Ruang Hitam

Ruang Hitam
Malam pengharapan


__ADS_3

Cinta hanyalah basa-basi sebelum akhirnya menjadi basi. Orang asing saling mengenal dan jatuh cinta namun berakhir dengan tidak menyapa.


****


Malam ini aku kembali berkumpul dengan manusia-manusia dalam gelap. Ibu pasti akan memarahiku jika ia melihat aku masih berkumpul dengan teman-temanku. Tapi, aku ingin membuktikan kepada ibu bahwa aku bisa berubah tanpa harus menjauhi teman-temanku. Bukankah perubahan itu dimulai dari diri sendiri?


"Anjing gates ni mah" pancing bang pram dengan raut wajah yang gelisah.


Kami tertawa mendengar celoteh bang pram. Sudah pukul 8:39 malam. Sudah hampir satu jam lebih kami menanti bang gates mandi. Rasa kesal mulai tak terbendung diantara jiwa kami.


"Heran deh sama laki-laki tapi mandinya lebih lama dari perempuan" Ungkap bang pram.


"Ah, lu kayak gak tau gates aja, pram" Jawab bang deni.


Kami tak heran lagi dengan kebiasaan bang gates. Bang gates memang selalu lama kalau mandi. Bahkan bang gates bisa dua jam dikamar mandi. Itulah kebiasaan bang gates yang selalu kami kesalkan. Seperti saat ini misalnya, bang gates seperti tidak punya rasa tenggang. Padahal bang gates sudah tau kami menunggu. Tapi ia seakan sengaja membiarkan kami menunggu. Kebiasaan buruk bang gates itu terasa terasa aneh bagi kami. Namun, keanehan itu hanya bisa untuk kami mengerti.


Suasana depan warnet tek lik semakin ramai. Kendaraan yang parkir didepan kedai tek lik memakan bahu jalan yang membuat kemacetan terjadi selintas. Kedai Gorengan da jangguik diseberang warnet juga terlihat laris manis.


Lawakan bang pram tentang gates membuat emosi kami terlepas dalam tawa, melebur dalam kebahagian jiwa-jiwa kami yang sakau.


Tak lama setelah lawakan bang pram. Bang gates datang dengan memboncengi momon. Bang gates terlihat ganteng dengan kaus putih polos bertuliskan rusti didadanya. Juga rambut yang klimis disisir kesamping.


"Yok, vino bastian sudah datang. Syuting dimulai" Sindir bang pram


Kami tertawa terbahak-bahak. Bang pram adalah tipikal orang yang suka berbicara. Maka dengan itu bang pram sering melahirkan jenaka dengan cerita-cerita konyolnya. Sedangkan bang gates ikut tertawa. Sadar akan kekecewaan kami. Bang gates seperti biasanya hanya meminta maaf dengan alasan yang hanya bisa dimaklumi tanpa perlu dipahami. Bagaimanapun itu hanya alasan. Dan kami sudah terbiasa dengan kebiasaan buruk bang gates.


Bang gates memberikan uang sepuluh ribu kepada bang pram. Sebagai sumbangan untuk membeli ganja. Satu paket ganja dihargai lima puluh ribu. Kami selalu menyumbang untuk membeli ganja. Atau kami menyebutnya dengan CK (Cari kawan).


"Kemana jajan pram" Tanya bang deni.


"Kemana lagi, kalau bukan ke palangki" Sahut bang pran pram.


"Yuk. Gua temenin" Ujar bang deni


"Gak usah. Gua sendiri aja" Bang pram buru-buru menolak. Takut sandiwaranya akan terbongkar. Sandiwara? Yah, pergi ke palangki hanyalah alibi bang pram untuk membohongi kami. Bang pram sebenarnya juga memiliki beberapa paket ganja untuk dijual. Dan hanya aku yang tahu tentang sandiwara yang sedang dilakukan oleh bang pram.


Bang pram adalah mantan narapidana. Ia pernah dipenjara selama tiga tahun. Aku mengenal bang pram setahun lalu setelah ia bebas dari penjara. Sebelum bang pram masuk penjara, aku hanya sekedar kenal dan tidak begitu dekat.


