalam lomba DrumBand tingkat kabuhpaten dan akan berlomba dipadang januari nanti.


Aku menyimpang kekanan disimpang pasar muaro bodi. Lapangan bola kaki adalah tempat biasa anak-anak muda berpacaran. Akupun mengajak annisa kesana. Dilapangan ada sepasang remaja yang sedang berpacaran dipojok kiri. Aku memarkirkan motor dipojok kanan lapangan. Gelap mendominasi ketika aku mematikan motor nisa. Aku memutar badanku hingga aku duduk berhadapan dengan annisa diatas motor.


"Abang satu tim ya sama bang andika?" Tanya annisa.


"Iya, dia bilang apa sama nisa?" Sahutku balik menanya.


"Awalnya dia nanya kalau nisa tuh pacar abang. Setelah itu dia bilang kalau abang punya cewe selain nisa. Nisa iya-iya in aja. Tapi setelah itu dia baru ngaku kalau dia sekamar sama abang dipadang"


"Kamu kenal dika dimana?"


"Di BBM"

__ADS_1


"Udah lama kenalnya"


"Baru kemarin. Waktu dia bilang dia sekamar sama abang"


"Bo'ong" Ujarku bergurau.


"Enggak. Nisa ngak bohong"


"Gak percaya. Tapi dika bilang dia kenal nisa udah lama" Ucapku menggoda.


Dika memang pernah berkata seperti itu. Bahkan dika bilang dia juga mantan annisa. Tapi aku tahu dika hanya bercanda untuk memperolok-olokku. Dan aku juga bercanda tidak percaya dengan nisa.


"Enggak bo'oong kikan" Ucap nisa dengan tanganya mengerucutkan bibirku.


Aku mengambil tangan annisa dan melepaskannya dari mulutku. Aku menggengam tangan annisa. Kami bercerita dengan bermesraan menikmati malam tanpa bulan. Aku mulai berani mengatakan kalau aku menyayangi nisa. Perasaan itu mulai tumbuh dan mekar semenjak seminggu lalu.


"Abang berani sumpah" Annisa memastikan kalau aku menyayanginya.


"Apa sumpah bisa membuktikan kalau abang sayang dengan annisa" Sahutku menolak permintaanya.


"Ya setidaknya kan nisa bisa percaya karna abang yang bersumpah"


Aku tertawa. Itu hanya sumpah serapah. Ini bukan kali pertamanya aku berpacaran. Mengucap sumpah akan selalu bersama. Namun akhirnya janji hanyalah jalan untuk sebuah perpisahan.


"Abang sayang nisa?" Tanya annisa lagi


"Sayang. Sayang sekali" Aku menggoda nisa dengan bergurau.


Annisa tertawa. Kami saling menggemgam tangan. Annisa menarik tanganku dan melingkarkan dipinggannya. Belum sempat aku bertanya annisa sudah mengulum bibirku. Ciumman anisa terasa hangat hingga akupun membalas ciummannya.


Aku begitu merasakan kesempurnaan cinta. Annisa beralih menciumi tengkukku. Tangannya mengelus-ngelus dadaku. Aku menggeliat karna kesenangan. Udara malam dingin menjadi hangat dengan sentuhan annisa ditubuhku. Kami bergulat merayakan cinta diatas rumput tanah lapang.


****


Aku hidup didalam zaman dimana laki-laki dan perempuan menjadikan pacaran identik dengan hubungan intim. Meskipun tidak semua orang yang pacaran akan melakukan itu. Namun disekitarku adalah cerminan dimana wanita tertindas dengan mengorbankan keparawanannya sebagai pembuktian tanda sayang. Katanya itu adalah cara ampuh untuk membuat wanita tergila-gila. Dan aku baru saja merasakan apa itu cinta yang sebenarnya.


Ya, aku baru saja melakukannya dengan annisa. Anissa telah berhasil mendapatkan perjakaku. Aku pun tak menduga, aku tidak bisa menolak saat sentuhan nisa sangat terasa menyenangkan bagiku. Tapi kebahagian itu disertai dengan kepahitan. Perjakaku diambil oleh wanita yang tidak lagi perawan.


Sektika rasa nikmat itu lenyap saat annisa mengakui bahwa keperawanannya telah diambil oleh mantan pacarnya tiga tahun lalu. Nama pacarnya gio. Aku mengutuk kesal sepanjang jalan setelah menemani nisa yang takut pulang kekampungnya.


Pantas saja annisa bersikap sangat agresiff. Dia bahkan telah menyiapkan sebotol sprit dan insto agar tidak hamil. Aku baru mengetahui dari annisa kalau sprit dan obat sakit mata itu juga bisa digunakan untuk pengaman. Annisa seperti sudah berpengalaman. Dia seperti sudah berulang kali berhubungan intim. Dan aku entah korban yang keberapa.


Aku menyesali apa yang telah aku lakukan. Tapi apa gunanya penyesalan pada suatu kejadian yang sudah terjadi? Aku hanya bisa merutuk diri yang telah ingkar kepada prinsipku sendiri. Aku bukan lagi lelaki sejati.


