
Sudah episode yang kedua puluh tujuh. Tapi belum ada satupun yang vote dan berikan komentarnya. Jangan sungkan untuk beri masukannya agar saya bisa mengoreksi ceritanya. Terimakasih telah membaca sejauh ini. Jangan lupa vote ya biar authornya tambah semangat😬✌️
****
Disaat aku tidak ingin lagi berharap lebih. Harapan itu datang dengan sendirinya. Mengirim semangat yang mengundang cinta untuk kembali mencoba memperjuangkan apa yang menjelma keinginan.
****
Memang benar kata pujangga, atau lirik lagu yang mengatakan cinta tidak selalu memiliki. Dan aku merasakan itulah yang sedang kurasakan saat ini.
Dan ini yang kedua kali, aku mengalah pada pesisme dari diriku sendiri. Aku memilih egois. Dan membiarkan hatiku patah sebelum aku mencoba. Sedangkan buk asmarni bilang 'kamu tidak akan tahu kalau kamu tidak pernah mencoba'. Memang benar apa yang disarankan buk asmarni. Tapi bagiku mengalah lebih baik dari pada mencoba. Seperti fiona, yang aku minder dengan anggap bahwa kecantikan fiona takkan pantas bila disandingkan dengan rupaku.
Lalu aku memilih untuk memendam. Membiarkan perasaan mengalir begitu saja. Cinta juga tidak bisa dipaksakan, bukan? Memendam dan menyatakan sama saja mengalirkan perasaanku kedalam luka. Hanya saja, aku memilih memendam agar aku bisa tetap dekat dengan fiona. Meskipun dibalik kebahagian fiona tentang pacarnya, atau tebtang cowok yang mendekatinya. Adaa kesepian yang gugur dari dalam diriku. Layu menjadi kesedihan yang mengajarkan kebesaran hati.Pasrah akan keadaan dan kekuasaan cinta.
Itu pula yang kurasakan kepada buk mutia. Disaat aku terluka sebab ia sudah mempunyai kekasih. Aku masih mengaguminya dari kejauhan. Namun, aku sadar akan keterbatasan diriku. Aku tidak akan menuntut dan berharap seperti apa yang ada didalam angan-anganku.
****
Dijam pelajaran ketiga. Kelasku bersorak-sorai menyambut pelajaran olahraga. Doris dan aldi mengganti seragam olahraga didalam kelas tanpa peduli. Perempuan yang masih berada didalam kelas menjerit jijik dan melangkah keluar kelas. Aku juga mengganti bajuku diikuti oleh nando dan ijep.
Setelah memakai seragam olahraga. Kami berjalan kekantor dengan riang. Didalam kantor buk ida sedang berbincang dengan buk febi, buk ida, dan buk de. Aku dan aldi berjalan masuk kedalam kantor lewat pintu sebelah kiri. Kantor guru memiliki dua pintu masuk dibagian depan. Satu lagi disebelah kanan dekat barisan lokal sepuluh.
"Asalamulaikum" Salamku. "Ada pak hendra ferry buk" Aku pura-pura menanya. Pagi ini pak hendra ferry tidak hadir sebab ada keperluan dimuaro. Pak ferry sendiri yang bilang minggu depan. Pak ferry adalah pelatih atletik lansek manih di porprov tahun ini. Ada lima siswa sekolahku yang menjadi anak didik pak ferry diajang porprov yang akan diselenggarakan dipayakumbuh. Dan tiga diantaranya bisa tampil mengharumkan nama sijunjung sampai tingkat nasional.
"Pak hendra ferry. Olahraga kalian?" Tanya buk ida pada kami.
"Iya buk. Kami boleh minjam bola buk?" Aldi bersuara.
"Minta sama buk febi. Buk febi guru piket" Jawab buk ida.
Aku berjalan masuk kedalam kantor. Buk febi lansung berdiri dari duduknya "Giliran pelajaran olahraga saja guru dicariin kalau ngak masuk" Ujar buk febi serambi berjalan mengarahkan kami kegudang yang berada dibelakang pintu sebelah kanan. Buk mutia dan buk diana duduk bersebelahan dipojok dinding. Aku menyapa buk mutia dengan tersenyum. Buk mutia membalas tersenyum. Ada kebahagian yang dititipkan semesta melalui senyum buk mutia. Langkah kaki terdengar berlari kearah kantor.