Sehari setelah bebas, bang pram mencari teman-teman lama sebelum bang pram masuk penjara. Teman-teman lama yang dicari bang pram itu adalah bang gates, bang febi, dan bang james. Mereka memang sudah lama berteman, sedangkan aku baru adalah anak baru dalam kelompok mereka. Ketika itu aku sedang duduk melingkar dengan teman-teman lama bang pram. Bang febi, bang gates, bang eldom kompromi untuk membohongi bang pram dengan mengatakan bahwa mereka sedang sibuk dan sedang ditempat yang berbeda-beda. Mereka terpaksa berbohong sebab takut akan menjadi korban bang pram yang baru saja keluar dari penjara. Namun tak lama setelah itu bang pram berhasil menemukan kami. Bang pram menangis melihat teman-temannya yang dengan tega membohonginya. Bang pram bilang pikiran mereka terlalu singkat.


Semenjak itulah aku kenal bang pram. Aku semakin dekat dengan bang pram ketika ipan dan dodi meminta tolong kepadaku untuk mencarikan tempat membeli ganja dengan skala besar. Dan bang pram yang menjadi penghubung aku dengan bang teiko (Bandar besar). Bang pram mengenal bg teiko ketika sama-sama didalam penjara.


Dari bang pram aku mulai ikut penjualan narkoba. Bisnis ilegal ini sudah berjalan setahun kurang. Keuntungan yang kudapat dari sekali transaksi adalah satu juta. Aku melakukan dua transaksi didua lapak yang berbeda; Satu dengan ipan dinagari padang sibusuk, sedangkan satu lagi dengan bang dedek yang tinggal dinagari tanjung ampalu. Uang dari penjualan ganja itu kupakai untuk melengkapi keperluan harianku. Lumayan daripada meminta kepada ibu.


Sedangkan bang pram mendapat segaris ganja dari bg teiko. Ganja itu diterima bang pram sebagai upah karna telah membantu bg teiko untuk mencari pembeli. Dan sebagian upah itulah yang dijual oleh pram untuk dijadikan uang.


Pernah aku menanyakan kenapa bang pram tidak memilih untuk jujur saja kalau ia juga seorang penjual ganja. Tapi bang pram bilang ia tidak ingin banyak orang yang tahu dengan identitasnya.


"Nanti kalau banyak orang tahu, banyak pula orang yang hanya sekedar meminta. Nanti kalau semua orang meminta, mana lagi yang akan menjadi uang?" Ujar bang pram suatu hari


"Tapi ngak harus kesemua orang juga bg, keteman-teman kita apa salahnya buat jujur"


"Dikan. Teman ya teman. Bisnis ya bisnis"


Bang pram merasa aman dengan semua sandiwara yang ia lakukan. Lebih jauh lagi. Bang pram menyimpan dendam yang sulit untuk dia lupakan. Bang pram masih mengingat kejadian teman-teman lama yang membohonginya ketika kejadian dieler. Bang gates dan bang eldom kembali membohongi bang pram ketika setelah kejadian dieler. Waktu itu pram menanyakan keberadaan mereka untuk bisa berkumpul. Tapi bang eldom dan bang gates membohongi pram dengan alasan yang berbeda-beda. Padahal meraka mengatur siasat agar pram tidak tahu bahwa mereka sedang sejalan. Bang gates dan bang eldom hanya meninggalkan uang 50 ribu kepada bang pram sebagai permintaan maaf karna tidak bisa berkumpul. Dan bang pram merasa harga dirinya hanya di ukur dengan uang. Padahal bang pram hanya ingin berkumpul dengan mereka dan tidak perlu uang. Kejadian-kejadian itu menjadi alasan pram untuk membohongi teman-temannya.


"Sebelum masuk penjara, abang pernah memberi mereka ganja dengan cuma-cuma. Itu semua abang lakukan demi loyalitas dalam pertemanan. Tapi saat abang keluar dari penjara, abang menyesal telah berkorban seperti itu untuk mereka. Dan itu menjadi pelajaran bagi abang untuk tidak akan mengulangi kesalahan yang sama" Penjelasan bang pram suatu hari.


