Ruang Hitam

Ruang Hitam
Sabtu yang menyedihkan


__ADS_3

Sebaik-sebaiknya manusia menjalani kehidupan. Kesedihan dan kemalangan adalah teror yang takkan bisa ditolak ataupun dihindari.


****


Sabtu yang menyedihkan diakhir september. Aku terbangun dipagi hari dengan sarapan celoteh dan marahnya ibu yang menemukan delapan paket ganja dalam almari bajuku. Ganja itu adalah punya sandi yang kemarin sore ia titipkan kepadaku. Namun, akan percuma menjelaskan kepada ibu yang sudah lama tahu tentang aku sebagai manusia dalam gelap.


Yah, ini adalah kedua kalinya ibu menemukan ganja didalam kamarku. Dua tahun yang lalu ibu juga menemukan satu linting ganja yang masih dibungkus timah rokok didalam saku celanaku. Dan aku hanya menenangkan amarah ibu dengan berjanji tidak akan mengulangi. Tapi, tadi pagi ibu marah besar setelah menemukan delapan paket ganja saat ia hendak meletekkan kain yang sudah disetrika didalam lemariku.


"Dikan....Hei.. Dikannn..." Bangunkan ibu dengan mengoyang-goyangkan kakiku.


"Apa lagi" Sahutku mendongkol karna ibu kembali membangunkanku. Padahal aku sudah bilang bahwa aku hari ini aku sekolah jam sembilan.


"Jelaskan ini apa" Ucap ibu dengan melemparkan plastik hitam tepat mengenai mukaku. "Kau tak pernah takut dengan nasehatku" Ucapku.


Aku mendongak menatap lemari bajuku yang terbuka. Tak percaya dengan apa yang ibu temukan. Sial, rasa ngantuk seketika hilang oleh kenyataan pagi ini.


"Untuk apa barang haram sebanyak ini kau simpan?" Tanya ibu yang masih berdiri dengan muka yang penuh amarah.


Aku melihat isi dalam plastik hitam. Masih delapan bungkus dengan satu bungkus ganja yang sudah berceceran oleh sobekan ibu yang penasaran dengan isinya. Aku menutup plastik dengan ikatan dikedua ujungnya. Ini bukanlah punyaku.


"Ohhh, pantas saja, kau setiap bulan membeli baju dan celan baru. Apa baju ini kau beli dengan uang haram" Ujar ibu dengan melemparkan baju yang baru saja ia gosok kepadaku.


"Bu, itu punya teman kikan" Sahutku.


mengambil paksa plastik dari tanganku. "Apakah kau belajar untuk menjadi pengedar ganja?" Sambung ibu yang berhasil mengambil plastik itu dari tangan kananku.


"Itu bukan punyaku" Sahut balas membentak ibu. Meskipun aku merasa takut karna aku salah. Anehnya nadaku tetap meninggi.


"Siapa?" Potong ibu "Pram?" Sanggah ibu menuduh.


"Bukan" Sahutku mendengus. Ibu selalu menyalahkan bang pram setahun belakangan ini. Ibu berpikiran seperti itu, karna aku sangat dekat dengan bang pram. Dan kedakatanku itulah yang membuat orang-orang curiga. Pram adalah mantan narapidana. Tentu orang akan dengan mudah mencapku sebagai manusia dalam gelap sebab aku bergaul dengan mantan narapidana.


"Namanya sandi. Rumahnya ditanjung ampalu"


"Beberapa upah yang kau dapat dari temanmu dalam bisnis ini?"


"kikan gak tau, itu bukan punya kikan. Itu..." Ucapku sedikit berteriak.


Ibu terdiam sejenak. Menatapku dengan penuh amarah. Semenjak kecil. Aku selalu takut dengan marah ibu jika aku salah. Aku hanya menundukkan kepala karna takut. Dan ibu merebut plastik ganja dari tanganku.


"Bagaimana bisa kau mengenal orang sejauh itu hingga dia dengan mudahnya percaya menitipkan ini kepadamu?"  Ucap ibu tak percaya.


"Dia teman sekolahku. Kemarin sebelum pergi kesilokek ia menitipkan itu. Dan dia akan mengambilnya kembali"


"Kau masih membohongiku" Sahut ibu masih tak percaya "Kau masih menciptakan dosa dengan membohongiku. Siapa yang mengajarkanmu seperti ini?" Sambung ibu dengan mata yang berkaca-kaca.