"Kenapa ibuk senyum-senyum sendiri" Tawa aldi menepuk pundakku. Lesung pipi dari senyum buk mutia hilang berganti cemberut melihat aldi. Bahkan saat cemberut saja buk mutia tetap terlihat menarik. Buk diana tertawa kecil melihat tingkah aldi.
"Nih satu lagi ah" Ujar buk ida setelah melihat doris dan nofri dengan nafas yang tersengal-sengal. "Jam olahraga ditukar sama pelajaran MTK" Sambung buk ida bercanda.
Doris dan nofri hanya tertawa dengan menyanjung-nyanjung buk ida. Doris dan nofri adalah anak kesayangan buk ida didalam kelas. Doris dan nofri adalah anak yang pintar dalam pelajaran matematika. Mereka sering menjadi pesaingku dalam kuis siapa yang lebih dulu menyelesaikan soal yang diberikan buk ida.
"Aldi. Aldi masih ada remedi sama ibuk" Ujar buk de guru PKN.
"Iya buk" Sahut aldi diam.
"Semester lima, UH satu, UH dua. Kapan mau dituntasin"
"Iya buk, segera" Jawab aldi.
Buk de berceloteh tentang aldi. Buk ida mengamini kata-kata bik de. Sedangkan buk mutia dan buk diana tertawa melihat aldi. Buk febi mempersilahkan kami masuk kedalam gudang untuk mengambil bola. Aku membawa bola kaku dan aldi membawa bola basket.
"Dikan nih pintar sebenarnya. Tapi dia menyia-nyiakan kepintarannya" Kata buk ida setelah aku keluar dari gudang.
"Iya, sayang sekali kepintarannya" Buk febi ikut menimpali.
Aku hanya tersenyum kecup. Lalu berlari kebawah menuju kelapangan. Belum sampai dilapangan, didepan kelas sepuluh empat yang dapat pelajaran nganggur. Bojek dan teman-temannya mengajak kami untuk bertanding antar lokal.
"Ada, lawan?" Tanya bojek kepadaku.
Aku tertawa remeh "Bukan kau tandingan aku" Berjalan kelapangan
"Takut" Ujar bojek "Sparing kita di?" Tanya bojek ke aldi
"Terserah" Sahut aldi "Gimana wan?" Tanya aldi kepadaku.
"Mereka tidak akan melawan" Sahutku terus berjalan kelapangan.
"Kau takut" Teriak bojek meremehkan
Aku terus berjalan tanpa menghiraukan bojek.
"Dikan. Terima saja tawaran mereka. Biar lebih seru permainannya" Kata doris menyarankan.
Aku mengangguk tanda setuju. Bojek dan teman-temannya berlari riang kedalam lapangan. Pertandingan dimulai dengan enam lawan enam.
"Seribu perkepala" Ujar pongah
__ADS_1
"Dua ribu lah" Sahutku.
"Oke, siapa takut"
Aku menendang bola keatas langit petanda pertandingan dimulai. Nando dan ijep yang kurang bisa bermain bola menjadi gelak tawa dalam permainan. Tullo mencetak gol kedua ketika pertandingan baru saja berjalan sepuluh menit. Satu gol lagi mereka akan keluar sebagai pemenang.
"Dua kosong" Kata tullo bangga.
Belum sampai semenit tullo berbangga. Dengan tendengan keras dari daerah pertahanan. Tambakanku berhasil membuat andra takut untuk menghentikannya. Skor berubah 2-1. Pertandingan berlansung sengit. Aldi sebagai kiper mati-matian menahan serangan mereka yang memang anak ekscull futsal. Aldi mengoper bolanya kepadaku setelah berhasil menepis tembakan tullo. Dengan skil ala neymar aku melewati beberapa pemain lawan. Lalu mengopernya kedoris setelah didepan gawang. Skor berubah menjadi imbang. Doris berselebrasi layaknya pemain profesional dengan tangannya yang dibentang seperti sayap pesawat terbang.
Buk mutia dan buk diana berjalan dari kantor. Buk diana tertawa kecil melihat selebrasi doris.
"Kemana ibuk?" tanyaku pada buk mutia.
"Tempat pak apin. Ikut dikan ngak" Sahut buk mutia.
"Mau. Tapi bayarin yah" Kataku bergurau.