Jika aku tidak percaya pada prinsip. Aku pasti sudah berhubungan badan sejak dulu. Aku punya prinsip bahwa laki-laki sejati adalah lelaki yang bisa menjaga perjakanya untuk calon istrinya. Oleh karena itu aku sebisa mungkin menahan diri dari gejolak syahwat dalam diriku sendiri. Aku bisa saja bercinta dengan uang seratus lima puluh jika aku tidak teguh pada prinsipku. Namun, annisa berhasil mendapatkan keperjakaanku.


Aku membuka pintu rumah yang belum dikunci. Ibu terlihat sedang berdiri menyiapkan sesuatu dimeja makan. Ibu menoleh kearahku dan kembali sibuk dengan kegiatannya.


"Ibu belum tidur?" Tanyaku dan mengunci pintu.


"Kamu mau bakso?" Tawar ibu.


Aku mengangguk dan menghampiri ibu. Ibu membagi dua seporsi bakso yang baru saja ia beli tak jauh dari rumah. Disimpat empat yang tak jauh dari rumahku, ada tukang bakso yang sering berjualan disana.


"Ada yang mau ibu ceritakan" Ucap ibu mendekatkan piring kedepanku.

__ADS_1


"Apa?" Sahutku duduk berhadapan dengan ibu.


Ibu memberikan sendok kepadaku. Wajah ibu begitu cerah. Apa yang akan dibicarakan ibu. Aku mulai memakon bakso.


"Ibuk akan menceraikan bapak?" Ucap ibu serambi mengambil minum.


Aku terdiam sejenak. Ibu ingin bercerai dengan bapak. Kenapa ibu bisa berkata seperti itu sekarang? Apakah karna aku selalu menyuruh ibu untuk bercerai.


"Bukan. Tapi kadang menyerah adalah keputusan yang tepat" Ucap ibu memakon baksonya.


"Ibu sudah membicarakannya dengan bapak?"


"Bapakmu pun setuju. Dan ibu akan mengurus surat percerain secepatnya"


Aku penasaran kenapa ibu tiba-tiba ingin menyerah dan bercerai dengan bapak. Bukankah kemarin ibu begitu kuatnya tidak ingin bercerai dengan bapak.


"Nanti kamu juga bakalan tahu. Buruan dimakan baksonya. Keburu dingin" Sahut ibu.


Aku semakin penasaran kenapa ibu becerai dengan bapak. Apakah dia sudah yakin dengan pilihannya. Ibu memakan baksonya dengan pelan. Tatapannya yang lurus menggambarkan kepedihan.


"Hati itu berubah-ubah. Seperti hati bapakmu yang tidak lagi diperuntukkan untuk ibu. Hal yang tak bisa ibu pahami, kenapa bisa bapakmu meninggalkan ibu setelah bertahun-tahun hidup bersama"


"Bapak selingkuh?" Tanyaku terkejut.


"Nanti kamu juga bakalan tahu. Sekarang tidak usah dipikirkan. Kamu fokus saja dengan sekolah kamu"


Aku tidak masalah bapak dan ibu bercerai. Akupun berfikir itulah yang terbaik untuk mereka. Aku tak ingin ibu terus terskiti oleh sikap bapak yang jarang menafkahi keluarganya. Namun, aku akan dendam dan benci pada bapak jidak dia menduakan ibu.


"Ibu akan senang jika kamu bisa lulus" Ucap ibu dan minum.


Aku hanya mengangguk. Aku menghabiskan bakso yang tersisa didalam mangkok. Persetan dengan bapak. Aku akan berusaha untuk membahagiakan ibu dengan kelulusan dan nilai yang bagus.


"Tumben kamu pulang cepat" Tanya ibu mengalihkan topik.


"Hahh" Sahutku kebingungan.


Aku hanya diam dan meneguk minuman dalam gelas. Segelas air masih terasa kurang. Aku menuangkan air cerek kedalam gelas kosong.


"Biasanya pagi baru pulang" Ucap ibu.


"Bukankah itu yang ibu harapkan" Tanyaku menggoda.


"Leher kamu kenapa merah-merah?"


Aku menutup leherku dengan tangan. Sial, ini pasti bekas kisdmark dari annisa tadi. Apakah leherku merah hingga ibu menanyakannya.


"Oh tadi ada serangga yang mengigit" Jawabku berbohong.


"Kamu ngak usah bohong sama ibu" Ibu tersenyum dan berdiri. "Ibu juga pernah muda" Ucapnya


Aku hanya diam tanpa mampu berkata. Ada rasa malu dalam diriku sendiri. Terlebih lagi annisa yang tidak lagi perawan. Aku merasakan sakit mengingat semua kenikmatan yang diberikan annisa. Tiba-tiba bunga yang akan mekar untuk annisa itu, mati dan terasa layu dengan seketika.


"Ibu hanya minta kamu jangan ngerusak anak gadis orang" Nasehat ibu dan berlalu kedalam kamarnya.


Bukan aku yang merusak anak gadis orang bu. Tapi anak gadis orang ith yang merusak anakmu bu.

__ADS_1


__ADS_2