"Itu bukan punya kikan bu. Itu punya teman kemarin sore dia nitip" Kataku memelas agar ibu percaya. Aku tidak akan kuat melihat ibu menangis. Aku menyayanginnya. Aku akan merasa bersalah melihatnya menangis.


Ibu menatapku dengan mengertak-ngertakan rahangnya menahan kemarahanya. Matanya berkaca-kaca menahan sakitnya memendam amarah dalam dirinya. Aku begitu takut menghadapi ibu. Apalagi aku tertangkap basah dengan kesalahan yang sangat telak.


"Bodoh. Bagaimana jika ia menelpon polisi, dan dia bersekongkol dengan polisi untuk menjebakmu. Lalu kau dikurung karna barang haram ini" Kata ibu.


"Dia teman baikku bu. Mana mungkin dia"

__ADS_1


"Kau takkan pernah bisa kunasehati" Bantah ibu marah serambi berjalan meninggalkanku didalam kamar. Aku terdiam binggung didalam kamar. Ganja itu diambil ibu.


"Aku telah gagal membesarkanmu" Teriak ibu dari luar kamar. "Malang sekali aku mendapatkan anak. Apa karmaku  dimasa lalu" Rutuk ibu.


Aku hanya membisu. Aku mulai menyesali diriku sendiri. Mengapa dilemari aku menyembunyikan ganja itu? Ketakutanku akan ibu membuatku merasa marah sendiri kepada keadaan. Tapi aku hanya bisa pasrah dengan segala perasaan bersalah.


"Daarrrr"


Aku terkejut dengan suara keras. Ibu membanting pintu kamarnya keras. Aku keluar dan berdiri didepan pintu kamar ibu. Aku berharap ibu akan mengembalikannya, sebab itu bukan punyaku.


"Bu. Itu bukan punya kikan bu. Itu punya teman. Dia akan mengambilnya lagi bu" Kataku masih memelas.


Tidak ada jawaban dari ibu. Hanya terdengar hening tanpa pergerakan didalam kamar. "Bu, kembalikan"


Pintu kamar terbuka. Ibu tak mengunci pintu kamarnya. Ibu sedang terduduk diatas kasur. Rambut yang tadi rapi sudah kusut.


"Tidak" Teriak ibu.


Aku menutup pintu kamar kembali. Ibu menangis? Aku tidak akan bisa meminta ganja itu kepada ibu. Apalagi saat ini, aku hanya akan membuat emosi ibu semakin meledak jika aku terus memintanya. Aku duduk diruang tamu dengan perasaan bersalah kepada ibu dan sandi.


"Ini uang jajanmu untuk sekolah" Ibu keluar dari kamarnya dan meletakkan uang diatas meja tamu. "Kalau benar ini punya temanmu, suruh dia datang untuk menjemputnya" Ucap ibu.


"Bu.."


Ibu mengunci pintu kamarnya. Mana mungkin sandi akan berani memintanya kepada ibu. Aku terus merengek agar ibu mengembalikannya kepadaku.


"Taarrrr" Suara pintu berbunyi keras mengagetkanku.


"Aku bilang tidak ya tidak" Teriak ibu keras "Pergi kesekolah atau kau bisa bunuh" Ucap ibu.


"Tarrrrrr" Suara pintu berbunyi keras lagi.


Aku tertegun menatap pintu kamar ibu. Entah apa yang dilemparkan ibu kearahku hingga mengahasilkan bunyi sekeras itu. "Aku menyekolahkanmu supaya kau pintar dan menjadi orang benar. Aku menyekolahkanmh bukan untuk jadi pengedar ganja" Keluh ibu dari dalam kamar.


Aku berjalan kedalam kamarku dengan perasaan bersalah yang menekan diriku sendiri. Bagaimana aku mengatakannya kepada sandi?


Pagi ini aku berangkat kesekolah tidak dengan annisa. Aku sengaja berangkat sekolah agak siang karna hari ini adalah jadwal semifinal turnament futsal. Kedatanganku dimontela disambut dengan suka cita atas keberhasilan kami yang lolos kepartai semifinal.