Buk mutia mengangguk dan tersenyum. Aku juga membalasnya dengan senyum. Lalu kembali kedalam permainan. Buk mutia dan buk diana berjalan kedalam kantin pak apin. Pertandingan akhirnya dimenangkan oleh bojek dan teman-temannya. Aku dan aldi berjalan kekantin pak apin. Nando, ijep, nofri, dan doris ditahan oleh bojek dan tullo. Mereka meminta uang taruhan mereka sebagai pemenang.
Dikantin pak apin hanya ada buk mutia, buk diana dan bik surti. Buk mutia tersenyum bahkan ketika aku belum menginjakkan kaki dikantin pak apin.
"Kenapa ibuk senyum-senyum sendiri dari tadi" Kata aldi dan duduk didepan buk mutia.
Aku tertawa melihat ekpresi buk mutia menatap aldi. Buk mutia imut sekali ketika ia mengerucutkan bibirnya.
"Frenta rasa lemon satu bik" Pesanku
"Mungkin. Buk mutia lagi bahagia di" Ujar buk diana dan tertawa.
"Bahagia kenapa ibuk?" Tanya aldi sarambi membuka bajunya. Keringat mengalir "Sampai-sampai senyum sendiri"
"Serba salah ibuk sama aldi nih. Senyum salah, marah-marah juga salah" Sahut buk mutia.
"Iya kenapa ibuk senyum-senyum terus dari tadi" Tanya aldi lagi memperolok-olok buk mutia "Jadian ibuk sama pak fadlan?" Sambung aldi.
"Bang aldi. Bayarlah bang" Ujar adan menagih uang taruhan.
Aldi dengan mengeluh mengambil uang didalam sakunya.
Adan lansung pergi dari kantin pak apin setekah menerima uang yang diberikan aldi.
"Woi, dikan ngak diminta?" Teriak doris kepada adan.
Adan hanya menoleh dan terus berjalan tanpa menghiraukan perkataan doris. Takkan ada yang berani meminta kepadaku. Bahkan saat doris sudah mengingatkan bahwa aku belum membayar uang taruhan atas kekalahanku, adan pun tidak berani meminta.
"Takut dia minta sama dikan kali" Kata nofri.
"Hah buk" Ujar aldi lagi "Kenapa ibuk bahagia" Sambung aldi memperolok buk mutia.
"Apalah aldi nih" Sahut buk mutia menggeleng.
"Ceritalah, bahagia kenapa ibuk" Desak aldi "Abis ketemuan ibuk sama pacar ibuk?"
"Aneh aldi nih e" Sahut buk mutia menggeleng heran.
"Sama siapa wan? Buk mutia jadian?" Tanyaku dan duduk disebelah aldi, didepan buk mutia. "Pak fadlan" Kataku memestikan.
"Iya, buk mutia kan lagi deket sama pak fadlan" Kata aldi "Bik, bikini frenta cola satu bik" Pesan aldi pada bik surti.
"Aldi nih tukang gosip ehh" Keluh buk mutia "Dari mana aldi dapat gosip murahan seperti itu" Tanya buk mutia.
Aldi tertawa "Pak fadlan sendiri yang bilang kalau dia suka sama ibuk" Kata aldi dan berjalan kedalam rumah pak apin.
"Tukang gosip aldi nih" Ujar buk mutia terlihat serius.
Aldi tertawa puas. "Ketawa lagi" Kata buk mutia dengan bibirnya yang manyun. Mungkin kesal dengan gosip yang dibawakan aldi. "Bilangin tuh sama teman dikan jangan jadi tukang gosip" Ujar buk mutia dengan wajah kesal. Tapi malah membuatku tersenyum.
"Tapi kalau ibuk pacar Ade Spd itu bukan gosip kan?" Tanyaku tersenyum.
Buk mutia mendengus. Kelihatannya dia tambah kesal dengan pertanyaanku. "Bercanda, buk" Kataku.
"Dari mana pula dikan tahu ibuk pacar ade?" Kata buk mutia.
__ADS_1
"Dari status ibuk" Sahutku "Emang iya kan?" Tanyaku lagi memastikan.
Buk mutia menghembuskan napas kasar. "Iya ibuk pernah pacaran dengan yang namannya ade. Tapi udah putus tiga bulan yang lalu" Kata buk mutia.
"Masak iya" Tanyaku seolah tidak percaya "Terus kenapa status ibuk masih nama dia?"