Malam semakin meriah dengan ingar bingar yang tak terkendali. Kami masih duduk menanti kedatangan bang pram. Hanpone ku berdering sebab panggilan masuk. Dendi. Aku menjauh dan mengangkat telpon dari dendi.

__ADS_1


"Iya" Mula ku


"Dimana?" Tanya dari diseberang sana.


"Diwarnet. Ada apa?"


"Bisa tolongin cimeng ngak?"


"Berapa?"


"Limpul"


"Lu lagi dimana?" Tanyaku


"Didepan rumah"


"Yaudah nanti gua kabarin" Tutupku.


Aku lansung segera menelpon bang pram. Menyuruhnya untuk membawakan satu paket lagi untuk dendi. Bang pram mengiyakan permintaanku itu. Lalu aku kembali kedalam deretan para pria sakau yang sedang menunggu kedatangan bang pram.


Teman-temanku sibuk membicarakan omongan miring orang-orang tentang kami. Aku tak heran dengan penilain orang yang mengatakan kami tidak punya masa depan. Orang-orang pasti akan memandang negatif siapa saja yang terjerat dalam narkoba.


"Sebenarnya itu adalah rahasia umum. Tapi mereka menjadikan itu sebagai obrolan harian mereka" Ujar bang eldom


"Mau bagaimana lagi" Sahut bang gates "Dikampung kita ini, yang suka bergunjing bukan emak-emak, Tapi bapak-bapak" Sambungnya


Kami tertawa terpingkal-pingkal mendengan ocehan bang gates. Tak lama kemudian bang pram datang. Bang pram berbisik kepadaku bahwa pesananku ada didalam saku motorku. Lalu teman-temanku mulai beralih tempat. Menuju rumah gadang tempat biasa kami duduk menghabiskan malam.


"Ayo dikan, lu ngak ikut?" Tanya bang denis yang melihatku masih duduk.


"Duluan aja bg, nanti gua nyusul" Jawabku.


Aku mengangguk. Kemudian mereka pergi dengan meninggalkanku sendiri dikursi seberang warung tek lik. Aku segera menelpon dendi dan menyuruhnya untuk menemuiku. Beberapa menit kemudian dendi datang bersama iit.


"Sama siapa lu duduk?" Tanyaku


"Berempat sama alpin dan endo?"


Hah alpin. Aku tak ingin berkomentar panjang. Aku lansung menukar paket dengan uang yang diberikan oleh dendi. Tidak ada gunanya aku membahas alpin lagi. Semua sudah jelas. Alpin membohongiku bahwa dia tidak lagi merokok. Namun yang lebih sakit lagi dalam hatiku adalah alpin mulai menjauhhiku hanya karna masalah dengan riska.


"Lu lagi ngak baikan ya sama alpin" Tanya dendi.


"Alpin nya aja yang ngejauh"


"Goblok. Gara-gara cewek pertemanan jadi rusak" Ujar dendi.


Aku tak menyahuti perkataan dendi. Aku tidak merasa dengan perkataan dendi. Lagi pula, dendi tidak tau kejadian yang sebenarnya. Lalu aku memacu motorku untuk membeli tuak. Kemudian menyusul teman-temanku ditempat biasa kami nongkrong.


Sesampainya dirumah gadang. Aku membuka tuak yang tadi kubeli dan menuangkannya kedalam gelas plastik. Teman-temanku sibuk mengobrol membahas tentang wanita dan cinta. Memang, musuh manusia didunia adalah harta, tahta dan wanita. Diantara kami bertujuh di RGM. Bang eldom, bang febi, dan bang reno telah menikah namun bercerai. Bang eldom dan bang febi memiliki satu orang anak. Kalau bang reno mempunyai dua anak yang tinggal bersama istrinya dipalembang. Sedangkan bang pram, bang deni, bang gates, dan aku masih bujangan.


"Kucing dikasih ikan asin mana mungkin menolak" Ujar bang deni


"Itulah. Munafik sekali kalau menolak" Sahut bang pram.


"Bukan begitu. Tapi bagaimana dengan anakku" Jelas bang eldom


"Ya, kalau lu masih mikirin anak, sebaiknya lu balik aja ke bini lama lu" Kata bang pram.