"Mari kita balas dendam. Sekarang giliran kita untuk lolos ke partai final"


Kalimat itu menjadi pembakar semangat kami ketika berkumpul dikantin tek rida. Sekolahku bertemu dengan SMA Sembilan dipartai semifinal. Setahun yang lalu dikompitisi Liga Pelajar Indonesia, SMA Sembilan juga pernah mengalahkan sekolahku dipartai semifinal. Dan hari ini menjadi ajang untuk kami membalaskan dendam. Partai semifinal mempertemukan sekolahku dengan SMA Sembilan, Sedangkan SMK Lima melawan SMA tujuh. Juara grup A akan diadu silang dengan runner up grub B. Kami berjalan kemontela dengan semangat dan percaya diri yang besar.


Pertandingan pertama mempertandingkan sekolahku dengan SMA Sembilan. Pertandingan berlansung seru hingga aku sejenak melupakan masalahku dirumah. Babak pertama berakhir dengan keunggulan dua kosong untuk sekolahku. Kami mengontrol permainan semenjak awal. Ripo dan fandi mencatatkan nama mereka dipapan score. Diantara delapam sekolah yang diundang, hanya sekolahku dan SMA Tujuh yang difavoritkan untuk juara. Kami memiliki ekskoll futsall setiap sabtu pagi. Dan montela adalah tempat latihan kami.


Pertandingan babak kedua kembali dimulai. Kami menguasai jalannya permainan. Aku berhasil mencetak gol setelah menerima bola muntah dari tendang keras fandi. Menang tiga kosong kami mulai bermain santai hingga kecolongan dua gol dari SMA Sembilan. Namun aku mencatatkan namaku kembali dipapan score sebelum peluit panjang dibunyikan. Sekolahku akhirnya menang 4-2 dan berhak lolos ke final berhadapan dengan pemenang antara SMK Lima dan SMA Tujuh. Kami berjalan keluar gor dengan sorak-sorai sepanjang jalan menuju kesekolah.


Aku dan teman-temanku yang lain duduk untuk sejenak melepaskan penat dikantin tek rida. Aku memesan teh es. Sedangkan partai final akan dilaksanakan setelah sholat zuhur nanti. Masih ada empat jam lagi untuk beristirahat. Aku teringat akan sandi. Aku menelponnya untuk mengabarkan berita buruk yang kualami tadi pagi.


"PING" Sapaku beberapa kali.


"San, lu lagi dimana?"


"Lagi disekolah. Kenapa?"

__ADS_1


"San, cimeng yang kemaren ketangkap sama ibu"


"Kok bisa?"


"Aku meletakkan cimeng didalam lemari kemaren. Dan ibu menemukannya ketika dia ingin meletakkan baju yang sudah disetrika"


"Yah terus lu gimana? Gak diusir lagi kan dari rumah?"


"Enggak sih. Tapi cimeng lu yang gimana?"


"Syukurlah" Sahut sandi "Masalah cimeng yang ketangkep itu gak usah dipikirin"


"Ibu mau mengembalikan. Tapi suruh yang punya yang mintak. Lu berani kan?"


"Ngacokk. Sudahlah. Gak usah dipikirin" Ucap sandi.


Aku merasa lega setelah sandi mengatakan itu. Setidaknya aku tidak harus mengganti cimeng yang satu paketnya 50 ribu, kalau delapan paket berarti totalnya 400 ribu. Setidaknya, masalahku berkurang dengan hanya menghadapi kemarahan ibu.


Ibu? Seperti apa kau menghadapi seorang ibu? Atau bagaimana kau menanggapi kemarahannya, ketika kau seakan disudutkan dengan perasaan bersalah. Dalam kenyataan, kau memanglah tersangka yang harus diadili.


Aku benar-benar takut menghadapi ibu. Apalagi aku punya kesalahan yang membuat amarah ibu meradang. Dan marahnya ibu, memang hanyalah kata-kata nasehat seperti ceramah yang tak berjudul. Tapi kata-kata ibu selalu tajam menusuk dan menekanku. Tapi satu hal yang kupahami, marahnya ibu adalah arti bahwa ia peduli padaku. Dan aku telah mengecewakan ketulusan hatinya dengan mengutuk diri sebagai anak yang durhaka.


