
Gak berasa sudah episode ketiga puluh aja. Belum nyampe sebulan semenjak mendonload novel toon dipertengahan desember kemarin. Tapi gak tau juga ceritanya bagus atau enggaknya. Kalau menurut author sih bagus. Namun mana bisa kita memberi penilain kepada diri kita sendiri. Hei para pembaca. Jangan lupa kasih masukan dan vote biar author biar terus semangat. Dan selamat awal tahun, jadikanlah 2019 sebagai pelajaran, 2020 sebagai harapan. TerimaKasih telah mampir.
****
Aku sadar bahwa aku bukanlah siapa-siapa yang berhak untuk cemburu.
****
Setelah menghabiskan jam istirahat dengan duduk dan merokok dikantin tek rida. Aku duduk ditiga anak tangga didepan kelasku. Jam istirahat telah habis, tapi murid-murid masih berkeliaran didepan kelas mereka.
Dilapangan, beberapa junior laki-laki kelas sepuluh terlihat bermain-main dengan bola. Anak kelas sebelas ikut menghampiri mereka. Dapit kelas sebelas IPA meneriakki untuk bermain futsal dilapangan. Aku menolak dengan melambaikan tangan.
__ADS_1
"Kenapa guru belum juga masuk kedalam kelas?" Tanyaku kepada aldi,nando, dan jefri.
"Guru lagi brefing" Sahut aldi.
"Brifing apa pula"
"Anak Drumband kan mau lomba ditingkat provinsi"
Ripo terlihat berjalan dibawah menuju lapangan. Dia memanggilku dari bawah. Aku akhirnya memutuskan untuk bermain futsal. Melawan anak kelas sepuluh, aku dan ripo masuk kedalam kelas sebelah, bersama dapit, kiki, zico, dan gani. Pertandingan seperti biasa, dengan taruhan dua ribu perkepala. Kami akhirnya memenangkan taruhan.
Setelah usai main futsal, aku berjalan kekantin pak apin dengan ditemani ripo. Kantin pak apin terlihat ramai. Ada buk mutia disana. Dan itulah alasanku untuk membeli minum dikantin pak apin dan menolak ajakan dapit yang mengajakku kekantin tek rida. Aku melihat buk mutia dikantin pak apin ketika sedang main futsal tadi.
__ADS_1
Namun sikap buk mutia sangat dingin siang ini. Tak seperti biasanya kalau bertemu. Dia selalu menyapaku dengan tersenyum. Tapi kali ini, buk mutia tidak pernah menoleh sedikitpun kearahku.
Pak fadlan yang duduk disamping buk mutia sibuk memperdebatkan sesuatu. Habis junior satu tahun dibawahku duduk sebagai wasit didepan buk mutia. Buk mutia tertawa kesal menolak pendapat pak fadlan dan habib. Aku dan ripo duduk didepan pintu terpisah tiga langkah dari mereka.
Aku cemburu sekali melihat buk mutia begitu akrab dengan pak fadlan dan habib. Buk mutia tertawa lepas, untuk pertama kalinya aku merasakan sakit mendengar ia tertawa. Debar-debar yang kemarin hadir saat mendengar tawanya berganti rasa nyeri di ulu hati.
Aku merasa cemburu? Namun aku sadar bahwa aku bukanlah siapa-siapa yang berhak untuk cemburu.
Pak fadlan menyapa aku dan ripo. Buk mutiapun tidak menoleh kearahku meskipun pak fadlan telah menyebutkan namaku. Buk mutia seperti sengaja untuk tidak menatapku. Aku menyimpan perasaan aneh dengan sikap buk mutia siang ini. Aku akhirnya memutuskan keluar dari kantin pak apin setelah berbincang-bincang dengan pak fadlan kenapa tentang kami yang tidak diizinkan kepala sekolah untuk mengikuti poprov di dhamasraya.
Dimalam harinya, aku dan buk mutia berbincang setelah ia mengomentari status bbm-ku. Kami berbalas pesan cukup panjang sampai akhirnya kami saling mengucapkan selamat tidur dan berjumpa disekolah.
__ADS_1