Mereka terus berbincang-bincang seputar cinta. Aku teringat dengan riska. Wanita yang dulu menawarkan cinta dan berjanji akan bertahan sekencang apapun ombak kehidupan memisahkan. Namun, kini aku merasa benci mengingat semua tentang riska. Terlebih lagi, rasa benci itu semakin membara melihat pertemanan aku dan alpin yang rusak hanya karna riska. Aku meneguk segelas tuak. Menghilangkan masalah yang menjadi beban didalam pikiranku. Bukankah minuman bisa menghilangkan tekanan dari masalah yang tengah kita hadapi?

__ADS_1


Sewaktu masih kelas tiga smp. Aku mengenal cinta yang bukan hanya sekedar cinta monyet. Cinta itu semakin tumbuh dan mekar meskipun aku sadar dengan kelemahan; bahwa aku takkan bisa memiliki cinta itu. Cinta ini mengandung makna tentang keikhlasan.


"Ini nomor fiona loh kak, kak dila ngak simpen?" Begitu isi pesan fiona empat tahun yang lalu.


Namanya Fiona Lantika. Awal dari perkenalan dan kedekatanku dengan fiona dimulai dari pesan yang sebenarnya bukan untukku. Jauh sebelum sms itu kuterima. Aku sudah tahu keberadaan fiona semenjak dia dimasa mos. Waktu itu aku terkesima melihat fiona yang tertawa dengan teman-temannya sebagai siswa baru.


"Ehhh zam, lihat gadis yang tertawa itu. Cantik kan?" tanyaku pada izam.


Izam tertawa sinis "kenapa?" tanyanya heran.


Dan aku mulai ingat sekitar sebulan lalu. Tentang ketakjuban izam akan kecantikan fiona yang pernah kami ledeki itu. izam mengaku dia pacar fiona. Dan kami membulli izam bahwa pacarnya juga hitam seperti dia. Kami memastikan bahwa kami tidak akan jatuh hati. Dan kami tahu izamn sedang berbohong. Hanya untuk gensinya, agar ia tidak ditertawakan karna belum pernah punya pacar. Kami tahu izam sedang mengada-ngadakan sosok, mengarang cerita. Supaya ia tidak selalu kami tertawakan dan disudutkan.


"Ndehh, karna ngak ada pulsa aja ini" Keluh izam pada kami bertiga yang karna belum juga percaya. Dan Hp-ku lah yang menelpon fiona dengan nomor yang disebutkan izam. Namun lucunya, yang menjawab suara laki-laki. Izam berkilah dengan mengatakan "itu ayahnya fiona" kami lalu tertawa terbahak-bahak.


Dan fiona yang kulihat memang seperti apa yang dikatakan izam. Bahkan aku merasa lebih cantik dari sekedar penilai izam. Mata fiona yang hitam besar,  jidat jenongnya dan bentuk wajah oval mengeluarkan aura ketika ia sedang tersenyum. Aku merasa menelan air ludahku sendiri. Aku merasa aku jatuh hati.


"Jadi benar fiona itu pacarmu?" tanyaku pada izam.


"Jangankan jadi pacarnya. Berkenalan dengannya saja aku sudah merasa minder"


Izam benar. Bahkan aku saja menyerah sebelum mencoba. Aku takut mendekati meskipun aku merasa jatuh cinta. Aku pesimis bahwa gadis cantik fiona tidak akan mungkin menjadi pacarku. Lebih jauh lagi. Gadis secantik fiona pasti akan sombong dan jutek kepada pria yang mendekatinya. Dan aku juga tak ingin mencoba.


Sampai setahun kemudian, tiba-tiba saja sms dari fiona sampai dikontak masukku. Sms itu untuk dila teman sekelasku sewaktu smp. Dila memaksaku untuk bertukar kartu dengannya. Awalnya aku menolak karena alasan dila yang tak masuk akal. Dila mengajakku bertukar kartu agar mantannya percaya bahwa dila sudah punya pacar dan berhenti untuk mengejarnya. Tapi akhirnya aku menuruti permohonan dila sebagai balasan atas kebaikan dila yang rela tugas-tugasnya kusalin setiap pagi. Aku mengenal fiona semenjak itu. Fiona ternyata bukan seperti apa yang aku perkirakan waktu pertama kali melihatnya. Fiona gadis yang ramah dan baik hati. Aku merasa bersalah telah menilai buruk sebelum mengenalnya lebih jauh.