"Status ibuk yang mana" Sahut buk mutia "Teguh aja baru semalam berteman dengan ibuk di BBM"
"Dikan lihat sebulan yang lalu didepan labor buk" Jelasku "Ibuk lagi main hp terus dikan ngak sengaja lihat status ibuk dengan nama Ade Spd" Sambungku.
"Tanyalah doris sama nofri yang sudah lama berteman dengan ibuk di BBM"
"Doris, emang ada status ibuk nama cowok?" Tanya buk mutia ke doris.
Doris menatap kearahku "Iya ada, siapa namanya ya lupa" Sahut doris bercanda.
"Doris nih sama aja tukang bo'oongnya" Ujar buk mutia
Doris tertawa "Emang iya ada. Jangan bohong deh ibuk" Kata doris bercanda. "Siapa ya namanya lupa" Sambung doris pura-pura bingung.
"Iya ada tuh" Nofri ikut-ikutan "Aleksander tobik kalau ngak salah nama pacar buk mutia" Sambung nofri.
Seisi kantin tertawa. Buk diana bertanya apakah doris dan nofri satu kampung. Aku kembali mengarahkan pandangan kebuk mutia. Buk mutia menatapku tajam. Matanya yang hitam seperti akan menenggelamkanku.
"Besoklah ibuk ceritain" Kata buk mutia "Oh iya, jadi karna itu teguh ngejauh dari ibuk?" Tanya buk mutia berbisik.
"Enggak ah" Sanggahku cepat. "Kapan pula dikan jauhhin ibuk. Emang dikan siapanya ibuk" Sahutku.
Buk mutia mengangguk-anggukan kepala dan tersenyum. Entah apa maksud dari senyumnya. Aku merasakan canggung menatap senyumnya yang seperti sedang menertawakan tubuhku yang kaku. Aku berdiri dan berpindah kedekat pintu. Menyimak pembicaraan buk diana yang sedang berdebat dengan doris perihal ekonomi makro dan mikro.
Buk mutia masih tersenyum saat aku sengaja melengahkan pandangan kepadannya. Senyumnya semakin membuatku gerogi. Buk mutia peka aku menjauhinya karna dia sudah memiliki kekasih. Bel meraung nyarin satu kali, satu jam pelajaran lagi sebelum keluar main. Kami bubar untuk mengganti baju olahraga dengan seragam putih abu-abu. Buk mutia dan buk diana terlihat berdiri untuk kembali kekantor guru.
"Buk mutia yang bayar bik" Ujar doris "Iyakan, buk?" tanya doris memastikan.
Buk mutia menangguk. Doris tertawa senang dan berlari keluar kantin.
"Nofri juga ya buk" Kata nofri juga minta dibayarin.
Buk mutia mengangguk lagi. Nofri berlari menyusul doris
"Masa cuman mereka buk" Kata aldi juga memelas
"Iya iya ibuk bayar. Berapa semua bik?" Sahut buk mutia.
"Dihhh baik ya ibuk" Ucap aldi senang "Semakin murah hendaknya rezeki ibuk"
"Begitulah kalau ada maunya" Sahut buk mutia.
Aldi, ijep, dan nando berjalan meninggalkan kantin setelah mengucap terimakasih.
"Berapa bik?" Tanya pada bik surti.
"Dikan, biar ibuk yang bayar" Kata buk mutia.
Aku hanya diam dan menatap buk mutia.
"Udah. biar ibuk aja" Kata buk mutia.
"Beneran, buk?"
Buk mutia mengangguk dengan senyuman. "TerimaKasih buk" Jawabku dan melangkah keluar.
"Cieee dikan malu nih" Ujar buk diana menertewakanku.
Aku hanya tersenyum tanpa menoleh kearah buk diana. Baru selangkah aku meninggalkan kantin pak apin. Buk mutia memanggilku.
"Dimuaro bodi ada nggak pelaminan?" Tanya buk mutia.
"Ada, Emang kenapa buk?"
" Ada ya" Buk mutia tersenyum "Berarti ngak susah-susah besok kalau kita nikah" Kata buk mutia.
Aku tertawa mendengar gombalan buk mutia. Berani sekali buk mutia bercanda dengan gombalan maut seperti itu.
__ADS_1
"Pandai ibik ya" Ujarku.
Buk mutia tersenyum. Aku tersenyum-senyum sendiri berjalan kedalam kelas. Aku yang tidak ingin berharap lebih itu, dihampiri oleh harapan yang membuatku ingin kembali mencoba.