Ruang Hitam

Ruang Hitam
Tak bisa tidur


__ADS_3

Mataku terasa berat.


Tapi pikiranku lebih berat.


****


Aku mengetok pintu rumah yang terkunci. Suara televisi masih terdengar dari depan rumah. Ibu terlihat berjalan ketika aku mengintip dari jendela. Aku menghembuskan napas. Bersiap-siap untuk menghadapi marahnya ibu sebab aku pulang malam dengan pakain sekolah yang masih lengkap.


"Dari mana kamu?" Tanya ibu setelah membuka pintu.


"Tadi aku ikut pertandingan futsal?" Sahutku berjalan masuk. Aku telah mempersiapkan alasan semenjak aku pulang dari rumah sandro.


"Ibu kira kamu sudah pulang sekolah dari tadi" Ujar ibu menutup pintu.


"Belum" Jawabku masuk kedalam kamar. Aku lansung menchas BlackBerryku yang mati. Mutia pasti mengkhwatirkanku juga.


"Kok semalam ini pulang futsalnya?"


"Aku main futsalnya disolok bu" Jawabku seperti yang sudah kurencanakan. Suara TV terdengar diacak. Ibu mengganti siaran.


"Terus menang gak?" Tanyanya.


Aku menghembus napas lega. Ibu percaya dengan alasanku.


"Kalah. Hanya sampai semifinal" Jawabku


Suasana diam sejenak. Aku mengganti baju seragamku. Aku keluar dan berjalan kekamar mandi untuk mencuci muka. Setelah itu aku duduk didekat ibu didepan tv. Ibu sedang menonton drama turki kesukaannya. Aku tidak tahu apa judul filmnya. Ibu menyebutnya dengan film songgul. Tapi itu bukan judul filmnya. Songgul adalah nama gadis dalam peran film turki tersebut.


"Kamu main futsal, sepatu futsal kamu ngak dibawa" Tanya ibu curiga.

__ADS_1


Sial. Aku tidak memperkirakan ibu akan bertanya hal yang demikian. "Iya, tadi ngak keburu karna sekolah sore. Jadi aku futsalnya minjem sepatu teman" Sahutku.


Ibu hanya diam. Matanya fokus menatap layar televisi. Aku berharap ibu percaya dan tidak memperpanjang masalah.


"Kamu udah makan?" Tanya ibu fokus menonton film kesukaannya.


"Sudah tadi. Habis pulang futsal lansung makan bareng-bareng" Sahutku.


"Baguslah. Ibu ngak masak soalnya. Ibu juga baru pulang soalnya" Ujar ibu.


Aku tersenyum. Ibu tidak lagi curiga dengan kebohonganku. Aku menemani ibu menonton film kesukaannya. Anak-anak gadis yang hidup dipanti asuhan. Film terasa haru ketika salah satu dari mereka mulai dipungut menjadi anak angkat. Ayah tiri songgul adalah seorang penjahat. Ayahnya berniat ingin memperkosa songgul seketika pulang dari sekolah. Ibu menjerit antusias menonton film kesukaannya.


Blackberry ku berdering. Aku lansung berlari kedalam kamar. Tia(Mylife) tertulis dilayar bb. Mutia pasti akan marah karna aku tidak ada kabar malam ini. Tapi aku sudah mempersiapkan alasannya.


"Halo" Sahutku.


"Aku tadi ikut lomba futsal. Hp ku mati jadi ngak bisa ngabarin kamu"


"Kamu tuh yah udah bisa bohongin aku. Kamu bilang kamu lagi sekolah sore. Tapi nyatanya kamu ngak masuk sekolah sore. Kamu futsal apaan semalam ini pulangnya"


Mutia tahu aku tidak sekolah sore. Darimana dia bisa tahu? "Turnamentnya cuman satu hari. Banyak tim yang ikut bertanding. Wajarlah kalau aku pulang malam"


"Dimana turnamentnya?" Tanya mutia memotong pembicaraan.


"Di solok"


"Omong kosong"


"Yaudah. Kalau kamu gak percaya"

__ADS_1


"Ohhh jadi gitu. Kamu sekarang lebih acuh. Jangan-jangan kamu jalan sama cewek lain?" Tuduh mutia "Iya? Hah, kamu udah dapat cewek baru?"


"Kamu kenapa sih? Kok malah nuduh aku gak jelas gini. Aku minta maaf karna ngak kasih kamu kabar. Tapi aku bukannya sengaja. Hp aku mati. Kamu seharusnya bisa ngerti" Jelasku. Mutia selalu posesif ketika aku tak bisa memberinya kabar.


"Enggak. Aku ngak percaya sama kamu"


"Ohhh yaudah. Kalau kamu ngak percaya lagi sama aku. Percuma aja aku ngejelasin kalau kamu ngak percaya" Aku mulai muak dengan sikap sinis mutia.


"Gimana aku mau percaya. Kamu kira aku anak kecil yang gampang dibohongi. Apasalahnya kamu jujur"


Aku menghembus napas kasar. Aku tidak tahu harus bagaimana untuk menenangkan mutia. "Kalau kamu nuduh aku jalan atau punya cewek baru kamu salah. Aku ngak seperti itu. Ibu saja percaya..."


"Kamu juga bohong sama ibu kamu. Sama ibu kamu sendiri saja kamu bohong. Apalagi sama aku" Potong mutia.


Aku menghela napas. "Terserah kamu lah. Aku capek dengerin kamu marah-marah gak jelas" Jawabku muak.


"Ohh capek. Oke"


"Yaudah" Jawabku.


"Tit...Tittt..." Telepon ditutup.


Aku terbaring dengan perasaan bersalah yang munusuk diulu hati. Kebohonganku bukan tanpa alasan. Aku berbohong agar mutia tak merasa kecewa saat aku berkata jujur kepadanya. Mungkin saat aku jujur dia pasti akan menangis dengan penuh perasaan tidak menyangka akan aku yang menjadi manusia dalam gelap. Sebab itulah aku memilih berbohong agar semuanya menjadi baik-baik saja dan terkendali. Tapi kebohongan juga membuat keadaan semakin runyam dengan pertengkaran yang tak tau akan berakhir seperti apa.


Mataku terpejam dengan pikiranku yang terus berkata-kata. Tawaran ipan tadi masih terngiang juga menjadi beban didalam kepala. Aku sangat bimbang dengan tawaran ipan. Satu sisi dalam diriku ingin menerima tawaran ipan. Kebebasan jiwa dan uang menggiurkan membuatku melihat keindahan dalam gelap. Tapi disatu sisi lagi menolak dengan ketakutan akan kebebasan yang bisa berakhir dalam penjara bertahun-tahun.


Aku merasa kesulitan untuk tidur. Badan dan mata yang lelah dikalahkan oleh pikiranku yang berat. Semakin aku paksa diriku untuk tidur. Semakin pikiranku tidak terkendali dan tidak bisa tidur. Disaat-saat seperti ini, aku butuh ganja untuk menenangkan pikiranku yang kacau. Namun sudah beberapa hari aku tidak menghisap ganja.


Aku berbaring dengan harapan-harapan yang lahir dari pikiranku yang terus berkata-kata. Aku berharap hubunganki dengan mutia tidak berakhir dengan kata putus.

__ADS_1


__ADS_2