Singkat cerita, hari-hari kulewati dengan fiona sebagai teman. Fiona adalah tempat segala cerita ku berpulang. Aku seperti menemukan rumah dalam diri fiona. Hampir tidak ada yang kusembunyikan dari fiona, dengan fiona aku bisa tampil apa adanya dan menunjukan diriku yang asli. Fiona bahkan tahu semua masalahku. Satu lagi yang bikin aku jatuh hati dengan fiona. Dia tidak pergi, meskipun ia tahu aku adalah manusia dalam gelap. Dan ia tetap berdiri, sebagai seseorang yang selalu ada, merangkulku sebagai orang yang peduli.


Fiona membuatku merasakan cinta semenjak dekat dengannya. Cinta bagiku adalah seseorang yang nyaman saat didekatnya, dan juga seseorang yang selalu kau pikirkan ketika dia tidak ada. Namun aku tak pernah berani menyatakan perasaanku kepada fiona. Aku takut, fiona akan berubah dan pergi menjauh setelah tahu bahwa aku menyimpan perasaan lebih dari seorang teman.


Meskipun aku tidak permah menanyakannya lansung. Tapi aku tahu fiona tidak pernah merasakan hal yang sama. Tidak ada perasaan lebih dari seorang teman. Dan aku menyadari kenyataan pahit itu. Tapi aku juga tidak merasa ingin meminta lebih. Bisa kenal dan sedekat ini saja dengan fiona bagiku sudah cukup. Tapi fiona berhasil membuat hati terasa patah.


Aku masih ingat betapa merananya aku setelah pengakuan fiona dikala senja. Ketika itu aku baru saja datang, aku disambut dengan es kiko yang dilemparkan fiona. Fiona membawa Eskrim dan banyak snack yang berada dalam plastik kecil disamping fiona.


"Wieh royaall lagi" Kataku


Fiona hanya tersenyum. Matanya fokus kearah tangannya yang sedang membuka es-krim. Ya, seperti itulah fiona. Dia selalu royal. Dia selalu membawa bekal cemilan setiap kali bertemu denganku. Fiona bilang semua itu ia beli agar aku merasa betah mengobrol dengannya. Satu lagi fakta dari diri fiona yang membuatku kagum. Dia selalu baik dan rendah hati kepada semua orang.


Langit makin menguning silau diufuk barat. Menambah semarak lapangan sekolah yang dihiasi oleh anak-anak main basket. Kami saling bercerita, awal cerita berjalan indah. Aku merasakan tawa dan suka mendengar fiona bercerita tentang harinya disekolah. Seperti hari-hari biasanya, dengan fiona aku bisa merasakan tawa lebih mudah. Bersama fiona aku merasakan masalah yang sebelumnya sulit terasa begitu mudah.


"Aku sudah pacaran dengan dendi" Ucap fiona dengan bahagia yang terpancar dari senyumnya. Sedangkan aku hanya mencoba tegar dibalik kata-kat dan ucapan selamat.


Namun, aku tak pernah menunjukkan bahwa aku terluka. Didepan fiona aku adalah aktor yang hebat memainkan peran dalam pentas drama diriku sendiri. Aku selalu bersandiwara agar fiona tak mengetahui sedikitpun perasaanku. Aku bertingkah selayaknya bahagia ketika fiona bercerita tentang dendi. Padahal dibalik itu, aku merasakan cemburu telah menikam hatiku. Satu hal yang aku sadari setelah itu. Fiona hanya merasakan kenyamanan dariku sebagai seorang teman. Kupikir, fiona memang seharusnya hanya kujadikan sebagai teman saja. Dan aku mengamini bahwa memendam adalah sebaik-sebaiknya keputusan.