Aku memang tumbuh dan besar dengan kenakalan. Masa kecilku dihiasi dengan kriminal. Waktu kelas satu smp. Aku dan temanku pernah ketahuan mencuri uang bendahara kelas ketika semua murid dan guru sedang upacara dilapangan. Aku dan teman sekelasku merangkak dari lokal ke lokal dengan menelusuri isi tas setiap murid. Kami mendapatkan dua juta dari empat lokal yang kami telusuri. Aku membelikan separuh uangnya kemobil-mobil remot yang ku idam-idamkan.


"Kemana kau habiskan uang sebanyak itu?" Tanya ibu yang mempertanyakan uang satu juta yang kucuri hanya tersisa 700 ratus dalam sehari.


"Kikan belikan mobil-mobil remot" Sahutku terpakasa menjawab karna ibu mendesakku.


Dan ibu hanya menasehati dengan kata-kata. "Ibu tidak melarang kamu untuk mengingkan sesuatu. Maafkan ibu karna tidak bisa menuruti keinginanmu. Tapi kau tidak boleh mengambil hak orang lain sekalipun kau terdesak"


"Jangan biasakan mencuri. Kendalikan diri kamu sendiri dari sekarang. Masih kecil saja kau sudah berani mencuri. Hhh aku sangat cemas kau besar akan jadi seperti nanti"


Aku hanya diam. Apalagi yang bisa kulakukan saat aku sudah terbukti bersalah. Aku dan temanku akhirnya mengganti uang yang kami curi. Dan sekolah masih memaafkan kami dengan tidak mengeluarkan kami dari sekolah.


"Sesekali lawanlah hawa nafsumu agar kau selamat. Apakah tidak punya rasa malu? Sadarilah kau mencuri uang orang lain untuk membuat dirimu senang. Aku tahu kau menginginkan mobil-mobilan itu. Tapi tidak semua apa yang kau inginkan harus jadi kenyataan. Disitulah kau harus belajar sabar" Nasehat ibu mengakhiri ceramah tanpa judulnya.


Kemarahan ibu seperti itu hanyalah bukti bahwa ia menyayangiku. Semenjak itu aku tidak lagi mencuri. Selain takut membuat ibu marah. Rasa malu sebab ketahuan mencuri membuatku enggan untuk kembali mencuri.


Waktu smp, kenakalanku memang luar biasa. Aditya yang yang menjadi teman sejoliku selama smp. Aku dan adik jarang sekali ikut upacara, ataupun kultum. Lebih parahnya lagi. Kami menyusup kedalam kelas yang kosong, dan mencuri uang didalam tas senior. Hahahaha, semua murid mengikuti upacara dan kultum, kami mencuri dari lokal ke loka. Kami memang parah.


Tapi satu hal yang kusadari. Semua itu tidak kami terjadi bukan karna niat kami ingin mencuri. Melainkan karna keisengan semata dan menemukan kesempatan. Aku iseng-iseng memerikasa tas seseorang. Tujuanku hanya untuk mencari penah, namun yang kudapatkan uang. Semenjak itulah kami mulai menjadi kebiasaan membongkar tas setiap hari senin dan jumat pagi. Lebih parah lagi, kami tidak mencuri disekolah saja. Aku dan aditya juga menjadi belajar mencuri diluar lingkungan sekolah. Karet, kopi coklat, dan apapun yang bisa untuk kami jual dan menjadi uang. Tapi semenjak bermasalah disekolah kami aku dan aditya sudah enngan untuk mencuri gegara tak tahan dengan malu. Dan saat itu ibu juga menyalahkan adik. Adiklah yang membuat aku untuk mencuri. Padahal kenyataannya, akulah yang membujuk adit untuk mencuri. Akulah dalang yang membawa adit untuk bolos sekolah dan mencuri. Tapi ibu tetap membelaku dengan menjadikan aditya sebagai kambing hitam.


Dan tadi pagi, ibu menyalahkan pram atas aku yang jatuh cinta pada keterpurukan dalam dunia hitam. Ibu melarangku untuk berteman dengan pram. Apakah aku harus menjauhi pram?


"Dikan" Suara serentak bersahut-sahutan membuyarkan lamunanku.


"Ah apa" Kataku kaget.


"Ngelamun" Cetus dapit tergelak.


Beberapa orang dimeja depan tertawa.


"Kesekolah yuk, istirahat didalam mushola"

__ADS_1


Aku berjalan dengan tim futsal kedalam lingkungan sekolah. Dimushola kepalaku terasa sejuk, mataku dingin, dan aku tertidur beberapa jam.


__ADS_2