"Darimu, aku merasakan aku punya kakak laki" Ujar fiona yang membuatku yakin bahwa fiona tidak punya perasaan yang sama seperti yang aku rasakan. Cinta.


Kedekekatanku dengan fiona mulai berjarak akibat menumpuknya tugas-tugas yang dihadapi fiona. Fiona jarang memiliki waktu untukku. Namun cinta itu tak pernah hilang. Dapat kurasakan cinta itu tetap bersemi ketika fiona tersenyum takkala bertemu secara tak sengaja.


Jika tadi disekolah vingky mengatakan aku patah hati karena riska dan alpin balikan, itu tidak benar. Hatiku patah karena melihat keluargaku. Rumah bukanlah tempat perasaanku. Keluarga adalah karma yang menghantui langkahku ke masa depan. Aku tak ingin keluargaku nanti seperti keluargaku saat ini. Entahlah, perasaanku seperti menekan diriku sendiri. Rumah hanya beban bagi mentalku untuk berinteraksi diluar rumah. Rasa sakit itu membentuk karakterku sebagai seseorang yang keras. Dan tidak ada yang tahu tentang rasa sakit itu kecuali fiona. Bagiku, fiona adalah tempat segala perasaanku berpulang, fiona adalah belahan jiwa. Sebab, tanpa fiona aku merasa aku bukanlah apa-apa. Entah itu ilusi atau apa. Aku hanya tahu itu indah. Namun fiona memang tak pernah menganggapku lebih dari seorang teman.


Kini, fiona telah memlliki seseorang yang bisa menjaganya. Lelaki beruntung itu bernama afdal. Lelaki berkukit sawo matang itu berasal dari negeri berjuluk godok obuih. Entah sejak dari mana pekenalan mereka. Aku mendapat kabar itu setelah dua bulan mereka pacaran. Kesibukan fiona membuat kami jarang bertemu. Fiona bilang dia belajar dan tak punya waktu untukku. Tapi seseorang berhasil merebut hatinya kembali tanpa pernah aku tahu dari mana masuknya.


Lelaki itu adalah orang baik. Fiona bilang tak perlu untuk aku curigai. Afdal tidak merokok. Dan yang pasti, afdal adalah lelaki yang tidak pernah meninggalkan sholatnya. Bahkan kadang afdal yang mengingatkan fiona untuk sholat. Lelaki yang diidam-idamkan fiona. Fiona merasa beruntung dimiliki afdal.


Sedangkan aku hanya bisa berbesar hati. Meskipun ada luka yang kurasakan saat fiona bercerita tentang afdal. Aku merasakan ada ketulusanku yang ikut bahagia melihat fiona bahagia. Dan aku mula mengerti, persahabatan telah memaksaku untuk mengubur perasaan itu dalam-dalam. Karna dalam sebuah persahabatan. Cinta adalah pengkhianatan dalam persahabatan


Aku bertemu banyak wanita yang akhirnya menjadi pacar. Mereka ada sebab bukan aku yang mencari. Mereka yang datang sendiri kepadaku. Kaena, citra, dan riska adalah orang asing yang pernah mengisi hatiku. Namun, mereka kembali menjadi asing dengan watktu yang tak pernah begitu lama. Mereka yang bilang bahwa mereka menyayangiku, kini berakhir menjadi seseorang yang tak lagi peduli.


Fiona merayakan hari dua tahun hubungannya dengan afdal. Sedangkan aku masih tak mengerti apa yang kusebut dengan cinta. Aku hanya tahu cinta itu adalah ibu dan fiona. Dua wanita itulah yang memberikan kekuatan untuk hatiku merasakan cinta.


Sedangkan yang kebanyakan orang sebut cinta, hanyalah basa-basi sebelum mengenal yang pada akhirnya akan menjadi benar-benar basi. Seperti wanita-wanita yang mengisi hatiku, berawal dari orang asing dan kembali sebagai orang asing.

__ADS_1


Dan ditengah malam yang meriah karna sepi, aku berharap aku mendapatkan pacar seperti fiona. Seseorang yang bisa membuatku jatuh cinta meskipun aku takkan bisa memilikinya.


__ADS_2